
Setelah kelas selesai Olive dan Loli langsung menuju ruangan dosen Gery, padahal hanya Olive yang Gery minta datang, tapi kenapa ada Loli juga.
Gery hanya biasa saja pria itu membalikkan wajah datar dengan pikiran yang sulit diartikan.
Olive dan Loli duduk disofa, keduanya sibuk mengerjakan tugas yang diberikan Gery, pria itu hanya menatap keduanya dengan pikiran entah ke mana
Tok..tok..tok..
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dari luar, keduanya menoleh dan saling tatap.
Gery berdiri untuk membukakan pintu, Gery berbicara pada orang diluar pintu, pria itu masih terlihat karena berada ditangan pintu.
Olive dan Loli saling tatap.
"Mana ponsel lu." Loli meminta ponsel Olive.
"Buat apa?" Olive balik tanya.
"Ck, udah mana buruan." Desak Loli sambil melihat kearah Gery yang manis bicara pada orang diluar.
Tidak tahu apa yang akan di lakukan Loli, Olive memilih memberikannya saja.
Loli mengutak atik ponsel Olive, dan setelahnya menaruhnya di dalam tasnya dengan posisi kamera Vidio on.
"Sttt. kita kerjakan lagi."
Gery masuk dengan menghampiri keduanya yang duduk disofa. Pria itu ikut duduk didepan mereka berdua.
"Sebenarnya yang nilainya jelek itu kan Olive, tapi kenapa kamu juga ikut-ikutan Loli?" Tanya Gery menatap Loli dengan alis naik sebelah.
Loli yang ditanya hanya menyengir. "Biar otak saya encer terus pak, lagian juga ada temannya, kalau sendiri mana saya mau." Jawab Loli santai.
Olive bisa melihat raut wajah tidak suka dari Gery mendengar jawaban Loli.
"Terus kenapa bapak hanya menyuruh Olive, padahal kan banyak murid yang lain butuh bimbingan bapak." Loli melepaskan pertanyaan klise.
Aneh saja jika yang diundang hanya Olive, padahal dikelas mereka jelas banyak teman-teman mereka yang mendapatkan nilai jelek, bahkan dibawah Olive.
Dan anehnya Olive yang notabenya siswi berprestasi sampai bisa mendapatkan nilai C. Sungguh Loli merasa jika dosen setengah tampan ini sedikit mencurigakan.
"Karena dia mahasiswi pindahan, jadi saya perlu membimbingnya." Jawab Gery tegas.
Loli hanya mengangguk-angguk saja. "Ohh, jadi gitu. Aku kira ada sesuatu." Gumam Loli diakhir kalimat.
"Kamu mengatai saya." Gery menatap Loli tajam.
"Mengatai apa? tidak." Loli menggeleng.
Olive ingin tertawa tapi dia tahan, kerena tidak ingin membuat kekacauan.
Gery mendengus, menatap Loli kesal.
Tak lama pintu kembali diketuk dari luar.
"Masuk.." Seruan suara Gery dari dalam.
Muncul seorang wanita muda yang mereka ketahui salah satu penjaga kantin kantin.
"Permisi pak pesanan minuman dan makanannya." Ucap wanita itu.
"Taruh saja di meja."
Wanita itu menurut, dan menaruh pesanan yang dia bawa diatas meja.
"Wah, mbak tau aja kalau kita lagi haus." Ucap Loli terseyum senang.
"Iya mbak, silahkan diminum." Wanita itu ikut tersenyum dan pamit pergi.
"Kerjakan sampai selesai kalian boleh makan dan minum." Gery berdiri dari kursinya, pria kembali kemeja kerjanya dan duduk di sana.
"Eh, kira-kira ini ada obatnya tidak?" Tanya Loli berbisik pada Olive.
"Obat apa?"
"Ck, seperti yang difilm-film itu, jebak orang pakai obat tidur."
__ADS_1
"Lolita, mau kerjakan atau keluar!"
Suara Gery yang keras membuat Loli menutup mulutnya rapat. Gadis itu langsung diam.
Olive hanya geleng kepala, matanya fokus pada soal-soal yang menurutnya sangat mudah, tapi kenapa bisa nilainya mendapatkan C membuatnya bingung.
