
Di dalam mobil Olive sudah menghela napas beberapa kali, sudah lima belas menit suaminya didalam sana tapi tak juga kunjung keluar.
Ingin rasanya Olive masuk dan menarik telinga suaminya dan membawanya keluar, tapi dirinya sadar jika wanita hamil tidak bisa masuk ke club itu.
"Kalau tau begini mending tadi ikut saja." gumamnya yang sudah merasa bosan menunggu.
Mau menelfon dirinya lupa tidak membawa ponsel, dan saat Olive nekat untuk keluar, tiba-tiba matanya menangkap suaminya yang keluar dari club' sambil menarik seorang gadis.
Olive membelalakan kedua matanya melihat siapa gadis yang suaminya tarik tangannya itu.
"Masuk..!"
"Kak, aku tidak mau." Andien kembali ingin memberontak dan kembali kedalam.
"Andien..!"
Plak
Olive menutup mulutnya melihat suaminya menampar Andien didepan matanya, sedangkan Andien yang sudah menagis sejak tadi semakin terisak dengan menyentuh pipinya yang terasa sakit.
"Masuk..!" Ando kembali memaksa Andien untuk masuk ke dalam mobil, pria itu memaksa adiknya agar pulang.
Tidak perduli sudah melayangkan tangannya kewajah sang adik, Ando masuk dengan wajah datar dan dingin menyimpan kemarahan. Pria itu duduk dibalik kemudi dan segera menjalankan mobilnya.
Didalam club yang tadinya ramai kini harus membereskan kekacauan yang terjadi, dan seorang pria yang dengan wajah lebam mengusap wajahnya frustasi.
"Tuan." Seorang pria yang tadi membatunya di club' memberikan alat kompres kepada pria itu.
"Apa gadis itu sudah pergi." Tanya pria itu dengan tatapan dingin dan rahang mengeras.
"Sudah."
"Pergilah." Pria itu menyuruh pria berpakaian hitam itu pergi.
"Andien." Pria itu bergumam dengan gejolak hatinya yang terasa sesak.
"Andien kenapa kamu bisa didalam club?" Tanya Olive yang sejak tadi didalam mobil itu hanya ada keheningan.
Andien yang baru menyadari jika ada kakak iparnya mendongak, tapi mulutnya enggan bicara.
"Kak.." Olive menyentuh lengan Ando yang mengemudikan mobil, pria itu hanya menoleh sebentar. Dan Olive baru menyadari jika wajah suaminya terlihat luka memar.
__ADS_1
"Kak ini kenapa?" Olive ingin menyentuh wajah Ando yang memar, tapi pria itu menolak tangan Olive yang akan menyentuhnya.
"Tidak apa-apa." Jawab Ando datar.
Olive tidak lagi bertanya, dirinya hanya diam dengan berpikir apa yang terjadi didalam sana. Dan Andien gadis SMA kenapa juga harus berada didalam club.
Mobil Ando berhenti didepan rumah kedua orang tuanya, pria itu tidak bicara ataupun menoleh kepada Andien.
Andien segera keluar dan membanting pintu mobil dengan keras, melupakan rasa kesalnya kepada sang kakak yang sudah membuat kekacauan tadi.
Brak
Ando memejamkan matanya saat Andien membanting pintu mobil dengan keras, dirinya tahu jika adiknya itu marah, tapi kemarahan Andien tidak membuat dirinya iba, justru yang seharusnya marah adalah dirinya.
"Sial..!!"
Ando mengumpat dengan memukul setir kemudinya kuat, dirinya tidak menyadari jika sang istri berada disampingnya melihat apa yang dia lakukan.
Olive sendiri tahu bagaimana pria itu menahan amarahnya, apalagi melihat adik perempuannya berada didalam club.
Ando kembali menjalankan mobilnya, menuju apartemen, niat hatinya ingin menuruti keinginannya yang mungkin saja bisa dibilang ngidam, siapa sangka keinginannya yang masuk club justru malah membuat dirinya terbakar emosi dan marah.
Sepanjang jalan keduanya hanya diam, Olive tidak ingin bertanya jika suaminya belum mau bercerita, dirinya cukup tahu bagaimana seorang kakak laki-laki harus mejaga adiknya yang seorang perempuan, apalagi kehidupan di Jakarta ini sangat keras, dan Olive cukup mengerti apa yang suaminya rasakan untuk saat ini.
"Mungkin dia butuh sesuatu yang bisa membuatnya rileks." Gumam Olive.
Wanita hamil empat bulan itu, kembali keluar dari kamar setelah mengganti pakaiannya tadi.
