
Loli mengerjapkan matanya beberapa kali, otaknya masih mencerna apa yang baru saja dia dengar.
Ketika otak kecilnya sedang berfikir, tiba-tiba dirinya tersentak saat Niko bangun dan membenarkan kancing kemejanya yang terbuka.
"Ingat, hanya aku yang boleh memberi tanda seperti ini." Ucap Niko yang kini sudah mengganti cara panggilanya.
Loli masih diam memperhatikan pria yang sedang membenarkan kancing bajunya itu.
Niko menatap Loli yang hanya diam saja sejak tadi, dan saat tatapan mata keduanya bertemu, membuat Loli membuang wajah.
"Hey.. kau tak mendengarkanku?"
Niko menarik dagu Loli menggunakan tangannya membuat wajah mereka bertemu.
Niko menelan ludah dengan kasar melihat bibir Loli yang sedikit membengkak karena ulahnya tadi, pria itu merasakan getaran kembali saat melihat wajah Loli yang ternyata cantik jika diperhatikan.
Selama ini mereka memang tidak pernah dekat, meskipun mengenal namun mereka memiliki jarak. Tapi hari ini entah apa yang merasuki dirinya sampai Niko berani berbuat untuk menyentuh Loli.
"Lepas!!" Loli menyentak tangan Niko yang sejak tadi menyentuh dagunya dan tatapan pria itu tidak lepas dari wajahnya membuat Loli merasa tidak nyaman.
"Gue mau pulang." Loli segera beranjak dari ranjang, gadis itu ingin keluar dari kamar Niko namun dengan cepat dikomen juga tangan Loli lebih dulu.
"Apa-apaan sih, apa kau tidak dengar." Loli menatap Niko tajam dengan tatapan penuh permusuhan. meskipun mendengar sesuatu yang tidak pernah dia dengar namun Loli tidak percaya jika pria di depannya ini benar-benar menginginkannya, karena mereka tidak begitu mengenal dengan dekat tapi Niko sudah berani menyentuhnya sehingga lebih dari apa yang pernah Loli lalukan.
"Kau tidak akan pergi sebelum menjawab pertanyaan ku" Niko tidak melepaskan cengkraman tanganya hingga membuat Loli meringis merasakan sakit.
"Sakit kak." rintih Loli.
Niko mendorong tubuh Loli hingga membentuk dinding, mengunci pergerakan Loli agar tidak bisa berontak.
"Dengarkan aku_" Desis Niko tajam. "Kau tidak akan aku biarkan pergi begitu saja sebelum kau menyetujui apa yang aku katakan."
Jarak wajah keduanya begitu dekat, Loli bisa merasakan nafas sangat Niko yang benar pak kulit, wangi aroma min dari mulut Niko membuat Loli sedikit lemah.
"kau milikku, tidak aku biarkan siapapun yang menyentuh dirimu. Ingat kau hanya milikku mulai dari sekarang tidak ada penolakan." Ucap Niko dengan paksa.
Loli mendengus dengan wajah sinis, "Siapa kau memaksa ku, aku bukan milik siap-siap, dan aku Emph.."
__ADS_1
Niko yang geram kembali membungkam bibir Loli dengan kasar, pria itu tidak menerima penolakan namun mendengar penolakan dari bibir Loli membuatnya geram dan ingin memberi Loli pelajaran.
"Emmph..shhh."
Loli merasa sial hari ini, dirinya tidak bisa menolak sentuhan bibir Niko yang begitu memabukkan untuk dinikmati.
Katakanlah dia bodoh tidak bisa menolak sentuhan pria yang sama sekali tidak memiliki ikatan apapun denganya.
Logikanya ingin menolak, tapi tubuhnya malah beraksi lain, Sialan memang.
"Emmhh kak."
Kedua kaki Loli sudah lemas tak bertulang, untuk menopang tubuhnya saja kakinya sudah tidak kuat.
Kedua tangan yang awalnya berontak kini malah mengalungkan di leher Niko, Jika saja tangan Niko tidak menyangga pinggangnya mungkin Loli sudah jatuh tidak berdaya.
"Jangan kak.." Loli menatap Niko penuh permohonan, saat tangan Niko menerobos masuk kedalam rok yang dia pakai, bahkan kini kedua buah dadanya sudah terpampang jelas dengan mulut Niko yang memanjakannya.