Loli mengambil minuman jeruk didepanya, karena tenggorokannya merasa haus.
Sedangkan Olive sambil memakan somai yang juga berada didepannya.
Keduanya cukup lama berkutat dengan tugas, hingga satu jam lamanya mereka menyelesaikan tugas yang diberikan dosen.
"Liv mata gue berat benget yak." Ucap Loli yang mencoba membuka matanya lebar.
"Kekenyangan kamu Lol," Jawab Olive sambil menguap.
"Masa sih padahalkan cuma somai, ngak bikin kenyang." Loli terus mengoceh hingga tanpa sadar matanya sudah tertutup dan kepalanya bersandar di bahu sofa.
"Loli kok kamu tidur sih." Olive menggoyangkan bahu Loli agar bangun, tapi tepat saja gadis itu tidak mau bangun.
"Tapi kok aku juga Huuaahh." Olive kembali menguap. "Ngantuk."
"Gimana Olive sudah selesai." Gery mendekati Olive yang sudah tidak bisa menahan matanya untuk terbuka.
"Emm sudah." Olive menutup mulutnya saat kembali menguap.
Gery memeperhatikan wajah Olive seksama, ada rasa rindu didalam dirinya yang begitu mendalam.
"Kamu mengantuk?" Tanya Gery dengan mengusap rambut Olive lembut.
"Sedikit pak." Jawab Olive sudah lemah.
"Emm, yasudah tidurlah." Gery tersenyum.
Menata Loli yang sudah terlepas membuat Gery kembali kesal.
"Kamu hanya pengganggu." Gery mengendong tubuh Loli untuk dia bawa ke kursi kerjanya, Loli yang tidak sadarkan diri duduk dikursi dengan mata terpejam.
"Heh, nikmati saja tidurmu pengganggu." Gery tersenyum sinis.
Kembali ke Olive, Gery mencoba untuk membaringkan Olive disofa, agar nyaman. Ada perasaan senang melihat wajah Olive begitu dekat dengannya, Gery merasa bahagia.
"Andai kamu kembali dengan cepat pasti aku tidak akan menjadi pria brengsekk." Tersirat akan kesedihan dalam ucapan Gery, pria itu menatap sendu wajah Olive yang terlelap.
Siapa sangka 2 tahun tanpa ada kabar, kini wajah itu kembali muncul, Gery tidak percaya jika wanitanya pergi meninggalkannya, apalagi Olivia sangat mencintainya.
Dua tahun lalu, saat dirinya mendapatkan kabar jika Olivia mengalami kecelakaan pesawat saat pulang dari Amrik, Gery yang waktu itu sudah menunggu kepulanganya dengan perasaan bahagia, karena kepulangan Olivia yang menerima pinangannya untuk dijadikan sebagai istri. Saat itu Gery begitu bahagia dengan jawaban yang Olivia katakan.
Tapi naas, saat penerbangan pesawat yang ditumpangi kekasihnya itu mengalami hilang sinyal dan kecelakaan saat terjatuh di laut.
Saat itu juga dunia Gery seakan runtuh dengan berita yang membuat separuh nyawanya ikut hilang.
Gery terpuruk dan depresi, karena wanita yang dia cintai tidak ditemukan jasadnya, setelah kejadian itu Gerry meyakini jika Olivia wanita yang dicintai masihlah hidup dan saat melihat Olive masuk kampus Gary meyakini jika Olive adalah wanita yang dia tunggu-tunggu selama 2 tahun in
"Jadi selama ini kamu menyamar sebagai mahasiswi." Gery terkekeh sendiri.
Tangannya tidak berhenti mengusap pipi Olive yang lembut. "aku tahu pasti kamu juga merindukanku, makanya kamu datang menyamar sebagai mahasiswi di kampus tempatku mengajar."
Gery tak henti-hentinya mengusap wajah Olive dengan penuh kasih sayang rindunya bertemu dengan wanita yang dia cintai begitu besar hingga Gerry tidak bisa melihat siapa sebenarnya wanita yang sudah membutakan matanya. jelas Olive dan Olivia adalah orang berbeda namun kemiripan yang dimiliki Olive membuat Gary menutup matanya jika kekasihnya Olivia sudah tiada di dunia ini.
