Love Is Back

Love Is Back
Sakit hati


__ADS_3

"Sejak kapan kamu jadi sugar baby, heh." Tanya Loli tak percaya.


Olive hanya tersenyum, dan mendekati pria yang baru saja turun dari mobil.


"Sejak tiga minggu yang lalu." Jawab Olive santai.


"Sayang..." Ando tersenyum, saat melihat sang Istri berjalan mendekatinya.


Loli terkejut melihat pria yang baru saja turun dari mobil sport mewah yang tadi dia bicarakan.


"Yang benar saja dia sugar Daddy-nya." Mata Loli tak berkedip melihat interaksi keduanya.


Pria itu tersenyum dan memanggil Olive dengan sayang, bukankah dia adalah asisten Nathan Adhitama suami Miami. Lalu kenapa Olive bisa menjadi sugar baby seorang asisten.


"Kamu sudah punya teman?" Tanya Ando yang melihat Loli hanya diam berdiri seperti patung.


"Dia Loli kakak kelas waktu sekolah dulu, dan tenyata kita satu jurusan." Tutur Olive.


"Oh, aku pikir teman baru. Mau pergi sekarang atau_"


"Olive kamu yakin dia sugar Daddy mu."


Hah


Olive melotot menatap Loli kesal. "Sugar Daddy?" Tanya Ando menatap istrinya.


"He'um sugar Daddy my husband." bisik Olive dengan senyum manis.


Ando hanya geleng kepala. "Biarkan saja dia aku kerjai."


"Olive bukankah dia Aspri suami Miami." Loli yang bingung terlalu banyak pertanyaan.


"Kamu tahu aku." Ando menatap Loli dengan alis terangkat satu.


"Hu'um," Loli mengagguk. "Sering liat disekolah dulu." Lanjut Loli.


Olive terseyum, sedangkan Ando hanya manggut-manggut.


"Kalau begitu selama dikampus, kamu jagain sugar baby ku, biar tidak ada yang ganggu dia terutama seorang pria." Ucap Ando membuat Olive dan Loli tercengang.


"Kak, issh." Olive mengerucutkan bibirnya kesal.


"Berani bayar berapa?" Tantang Loli dengan gaya songong.


"Heh teman macam apaan itu, ngak-ngak." Olive mendelik menatap Loli yang memanfaatkan keadaan.


"Biarin aja sih, yang namanya sugar Daddy itu pasti kaya, jadi tidak masalah mengeluarkan uang." Loli masih menunggu harga yang pantas untuk dirinya menjaga Olive, itung-itung biar kecipratan.


"Kak, jangan mau." Olive menatap Ando agar tidak menuruti permintaan Olive yang memanfaatkan.


"Aku lebih percaya sama dia ketimbang si Kiko." Ucap Ando dengan kesal.


"Kiko?" Beo Olive yang bingung. "Bukankah Kiko itu sejenis_"

__ADS_1


"Es." Lanjut Loli.


Ando ingin sekali tertawa, "Kiko itu_" Mata Ando mengedar dan kebetulan dirinya melihat Niko yang berjalan di koridor. "Nah tuh Kiko." Tunjuk Ando pada seseorang yang sedang menatap mereka.


"Kak Ando, itu kak Niko. Bukan Kiko." Kesal Olive sambil tertawa.


Loli sudah tertawa terpingkal-pingkal. "Dia ketua senat, ternyata sudah ganti nama." Ucap Loli sambil tertawa.


"Sudahlah, kalian enak tertawa. Mana nomor rekeningmu, tulis saja." Ando menyodorkan ponselnya pada Loli.


"Kak mending uangnya buat aku, ihh kenapa malah dikasihin Loli."


"Liv, kenapa kamu tidak memanggil dia Daddy saja, kan kamu sugar baby nya."


"Loli, udah ah jangan bahas gula-gula lagi." Kesal Olive.


Ting


Notif di ponsel Loli berbunyi.


"Ingat tugas kamu apa, kalau sampai_"


"Siap Daddy, akan saya laksanakan." Potong Loli cepat, karena terkejut melihat nominal yang Ando kirim.


"Loli, lihat berapa? awas aja kalau lebih gede dari uang jajan ku." Olive ingin merebut ponsel Loli, tapi gadis itu cepat-cepat menghindar.


"Jangan mengintip rezeki anak Sholehah nanti bintitan." Ucap Loli membuat Olive semakin dongkol.


"Bye..bye.. Olive kekasih Popeye. Hati-hati jagain sugar Daddy-nya." Loli melambaikan tangan sambil menunjukan layar ponselnya yang tertera nominal uang yang Ando kirim.


