Love Is Back

Love Is Back
Taruhan Olive dan Ami


__ADS_3

Didalam ruangan yang khusus untuk Olive melakukan olah raga ringan. Gadis itu sudah hampir satu jam belum berhenti melakukan olahraga skipping.


Tekatnya sudah bulat, saat seseorang yang dia anggap pria baik dan tidak memandang fisik kini pria itu telah membuat dadanya berkobar untuk semangat menurunkan berat badannya.


Meskipun disekolah Olive sering mendapat Body shaming tapi Olive tidak berpengaruh dan memasukkan kedalam hati. Tapi tidak untuk sekarang, jelas ucapan Ando cukup membuatnya merasa dihina dengan memiliki body yang terbilang gendut.


"Hah, capek." Olive duduk sambil meluruskan kakinya. "Butuh perjuangan untuk mendapatkan hasil." Ucap Olive untuk menyemangati dirinya.


Olive meraih botol minumanya, melihat jam sudah menunjukan pukul delapan malam, dan dirinya belum makan, tapi perutnya tidak terasa lapar.


Dilain tempat Ando mengantar Sofi keaparteman, pria itu hanya mengantar saja.


"Yakin tidak mau masuk dulu?" Tanya Sofi.


"Lain kali saja aku ada urusan." Jawab Ando yang langsung meninggalkan Sofi didepan pintu apartemen.


Sofi hanya menatap punggung Ando yang hilang ditikungan dekat pintu lift.


Ando mengendarai mobilnya menuju rumah Olive, sejak saat Olive memutuskan pergi dirinya merasakan sesuatu yang membuatnya tidak rela. Meskipun begitu Ando yang memang belum pernah menggunakan perasaan dengan lawan jenis cukup awam untuk mengenali perasaannya sendiri.


Drt... Drt..


Ponsel Olive berdering diatas meja. Olive yang sedang belajar karena dirinya akan menghadapinya ujian akhir memilih mengabaikan penggilan itu.


Ando mengumpat kesal, sejak tadi panggilanya tidak diangkat oleh Olive.


"Angkat Ndut." Kesalnya karena tidak lekas mendapat jawaban.


Setelah tidak sabar menunggu, Ando menyajikan untuk bertamu di jam hampir sembilan malam.


Ting..tong...ting tong...


Olive yang dikamarnya mendengar suara bel rumah berbunyi, sudah tahu siapa yang datang Olive masa bodoh.


"Bodo amat." Gumamnya sambil memasang handset agar tidak terlalu mendengar suara bel berbunyi yang menurutnya sangat berisik.


Beruntung kedua orang tuanya sedang pergi ke Surabaya kerumah neneknya, karena kesehatan neneknya kurang baik, dan Olive yang sebenarnya ingin ikut tapi karena ada ujian sekolah lebih baik dirinya menyusul nanti.


"Ndut buka pintunya!" Ando berteriak didepan pintu rumah Olive, pria itu seperti pria yang frustasi ditinggal istrinya.


"Ck, sial.!" Ando mengumpat dan menendang pintu rumah.

__ADS_1


Perasaannya mulai campur aduk, Ando menyadari jika dirinya sudah bicara keterlaluan pada Olive.


.


.


.


"Muka lu Kenapa?" Tanya Nathan yang melihat wajah aisistenya ditekuk dengan lesu.


"Laporan yang lu minta." Ucap Ando memberikan map pada Nathan.


Ando telihat kusut, sudah tiga hari Olive tidak bisa dihubungi dan kesibukan Ando yang sedang mengurus pekerjaan penting dari Nathan membuat waktunya sangat tersita, jangankan menemui Olive berkunjung keaparteman Sofi saja dirinya tidak sempat.


"Ada masalah?" Tanya Nathan dengan menatap asistennya.


Ando menggeleng. "Hanya kecapekan, lu taukan pekerjaan yang lu kasih menguras waktu istirahat gue." Ucap Ando setengah jujur, selain pekerjaan Ando juga memikirkan Olive yang susah untuk dia temui.


