
Ando masuk kedalam mobil setelah Olive dan Mamanya masuk kerumah, pria itu menuju kesuatu tempat yang sudah Boby tunggu.
Sebuah perumahan terpencil Ando menghentikan mobilnya di halaman rumah itu.
"Kenapa orang-orang suka menyembunyikan sesuatu ditempat terpencil seperti ini." Gumam Ando yang baru saja turun dari mobil.
"Bos." Boby yang menjadi anak buah Ando menyambut kedatangan bos-nya.
"Bagaimana mereka benar memiliki hubungan dengan pria itu?" Tanya Ando pada Boby.
"Ya, mereka juga menunjukan bukti jika tuan Aminoto memiliki hubungan dengan wanita yang tinggal disini bersama kedua anaknya." Terang Boby.
"Kenapa mereka tidak kekota dan mencari bandot tua itu." kesal Ando mengingat Aminoto pria tua yang begitu sombong.
"Beliau mengancam akan mencelakai anak-anaknya, dan beliau hanya mengirim uang setiap bulan yang hanya cukup untuk beli beras saja.
"Deh...deh..bandot tua gila." Kesal Ando.
.
.
"Olive.." Rasti membuka pintu kamar Olive.
"Iya Nek." Olive yang sedang duduk di meja belajarnya menoleh, saat melihat neneknya masuk kedalam.
"Nenek pinjam ponselmu." Ucap Rasti pada Olive.
Olive mengernyit bingung. "Untuk apa nek?" tanya Olive heran, karena tak bisanya Rasti meminjam ponsel.
"Pinjam saja, hanya sebentar." Ucap Rasti.
__ADS_1
Olive memberikan apa yang Rasti inginkan tanpa pikir panjang. "Ini nek."
Rasti tersenyum, "Baiklah, sekarang kamu pakai ini. Sebentar lagi Bisma dan keluarganya akan datang." Ucap Rasti dengan senyum mengembang sempurna.
"M-maksud nenek apa?" Tanya Olive dengan wajah bingung.
"Kalian akan menikah, dan semua sudah disiapkan. Jadi kamu tinggal pakai ini dan berrias diri." Ucap Rasti lalu meninggalkan Olive yang berdiri mematung dengan sebuah baju kebaya ditanganya.
"Menikah." Gumamnya lirih, "Ponsel." Olive baru menyadari jika ponsel yang Rasti pinjam untuk hal ini. Dirinya tidak bisa menghubungi siapapun.
Diluar Rasti sudah menyiapkan apa yang harus disiapkan dibantu para tetangga yang sudah direncanakan sebelum Olive sampai.
Susi dan Faisal pun sama mereka dikunci didalam kamar tanpa ponsel dan sebagainya, mereka hanya disuruh untuk mengganti pakaian yang sudah disiapkan.
"Pah bagaimana ini." Susi begitu khawatir dan juga panik, dirinya tidak bisa menghubungi Ando yang mungkin saja bisa menolong putrinya.
"Ibu sudah keterlaluan Pah, bagaimana pun Olive itu anak kita, aku tidak ingin melihatnya menderita dan tidak bahagia." Susi sudah menangis di dalam pelukan Faisal.
Susi hanya bisa menangis, bagaimana keadaan Olive sekarang, Susi begitu khawatir.
"Sial..!!"
Ando mengumpat emosi saat mendengar laporan dari orang yang dia suruh mengintai rumah Rasti.
"Ck, wanita tua itu berulah. Lihat saja setelah ini kau pasti akan menyesal telah menjerumuskan cucumu sendiri." Dada Ando kembang kempis, dirinya begitu marah dengan apa yang Rasti lalukan. Tidak habis pikir wanita tua itu memanfaatkan Olive untuk kepentingannya sendiri, kali ini mereka tidak akan berkutik setelah apa yang dirinya bawa.
"Boby, bawa mereka semua, jangan ada yang tertinggal." Titan Ando dengan aura dingin.
"Baik Bos." Boby segera menghubungi rekan yang bertugas di lain tempat, kali ini misi mereka tidak hanya satu orang, melainkan melibatkan beberapa orang sebagai korban.
Ando segera masuk mobil untuk kembali kekediaman nenek Olive.
__ADS_1
Perjalanan ke kota memakan waktu yang cukup lama, dan sekarang susah hampir jam sembilan malam, itu berarti mereka sudah menyiapkan semua sebelum Olive pulang.
Ando mencoba menghubungi nomor Olive, tapi nomor gadis itu sudah tidak aktif, bukan hanya Olive, kedua orang tuanya juga sama.
"Sial...!!" Ando memukul kemudi setir, menambah kecepatan agar cepat sampai di tujuan, tapi mau bagaimana lagi perjalanan nya kekota butuh waktu satu jam lebih, Ando takut jika sampai sana semua sudah berlalu, dan saat itu juga dirinya akan merasakan penyesalan.
"Olive, kumohon berbuatlah sesuatu sampai aku datang." Gumam Ando yang tidak mungkin didengar oleh Olive.
Dikediaman Rasti sudah nampak rombongan Bisma dan keluarga. Rumah Rasti disulap begitu meriah meskipun waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, tapi tidak mengurangi kemeriahan yang Rasti ciptakan.
"Wah-wah kamu memang hebat Nek." Puji Bisma yang melihat bagaimana rumah Rasti disulap menjadi meriah. Tamu undangan kerabat dan tetangga nampaknya juga menyukai pesta, mereka semua datang meskipun hari sudah malam.
"Tidak seharusnya kamu meragukan kemampuan nenek seperti ku." Ucap Rasti merasa bangga.
Bisma dan Aminoto terkekeh. "Ya...yaa, nenek patut diacungi jempol dan tabokan uang 1M." Ucap Bisma dengan jumawa.
Rasti pun berbinar mendengar nominal yang akan dia dapatkan. "Harga fantastis untuk cucumu itu nek, apa kau tidak akan menyesal." Ucap Aminoto dengan tersenyum sinis.
"Aku yakin hidup Olive akan terjamin dengan kalian, buktinya uang yang akan kalian beri tidak masalah." Ucap Rasti yang sudah dibutakan oleh uang.
Sedangkan didalam kamar, Olive menatap dirinya didepan cermin, tidak ada wajah ceria dan bahagia, yang ada raut kesedihan dan juga kekecewaan yang dia rasakan.
"Maafkan Olive Mah, Pah." Ucapnya lirih, dadanya terasa sesak mendapati kenyataan yang tanpa diduga.
"Setelah ini yakinlah jika kalian akan bahagia."
.
.
Eh..ehh.. Masih ada di bawahnya... sebelum itu tabok Author dulu pake SAJEN kalian..😆😆😆
__ADS_1