Love Is Back

Love Is Back
Salah kamar


__ADS_3

"Siapa mah..?" Tanya Ando yang kembali penasaran.


Leard memutar kedua bola matanya malas, "Bersiaplah semua sudah menunggumu."


"Eh mah, tunggu dulu. Ah sial..!" Ando mengumpat saat Mamanya sudah keluar dari ruangnya.


"Menikah? siapa yang mau menikah dirumah sakit seperti ini." Ucap Ando dengan berpikir keras.


"Ck, botak gue suruh mikir yang ngak jelas gini." Lebih baik dirinya segera membersihkan diri, meskipun hanya alakadarnya. Karena luka dilengannya belum bisa terkena air.


"Bagaimana dia baik-baik saja?" Tanya Bagas pada Faisal.


Keluarga Olive dan Faisal sudah berada di ruangan VVIP yang Bagas urus untuk merawat Olive. Karena tadi malam Olive sudah sadar dan melewati masa kritisnya, dan kabar itu jelas membuat keluarga Olive senang.


Sebuah mukjizat untuk kesadaran Olive, karena dokter mengatakan jika Olive akan mengalami koma.


Rasti melihat cucunya sudah sadar tak kuasa meneteskan air mata, dirinya tidak berpikir jika apa yang dia lakukan hampir saja membuat mereka kehilangan Olive.


"Neek." Olive memanggil Rasti dengan lirih, tubuhnya masih terasa lemas, membuatnya tidak bisa bergerak dengan leluasa.


"Olive." Rasti langsung memeluk cucunya isak tangis suara tuanya. "Maafkan nenek nak, maafkan nenek yang sudah membuatmu seperti ini." Rasti bicara dengan suara tersendat. Sungguh dirinya menyesalinya dengan apa sudah dia lakukan.


"Iya Nek, Olive sudah memaafkan nenek." Meskipun tidak belum tahu apa yang terjadi, Olive berpikir jika neneknya merasa bersalah karena dirinya yang sudah mencoba untuk bunuh diri.


"Demi uang ibu hampir saja menjual anak kita Pah." Ucap Susi pada suaminya yang berdiri disampingnya.


"Iya mah, dan semoga setelah ini ibu tidak akan melakukan kesalahan lagi." Faisal merangkul bahu Istrinya, dirinya bersyukur putrinya selamat dari pria seperti Bisma dan selamat dari maut yang akan merenggut nyawa putrinya. Dan semua itu Faisal akui jika tidak ada Ando mungkin putrinya sudah jatuh ke lubang kesengsaraan seumur hidup.


Menyalahkan Ibunya juga sama saja, karena ibunya hanya korban dengan iming-iming uang senilai 1 M.


Tak lama pintu terbuka, Niko yang tiba-tiba datang dan masuk membuat semua yang didalam terkejut, sekaligus bertanya-tanya siapa pria yang baru saja masuk terutama kedua orang tua Ando.


"Pagi Om dan Tante " Sapa Niko pada kedua orang tua Olive.


"Nak Niko, kamu sampai sini?" Ucap Susi tersenyum ramah menyambut kedatangan Niko.

__ADS_1


"Iya Tante, saya dengar dari adik saya kalau Olive mengalami kecelakaan dan dirawat makanya saya datang kemari." Tutur Niko benar apa adanya.


Susi dan Faisal berterima kasih karena Niko sudah mau repot-repot datang jauh menjenguk Olive.


Niko mendekati ranjang tempat Olive berbaring, pria itu tersenyum melihat Olive yang sudah membuka mata, karena terakhir yang dia dengar dari Nathan suami adik tirinya jika keadaan Olive masih kritis.


"Hay..apa kabar?" Tanya Niko yang sudah duduk dikursi samping ranjang.


Susi membawa Rasti keluar untuk menenangkan, sedangkan Faisal dan Bagas beserta istrinya juga memilih keluar untuk memberikan ketenangan diruangan Olive yang baru sadar.


Olive tersenyum. "Seperti yang kakak lihat." Jawabnya dengan pelan.


Niko ikut tersenyum. "Bagaimana rasanya diambang sakratul maut, apa rasanya enak." Ledek Niko seketika membuat Olive terkekeh.


"Rasanya tidak enak kak, mati enggak hidup enggak. pokoknya ngak enak sama sekali." Jawab Olive sambil menunjukan wajah sedih.


"Masih mau coba-coba lagi?" Niko menaikkan satu alisnya menatap Olive dengan intens.


