
Byuurr
"Olive kenapa kau menyiramku." Pekik Ando terkejut, tiba-tiba kepalanya terasa dingin dan ternyata Olive menyiramnya dengan air vas bunga yang ada diatas meja, dirinya sudah seperti tanaman.
"Biar pikiran mesum kak Ando bersih." Ucap Olive sengit.
Baru tahu Olive jika bahasa belalai gajah yang dulu pernah dia dengar adalah aset masa depan pria, dan Olive benar-benar menyesal karena pernah memikirkan belalai gajah.
"Ck, kau membuatku basah." Kesal Ando sambil mengibaskan rambut serta baju bagian dadanya yang juga basah.
Bukanya marah Ando malah tersenyum menyeringai. "Rupanya kau tahu apa itu belalai gajah." Ucap Ando dengan wajah menelisik.
Olive mendelik dengan wajah merah padam antara malu dan juga marah.
"Tidak." Elaknya membuang wajah.
Ando hanya terseyum, pria itu mengusap rambutnya yang basah kebelakang.
"Tidak ingin meminjamiku handuk." Ucap Ando dengan wajah memelas.
Olive melirik sekilas tanpa bicara gadis itu langsung beranjak masuk kedalam.
Ando hanya tersenyum melihat wajah Olive yang bersemu, seketika kenangan dulu kembali terlintas di kepalanya.
"Nih." Ucap Olive menyerahkan handuk berwarna putih pada Ando. "Ambil, dan bersihkan sendiri." Lanjutnya ketus, karena Ando tak kunjung mengambilnya.
Ando pun meraih handuk itu, dirinya mengusak rambutnya yang basah.
Olive hanya diam dengan melirik Ando yang mengusak rambutnya menggunakan handuk, sejujurnya dirinya ingin membantu, tapi jika itu dia lakukan tandanya dia kalah dengan apa yang sudah menjadi tekatnya selama ini.
__ADS_1
"Liv tolong belikan Mama sate." Ucap Susi yang tiba-tiba muncul diambang pintu.
Ando pun mengehentikan gerakan tangannya yang mengeringkan rambut, sedangkan Olive menatap Mamanya tajam.
"Mah ini sudah malam." Ucap Olive dengan tatapan memelas.
"Ck, ada nak Ando suruh dia antar kamu. Iya kan nak Ando." Ucap Susi menatap Ando yang tersenyum, dalam hati bahagia.
"Iya Tante."
Olive mengepalkan tangannya, sepetinya Mamanya tidak tahu jika Olive sedang menghindari pria mesum dan menyebalkan itu.
"Tapi mah_"
"Sudah ayo aku antar keburu Mama kamu lapar." Potong Ando sambil meraih tangan Olive.
"Eh, ish apa-apaan sih." Kesal Olive mengibaskan tangannya.
Olive menghela napas, dirinya kesal dengan mamanya yang tidak mendukung perasaannya saat ini.
Sedangkan Ando merasa bahagia, bagai angin segar pria itu bisa berduaan dengan Olive.
"Kenapa senyum-senyum sendiri." Ucap Olive menatap Ando memincing.
"Tidak ada, hanya senang saja." Jawab Ando jujur.
"Jauh tidak, apa perlu naik mobil." Tanya Ando yang tidak tahu dimana penjual satenya.
"Ya lumayan." Jawab Olive.
__ADS_1
"Lebih baik naik mobil saja." Ando berjalan lebih dulu membukakan pintu untuk Olive.
Keduanya duduk didalam mobil, Ando mulai menjalankan mobil yang dikendarainya.
"Apa aku boleh tanya sesuatu?" Tanya Ando setelah beberapa menit hening.
"Tanya saja." Olive menoleh pada Ando sebentar, dan kembali menatap lurus kedepan.
"Apa kamu akan tinggal di Surabaya?" Tanya Ando yang memang penasaran. "Disini juga banyak kampus yang bagus, kenapa harus ke Surabaya?"
Ando menatap Olive dari samping, dirinya penasaran jika hanya kuliah kenapa sampai harus meninggalkan ibu kota.
"Tidak apa-apa, hanya ingin suasana baru."Jawab Olive santai. "lagian kita tidak sedekat itu kak untuk aku beri tahu alasannya." Lanjut Olive menatap Ando dengan senyum tipis.
Lagi-lagi hati Ando mencolos, perkataan Olive kembali menamparnya.
"Ya, kamu benar." Jawab Ando datar.
Olive memalingkan wajahnya, menghirup udara untuk mengisi paru-parunya yang juga merasa sesak.
Dirinya tidak bisa lagi memilih, takdirnya sudah ditentukan. Dan hanya ada keajaiban jika itupun berpihak padanya.
"Sebelah sana." Olive menujuk gerobak penjual sate yang langganan Mamanya.
Ando pun memilih tempat untuk parkir mobilnya, agar tidak mengganggu pengendara lain yang lewat.
"Aku tunggu sini saja." Ucap Ando yang memilih menunggu didalam mobil.
Olive hanya mengaguk, melihat wajah Ando yang berubah dingin Olive memilih turun sendiri.
__ADS_1
"Kenapa kamu semakin sulit dijangkau." Gumam Ando sambil menatap Olive yang berdiri mengantri.
"Ada apa sebenarnya."