
Satu Minggu berlaku, keduanya masih sama seperti hari-hari sebelumnya, kadang baikan kadang saling menyebalkan, tapi itulah bumbu-bumbu rumah tangga mereka yang membuat hubungan keduanya harmonis dan saling merindu.
Jika ada saling mencela dan bertengkar, tapi jika berjauhan keduanya sama-sama merindukan. Tiada hari tanpa keributan keduanya itu sama-sama keras kepala dah susah diatur. Tapi Olive memiliki cara agar suaminya itu mau mengalah padanya, karena wanita sejatinya ingin menang sendiri dan tidak mau mengalah.
"Kalau tidak boleh, aku juga tidak mau melakukan apa yang kamu suruh." Ucap Olive sambil menunjukan wajah merajuk.
"Yang lain dong sayang, yang benar saja kamu minta ijin hanya untuk menemani Gery chocolatos itu untuk membantunya mengenakan tugas tanggung jawabnya, dia hanya ingin modus." Jawab Ando dengan menahan kekesalan.
Mereka sedang berada diatas ranjang dengan Olive berbaring miring membelakangi Ando yang sedang duduk frustasi.
Olive melilitkan selimut di tubuh polosnya, sedangkan Ando bertelanjang dada dengan bagian bawah perut yang hanya ditutup selimut.
Sebenarnya malam ini adalah malam buka puasa untuk si Lai, tapi kejadian yang tidak terduga malah membuat keduanya adu mulut sebelum si Lai terpuaskan.
Belalai yang sudah terbungkus sarung itu kini mengkerut lantaran tidak mendapat kehangatan, karena goa yang ingin dirinya masuki menolak karena permintaan tidak dituruti.
Si Lai harus menggunakan sarung saat ingin beraksi, guna untuk menyeterilkan cairan yang akan keluar setelah melakukan operasi Vasektomi.
Dan sayangan belum sempat si Lai menyembur, sang pemilik goa sudah lebih dulu merajuk karena tidak mendapat persetujuan.
"Olive, kamu boleh minta apapun, selain aku harus memberi ijin padamu." Ucap Ando lagi sambil menyentuh lengan Olive yang masih bertahan pada posisinya.
Wanita itu hanya diam saja tanpa menjawab, bibir bawahnya Ia gigit saat nemikirkan sesuatu yang mungkin bisa membuat suaminya mengujikan.
Lagian dirinya juga meminta Loli untuk menemani agar dirinya tidak sendiri.
Ando yang tidak mendapat balasan frustasi, kedua tangannya mengacak-acak rambutnya karena pusing. Pusing kepala atas dah bawah bisa-bisa membuatnya stress.
Ando ingin beranjak dari duduknya, tapi tiba-tiba tangan Olive langsung memeluk purut suaminya.
Grep
"Engh, mau apa?" Ando menahan napas saat tangan istrinya tiba-tiba memainkan belalainya yang sudah lepas dari sarung tranparan tadi.
"Mau bangunin si Lai, aku tahu pasti dia sedang sakit kepala." Ucap Olive sambil tersenyum menggoda.
"Emmh, kau mau menggunakannya untuk membuatku memberi ijin." Ando bicara sambil menahan nikmat yang dia rasakan. Pijatan tangan Olive membuat belalainya termanjakan.
"Tidak, tapi jika dengan cara itu kamu memberi ijin maka tidak ada salahnya akan aku lakukan." Olive mengigit bibir bawahnya sering dengan tanyanya yang meremat dan mengurut kuat di Lai yang sudah kembali mengacung tegang.
"Ough sayang." Kepala Ando menunduk menatap bagaimana tangan istrinya bekerja membuat kenikmatan di bagian belalainya.
Wajah Ando sudah memerah, bibirnya menahan desahann dengan cara mengigit bibir bagian bawahnya.
Olive yang melihat reaksi suaminya yang panas, membuat sekujur tubuhnya meremang, entah dapat keberanian dari mana dirinya melakukan hal seperti ini, tapi mengingat mereka suami istri jadi sah-sah saja ingin melakukan apapun.
"Shh, sayang ini terlalu enak." Tangannya membantu tangan Olive yang naik turun agar lebih cepat.
Olive yang kewalahan dengan kecepatan tangannya yang di bantu Ando merubah posisinya menjadi duduk.
Wanita itu duduk diatas pangkuan Ando yang bersandar di kepala ranjang.
"Bagaimana enak." Tanya Olive dengan sengaja membuat raut wajahnya terlihat sensual dan seksi.
