
"Kak, kita ketaman kota saja." Ucap Olive mengajak Niko saat dirinya sudah duduk dikursi penumpang samping Niko.
Niko hanya mengangguk, "Sepertinya kau melakukan diet ekstra selama di Surabaya." Ucap Niko sambil melirik Olive.
"Ck, tidak usah meledek." Ucap Olive dengan cemberut.
"Aku tidak meledek, tapi aku akui sekarang kau semakin cantik." Puji Niko dengan senyum.
Olive memalingkan wajahnya, tersenyum menyembunyikan rasa malunya.
"Eleh, modus." Jawab Olive setelah berdehem menetralkan degub jantungnya.
Niko tertawa, "Modus sama kamu itu tidak ada artinya, Malah aku sendiri yang mati kutu."
Olive menggelengkan kepalanya, Niko termasuk pria yang humoris dan Olive tidak pernah menjadi orang lain jika didepan Niko.
Tak lama keduanya sampai di taman kota yang lumayan cukup ramai.
Sore hari memang ramai apalagi menjelang akhir pekan.
"Kamu duduk di sini dulu."
"Mau kemana?" Tanya Olive yang melihat Niko ingin pergi.
"Sebentar saja." Ucap Niko yang berlalu meninggalkan Olive.
Olive duduk di bangku taman, yang dekat dengan pohon, dirinya menatap ke sekeliling yang terlihat ramai pengunjung.
Bibirnya terseyum, kala angin sore berhembus menerpa wajahnya membuat helaian rambutnya beterbangan.
"Nih." Niko mengulurkan cup minuman yang sudah tertancap sedotan.
__ADS_1
"Rasa caramel kesukaan kamu." Tambah Niko dengan senyum.
Bibir Olive terseyum lebar. "Kamu masih ingat kesukaan ku."
"Pergi kurang dua bulan tidak membuatku lupa akan minuman yang sering kali pesan."
Olive tertawa dan menyesap minuman dingin dengan rasa yang sangat enak menurutnya.
"Oya, katanya ingin berbagi cerita? apakah ini tentang Sahira lagi?" Tanya Olive sambil menyesap minumannya.
Niko duduk dengan setengah menunduk, kedua sikunya berada di atas pahanya, dengan tangan memengang minuman yang sama dengan Olive.
"Ya," Kepala Niko mengaguk, mengiyakan.
Niko menghela napas. "Ternyata Sahira hanya sudah dijodohkan dan hubungan kami yang baru tiga bulan sudah kandas begitu saja." Ungkap Niko dengan pelan.
Olive menatap Niko dengan bingung. "Dijodohkan? bukankah kalian saling mencintai?" Tanya Olive memastikan.
"Cinta tidak membuat dirinya bisa melawan kedua orangtuanya, bahkan Sahira sekarang sudah dipindahkan dari kampus." Terang Niko sedih.
Tangan Olive terukur untuk menepuk punggung Niko.
"Mungkin jodoh kak Niko bukan Sahira, yang sabar masih banyak gadis baik menunggu kak Niko." Ucap Olive berharap bisa membuat perasaan Niko lebih baik.
"Hm, Semoga." Niko terseyum tipis, Olive pun membalasnya.
Drt..Drt...Drt...
Ponsel Ando berdering disaku jasnya saat dirinya baru saja keluar dari kantor.
"Halo.."
__ADS_1
"..."
"Ck, kau selalu merepotkan Andien." Kesal Ando yang mendapat telepon dari sang adik.
"Aku tidak lewat sana, kau beli sendiri saja." Ketus Ando sambil membuka pintu mobilnya.
"Ayolah kak, ibu juga nungguin kakak belikan makanan itu." Rengek Andien dengan manja.
"Ck, kau beralasan menggunakan ibu sebagai ancaman."
Tut
Ando mematikan sambungan telepon sepihak, bibirnya bersungut-sungut mendengar permintaan Andien yang menyuruhnya membelikan sesuatu.
"Ck, mana ramai lagi." Decaknya melihat pedangan yang banyak pembeli di pinggir taman kota.
Ya, Andien meminta Ando membelikan makanan yang dijual di sekitar taman, dan Andien yang beralasan jika ibunya juga menginginkannya membuat Ando mau tidak mau menuruti permintaan Andien.
"Pak pesan tiga porsi toping lengkap." Ucap Ando yang mendapat jatah antrian, setelah hampir sepuluh menit menunggu.
"Baik tuan, silahkan ditunggu dulu."
Ando hanya mengaguk, dirinya melihat sekitar taman yang lumayan ramai.
Saat mengedarkan pandangannya mata Ando tak sengaja melihat Niko yang sedang bersama gadis. Gadis itu tertawa sambil berjalan mengandeng lengan Niko.
"Niko, sama siapa?" Gumam Ando yang penasaran.
Penasaran karena wajah gadis itu tidak asing baginya, tapi melihat postur tubuhnya, Ando tidak yakin jika gadis itu adalah orang yang ada dipikirannya.
"Niko..!"
__ADS_1