
"Terima kasih kak." Ucap Olive sambil meletakkan minuman dingin dimeja kecil, Niko duduk diteras rumah Olive yang terdapat kursi dan juga meja.
Olive ikut duduk, setelah menaruh nampan dibawah meja kecil.
"Tidak masalah, aku senang membantumu." Jawab Niko sambil meraih gelas minuman dingin itu dan menyesapnya hingga setengah.
"Lihatlah dia tidak menyerah." Ucap Niko yang dimaksud adalah Ando.
Olive hanya mengangguk mengiyakan. "Tapi biarlah , besok aku sudah harus berangkat ke Surabaya." Olive menoleh kearah Niko begitupun sebaliknya.
"Disana sudah ada yang menunggu dan aku tidak ingin membuat semuanya kecewa, hanya karena keegoisan ku." Olive menatap lurus kedepan dengan wajah sendu.
Niko tahu betul apa yang dirasakan Olive, Niko sedikit mengerti bagaimana Olive menjalani hidup dengan keadaan yang memaksanya.
"Tidak usah dibuat beban, lakukanlah sesuai keinginan hatimu."
Olive tersenyum tipis.
Brak
Ando menutup pintu apartemennya dengan kuat, wajahnya merah menahan amarah.
Marah dengan dirinya sendiri yang bodoh, bagaimana bisa dirinya merasakan jatuh cinta dengan gadis yang jelas-jelas sudah dia sakiti bahkan secara tidak langsung menyuruh gadis itu untuk pergi.
"Bodoh kau Ndo, bodoh..!" Ando memaki dirinya sendiri, pria itu seperti pria frustasi setengah gila.
Drt....Drt...Drt...
ponsel Ando yang berada diatas tempat tidur bergetar.
"Ck, mau apa lagi dia." Kesal Ando melihat nama Sofi di layar ponselnya.
Ando tidak mengakat panggilan dari Sofi pria itu memilih masuk ke kamar mandi.
Ando menguyur tubuhnya dibawah air shower yang mengalir, pria itu ingin meredakan Otaknya yang terasa panas lantaran memikirkan Olive.
Dilain tempat Olive mulai mengemas pakaian dan barang penting milikinya, jika kemarin dia hanya pergi satu minggu, tapi sekarang dirinya akan menetap di sana.
Berat memang meninggalkan kota kelahiran yang penuh kenangan, tapi mau bagaimana lagi, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa karena semua sudah ditentukan oleh keluarganya.
"Olive Mama boleh masuk." Suara Susi diambang pintu yang masih tertutup.
"Boleh mah, masuk saja." Jawab Olive sambil merapikan barang miliknya.
Susi muncul dari balik pintu, wanita itu tersenyum.
"Butuh bantuan?" Tanya Susi menatap putri satu-satunya.
"Tidak mah, ini sudah selesai." Olive tersenyum tipis. Memang keperluannya yang akan dibawa hanya sedikit, jadi tidak perlu waktu lama untuk mengemasnya.
__ADS_1
Susi menatap putrinya lekat, dirinya tidak tega dan ikut merasakan sedih. Tapi mau bagaimana lagi Olive sendiri menyetujui permintaan neneknya.
"Kenapa Mah?" Tanya Olive yang melihat Susi diam menatapnya.
"Tidak, hanya saja Mama belum rela kamu akan tinggal di sana." Susi menatap sendu Olive dengan mata berkaca-kaca.
Olive mengehela napas. "Sudahlah mah, mungkin ini takdir Olive yang Tuhan gariskan."
Gadis itu mengusap punggung tangan Mamanya, Susi pun langsung memeluk Olive.
"Maafkan kami yang egois, demi memenuhi janji kakakmu yang sudah tiada."
Ando menatap rumah Olive dari dalam mobil, pria itu sudah lebih dari tiga puluh menit berada didalam mobil, ingin turun tapi takut jika Olive mengusirnya dan Ando juga tidak bisa duduk lama-lama didalam mobil.
Jiwanya gelisah hatinya gundah, sudah seperti pujangga yang merindukan bulan.
Tok...tok...
Ando menoleh pada suara ketukan dikaca mobil.
Pria itu menekan tombol agar kaca mobil terbuka.
"Lagi nunggu siapa?" Tanya Faisal yang ternyata papa Olive.
