Love Is Back

Love Is Back
Tidak akan tinggal diam


__ADS_3

Di kantor...


Sejak setelah mengirim pesan dari Olive tadi perasaanya tidak karuan ngomong sejak tadi pekerjaannya tidak terselesai malah menjadi kacau seperti ini. Ando mengusap wajahnya kasar pria itu sudah tidak konsentrasi untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Kenapa sama gue sih." karena merasa tidak enak dan memikirkan istrinya di rumah, Ando pun bergegas menyambar kunci mobilnya dan keluar dari ruang kerjanya.


"Eh, Ndo mau kemana?" Tanya Sinta sekretaris Nathan.


"Gue balik, penting." ucapnya sambil berlalu pergi dengan sedikit berlari.


"Aneh ngak biasanya tuh orang." Ucap Sinta yang melihat asisten Nathan buru-buru pulang.


Di jalan Ando mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, pria itu tidak memperdulikan jalanan yang cukup ramai yang terpenting dirinya saat ini segera sampai di apartemen. Entah mengapa perasaannya semakin menjadi-jadi setelah melihat gedung apartemen yang dia tinggali semakin dekat dan semakin dekat.


"Olive kamu Kenapa." ucapnya pada diri sendiri, jantungnya berdetak cepat hingga membuat dirinya semakin khawatir.


Padahal belum tentu jika Olive di apartemen sedang kenapa-kenapa, tapi perasaannya semakin tidak karuan mengingat Olive di apartemen sendirian.


Ciitt


15 menit Ando sampai di parkiran apartemen, setelah sampai pria itu langsung keluar dari mobil dan berlari masuk ke lobi untuk menuju lift yang akan membawanya ke flat miliknya.


"Ayo dong lebih cepat." Ucap Ando yang tidak sabaran.


Ting


Pintu lift terbuka dan Ando segera berlari keluar menuju pintu apartemennya, Sampainya di depan pintu, Ando berhenti dan menunduk tidak sengaja sepatu yang dia pakai menginjak sesuatu.


"Darah.." jantungnya semakin berdebar kencang dengan perasaan yang benar-benar khawatir hingga tubuhnya terasa bergetar.


"Tidak.."


Tangannya yang bergetar menekan kode password untuk membuka pintu setelah pintu terbuka Ando langsung berlari masuk ke dalam dan_


Ruangan yang tadinya rapi gini menjadi berantakan terdapat pecahan vas bunga dan beberapa barang diantaranya hingga membuat anda semakin bingung dan kalut.


"Olive..!! sayang..!!"


Ando langsung berlari masuk ke dalam kamarnya tapi setelah membuka pintu ternyata kamarnya dikunci dari dalam.


Brak..brak..brak..


"Olive buka pintunya sayang, Olive!!" Teriak Ando dari luar kamar dan menggedor-gendor pintu kamarnya.


"Olive..!! sayang.. Buk_"


Ceklek


Pintu terbuka dari dalam dan Olive langsung memeluk suaminya dengan isak tangis.


"Hey, kamu kenapa, sudah jangan menangis ada aku." Ando memeluk erat tubuh Olive yang bergetar, dia tahu pelipis wanitanya berdarah, tapi Ando memilih memberi rasa nyaman lebih dulu dari pada apa yang terjadi. Mengingat Olive yang sekarang sedang hamil, Ando sangat takut jika kandungan Olive bermasalah.


"Kak..hiks...hiks..hiks.." Olive menangis tersedu-sedu diperlukan suaminya, tubuhnya bergetar karena rasa takut yang baru saja dia alami.


"Sttt, sudah jangan menangis, ada aku disini." bisik Ando lagi sambil mengusap kepala dan punggung Olive untuk memberinya ketenangan.


Cukup lama keduanya berpelukan seperti itu hingga Ando sudah tidak merasakan lagi getaran di tubuh istrinya dan itu berarti Olive sudah lebih tenang.

__ADS_1


Hap


Ando langsung menggendong Olive untuk membawanya ke atas ranjang. Ando membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang dan menyelimutinya hingga di atas dada.


Melihat wajah Olive yang ketakutan dan lelah membuat hatinya teriris, sebenarnya apa yang terjadi, hingga membuat Olive seperti ini.


"Kak, jangan pergi. aku takut." Ucapnya saat Ando ingin beranjak.