"Sebentar lagi impian kita akan terwujud sayang, kita akan menikah seperti apa yang dulu kita impikan di mana kamu akan menjadi ratuku sehari, ratu yang paling cantik yang pernah aku lihat. sungguh aku menantikan saat-saat itu tiba dan sekarang aku tidak akan melepaskanmu lagi karena aku sangat mencintaimu Olivia."
carry mengecupkening oli ve dalam pria itu mencoba menyalurkan rasa kasih sayang dan cintanya melalui ciuman yang dia berikan di kening Olive.
Brak
tiba-tiba pintu di dobrak dari luar dengan keras seorang pria menatap Gerry dengan tajam ketika dirinya mencium kening Olive.
"Brengsekk beraninya kau menyentuh istriku..!" Ando menatap carry nyalang pria itu langsung berlari menghampiri pria yang sudah mencoba menyentuh istrinya.
Bugh
Ando menghantam pelipis kiri hingga pria itu terjungkal ke belakang, "beraninya kau menyentuh istriku hah dasar dosen mesum!!" andoman cangkram kerah kemeja Gerry dengan kuat tatapan pria itu tajam dengan rahang mengeras.
Marah tentu saja, melihat istrinya disentuh pria lain dengan keadaan tidak sadar membuat Ando semakin murka, beruntung dirinya datang tepat waktu ketika merasakan perasaannya yang tidak enak sejak tadi Ando mencari istrinya di berbagai tempat namun tidak menemukan saat berpapasan dengan mahasiswa lainnya Ando bertanya dan mahasiswa itu mengatakan jika Olive sedang berada di ruangan dosen yang menurutnya gila dan mesum.
__ADS_1
Sedangkan orang yang Ando suruh menjaga Olive ternyata juga nasibnya sama Loli tidak sadarkan diri sedang duduk di kursi dengan keadaan yang sama.
"Sialan beraninya kau menyentuh istriku rasakan ini.!"
Bugh
Bugh
Bugh
Ando memukuli Gerry seperti orang kesetanan pria itu tidak memberi ampun sedikitpun untuk melawan, sungguh Ando tidak akan memaafkan siapa saja yang menyentuh istrinya dan untuk saat ini dirinya akan membuat perhitungan dengan pria yang memiliki julukan dosen.
Gerry sudah terkapar di lantai, pria itu tidak ada kekuatan untuk melawan pukulan demi pukulan yang Ando berikan yang seperti kerasukan setan.
"Mampus aja kau, dosen cabul!!"
Nafas Ando memburu, "gue tidak akan membuat hidup lu tenang dasar dosen tidak punya malu. Cih." Ando berdecih dan menendang perut kiri hingga membuat pria itu merintih.
"Payah, berani dengan perempuan lawan gue bod*oh dasar Gerry chocolatos." umpat Ando dengan emosi.
"Sayang.." Ando menepuk-nepuk kedua pipi Olive tapi wanitanya tidak mau membuka mata, sepertinya pria itu benar-benar membuat istrinya tidak sadarkan diri agar bisa melancarkan aksinya.
"Hukuman lo belum berakhir brengsekk ! gue akan jeblosin lu ke penjara." Ando bicara dengan suara menggebu-gebu.
Ando menggendong tubuh Olive untuk keluar dari ruangan dosen gila itu, pria itu menggendong Olive menuju mobilnya yang terparkir di depan kampus.
Saat ingin memasukkan Olive ke dalam mobil, tiba-tiba Niko datang menghampirinya.
"Apa yang terjadi?" Niko sedikit terkejut melihat Ando menggendong Olive yang tidak sadarkan diri.
"Lu masuk saja ke ruangan dosen gila itu di sana Loli tidak sadarkan diri dan lu bantu dia." Setelah mengatakan itu Ando pun masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.
Niko yang mendapat perintah bingung apa maksud dari ucapan Ando barusan. "Gue itu nanya belum lu jawab woi..!! kenapa lu malah menyuruh gue untuk ke ruangan dosen." Kesal Niko dengan berteriak karena mobil anda sudah melaju meninggalkannya.
