
"Sial..!"
Di sebuah kontrakan kecil yang terdapat di sudut kota yang sepi, seorang pria mengumpat kesal karena harus mengobati luka di tangannya yang terdapat goresan benda tajam saat berada di apartemen Olive tadi.
Bisma menggigit perban ujung satunya dan tangan kirinya membalut luka yang ada di lengannya dengan hati-hati.
"Hah." Bisma bernafas lega saat tangannya sudah terbalut perban yang cukup rapi meskipun tidak serabi jika menggunakan dua tangan.
Dia tidak menyangka jika akan melukainya seperti ini, karena merasa lukanya parah akhirnya Bisma memilih pergi meninggalkan apartemen Olive, karena tidak ingin mati kehabisan darah, apalagi dirinya sempat melawan Olive dan membuat pelipis wanita itu berdarah.
Saat Bisma ingin mendekati Olive tapi Olive malah berlari dan mengambil benda apapun yang bisa dia gunakan untuk melindungi dirinya hingga ruangan apartemen itu terlihat berantakan karena Olive yang melemparnya asal ke arahnya, hingga saat Olive memecahkan vas bunga dan saat itu juga Bisma yang mendekat hingga tangannya tergores cukup dalam saat Olive dengan sengaja menggoreskan di lengannya.
"Kerena kalian hidupku seperti ini, aku akan membalas perbuatan kalian." Bisma menatap lurus kedepan dengan tatapan penuh dendam, pria itu mengalami banyak hal di dalam bui, Bisma tidak menyangka hidupnya akan berakhir seperti ini jika sebelumnya dirinya hidup bebas dan memiliki uang banyak, 2 Minggu lalu papanya meninggal di dalam bui karena tidak sanggup untuk hidup di dalam bui yang tidak bisa melakukan apapun dan meninggalkan semua apa yang papanya punya. dan ibunya pun ikut pergi dengan pria lain yang lebih kaya dari papanya sebelumnya, ibunya tidak menghiraukan dirinya yang notabenya adalah anaknya yang mendekam di penjara. Saat itu juga hidup Bisma benar-benar hancur dan dia bertekad akan membalas dendam untuk orang yang sudah membuat keluarganya hancur seperti ini. dan saat ini Bisma mulai menyusun strategi untuk membalas pria yang sudah menjebloskan dirinya dan ayahnya ke dalam bui yaitu suami Olive.
Olive mengelihatkan tubuhnya dan mengerjakan kedua matanya Wanita hamil itu mulai membuka matanya saat dirinya merasa pegal.
"Ternyata aku sudah lama tertidur." gumamnya yang baru saja melihat jam di dinding, dirinya sudah hampir 2 jam terlelap dan Olive menyadari jika dirinya masih dalam pelukan suaminya.
Sebentar lagi hari akan petang, Olive berniat untuk bangun tapi tubuhnya semakin erat dipeluk oleh lengan kekar suaminya.
"Mau kemana hm." Ucap Ando dengan suara serak.
"Bangun kak, sudah mau petang." Ucap Olive yang mencoba untuk bangun dan duduk.
"Henm." Ando hanya bergumam dan mengubah posisinya menjadi tengkurap tangan pria itu masih memeluk perut bawah Olive.
"Bangun Kak sebentar lagi_
"Masih setengah jam lagi, sayang." Jawab Ando dengan posisi yang sama.
Olive mengusap rambut Ando lembut, dirinya beruntung memiliki suami yang mencintainya seperti ini, semenjak menikah Olive belum pernah merasakan Ando yang memarahinya ataupun membentaknya dengan sengaja atau tidak sengaja, Olive menyadari jika seseorang mencintai dengan tulus dan dalam apapun yang akan dia berikan itulah bentuk wujud kasih sayang dan cintanya.
Dan dia sekarang merasakan bagaimana dicintai begitu besar oleh suaminya sendiri, padahal dulu Olive tidak pernah berpikir akan menemukan pasangan hidup seperti sekarang ini. mengingat dulu dirinya yang dijuluki si gendut tapi lihatlah roda memang berputar dan semua kehidupan tidak akan lagi sama jika kita akan mau berusaha.
"Kak aku mencintaimu." Ucap Olive tiba-tiba.