Ando terseyum dan membungkukkan badannya untuk mengecup kening Olive dan mengusapnya lembut.


"Aku ambil minum dan obat dulu, ini berdarah." Tunjuk Ando pada pelipis Olive. Sungguh dadanya terasa sesak, dirinya tidak akan memaafkan jika seseorang telah melakukan ini. Apalagi sekarang Olive mil dan Ando tidak akan membiarkan terjadi sesuatu kepada calon bayinya dan juga istrinya begitu saja, setelah memastikan tidak ada luka lain di tubuhnya istrinya, Ando pun merasa lega.


"Tunggu sebentar ya." Ucap Ando yang hanya diangguki Olive lemah.


Ando pun, pergi untuk mengambil kontak obat, dan minum untuk Olive, melihat keadaan diluar dada Ando bergemuruh dengan tatapan menyimpan kemarahan.


Tapi dirinya mencoba untuk meredam kemarahannya didepan sang Istri, Ando hanya ingin membuat Olive nyaman lebih dulu, karena dirinya yakin jika Olive sedang ketakutan setengah mati.


Sampainya dikamar, Ando melihat Olive yang duduk bersandar di bahu ranjang. Wanita itu tersenyum tipis padanya hanya untuk menutupi rasa takutnya yang masih ada.


"Kamu sudah masak?" Tanya Ando yang tadi melihat diatas meja makan sudah terdapat hidangan.


Olive hanya mengaguk saja, tanpa menjawab.


Ando tersenyum, dan duduk didepan Olive memberikan kelas berisi air, setelah memastikan oli meminum kini Anda membuka kotak obat dan membersihkan darah yang hampir mengering di pelipis Olive.


"Tahan jika perih sayang." Ucap Ando yang membersihkan luka Olive dengan kapas yang sudah Ia tuangkan cairan antiseptik.


"Shhh," Olive meringis sambil memejamkan mata saat rasa dingin dah perih menyatu dia rasakan.


Perlahan Ando meniup pelipis Olive untuk mengurangi rasa sakitnya, setelah dibersihkan Ando menempelkan perban yang sudah diberi obat.


Cup


Ando mengecup perban dipelipis Olive. Membuat hati Olive terasa hangat dan nyaman.


"Sudah lebih baik?" tanya Ando sambil menggenggam tangan Olive.


"Terima kasih kak." Ucap Olive menatap suaminya.


Ando tersenyum. "Sama-sama sayang, memangnya apa yang terjadi." tanya Ando dengan santai, agar Olive bisa bercerita.


Olive menunduk sebentar dan setelah itu kembali menatap wajah suaminya yang menunggu jawaban darinya.


"Bisma.."


Satu kata yang mampu membuat anda mengepalkan tangannya dengan dada yang bergemuruh wajahnya sudah menyimpan kemarahan yang akan meluap.


"Dia_"


"Yasudah tidak usah dilanjutkan, yang terpenting kamu tidak apa-apa." Ando menarik tubuh Olive untuk dia perlu, pria itu mengusap punggung dan mencium pucuk kepala Olive.


Bisma satu kata yang mampu membuat Ando akan membalas perbuatan pria itu terhadap istrinya, bagaimana bisa pria itu sudah berada di luar bui jika baru beberapa bulan Bisma mendekam dibui. tidak mungkin pria itu bebas begitu saja. ada orang yang membebaskannya pun rasanya tidak mungkin tapi semua itu bisa saja terjadi di luar kendalinya.


"Istirahat ya aku temani." Ucap Ando yang membantu Alif merebahkan dirinya di atas bantal, Ando pun ikut merebahkan dirinya di samping istrinya dan memeluk wanita itu memberi kenyamanan.


"Kak aku takut jika dia datang lagi." ucapan Alif yang berada dalam pelukan suaminya.

__ADS_1


"Kamu tenang saja sayang dia tidak akan berani datang lagi." Ando mengecup kening Olive. "Sekarang tidurlah, aku akan menemanimu di sini."


Mendengar itu membuat Olive tentu saja merasa senang dan nyaman dirinya tidak akan merasa takut lagi jika suaminya berada di sampingnya pelukan Ando memang membuatnya merasa nyaman hingga tak lama Olive terbang ke alam mimpinya.


Mendengar suara dengkuran halus, Olive. Ando merasa lega, dirinya mencoba untuk menyingkirkan dan bangun. Bagaimana bisa dirinya tenang jika sang Istri saja ketakutan seperti ini.


