
Pagi-pagi Raya dan Mustafa sudah duduk dimeja makan, kedua orang yang juga baru mendapatkan momongan itu kini sedang sarapan bersama.
Mustafa adalah seorang duda anak satu, sama halnya dengan Raya, mereka menikah tanpa melalui proses pendekatan, hanya berkenalan dan saat Mustafa mantap dengan hatinya, pria yang berusia hampir kepala lima itu langsung melamar Raya. siapa sangka jika pernikahannya di hadiahi putra kecil untuk mempererat pernikahan mereka. Apalagi saat awal kehamilan Raya sempat syok dan frustasi karena usianya tak lagi muda tapi malah hamil kembali, dan lagi putrinya yang juga sedang hamil membuat Raya yang seharusnya menerima cucu, malah juga menerima anak mereka. Sungguh takdir Tuhan tidak ada yang tahu.
"Pagi mah Pah." Sapa Niko yang terlihat begitu segar pagi ini.
Raya menoleh kebelakang Niko, tapi tidak menemukan Loli yang ikut bersama suaminya.
"Dimana Loli?" tanya Raya sambil menatap Niko yang baru saja duduk.
Niko mengembangkan senyum, sebelum menjawab. "Belum mau bangun mah, biasalah." Niko menaik turunkan alisnya pada ibu sambungnya, seolah memberi tahu jika setelah pengantin baru pasti terjadi sesuatu.
"Kenapa kamu masih bertanya sayang, sudah pasti menantu kamu itu kelelahan." Ucap Mustafa melirik Niko yang senyam-senyum.
"Kalau begini kelakuan anak kamu Mas, pasti kita akan segera mendapat cucu." Ledek Raya yang melirik Niko.
"Tenang saja, kalian pasti akan mendapat cucu, tidak hanya Ayana yang memberi kalian cucu, tapi aku juga."
"Dasar buaya." Ucap Mustafa pada Niko.
"Sesama penangkar buaya, tidak usah saling menyalahkan."
Mustafa dan Niko langsung kicep, diam tanpa kata.
.
.
Di apartemen Ando baru saja membuka matanya, tapi saat menggerakkan kepalanya terasa begitu sakit.
"Akh, sakit sekali." Ucapanya menahan sakit dibagian punggung dan leher.
Untuk menoleh saja dirinya tidak bisa apalagi untuk menunduk.
"Kak kamu kenapa?" Olive yang baru saja masuk kedalam kamar, melihat suaminya yang kesakitan duduk di atas ranjang, Olive memang lebih dulu bangun dan membuat sarapan, tapi saat masuk melihat suaminya kesakitan dirinya juga khawatir.
"Leher ku sakit banget sayang." Adu Ando yang benar-benar merasakan sakit.
"Kenapa kok bisa?" Olive menghampiri Ando dengan wajah kahawatir, wanita hamil itu mencoba untuk melihat punggung suaminya yang katanya sakit.
"Ya ampun kak ini kenapa?!" pekik Olive yang melihat luka lebam di punggung Ando.
Olive menyentuh bagian yang berwarna ungu pekat, bibirnya meringis melihat lembab itu. apalagi suaminya yang bersamaan sakit.
"kita pergi dokter kak." ucap Olive yang merasa ngilu sendiri.
__ADS_1
"Em, memangnya kenapa sayang." Karena tidak bisa melihat punggungnya sendiri dirinya juga merasa khawatir.
Olive meraih ponselnya dan memfoto punggung Ando yang lebam.
"Memangnya ini kenapa? kenapa bisa sampai seperti ini." Tanya Olive sambil menyodorkan ponselnya.
Ando melihat foto yang Olive berikan, pantas saja terasa begitu sakit, ternyata bekasnya sampai seperti ini.
"Tidak apa-apa, hanya saja tadi malam tidak sengaja dipukul." Jawab Ando sambil mengembalikan ponsel Olive.
"Di pukul? kapan!" pekik Olive yang terkejut.
Ando memejamkan matanya, " Jangan teriak-teriak sayang, nanti dedek bayi kaget." Ucap Ando sambil mengusap perut Olive.
"Jawab dulu, kapan? dan siapa yang melakukannya." Ucap Olive dengan tatapan tajam.
Ando menghela napas, mau tidak mau akhirnya cerita juga.
"Tadi malam setelah kita pulang dari acara Niko, tiba-tiba_" Ando menceritakan bagaimana kejadian tadi malam yang sempat menghadang jalan mereka.
Olive menutup mulutnya saat mendengar apa yang suaminya ceritakan, bagaimana bisa dirinya tidak tahu apa yang terjadi.
"Dan sekarang si brengsekk itu sudah kembali mendekam di penjara." Ucap Ando.
"Maaf kak, gara-gara aku kamu menjadi seperti ini." Ucap Olive yang merasa bersalah.
"Hey, ini bukan salahmu." Ando menangkup kedua pipi Olive. "Bukan salah mu dan salahku, hanya saja salahkan Bisma yang berengesek dan tidak menerima takdirnya." Lanjutnya lagi.