Olive menuju dapur untuk membuatkan teh hangat yang mungkin bisa membuat hati suaminya lebih baik.
Ando keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang hanya melingkar di pinggangnya, tangannya mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil.
Tapi melihat kearah ranjang dirinya tidak melihat istrinya, ataupun pakaian ganti untuknya, karena biasanya Istrinya menyiapkan disana.
Masih dengan pikirannya, tiba-tiba pintu kamar terbuka, Olive muncul dengan membawa secangkir minuman. Tapi bukan itu yang membuat Ando menatap istrinya, tapi penampilan Olive yang sudah berganti pakaian saat mereka keluar tadi, dan kini istrinya memakai pakaian dinas malam yang cukup membuat tenggorokannya kering.
"Sudah selesai, aku buatkan teh hijau hangat untukmu kak." Olive menuju meja kecil didekat jendela besar yang terdapat sofa disana.
Wanita itu menaruh minuman yang dia bawa disana. Ando berjalan menghampiri Olive yang masih menunduk untuk menaruh minumanya.
Grep
__ADS_1
Saat berdiri, tiba-tiba Ando memeluknya dari belakang. Olive tersenyum dan mengusap lengan suaminya yang melingkar diperutnya.
"Diminum dulu, nanti keburu dingin." Ucap Olive lembut.
"Em, biarkan seperti ini dulu." Ucap Ando yang memeluk Olive dengan rasa hangat yang langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
Ando menaruh kepalanya di bahu Olive dengan posisi menyamping, sehingga dirinya bisa mencium leher jenjang Olive yang rambutnya di Cepol keatas.
Olive diam, membiarkan apa yang suaminya lakukan, yang mungkin saja bisa membuat suaminya merasa lebih baik.
Cukup lama Ando dalam posisi itu dan karena ingat jika Olive sudah berdiri cukup lama dalam keadaan hamil, Ando memilih untuk membawa Olive duduk diatas pangkuannya.
"Diminum." Olive menyodorkan teh yang dia buat.
Ando menerimanya dan meminumnya hingga setengah, Olive terseyum dan kembali menaruh gelas itu dimeja.
Tangan Olive melingkar di leher suaminya, Ando tersenyum menatap istrinya.
"Maaf jika aku tadi mengabaikan mu." Ucap Ando sambil mengusap punggung Olive.
Sedari tadi dirinya merasa bersalah karena mengabaikan Olive sejak pulang dari club.
"Tidak apa, tapi jika ingin bercerita aku mau mendengarnya." Tutur Olive dengan senyum manis yang sering Ando lihat, dan senyum yang Olive berikan selalu bisa membuat hatinya berdebar.
"Hm, tadi saat aku masuk, aku tidak menyadari jika disana ada Andien, karena niatnya aku hanya ingin menghampiri teman ku saja, Tapi siapa sangka jika_"
Ando menceritakan apa yang dia lihat didalam sana, dimana adik perempuannya sedang duduk dengan seorang pria yang lebih dewasa dari sang adik. Karena melihat pria itu, Ando berpikir jika adiknya melakukan hal yang tidak mungkin dia pikirkan, tapi melihat interaksi keduanya membuat dada Ando bergemuruh dengan amarah yang langsung naik.
Tanpa ba-bi-bu Ando langsung menyerang pria yang sudah memeluk adiknya itu, dan terjadilah perkelahian yang memang Ando lebih unggul meksipun terkena pukulan satu kali.
Selama ini dirinya memang bukan pria dan kakak yang baik, tapi Ando berusaha untuk menebus kesalahan masa lalunya dengan berubah agar lebih baik lagi, Ando hanya tidak ingin perbuatanya dulu dengan seorang wanita berbalik dengan adiknya. Dirinya tidak ingin apa yang dia lakukan dimasa lalu, berimbas kepada Andien.
"Tidak semua pria seperti itu kak, mungkin saja mereka memang memiliki hubungan tapi kamu belum pernah melihat Andien memiliki kekasih dan kamu pikir Andien melakukan hal yang tidak-tidak." Tutur Olive.
Ando hanya menggelengkan kepalanya, dirinya belum bisa menerima apa yang dia lihat, dia tidak ingin Andien salah dalam pergaulan dan memilih kekasih, karena untuk mendamping hidup rasanya tidak mungkin karena Andien masih sekolah.
Dan Ando lupa, dari mana dirinya asal Jika bukan dari cerita My Husband Om-Om 🤣
.
.
__ADS_1
SAJEN jangan lupa sayang 🥰🥰