Love Is Back

Love Is Back
Keputusan untuk Andien


__ADS_3

Ando mengendarai mobilnya menuju kediaman kedua orang tuanya, alasannya ada pekerjaan penting pun dia berbohong. Memang tidak ada pekerjaan penting, tapi ada urusan lain yang lebih penting. Setelah menempuh perjalanan hampir 30 menit akhirnya mobilnya sampai di halaman rumah kedua orang tuanya.


Ando segera turun dari mobil setelah memastikan mesin mobilnya mati, pria itu berjalan terkesan masuk ke dalam rumah yang memang masih sepi karena masih jam 06.30 pagi. dia sengaja datang pagi-pagi hanya untuk menemui Andien.


"Loh Ndo, tumben kamu pagi-pagi sampai sini istrimu mana?" siapa Mama Leard pada Ando yang tiba-tiba muncul di meja makan.


"Aku hanya sendiri mah, di mana Papa dan Andien?" Tanya ada yang sudah duduk di kursi.


Leard menyiapkan sarapan pagi untuk anak dan suaminya Tapi kini putranya juga ikut duduk di meja makan. "Sebentar lagi mereka akan turun mungkin masih bersiap." Jawab Leard. "Bagaimana keadaan cucu mama, Apakah cucu dan menantu Mama baik-baik saja?"


"Baik, cucu dan menantu Mama baik-baik saja."


"Lalu untuk apa pagi-pagi kamu datang ke sini hanya sendiri kenapa tidak membawa Olive kemari?" Leard masih mempermasalahkan Anda yang datang sendiri.


"Ada hal penting yang akan aku bicarakan dengan mama dan papa terutama dengan Andien." Nada suara Anda begitu serius sehingga membuat Leard penasaran.


Tak lama suara hentakan kaki menuruni tangga Ando sudah bisa memastikan siapa yang turun dari tangga meskipun tanpa melihat. Sedangkan Adien yang melihat kakaknya duduk di kursi meja makan terkejut jantungnya berdebar kencang melihat kakaknya yang sudah duduk di sana pagi-pagi sekali.


Andien berdiri mematung dengan mencengkram kedua tali tasnya yang berada di bahunya, gadis itu merasa hidupnya akan terancam setelah ini.


"Andien kenapa hanya berdiri di sana apa kamu tidak mau sarapan."


Suara Ando yang biasa namun begitu terdengar mengerikan di telinga Andien.


"I-iya Kak." Adit menjawab dengan gugup kakinya melangkah perlahan dan terasa begitu berat untuk menuju meja makan pagi ini.


Leard yang melihat kejanggalan diantara kedua anak-anaknya merasa bingung dan juga penasaran hingga dirinya gatal untuk bertanya.

__ADS_1


"Kalian kenapa? ada masalah?" Tanya Leard dengan menatap Andien dan Ando bergantian.


Tak lama Bagas datang dan duduk dikursinya, pria paruh baya itu belum menyadari ketegangan yang terjadi diantara kedua anaknya.


"Duduklah Aku ingin bicara." Titah Ando pada Andien yang sejak tadi hanya berdiri dan belum juga duduk.


"Loh, kamu tumben pagi-pagi nongkrong disini." Tanya Bagas yang baru menyadari adanya Ando.


"Ada yang ingin aku bicarakan, ini soal Andien." Ucapan Ando membuat Andien mematung, dan kedua orang tuanya menjadi penasaran.


"Ada apa dengan Andien?" tanya Bagas yang melihat Andien hanya menunduk.


Sejak semalam inilah yang membuat Ando tidak bisa tidur nyenyak, pikirannya memikirkan Andien yang entah bagaimana bisa adik perempuannya bergaul dengan pria dewasa bahkan sampai ke klub malam.


"Tadi malam Ando mengantarkan Andien pulang dari klub malam dan Apa kalian tahu jika Andien selama ini sering datang ke klub malam bersama pria yang lebih dewasa darinya." Tutur Ando dengan nada mengintimidasi Andien.


"B-Bukan seperti itu mah, Pah Andien hanya_"


"Hanya karena dia pria kaya lalu kau mau berkencan dengannya." Potong Ando lebih dulu.


Andien hanya bisa menggeleng dengan air mata yang mengalir. Dirinya merasa terjebak dengan situasi seperti ini, sejak semalam dirinya tidak bisa terlelap hanya kerena memikirkan masalah ini.


"Andien, kenapa kamu bisa berkeliaran di club, dan siapa pria yang bersamamu?" tanya Bagas dengan suara tegas.


Andien hanya bisa menunduk, dia tidak tahu harus dari mana menjelaskan kesalahpahaman yang kakaknya lihat. tapi melihat kemarahan di wajah kakaknya Andien tidak bisa berbuat apa-apa karena memang dirinya yang salah sejak dari awal tidak menolak kesepakatan yang dia lakukan.


Meja makan yang biasanya terasa hangat gini terasa mencekam dan dingin, Andien yang sebagai tersangka tidak bicara apapun dan hal itu membuat Ando kesal.

__ADS_1


"Jika kamu masih diam seperti itu, kakak akan mengirim mu ke kota S."


"Kak.." Andien langsung beraksi, tapi melihat tatapan Ando yang tajam membuat Andien tidak bisa lagi berkutik.


Andien menatap kedua orangtuanya bergantian, mereka hanya diam tanpa bisa berbuat apa-apa setelah Ando memutuskan.


Andien berlari kembali menaiki tangga, gadis itu menangis dengan apa yang Ando katakan.


"Memangnya siapa pria itu?" Tanya Bagas setelah Andien tidak terlihat.


"Ck, bagaimana bisa Andien dekat dengan pria dewasa yang lebih tua dari ku, padahal pria itu lebih cocok menjadi papanya."Ucap Ando dengan kesal, mengingat identitas pria yang dia dapatkan.


Bagas mengernyitkan keningnya. "Jika pantas menjadi papa Andien, itu berarti seumuran papa?" Ucapan Bagas membuat kedua mata Ando membola.


Sedangkan Leard sudah tertawa, meskipun tadi sempat sedih, tapi apa yang Ando lakukan itu juga untuk kebaikan Andien dan sekolah masa depannya.


"Pah, anak pertama papa itu aku, bukan Andien." Kesal Ando yang mendengar ucapan papanya.


"Lah, kan bertanya mana tau papa salah." Jawab Bagas santai.


Ando mendengus kesal, dan meminum kopinya lalu bergegas pergi ke kantor.


Meskipun sebenarnya tidak tega, tapi dirinya akan menjauhkan Andien dari pria itu. Karena Ando takut jika Andien hanya dimanfaatkan saja.


.


.

__ADS_1


Next kembang kopi 🤣🤣


__ADS_2