
"Heh sendal jepit bicara apa kau." Leard menghampiri Ando yang masih berlutut dilantai.
Olive yang melihat ekpresi Ando justru ingin tertawa, wajah Ando sangat memelas apalagi mata pria itu sudah berkaca-kaca, menatapnya penuh kekecewaan.
Semua yang melihat kelakuan Ando hanya geleng kepala, bagaimana bisa tangan kanan seorang Nathan Adhitama begitu bodoh dengan rasa cinta yang dia miliki, hingga membuatnya terlihat mengenaskan.
"Bangun." Leard menoel bahu Ando untuk bangun. "Kamu itu laki bukan sih, gini aja kok nangis." Ucap Leard dengan kesal namun dengan nada mencubir.
"Mah, kenapa Mama malah ikut menyaksikan mereka menikah mah, apa Mama tidak memikirkan perasaan anak mu ini." Keluh Ando yang kesal dan juga sakit hati melihat kedua orang tuanya malah ikut menyaksikan acara sakral wanita yang dia cintai.
"Koe Ki ngomong opo." Leard menggunakan bahasa Jawa, namun dengan dengan logat kebaratan membuat suaranya terdengar lucu.
"Pak sebenarnya ini siapa yang mau dinikahkan, saya sedang ada acara lain setelah ini." Ucap pak penghulu yang merasa sudah lama berdiri disana, tapi sejak tadi dirinya belum menikahkan siapapun.
"Anak idiot itu pak, mempelainya." Jawab Bagas dengan menatap Ando yang sedang bingung.
Susi mengelus bahu Olive. "Bagaimana bisa pria pintar begitu menjadi idiot karena salah paham." Ucap Susi membuat Olive tersenyum.
Olive menatap wajah Ando yang sudah memelas, dirinya menjadi tahu jika pria Casanova dan tengil itu benar-benar mencintainya.
Tiba-tiba perasaan Olive langsung menghangat, beginikah rasanya jika cintanya terbalaskan dari hati dan juga lisannya.
Semua nampak khusuk mengatakan pak penghulu memberi wejangan atau arahan, Ando yang tadinya galau gundah merana kini menjadi gugup dan juga nervous.
__ADS_1
"Baiklah sekarang kita lakukan ijab kabul." Pak penghulu memberikan interupsi hingga Faisal menjabat tangan Ando yang sudah basah dan terasa dingin. Pria itu benar-benar gugup setelah mellow dan tidak mencerminkan sebagaimana dirinya saat menjadi asisten Nathan Adhitama.
Sah...
Sah...
Setelah mengucapkan satu tarikan napas dengan lancar, rasanya begitu plong hingga tubuhnya yang tengang menjadi lemas.
Ando mengusap wajahnya sedikit lama, dirinya benar-benar terharu dengan apa yang sudah dia lakukan sekarang yaitu Olive sudah sah menjadi istrinya. Senyum bahagianya tidak bisa dia sembunyikan dirinya benar-benar merasa bahagia.
"Selamat Nak." Susi memeluk erat putrinya, tangis bahagia nampak Susi perlihatkan karena putrinya menikah dengan pria yang dicintainya.
"Makasih Mah." Olive terharu dan juga bahagia, tidak disangka dirinya secepat ini menikah. Meskipun sebelumnya juga akan menikah hanya saja sekarang yang menikahinya adalah pria yang mengajarkannya banyak hal dan itu membuat dirinya tidak bisa berkata-kata.
"Selamat nak, doa Papa menyertaimu." Bagas memeluk putranya dengan bangga.
Semua memberi selamat, setelah acara selesai penghulu dan rekannya pergi meninggalkan rumah sakit dengan diantar oleh Faisal dan Bagas.
Diruangan itu hanya ada empat wanita dan dua pria yaitu Ando dan Niko.
"Selamat bro, semoga kalian selalu bahagia." Ucap Niko dengan tulus, tangannya menjabat tangan Ando.
"Thanks, Semoga lu juga segera mendapatkan kebahagiaan ingat jangan menyimpan nama wanita yang sudah memiliki suami." Ucapan Ando membuat Niko teekekeh.
__ADS_1
"Lu benar, dan sepertinya istri lu tidak keberatan tuh gue simpen namanya." Ledek Niko membuat Ando mendelik tajam.
"Maafkan nenek Liv, nenek ikut bahagia." Rasti yang sejak tadi diam kini bergantian memeluk cucunya yang sudah dia sakiti.
"Iya Nek, terima kasih sudah merima kak Ando." Balas Olive mengusap punggung neneknya yang ringkih.
Leard dan Susi saling berpelukan dan mengucapkan selamat, mereka sudah menjadi besan.
Sejak tadi Ando belum mendekati Olive, mencium keningnya saja belum saat setelah selesai mengucapkan ijab kabul, entah penghulunya yang lupa atau memang tidak ada acara cipika cipiki yang Ando tunggu-tunggu.
Ando menatap nenek Olive yang memeluk istrinya dengan perasaan lega, kini dirinya benar-benar diterima dikeluarga Olive tanpa ada tatapan sinis dan tidak suka dari nenek Olive. Meksipun begitu Ando masih banyak akal untuk membuat nenek Olive mau menerimanya.
"Lebih baik kita semua keluar, sepertinya sudah ada yang tidak tahan ingin mengigit dan digigit." Ucapan Leard sontak membuat orang didalam sana terkekeh.
"Oh, mamaku sayang kau memang bisa membuat anakmu malu." Dengus Ando kesal.
"Dih, udah gede masih nangis. Olive hukum saja jangan di kasih jatah." ucap Leard semakin membuat Ando kesal setengah mati. Rasa malu sudah tidak bisa dia tutupi apalagi mengingat kejadian sebelum dirinya sampai dititik ini.
"Udah deh mah, pergi aja sana aku mau dua-duaan sama istriku." Kesalnya yang sejak tadi diledek oleh Mamanya.
"Dih, gitu aja marah, ayo Mbak nek kita keluar biarkan saja sendal jepit yang menyebabkan itu."
Mereka semua keluar, tak lupa Niko sekalian pamit untuk kembali ke Jakarta, dirinya sudah tak berharap banyak karena statusnya yang menjadi sahabat memang lebih nyaman selama ini.
__ADS_1
"Hati-hati kak, dan terima kasih." Olive tersenyum pada Niko, membuat Ando mendengus kesal tidak suka.
"