Niko akan membuat Loli tidak berdaya dengan sentuhannya, dia akan menaklukan gadis keras kepala yang sudah untuk dirinya taklukan.
Meskipun ini pengalaman pertama baginya, setidaknya Niko tahu bagaimana cara melumpuhkan lawannya.
"Tidak bisa kak, inih ahh terlalu argh."
Napas Loli tersengal dengan dada naik turun, begitu indah Niko yang melihatnya.
Loli ambruk didada Niko, dan Niko langsung mengendong Loli kembali keatas ranjang.
Apa yang baru saja dia rasakan, Loli merasakan sesuatu yang asing meledak dalam dirinya, rasa yang tidak bisa dia katakan selain rasa lega yang luar biasa.
Niko yang melihat napas Loli masih memburu, membuatnya tersenyum. "Lihat tubuh mu saja tidak bisa menolak meskipun hanya menggunakan jariku, jadi jangan pernah bibirmu ini menolak dirinya." Niko mengecup bibir Loli sekilas.
"Kak jangan." Loli mendorong wajah Niko saat pria itu ingin kembali mendekatkan bibirnya pada pucuk dadanya.
"Hanya ingin menikmati mereka saja tidak lebih m" Ucap Niko menatap Loli dengan wajah memelas.
Loli yang melihat wajah Niko seperti itu, ingin rasanya tertawa. Dimana sejak tadi wajah pemaksa yang dia lihat.
__ADS_1
"Ayolah please, hanya_"
"Ck, Bayi badak."
Niko hanya tersenyum mendengar ucapan Loli, dah kini Niko benar-benar menjadi bayi badak besar yang sedang kehausan.
.
.
Di apartemen Olive hanya diam menatap punggung Ando yang sedang masak di depan tungku minimalis. Seperti biasa pria itu hanya menggunakan celana pendek saja dan bertelanjang dada. hari ini sudah satu minggu Olive melewati masa hukuman yang suaminya berikan, dan yang dikatakan suaminya harus Olive turuti wanita itu hanya menggunakan pakaian lengkap jika sedang pergi ke kampus jika sudah masuk ke dalam apartemen Olive tidak boleh menggunakan apapun selain pakaian-pakaian seksi yang sudah Ando belikan.
jika hukuman Olive tidak boleh memakai baju lain dengan Ando yang mendapat perintah dari Olive yang harus membuat makanan untuk dirinya selama 3 minggu kedepan.
Bagi Ando hal yang paling mudah, dirinya sudah lama hidup mandiri jadi tidak terlalu pusing dengan urusan dapur meskipun masakan yang dia bikin sederhana tapi setidaknya bisa membuat olive kenyang dan menyukainya.
"Tara, pasta sudah jadi." Ando senyum senang menampilkan makanan yang berhasil dibuat.
"Mana kenyang aku makan itu kak." Ucap Olive dengan wajah cemberut.
"Astaga, sayang. Kamu belum menghabiskan sudah bicara tidak kenyang." Ando hanya geleng kepala. "Jika masih lapar, nanti aku bikinkan lagi, sekarang ini dimakan dulu." Ando memberikan pasta untuk Olive.
"Suapi.." Rengek Olive manja.
Ando hanya bisa menghela nafas, tapi dirinya senang jika bisa melayani sang istri, apalagi sifat manja Olive jarang terlihat.
"Baiklah untuk tuan putri, yang sudah menyenangkan si Lai." Ucap Ando membuat Olive tertawa.
"Si Lai, kesenangan Kak setiap hari dapat jatah." Ucap Olive sambil mengunyah makanan yang Ando suapkan.
"Si Lai emang lagi beruntung, makanya dia betah di dalam goa hangat mu."
Olive mengerucutkan bibirnya saat kemesuman suaminya datang.
Ando memang tidak membiarkan Olive beristirahat, setiap hari Ando selalu meminta jatah. Olive hanya beristirahat saat kuliah dan sebelum Ando pulang bekerja, sisanya waktunya hanya dihabiskan untuk bercinta.
"Kita Udah sering bercocok tanam, semoga saja tanaman kita segera tubuh, setelah setiap hari aku menyiramnya" Ucapan Ando terdengar ambigu, tapi entah mengapa setiap hari mereka tidak bosan melakukanya.
__ADS_1
.
masih berlanjutš„“