Nathan hanya mengaguk, meskipun dirinya tahu sesuatu, tapi Nathan tidak ingin ikut campur jika Ando sendiri tidak ingin cerita.


"Ol, lu kurusan ya." Ami memutar-mutar tubuh Olive. yang memang sedikit terlihat kurus dari pada sebelumnya.


"Mas sih, masih sama kok." Jawab Olive dengan apa adanya, karena Olive sendiri tidak menyadari perubahan tubuhnya. Tapi orang-orang yang sering melihat Olive pasti menyadarinya.


Olive geleng kepala, dirinya memang menceritakan apa yang dia alami dengan Ando pada sahabatnya ini termasuk kejadian yang terakhir begitu membuat hatinya sakit.


"Syukur deh kalau begitu, menurut kamu kalau aku kurus bagaimana?" Tanya Olive sambil bergaya centil.


"Dih, narsis lu." Ami menoyor lengan Olive, membuat Olive tertawa.


"Tapi bagus sih, kayaknya kakak gue juga naksir sama_"


Ehem


Deheman seseorang membuat Ami berhenti bicara.


"Kakak yang mana?" Tanya Niko dengan alis terangkat satu, menatap Ami dan Olive bergantian.


Ami hanya menyengir, sedangkan Olive terseyum sambil geleng kepala.


"Yang mana aja, soalnya kakakku banyak." Ucap Ami yang ngeles.

__ADS_1


"Mau pulang sekarang?" Tanya Niko pada adik tirinya karena hari ini mereka sudah ada janji untuk makan malam bersama.


"Hayukk, tapi kita belanja dulu." Ucap Ami.


"Oke, kita ketemu nanti malam, salam untuk bunda." Niko memang hanya sekedar mampir ketika melewati sekolah adiknya.


Olive hanya mengikuti sahabatnya, dirinya yang tinggal sendiri merasa kesepian karena kedua orangtuanya belum pulang.


Keduanya sedang berbelanja di supermarket yang menyediakan bahan lengkap, Ami memilih apa saja yang bundarnya inginkan.


"Semua beres ayo kita pulang." Ucap Ami yang sudah membeli bahan makanan yang cukup banyak.


Olive mengaguk dan membantu Ami untuk membayar di kasir, " Istri sultan." Gumam Olive saat melihat Ami mengeluarkan kartu keramat dari suaminya.


Tak lama seseorang menghampiri keduanya, dia Zian kakak kelas mereka yang sudah lulus, Ami dan Zian sedang berbicara sedangkan Olive hanya menyimak.


"Eh, Olive kayaknya lu agak?" Zian mengantungkan ucapanya.


"Agak kurusan." Ucap Olive sambil cemberut.


Zian tersenyum. "Iya, tapi kelihatan semakin manis."


Blus


Ucapan Zian membuat wajah Olive blushing. Untuk pertama kali dirinya mendapat pujian dari seorang pria, apakah jika dirinya kurus maka para pria akan meliriknya dan mengatakan demikian. Tapi bagaimana jika dirinya tidak bisa kurus, apakah ada pria yang mau menerima dirinya apa adanya.


Setelah berbicara cukup lama keduanya kembali kemobil Ami yang mengantar mereka.


"Aku nggak yakin kamu bisa menyelesaikan masakan ini tepat waktu?" Ucap Olive pada Ami.


Memasak banyak menu cukup menguras waktu apalagi tinggal beberapa jam saja, dan Olive tidak yakin jika sahabatnya akan menyelesaikannya.


"Yaelah ngeremehin gue banget jadi Bestie." Ucap Ami.


Olive hanya mencebik. "Oke, kalau gue selesai masak tepat waktu lu harus menuruti permintaan gue, anggap saja ini taruhan. Dan sebaliknya kalau lu yang menang lu boleh minta apapun dari gue. Gimana??" Ucap Ami dengan wajah sombong, karena dia yakin dirinya yang akan menang.


"Oke, deal." Olive yang yakin mengiyakan, dirinya tidak tahu jika sahabatnya itu merencanakan sesuatu untuk dirinya.


.


.

__ADS_1


Kayanya author khilaf 🙈


__ADS_2