"Lebih cepat sayang, dia ingin meledak." Ando menatap wajah istrinya dengan tatapan sayu, gairahnya benar-benar sudah dipuncak meskipun hanya menggunakan tangan istrinya saja.
Olive semakin berani mempercepat gerakannya naik turun hingga, kedua tangannya merasakan si Lai berkedut dengan urat besar yang semakin menonjol, apalagi melihat wajah Ando yang menegang dan suara desisan yang membuat kulitnya meremang.
"Ahhh sayang tahan, jangan lepaskan.. Arrghh."
Ando mendongak dengan urat rahang menonjol, napasnya memburu bersama cairan Fla hangat membasahi tangan Olive.
Bahkan Olive sangat takjub pertama kali melihat bagaimana proses si Lai menyemburkan laharnya, Olive sampai menelan ludah.
"Emezing.." Gumamnya dengan masih menatap takjub.
__ADS_1
Napas Ando tersengal, dadanya naik turun dengan mulut yang terbuka, kepalanya ia sandarkan dibahu ranjang dengan mata terpejam, akhirnya setelah puasa hampir tiga minggu membuatnya bisa merasakan nikmatnya pelepasan lagi.
Tangan Olive meraih bungkusan plastik kecil yang ada di meja kecil samping ranjang, Olive membuka bungkusnya membuat Ando membuka matanya.
"Mau buat apa sayang." Tanya Ando dengan suara yang masih ngos-ngosan.
"Buat si Lai sarungan." Jawab Olive.
Kalian tahu kan, maksud sarung Lai π€£
"Kau masih belum puas mendengar aku mendesaahh." Tanya Ando sambil melihat bagaimana Olive memasangkan sarung untuk si Lai.
"Belum, karena aku belum mendapatkan apa yang aku inginkan."
Olive tersenyum puas saat melihat usahanya berhasil memasangkan sarung untuk Lai, agar tidak kedinginan.
"Kamu lumayan ahli, memasangkannya." Puji Ando sambil terkekeh.
Kedua tatapan mereka bertemu, Olive tersenyum manis dan sedikit menaikkan badannya agar dirinya bisa duduk diatas perut suaminya.
"Jadi kamu melakukan ini hanya demi menemani Gery chocolatos itu!" Dengus Ando yang mengingat tujuan Olive memuaskannya.
Olive menaikan alisnya sebelah, "Tidak, aku hanya ingin mendapatkan nilai ku kambali, karena sejak dua Minggu ini nialaiku buruk jadi aku ingin memperbaikinya." Tangan Olive merayap didada suaminya, bergerak memutar dan menekan pucuk dada Ando yang sangat mungil.
Ando terkekeh sumbang. "Alasan." Ucapnya dengan wajah yang tidak bisa diartikan.
Biarkan saja apa yang akan pria itu lakukan pada Olive, dirinya hanya tinggal melihat permainan pria yang tidak jauh dari usianya itu. Ando yakin jika pria itu menginginkan sesuatu dari istirnya, jadi menggunakan kedok dosen untuk melancarkan aksinya.
Melihat suaminya diam saja, Olive kembali melancarkan aksinya, bibirnya langsung menyambar bibir tebal Ando dengan lembut, awalnya Olive yang memimpin tapi lama-lama pria itu mengambil alih apa yang istrinya lakukan.
"Emph.." Olive meleguh saat lidah Ando menerobos masuk menyusuri setiap rongga mulutnya.
Lidah keduanya saling membelit dan bertukar saliva satu sama lain.
Lidah Ando bermain menggoda setiap inci mulut Olive, keduanya sama-sama kehabisan napas.
"Ah, kak jangan gigit." Olive menekan pinggulnya saat dibawah sana merasakan tonjolan yang begitu keras. Bergerak perlahan semakin membuat Ando mengerang dalam.
"Kak aku ingin." Olive sudah tidak bisa menahan gejolak dalam dirinya saat tubuhnya merasakan rangsangan yang begitu menggelora, goa nya sudah siap menerima tamu yang sudah lama tidak datang, rasanya Olive tidak sabaran.
"Emm," Ando melepaskanmu hisapannya dari pucuk kecil yang menegang.
"Sudah tidak tahan hm." Ando mengusap wajah Olive dan menyelipkan rambut kebelakang telinga Wanitanya.
"Hem, rasanya gatal dan ahhhhh."
Olive berteriak dengan suara desahann keras saat tiba-tiba goa nya dimasuki tanpa permisi.
Tubuhnya langsung lemas dengan dada naik turun. Ando memejamkan matanya, merasakan nikmat yang sudah lama tidak dia rasakan.
"Let's start our romance baby, I want to make you scream until morning."