Setelah mematikan Olive nyaman, Ando mengusap perut Olive. "Baik-baik dengan mama sayang." Bisiknya agar tidak mengganggu Olive.


Ando berjalan keluar kamar sambil menaruh ponselnya di samping telinga dirinya menghubungi seseorang hingga diringan kedua telepon pun tersambung.


"Hal_"


"Bagaimana bajingann itu bisa bebas." Potong Ando lebih dulu dengan suara memendam kemarahan.


"Em, itu bos. Bisma melarikan diri dengan membuat gaduh kantor polisi, dan saat itu dia mengunakan kesempatan untuk kabur. Sekarang Bisma menjadi buronan polisi bos." Ucap Joe diseberang sana.


Ando mencengkram erat ponselnya saat mendengar penjelasan dari orang kepercayaannya yang berada di Surabaya.


"Dan bajingann itu sekarang ada di sini, dia telah mendatangi apartemen tempat kami tinggal hingga membuat istriku ketakutan." Tegas Ando dengan suara mengerikan bagi Joe yang mendengarnya.


"A-apa? jadi dia berada di Jakarta." pekik Joe terkejut


"Sial..!!"


Umpat Ando yang sudah mematikan ponselnya.


Sedangkan dikota yang berbeda Joe tampak grusak-grusuk setelah mendengar kabar jika Bisma kabur ke Jakarta, itu berarti bosnya tidak aman beserta istrinya.


"Joe kau kenapa?" tanya Jack rekanya.


"Kita harus ke Jakarta. Si bisul melarikan diri ke sana." Jawab Joe yang sudah mengambil keputusan untuk menyusul ke Jakarta.


"Tapi Joe, Besok kamu akan menikah apa kamu tidak_"


"Ini menyangkut nyawa orang yang sudah menolong hidup saya Jack, pernikahan bisa di tunda sampai buronan itu tertangkap." Balas Joe menatap tajam Jack, yang nampak berpikir.


Joe benar, Ando adalah dewa penolong bagi mereka dari kubangan lumpur dosa, kini kehidupan mereka bisa terjamin karena kebaikan pria itu.


Dan sekarang pria itu sedang menjadi incaran penjahat, tentu saja Joe sebagai orang yang tahu balas budi merasa tidak tega dan tenang.


Rencananya malam nanti Joe akan mengabari Ando, jika dirinya melangsungkan pernikahan, tapi belum sempat mengabari justru dirinya yang lebih dulu mendapat kabar. Jo tidak pikir ulang dirinya akan segera berangkat ke Jakarta setelah memesan tiket dan urusan pernikahannya dia akan memberi pengertian kepada calon istrinya nanti anggap saja ini bentuk balas budinya terhadap pria yang sudah menolong kehidupannya di masa kelam.


"Ya sudah aku ikut denganmu ke Jakarta." Ucap Jack yang langsung di agguki joe.


Keduanya akan berangkat satu jam lagi, dan Joe akan mendatangai calon istrinya lebih dulu, untuk memberi tahu, bukan meminta ijin. karena dirinya tidak butuh ijin dari siapapun.


Setelah menghubungi Joe yang membantu dirinya di Surabaya dulu, kini Ando kembali ke dalam kamar dan melihat Olive yang masih terlelap, dipandangi wajah sang Istri yang terlihat damai jika terlelap, Ando tidak menyangka jika Olive akan mengalami hal seperti ini.


Perih, sakit, dan sesak melihat orang yang kita kasihi dan cintai dalam keadaan ketakutan yang akan menjadi trauma.


"Aku tidak akan memberi ampun untuk dia sayang, bairkan dia menerima balasan apa yang sudah dia lakukan." Ucap Ando sambil menatap wajah Olive.


"Aku tidak mengapa jika aku yang tersakiti, tapi tidak dengan orang yang aku cintai."


Bukan hanya Olive, Ando tidak akan segan-segan memberi perhitungan untuk orang yang berani menyakiti keluarganya, ibunya dan adiknya serta istrinya dan ayahnya adalah prioritas utama untuk Ando. Mekipun dirinya harus bertaruh nyawa, Ando tidak akan perduli jika mereka berani menyentuh keluarganya.


.

__ADS_1


.


Next kembang kopi sayang, 💋💋


__ADS_2