Ando yang memang sudah bagun tapi enggan untuk beranjak pun mendongak mendengar ucapan Olive barusan.
Ando menatap wajah Olive yang tersenyum ke arahnya, "kamu bilang apa." tanya Ando untuk memastikan.
Olive masih tersenyum dan tangannya terulur untuk mengusap pipi suaminya. "Aku mencintaimu kak" pulangnya lagi yang langsung membuat senyum Anda mengembang.
"Hm, aku tahu jika kamu mencintaiku, tapi mendengar dari bibirmu langsung membuatku masih saja tetap bahagia sayang aku juga mencintaimu istriku." Ando bergerak naik untuk meraih bibir Olive.
Pria itu mengecup lembut hingga kecupan itu menjadi sebuah lumattan yang cukup intens.
Kedua tangan Ando berada disisi tubuh Olive untuk menyangga tubuhnya, dan kedua tangan Olive menyentuh kedua sisi wajah Ando untuk memperdalam ciuman mereka.
Awalnya ciuman lembut, kini semakin panas dan menuntut saat lidah keduanya saling membelit, dan decapan kedua bibir mereka menggema didalam kamar itu.
__ADS_1
Olive mendorong tubuh Ando tanpa melepas pangutan bibir keduanya, dan Ando yang sudah bertelanjang dada sejak sebelum dirinya ikut bergabung dengan Olive hanya pasrah saat tubuh istrinya berada di atas perutnya dan menciumnya dengan rakus.
"Ah.."
Napas keduanya terengah-engah. Olive yang memiliki keinginan tinggi pun memilih untuk membuka pakaian daster yang dia pakai. Sejak hamil hormon Olive selalu meningkat hingga membuat Ando begitu senang dengan kehamilan sang istri yang bisa memberinya kepuasan lahir dan batin.
Kini keduanya sedang mengarungi gelora percintaan yang mereka inginkan.
Olive sudah bergerak naik turun untuk mencari kepuasan yang sudah bergejolak dalam dirinya. Sedangkan pria yang berada di bawahnya, tidak berhenti merancau merasakan gerakan Olive yang tidak teratur, dan semakin membuat belalainya mabuk kepayang.
"Sayang, ah yeah putar lagi." Ando mengigit bibirnya merasakan sensasi yang luar biasa Olive berikan. Istirnya semakin pintar memanjakan belalainya.
"Ohh kak, ini_ Ahh." Olive semakin bergerak tidak terkendali, naik turun dan berputar di pusat kenikmatan yang tiada tara, hingga sebuah desakan yang begitu besar membuatnya lepas kendali.
"Ah, bersama sayang.. bersama." Rancao Ando yang merasakan Olive akan meledek, dan belalainya yang semakin bengkak siap untuk memuntahkan liurnya.
"Arrghh."
Suara geraman keduanya begitu menggema, hingga membuat Olive lemas tak berdaya. Tangan Ando menahan bahu Olive agar wanita itu tidak ambruk di atas tubuhnya, karena anda tidak ingin perut tergencet dengan tubuhnya.
"Engh." Olive meletus saat tubuhnya digulirkan ke samping, hingga penyatuan keduanya terlepas.
"Terima kasih sayang, aku mencintaimu." Ando mencium kening dan pelipis Olive setelah mereka sama-sama kelelahan menguras tenaga dan keringat menjelang petang.
Olive tersenyum dan mengatur nafasnya yang memburu, Ando menyelimuti tubuh keduanya untuk sesaat dirinya dan Olive akan istirahat sebentar setelah itu membersihkan diri mengingat hari akan segera malam.
"Istirahat sebentar." Ando mengusap kening Olive yang basah oleh keringat, tangan kirinya menyangga kepala untuk menatap wajah Olive.
"Kamu semakin pintar memanjakan belalaiku sayang." Ucap Ando yang menatap wajah Olive yang matanya terpejam.
Olive pun menoleh, mekipun dadanya masih kembang kempis. "Hm, pasti kamu senang kan." Jawab Olive sambil mencebikkan bibirnya.
"Hm, tentu saja aku senang, goa mu selalu membuat belalaiku puas hingga lemas."