"Ihh, Loli nyebelin." Olive cemberut.


Ando segera menjalankan mobilnya keluar dari area kampus.


"Mau makan dimana?" Tanya Ando yang melihat istirnya masih cemberut.


"Memangnya aku macam-macam, sampai kamu bayar Loli untuk jadi mata-mata." Ketus Olive yang masih kesal karena tadi.


Ando melirik Olive sebentar, dan kembali fokus kedepan, dimana jalanan cukup ramai dijam istirahat.


"Nanti kita bahas, sekarang kita makan siang dulu."


Setelah menemukan restoran yang cukup ramai didekat kampus Ando membelokkan mobilnya kesana.


Olive masih tidak bergeming, tatapannya keluar jendela tidak mau menatap suaminya.


Kesal dan merasa tidak dipercaya tentu saja sedikit membuatnya sakit hati. Padahal jika dipikir dirinya yang seharusnya lebih protektif kepada Ando yang jelas-jelas pria Casanova yang sudah jelas track record nya dan Olive percaya jika pria itu tidak akan melakukan hal seperti itu, tak terasa air matanya jatuh dipipi.


"Ayoo." Ando membukakan pintu mobil, tapi wanitanya tak kunjung keluar.


Olive membuang muka, dengan menahan sesak. Tidak bisakah suaminya itu percaya.


"Sayang." Ando kembali memanggil, karena wanitanya masih diam, dirinya tidak melihat bagaimana wajah istrinya yang sudah basah.

__ADS_1


"Olive, sebentar lagi jam istirahat habis, kita belum makan siang." Ucap Ando lagi yang masih berusaha sabar.


Olive mengusap pipinya yang basah, dengan kasar, dan saat itu Ando baru melihat jika istrinya menangis.


"Hey kamu nangis." Ando menatap wajah Olive yang masih sisa jejak air matanya.


"Sudahlah katanya mau makan." Olive menepis tangan Ando yang ingin menyentuh pipinya.


"Sayang jelaskan dulu kenap_"


"Tidak penting." Ketus Olive yang memilih berjalan lebih dulu.


Ando mengusap wajahnya frustrasi, "Wanita Kalau sudah merajuk bikin pening." gumamnya yang langsung menyusul Olive yang berjalan lebih dulu masuk restoran.


Saat masuk Ando sudah melihat Olive yang duduk di meja paling pojok, wanita itu hanya diam sambil menatap kaca menampilkan pemandangan luar.


"Hey, kamu kenapa? apa aku punya salah." Tanya Ando yang sudah duduk didepan Istrinya.


Olive masih diam enggan untuk menatap suaminya.


"Olive tatap aku." Ando menyentuh dagu Olive.


"Maaf mbak mas, mau pesan apa?" Tiba-tiba pelayan datang membaut Ando menjauhkan tangannya.


"Steak saja 2 minumanya orange jus." jawab Ando cepat agar segera pergi.


"Em, tidak ada yang_"


"Sudah itu saja dan pergilah." Sentak Ando karena kesal tidak pergi-pergi.


"Baiklah permisi." Pelayan itupun segara pergi.


"Jangan diam saja, aku tidak tahu apa yang membuatmu menagis, ayolah kita bukan dua orang yang berpacaran." Tutur Ando yang masih merayu istrinya.


Andai saja dirinya tidak sedang dimasa pemilihan, sudah dipastikan mereka akan berakhir diatas ranjang.


Karena konon katanya, semua masalah akan selesai bila terjadi pergulatannya diatas ranjang yang panas.


Olive menatap suaminya dengan tatapan kesal. "Bagaimana aku bisa percaya padamu jika kamu saja tidak percaya padaku? apa aku terlihat seperti wanita yang suka menggoda pria? apa aku seperti wanita yang tidak bisa dipercaya." Ucap Olive sambil tersenyum miris, kedua matanya sudah kembali berkaca-kaca. Berkedip saja buliran kristal itu akan jatuh.


"Hey, siap_"


"Maaf, pesanannya tuan."


Ando memejamkan matanya geram. "Sial..!" Ucapanya dengan dongkol.


Olive membuang wajah, dan kembali mengusap air matanya.


"Makanlah." Ando menggeser piringnya yang sudah dipotong-potong stick dangingnya, menaruh didepan Olive, dan menarik piring Olive.


"Menangis pun kau juga butuh makan." Ucapan Ando semakin membuat Olive kesal.


"Dasar buaya Kadal."

__ADS_1


__ADS_2