Love Is Back

Love Is Back
Posesif dan protektif


__ADS_3

Beberapa minggu menghadapi masa kehamilan istrinya, Ando masih menikmati sebagai suami yang siap siaga titik pria itu tidak mengeluh apapun yang istrinya inginkan, apapun anda akan berikan jika Olive memintanya.


Demi si cabang bayi yang akan melengkapi kehidupannya, Ando rela melakukan permintaan Olive yang menurutnya sangat aneh dan nyeleneh.


Setiap malam Ando pasti akan tidur menggunakan lingeri seksi koleksi istrinya itu, dan Olive akan senang hati memeluknya sepanjang malam. meskipun kata dokter kehamilan muda yang masih sangat rentan karena usia kandungan Olive masih berusia empat minggu, Ando tidak melanggar ucapan yang pernah dokter katakan, jika saat kehamilan muda keduanya tidak boleh sering melakukan hubungan suami istri lebih dulu. Dan Ando tidak ingin terjadi sesuatu kepada calon bayinya maka dirinya menahan diri agar belalainya tidak berontak.


"Sayang aku berangkat dulu." Ando menghampiri Istrinya yang berada didalam kamar.


Olive duduk diatas ranjang dengan posisi bersandar di bahu ranjang.


Setelah menyuapi istrinya sarapan, Ando segera bersiap untuk pergi kekantor. Semenjak Olive hamil Ando sering melayani sang Istri yang terkadang manjanya tidak ketulungan.


"Diminum dulu vitaminnya." Ando memberikan vitamin dan setelah air untuk Olive minum.


Olive pun menurut, semenjak hamil wanita itu memang jadi penurut. hanya saja terkadang permintaannya yang aneh-aneh membuat Ando frustasi sendiri, tapi mau bagaimana lagi semua itu karena ulah belalainya yang terus-menerus menyemburkan kecebong hingga membuat istrinya berbadan dua.


Ando berusaha tidak mengeluh sebisa mungkin dia memberikan yang terbaik sebisa yang dia mampu.


"Istirahat yang cukup tidak usah mengerjakan apapun." Ando mengecup kening Olive. "mau dibawakan apa nanti kalau pulang? sepertinya siang nanti aku tidak ada pekerjaan dan aku bisa pulang untuk menemanimu makan siang." Ando menatap istrinya dengan seksama, sepertinya Olive tampak berpikir.


"Mau minuman caramel ditempat biasa." jawab Olive dengan mata berbinar.


melihat senyum senang istrinya anda jadi ikut tersenyum, "Baiklah nanti akan aku belikan." aduh mengusap rambut panjang Olive pelan, dan kecupan singkat ia berikan di bibir istrinya.


"Hati-hati kak." Olive tersenyum sambil melambaikan tangan saat suaminya sudah membuka pintu untuk keluar dari kamar."


"Hem, kamu juga. kalau ada apa-apa hubungi Aku."


Olive hanya mengaguk saja. Mendengar ucapan suaminya.


Dirinya yang lelah duduk akhirnya berdiri. Saat ingin berdiri Olive mendengar ponselnya bergetar. Dan tetera naman Loli disana.


"Halo Lol?"


"Kamu dirumah? aku ingin bertemu." Ucap Loli dari seberang sana.

__ADS_1


Olive hanya menghela napas, pasti temannya itu akan curhat tantang tunangannya yang psoessif.


"Aku di apartemen, datang saja ya."


Setelah mendapat jawaban dari Loli, sambungan telepon terputus, Olive sampai geleng kepala jika mendengar curhatan Loli yang semua tentang perlakuan Niko.


Olive tidak percaya dengan apa yang Niko lakukan, sampai dirinya bisa tertawa mendengar cerita Loli, apalagi Loli menujukan bukti kemesuman seorang Niko.


Tak lama bel apartemen berbunyi, Olive berjalan menuju pintu dan melihat dari celah yang terdapat lubang kecil, di pintu Lolipop berdiri disana.


Ceklek


"Hay bumil, aku bawakan kamu salad dan rujak buah, biasanya ibu hamil suka makanan seperti itu." Loli nyerocos sambil berjalan masuk tanpa Olive persilahkan.


Olive hanya geleng kepala melihat kelakuan temannya yang memang sedikit rada labil.


"Kamu besok juga kayak gini kalau Udah nikah dan hamil." Olive mengambil rujak buah yang Loli bawa.


"Hem, mungkin begitu." Jawab Loli yang ikut duduk dan mengambil salah satu salad buah.