Dan benar saja Ando tidak bohong dengan ucapanya, dirinya menggempur Olive sampai pagi, hingga membuat mereka berakhir kelelahan dan terlelap.
.
.
Keduanya berada didalam mobil, Ando sudah mematikan mesin mobilnya sejak lima menit yang lalu tapi belum membuka central look pintu, dan akhirnya Olive tidak bisa keluar.
"Kak nanti aku telat." Olive terus merengek lantaran sang suaminya masih mengunci pintu mobilnya.
"Janji dulu, jika ada apa-apa hubungi aku." Pesan Ando.
"Iya, lagian aku cuma bantuin tugas pak Gery dan itupun sama Loli." Olive mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Semalam dirinya benar-benar tidak tahu diri untuk membuat Ando memberinya ijin. Jika mengingat permainan yang dirinya lakukan tadi malam. Olive begitu malu.
Meskipun menggoda suami sendiri, tapi Olive tetap saja merasa malu.
"Hem," Balas Ando hanya berdehem.
"Nanti aku kabari jika sudah selesai." Olive tersenyum, dan mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya.
Olive mencium bibir Ando sekilas, tapi ketika ingin menjatuhkan wajahnya, tangan Ando menahan tengkuk Olive membuat ciuman mereka semakin dalam.
"Emmph."
Ando tidak membiarkan mangsanya lepas, bibirnya melumatt dan menyesap benda kenyal yang menurutnya sangat manis.
Keduanya cukup lama dalam berpanggutan hingga Olive memukul dada Ando karena sudah kehabisan napas.
"Kak, kau mau membuatku telat." Napas Olive memburu dengan bibir basah sisa pangutan bibir mereka.
Ando tersenyum dah mengusap bibir Olive dengan ibu jarinya.
"Karena enak, jadi sayang untuk dilewatkan."
Olive mendelik, mendengar ucapan Ando.
"Mesum."
Olive segera keluar setelah pintu mobil terbuka, wanita itu keluar dengan wajah yang kesal.
Melihat tingkah istrinya Ando hanya bisa menggeleng, Ando mengambil ponselnya dana menghubungi seseorang.
"Pantau terus, jika ada yang mencurigakan hubungin saya."
Tut
Ando mematikan ponselnya setelah mendengar jawaban dari sana.
"Maaf sayang, bukanya aku tidak percaya, tapi aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu."
Ando memang menyuruh seseorang untuk menjaga istrinya, entah insting sebagai seorang suami atau memang perasaanya yang begitu kuat. dirinya tidak percaya jika dosen itu hanya menyuruh Olive untuk membantunya, Ando berpikir jika dosen itu merencanakan sesuatu.
Meskipun tidak pernah melihat dosen itu, tapi Ando mendapatkan informasi apa yang dia mau.
"Olive, jadi hari ini kita jadi bantuin pak Gery?" Tanya Loli, ketika Olive baru saja masuk kesal.
"Jadi dong, aku ingin nilai-nilai ku bagus, kamu tahu? baru kali ini aku mendapatkan nilai C," Tutur Olive dengan sedikit rasa tidak puas.
Dirinya saja syok saat tugas yang diberikan pak Gery dirinya mendapat nilai C, sungguh baru kali ini dirinya merasa bodoh.
"Tanpa berusaha pun, kalau pak Gery dibaikin pasti nilai kamu bagus. "
Olive memancingkan mata, bagaimana Loli bisa mengatakan seperti itu. "maksud kamu apa,?
"kamu tahu kakak kelas kita yang bernama Niki, dia menjadi juara di kelas karena suka kasih gesekan sedikit untuk pak Gerry." Loli menatap Olive tersenyum.
Olive yang baru paham membulatkan kedua matanya, "Jadi mereka rela menggunakan jalur kotor untuk mendapatkan nilai terbaik, sungguh miris sekali." tutur Olive merasa prihatin.
"Yah, mau bagaimana lagi mereka ingin cara instan daripada harus berpikir keras untuk mendapatkan nilai terbaik. Apalagi mereka di semester akhir pasti mereka mau melakukannya demi mendapatkan nilai terbaik dan lulus dari kampus." Loli menceritakan apa yang dia tahu.
"makanya kita harus hati-hati meskipun terlihat baik, tapi kita tidak tahu apa yang sedang dipikirkan pak Gerry setidaknya kita berdua tahu bagaimana dosen kita, dan kita bisa waspada."
Olive hanya mengaguk, setuju dan entah mengapa dirinya mengingat kekhawatiran sang suami.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa mampir, di Gwen untuk Ameer, di sebelah rumah Piiizooo tankπππ