Memang ini bukan murni kesalahan mereka, hanya saja Bisma yang tidak menerima takdirnya. Padahal apa yang dia rasakan sekarang, adalah buah dari perbuatanya itu.
"Sekarang temani aku ke rumah sakit, aku tidak mau tidak bisa melihat anakku di dalam sini." Ando mengusap perut Olive.
"Kakkk." Rengek Olive yang merasa sedih tapi malah mendengar ucapan Ando yang tanpa faedah, yang ada hanya membuatnya kesal saja.
"Heee, becanda sayang, tadi malam tidak menjadi dapat jatah, karena bisul sialan itu." Nada suaranya berubah menjadi kesal mengingat kejadian tadi malam.
"Lagi sakit juga masih ingat begituan, dasar kadal buaya." Kesal Olive sambil menyiapkan keperluan suaminya.
"Eh, kok jadi aku yang kena maki, kamu jahat sayang." Ando pura-pura merajuk dan berusaha untuk bangun dari tempat tidur.
"Ya emang kamu buaya kan, kemana-mana yang diingat hanya itu-nya saja." Olive mendelik menatap suaminya. "Sudah sana mandi dulu, aku siapkan keperluan kamu." Olive menyuruh Ando untuk masuk ke dalam kamar mandi.
"Mandiin sayang, aku tidak bisa menggerakkan leherku." Ucap Ando dengan wajah memelas. Ini beneran sakit, nanti kalau dirinya bertemu orang yang memukulnya Ando akan membalasnya.
"Yang sakit lehernya kak, bukan tangannya." Jawab Olive.
__ADS_1
"Tapikan tetap saja sayang, aku tidak bisa memakaikan sabun ditubuhku." Ucap Ando lagi yang terus berusaha.
Setelah perdebatan untuk memandikan, kini Ando dan Olive sampai dirumah sakit.
Beruntung hari ini hari weekend jadi Ando tidak perlu ijin kekantor.
Setelah drama dikamar mandi, akhirnya Olive memilih menuruti permintaan sang suami yang tingkat kemesumannya diatas rata-rata. Olive saja sampai heran, kenapa dirinya bisa secinta itu dengan pria mesum seperti Ando.
Tapi kalau jodoh mana tau.
Sampainya di rumah sakit Ando ditangani oleh dokter ahlinya, dan ternyata pukulan yang Ando alami cukup keras hingga membuat peredaran darah di bagian punggung tidak lancar, dan akhirnya menjadi bengkak, dan efek dari sakitnya menjalar kelehar membuatnya sulit untuk bergerak.
"Apakah suami saya perlu dirawat dok?" Tanya Olive yang menatap sendu suaminya.
"Tidak perlu nyonya, lukanya tidak ada yang serius, yang terpenting rajin mengompres mengunakan air hangat, dan mengoleskan obatnya teratur." Ucap sang dokter.
"Baiklah kalau begitu dok terima kasih." Olive merasa lega.
"Dan untuk tuan Ando, jangan terlalu banyak gerak dan jangan dipaksakan jika masih terasa sakit." Dokter itupun menatap Ando yang hanya diam tidak bisa menggerakkan kepalanya. "Sampai rumah boleh langsung di minum obatnya, dan semoga tuan segera sembuh."
Olive pamit begitu juga Ando, mereka menuju apotik untuk menebus obat daru resep dokter tadi. Olive duduk disamping Ando, memijat leher leher Ando lembut agar tidak terasa kaku.
"Sakit banget ya kak?" tanya Olive lagi yang tidak tega.
"Hm, tapi kalau begini sedikit reda, karena mungkin saat bangun tadi uratnya masih kaku jadi begitu terasa sakit." Ucap Ando dengan senyum tipis.
Mereka tidak hanya berdua untuk menunggu obat, tapi tiba-tiba seseorang datang dan menyapa mereka.
"Kak Ando.."
Ando yang menunduk karena mendapat pijatan dari Olive, tiba-tiba mendongak mendengar namanya disebut.
"Sofi.." Gumam Ando yang mengenali teman wanita yang dia tolong dari kota S, dan dibawa ke Jakarta. Bahkan Sofi juga pernah bertamu keaparteman dan bertemu Olive.
Olive green mengentikan pergerakan tangannya saat melihat wanita yang berdiri didepan mereka terlihat cantik dan berkarir.
"Ya ampun apa kabar kak." Sofi tanpa rasa malu langsung membungkuk dan memberi kecupan dipipi Ando.
Ando yang memang tidak bisa menggerakkan kepalanya, terkejut sekaligus bingung. Sedangkan Sofi melirik Olive sinis di samping Ando.
Olive mengehela napas, "Mau modelan betina cem mana lagi, yang bisa muasin si belalai, tetap saja tidak ada yang mampu." Katus Olive yang tertuju pada Sofi.
Tapi Sofi yang tidak mengerti, justru Ando yang merasa terancam kemakmuran belalainya.
.
__ADS_1
.
lanjutt ngopi 😴