Loli juga ikut tertawa, "Sungguh Liv, aku tidak berpikir jika aku akan menikah dengan anak pemilik tambak ikan besar." Ucap Loli.


Olive mengagguk, "Tidak mendapat anak CEO, anak juragan Empang pun jadi."


Lagi-lagi keduanya tertawa, hingga Loli tidak melihat jika ponselnya sejak tadi menyala karena ada panggilan masuk, Loli memang mensilent ponselnya, karena hampir lima menit sekali Niko terus menghubunginya untuk menanyakan pertanyaan yang tidak penting.


"Bagaimana? apa kak Niko masih saja sama atau bahkan lebih parah?" Tanya Olive sambil menyantap salad buah yang menggoda lidahnya.


Semenjak hamil, Olive belum menemukan perubahan mood makannya, masih dia cerna dan tidak merasakan mual berlebihan saat mencium bau makanan yang tidak dia suka.


Jadi Olive termasuk aman untuk makanan yang tidak pilih-pilih, tapi sekarang apapun yang dia makan adalah makanan yang dia inginkan.


"Ck, lebih parah dari anggota Intel." Dengus Loli.


Selain posesif, Niko juga protektif dan selektif apapun yang berhubungan dengannya, selektif tentang siapa saja yang menjadi teman ngobrolnya atau teman team kelompok saat Loli mengerjakan tugas.

__ADS_1


Loli tidak boleh dekat-dekat dengan pria lain, atau jika ada teman kelompoknya pria maka ketua kelompok itu harus menggantinya dengan seorang wanita.


Semua mahasiswa di kampus tahu siapa Loli untuk Niko, dan mereka yang mengetahuinya tidak berani untuk mencari ulah dengan ketua Senat dikampus itu.


"Itu berarti kak Niko benar-benar mencintaimu, dan ingin menjagamu."


"Tapikan kalau begitu aku semakin merasa tertekan, belum menikah saja dia sudah seperti itu, apalagi nanti setelah menikah." Loli menghela napas panjang.


Dirinya hanya takut kalau tidak bisa menjadi istri yang baik, jiwa kebebasan Loli masih sangat besar, dan sekarang dengan adanya Niko, Loli benar-benar seperti burung dalam sangkar.


Bahkan mereka sering berdebat hanya karena hal sepele, dimana saat dirinya mengobrol dengan teman sefakultasnya saat berdiskusi pelajaran, dan Niko melihatnya membuat pria itu langsung memarahinya agar tidak boleh dekat-dekat lagi atau mengobrol dengan teman pria.


Semakin lama, Loli semakin frustasi dengan cara Niko memperlakukannya, dirinya seperti burung dalam sangkar yang selalu dibatasi ruang lingkupnya.


Meskipun mengatasnamakan cintanya yang besar, tapi Loli merasa sepertinya cinta Niko seperti obsesi.


"Sudahlah tidak perlu dipikirkan, aku yakin kak Niko melakukannya karena ingin menjagamu."


Dilain tempat seorang pria tegah kesal karena sejak tadi teleponya tidak diangkat sama sekali, bahkan baterai ponselnya sampai lowbed hanya karena untuk menghubungi kekasihnya.


"Loli sebenarnya kamu kemana?" Niko sampai geram sendiri, meremas ponselnya kuat karena kesal.


Entah mengapa dirinya menjadi pria posesif dan protektif seperti sekarang, padahal dahulu dirinya tidak pernah melakukan hal yang seperti dia lakukan kepada Loli, dulu Niko biasa saja tidak terlalu mengekang atau membatasi pergaulan kekasihnya dulu. Tapi dengan Loli Niko merasa harus melakukannya, apalagi sifat Loli yang keras kepala terkadang membuatnya harus tegas dengan gadis itu.


Pernikahan yang seharusnya sebentar lagi, tiba-tiba harus diundur beberapa bulan kedepan, Loli yang sebelumnya setuju dengan apa yang Niko inginkan, tiba-tiba berubah pikiran saat didepan kedua orang tuanya saat datang kerumah. Acara yang seharusnya melamar, kini harus berubah menjadi tunangan, Loli beralasan ingin diberikan waktu untuk mengenal lebih dekat, karena mereka memang baru mengenal sebentar, apalagi perkenalan mereka terjadi diaparteman Niko waktu itu.


Dan karena alasan itu juga Niko semakin membatasi pergaulan Loli, dan Niko tidak sadar jika apa yang dia lakukan bisa membuat Loli merasa terkekang.


.


.


jangan lupa mampir di pijooo..


Gwen untuk Ameer 🥰

__ADS_1


__ADS_2