"Tidak." Kepala Olive menggeleng. "Aku tidak mau merasakan surga akhirat, jika surga dunia saja belum aku rasakan."


"Boby bagaimana dapat?" Tanya Leard yang melihat Boby datang dengan menenteng keresek.


"Kenapa tidak kamu coba saja sih." Kesal Leard sedang membuka barang yang Boby berikan.


"Kepala saya lebih besar dari bos nyonya, pasti beda ukuranya." Ucap Boby sambil mengusap kepalanya yang menurutnya besar.


"Alasan saja." Leard meninggalkan Boby dan masuk kedalam ruang inap Olive.


Susi membawa Rasti kekantin, sedangkan Bagas dan Faisal sedang menyiapkan beberapa keperluan yang dibutuhkan.


"Nak Tante minta tolong boleh coba ini." Ucap Leard pada Niko.


Niko yang sedang duduk langsung berdiri dan menerima apa yang Leard sodorkan.


Niko pun mencobanya, seperti yang Leard katakan. "Nah sepertinya akan apa untuk putraku." Ucap Leard senang.

__ADS_1


"Tante itu buat apa?" Tanya Olive yang bingung dan penasaran dengan apa yang dilakukan ibu dari Ando itu. "Dan kenapa Tante bisa ada disini?" Tanya Olive lagi saat dirinya menyadari jika sekarang dia berada di Surabaya bukan di Jakarta, lalu kenapa Mama Ando berada disini.


"Mana yang harus Tante jawab dulu nak." Ucap Leard sambil tertawa. "Sudahlah kamu istirahat dulu, setelah ini Tante takut kamu terkejut dan pingsan." Canda Leard langsung keluar dan meninggalkan sesuatu yang di pakai Niko.


"Kenapa?" Tanya Niko yang melihat wajah bingung Olive.


"Tidak tahu kenapa, tiba-tiba perasaanku tidak enak." Ucap Olive dengan perasaan gelisah.


Setelah membersihkan diri, Ando segera kembali memakai kemeja yang sudah Mamanya siapkan.


"Lah, ini kayak mau magang aja, pake kemeja putih dan celana hitam." Ucap Ando yang melihat satu stel pakaian yang tersedia. Tanpa pikir panjang Ando memakai saja apa yang sudah disiapkan.


Setelah selesai dirinya segera keluar untuk kembali menemui Olive, setelah Ia tinggalkan begitu saj karena alasan kebelet pipis. Tapi yang sebenarnya adalah dirinya yang ketakutan.


Sampainya didepan pintu Ando langsung masuk begitu saja, dirinya tidak sabar untuk menjenguk sang kekasih.


"Loh..loh..kok." Tubuh Ando seketika lemas melihat seseorang yang terbaring di ranjang pasien dengan kain putih menjuntai menutupi tubuh yang terbaring di atas ranjang.


"Ndut, apa kamu latihan meninggoi." Ando menoel-noel tubuh kaku yang tertutup kain putih.


"Ndut jangan bercanda." Ucapnya lagi dengan dada yang lama-lama semakin sesak.


Semakin lama kakinya terasa lemas, dengan rasa sesak yang kian mendera. "Olive kamu becanda kan, jangan seperti ini." Tubuh Ando merosot dengan kedua lututnya untuk bertumpu.


"Ndut jangan pergi seperti ini Ndut, aku tidak mau belalaiku karatan seumur hidup." Tanpa terasa air matanya menetes dikedua pipinya.


"Ndut kamu tega ninggalin aku dengan julukan belalai karatan, kamu tega Ndut bikin aku sengsara seumur hidup tanpa menjelajah gunung dan lembah."Tangan Ando mengguncang tangan yang tertutup kain putih itu, dirinya menumpahkan tangisnya dengan perasaan hancur, jika Olive meninggalkan sudah pasti belalainya akan benar-benar karatan sampai tua.


Pluk


Tiba-tiba sebuah tangan besar dan hitam dengan banyak bulu meluncur hingga menjuntai didepan wajah Ando. Pria yang sedang menangis merutuki nasib belalainya itu tiba-tiba langsung diam dengan mata melotot.


"Sejak kapan tangan Olive menjadi tangan preman seperti ini, apa dia kena azab karena percobaan bunuh diri." Mengingat itu Ando bergeridik ngeri.


.

__ADS_1


.


Kembang kopi jangan lupa, biar mata otor ini fress 🥴


__ADS_2