Niko yang penasaran pun berjalan pergi menuju ruangan dosen yang Ando maksud pria itu setengah berlari agar sampai di ruangan dosen pintu ruangan terbuka lebar dan Niko bisa melihat Loli yang tak sadarkan diri di kursi dosen.
"Loli.." Panggil Niko yang ingin berjalan masuk.
Tapi langkah kakinya berhenti saat melihat seseorang tergeletak di lantai dengan wajah penuh lebam dan mengenaskan.
"Pak pak Gerry. bapak kenapa?" Niko mendekati dosen yang tergeletak di lantai yang terdengar hanya rintihan dari dosen itu.
"Ck, pasti terjadi sesuatu dengan mereka."
Niko pun beralih pada Loli yang tidak sadarkan diri, pria itu membantu Loli untuk keluar dari ruangan dosen dan membawanya ke UKS untuk mendapat perawatan.
meskipun tidak tahu apa yang terjadi tapi melihat dosen Gery yang tergeletak dengan wajah babak belur dan berantakan, membuat Niko yakin jika yang melakukannya adalah Ando suami Olive dan entah mengapa Niko berpikir jika Olive tadi sedang dalam bahaya.
Di mobil Ando sesekali melihat ke belakang Olive masih belum membuka matanya. Pria itu kesal dan juga dongkol mengingat tadi malam Olive merayunya hanya untuk mendapatkan izin agar bisa menyelesaikan tugas dari dosen gila itu. dan lihatlah Apa yang terjadi kekhawatirannya benar-benar terbukti.
"Awas aja kalau sampai kamu bangun nanti, hukumanmu akan bertambah sayang. Dan kamu tidak akan bisa menolaknya karena ini semua kesalahan yang kamu perbuat."
Ando tidak akan lagi mengizinkan istrinya untuk apapun yang berhubungan dengan seorang pria, cukup sekali dan terakhir kali dirinya memberikan izin. biarkan saja dirinya dibilang suami posesif dan tidak memberi kebebasan, karena cintanya yang begitu besar tidak ingin terjadi apapun kepada istrinya meskipun harus mendengar ocehan dan wajah masam istrinya, Ando tidak peduli yang dia pikirkan hanyalah keselamatan sang istri.
Ando membawa Olive pulang ke apartemen, pria itu kembali menggendong Olive ala bridal style untuk membawanya ke flat apartemen miliknya.
Setelah masuk, Ando membaringkan tubuh Olive di atas ranjang dan menyelimutinya hingga sampai dada, menatap wajah Olive yang terlelap membuat hatinya sedikit lega karena dirinya datang tepat waktu. Kalau saja dirinya telat sedikit mungkin akan lain kejadian yang akan menimpa istrinya, Tuhan masih berbaik hati melindungi istrinya dari dosen gila yang menurutnya sangat aneh, setelah ini Ando akan memberi perhitungan lagi untuk dosen gila yang berani membuat istrinya celaka.
"Tidurlah, saat kau bangun Nanti siapkan saja tenagamu untuk menghadapi hukuman yang akan semakin panjang untuk kamu jalani." Ando mengecupkening Olive sebentar dan mengusap kepalanya dengan lembut.
Pria itu keluar dari kamar dan mengambil ponselnya dari saku celana,.Ando menghubungi seseorang untuk melakukan sesuatu pada dosen gila itu.
"Jebloskan dia ke dalam bui, cari bukti disana pasti ada."
Setelah mengatakan itu Ando kembali masuk kedalam kamar.
Pria itu melepas semua pakaiannya dan yang tersisa hanya celana pendek saja, Ando ikut berbaring di samping Olive yang masih terlelap pria itu membawa istrinya ke dalam pelukannya.
"Andai kamu menuruti ucapan ku, semua tidak akan terjadi seperti ini, tapi dengan kejadian ini dosen gila itu mendapat balasannya."
Ando mengecup bibir Olive sekilas dan ikut terlelap sambil memeluk Olive.
.
.
__ADS_1
Hola..hola... kasih author semangat di akhir bulan sayang..ðŸ˜ðŸ˜
Jangan lupa mampir di karya author "Gwen untuk Ameer" dilapak piijooo💃💃