Bugh
"Kamu selalu mesum." Ucap Olive sambil mendelik dan cemberut.
Ando tertawa, merasa sudah cukup memulihkan tenaga, Ando memilih untuk menggendong Olive dan masuk kekamar mandi, untuk membersihkan diri.
Malam pukul 10, bel apartemen Ando berbunyi. Ando yang sedang menonton TV menemani Olive ingin beranjak, tapi tidak diperbolehkan Olive, sepertinya Olive trauma dengan bel berbunyi.
"Jangan kak, aku takut jika Bisma datang lagi." Ucap Olive dengan wajah takut.
Ando kembali duduk, dan memeluk Olive. "Dia tidak akan berani sayang, ada aku disini." Ucapnya lagi. Ando pikir ketakutan Olive sudah pulih, tapi hanya mendengar bel pintu saja Olive kembali takut, jadi istrinya mengalami trauma.
"Aku lihat dulu siapa, sejak tadi tidak mau berhenti itu mainan bel." Kesal Ando yang terganggu dengan bel pintu yang berbunyi terus.
Dirinya menuruti ucapan Olive, untuk tidak beranjak, tapi bel pintu terus berbunyi.
__ADS_1
"Tapi kak." Cegah Olive lagi saat melihat Ando kembali beranjak berdiri.
"Tidak apa sayang, percayalah aku akan hati-hati."
Ting...tong...ting... tong..
Bunyi bel apartemen semakin keras dan cepat, sepertinya orang itu ingin merusak bel apartemennya.
Ando melihat siapa yang berada di balik pintu, dan dirinya menggeram saat melihat wajah yang berada dibalik pintu.
Brak
"Setan, kuntilanak, pocong..!!"
Latah kedua pria yang kaget saat pintu terbuka dengan kuat dan di banting.
Ingin rasanya Ando tertawa, tapi pria itu memilih menahannya, dan menunjukan wajah garangnya.
"Bos.." Joe dan Jack meringis melihat wajah seram Ando. sepertinya setelah menikah bos nya itu terkena tekanan batin karena sekarang Ando lebih menakutkan.
"Apa kalian tidak berpikir suara bel yang kalian hasilkan menganggu." Ketus Ando menatap keduanya yang menunduk menatapnya takut-takut.
"Maaf bos, kami tidak tahu." Jawab Joe yang memang paling paling berani.
"Kalian ini benar-benar."
"Siapa kak?" Tanya Olive dari dalam, karena suaminya lama tidak masuk kedalam.
"Nona.." Joe dan Jack bersikap ramah dengan senyum mengembang, mengalihkan tatapan seram bosnya itu.
"Kalian?" Olive cukup terkejut melihat dua pria yang pernah dia lihat di Surabaya.
"Hehe, iya nona kam_"
"Tidak usah sok manis." Ando menoyor kening Joe yang ingin modus dengan istirnya.
Olive hanya geleng kepala. "Masuk saja kalian." Mendapat angin segar dari pemilik apartemen, tentu saja membuat Joe dan Jack senang.
Ando mendelik menatap keduanya. "Awas aja macan-macam." Ucapnya mengancam.
"Kak, sudah. Biarkan mereka masuk." Ucap Olive.
Akhirnya mereka pun masuk, dan duduk di ruang tamu.
anda ikut duduk di sana dan menatap keduanya yang masih kikuk merasa takut.
"Ada apa kalian datang ke sini?" tanya Ando.
"Kami ingin membantu anda untuk menangkap Bisma bos, karena kami yakin anda dan istri anda sedang diincar pria buronan itu." Jawab Joe.
__ADS_1
Kini obrolan mereka menjadi serius. Ando mengerti apa yang Joe akan lakukan, pria itu memang pria baik dan bertanggung jawab.
"Terakhir berita yang kami dengar tuan Aminoto meninggal di dalam bui karena stress dan depresi akibat kehidupannya yang begitu tragis berakhir di dalam bui. Dan istrinya pergi dengan pria lain dan sudah menikah lagi oleh karena itu mungkin Bisma merasakan hidupnya hancur dan ingin balas dendam kepada Anda tuan." Joe tidak melanjutkan ucapannya lagi karena Olive keluar dengan membawa minuman untuk mereka.