Ando sedikit bingung ingin menjawab apa.
"Oh, apa kalian punya janji? soalnya besok Olive akan pergi ke Surabaya."
Deg
"Surabaya?" Tenggorokan Ando terasa tercekat.
"Kalau begitu tinggu dirumah saja, Olive ada di rumah." Ucap Faisal yang memang mengenali wajah Ando.
Karena jika bukan Ando pasti Niko, hanya kedua pria itu yang suka pergi dengan putrinya.
"Jadi dia mau pergi lagi." Gumam Ando dengan tidak percaya.
Ando segera turun dan mengikuti Faisal untuk masuk ke dalam rumah, tapi Ando memilih untuk menunggu diluar, saat Faisal menyuruhnya masuk.
"Kalian disini?" Faisal berdiri di ambang pintu kamar Olive, melihat istri dan anaknya yang sedang berkemas.
"Ada apa Pah?" Tanya Susi yang melihat suaminya.
Faisal memang baru pulang dari mushola dan kebetulan melihat mobil Ando didepan rumahnya.
"Itu diluar ada yang nunggu Olive, katanya kalian janjian." Ucap Faisal dan setelahnya pergi.
"Eh, Pah siapa?" Belum sempat dijawab, Faisal sudah menghilang kayak jin.
__ADS_1
"Sudah sana temui, mungkin nak Niko." Ucap Susi yang masih melipat baju Olive.
"Tapi mah, Olive sepertinya tidak membuat janji sama siapa pun."
"Siapa tahu penting loh, udah sana biar Mama yang lanjutin beres-beres."
Olive pun dengan terpaksa melangkahkan kakinya keluar kamar untuk menemui orang yang menunggunya.
"Kak Niko kenap_"
Bibirnya mengatup rapat saat melihat siapa pria yang duduk dikursi. "Kak Ando." Ucap Olive pada akhirnya.
Ando terseyum canggung, "Iya, apa aku menggamu?" Tanya Ando sambil berdiri, karena Olive juga masih berdiri.
"Mau apa kakak kemarin?" Tanya Olive dengan tatapan datar.
"Katanya kamu akan pergi ke Surabaya, apa itu benar?" Tanya Ando menatap intens wajah Olive yang tidak mau melihatnya.
Sungguh Ando benar-benar kehilangan Olive yang imut dan manis seperti dulu, kini gadis itu mengalami banyak perubahan.
"Ya, itu benar." Olive pun menjawab dan duduk dikursi, wajahnya masih tetap sama datar tanpa ekspresi.
Ando mengehela napas, lagi-lagi dadanya terasa sesak.
"Maaf Liv." Satu kata meluncur langsung dari bibir pria itu. "Maafkan aku yang sudah membuatmu terluka." Ando menatap wajah Olive dari samping, gadis itu sama sekali tidak mau melihatnya.
"Mungkin ini semua hukuman dari perbuatan ku, dan karma itu benar-benar ada." Ucap Ando dengan senyum getir.
Hanya saat ini dadanya benar-benar terasa sesak, dirinya tidak tahu harus bagaimana untuk menghilangkan rasa sesak itu.
Olive menatap Ando yang menunduk, pria itu seperti bukan seperti Ando yang pernah dia lihat, kini pria itu seperti kehilangan semangat hidup.
"Maksud kakak karma apa?" Tanya Olive yang merasa mengganjal dengan ucapan Ando.
Ando menoleh dan tatapan keduanya bertemu, Olive bisa melihat jika Ando menyimpan kesedihan dan emosi di dalam bola matanya.
"Apa kamu lupa, perkataan terakhir kamu ketika kita berpisah." Tanya Ando menatap lekat wajah Olive yang membuat hatinya berdesir.
"Kau menyumpahi ku supaya aku tidak bisa bergairah dengan wanita manapun kecuali kamu."
"Hah.. a-apa maksudnya?" Tanya Olive lagi yang benar-benar tidak ingat.
Ando terseyum miris. "Karena sumpahmu, balai gajahku sudah tidak bisa menikmati enaknya surga dunia."
Olive membulatkan kedua matanya. "B-belalai gajah itu apa?" Tanya Olive dengan polosnya.
"Belalai yang akan memuaskan mu di atas ranjang." Ucap Ando tanpa rasa malu dan sungkan.
"Kak Ando mesum..!!"
__ADS_1