
"Hay bro, kau masih mengingat tempat ini." Ucap Vincent saat melihat Ando mendekatinya.
Vincent pemilik bar terkenal di kota, dan Ando adalah salah satu pelanggan ekslusif selain itu juga mereka berteman.
"Gue butuh penghilang stres." Ucap Ando yang menyambar botol minuman diatas meja.
"Apa kau butuh penghangat ranjang." Ucap Vincent sambil ikut minum.
"That's not what I need, I just want this." Ando menunjukan botol minum yang dia pegang, dan tidak ingin yang lain, karena itu akan sama saja dengan menyiksa dirinya, karena belalai gajahnya tidak bisa bekerja dengan efektif.
"It's Oke, jika hanya butuh ini." Vincent menyuruh wanita yang berada didekatnya pergi, agar Ando merasa nyaman.
Ando terus meminum apa yang dia pengang, tidak perduli jika semakin lama dirinya akan mabuk.
Pikiranya sedang kacau, bertemu Olive bukan membuatnya merasa senang, melainkan merasakan sakit dan juga kesal bercampur kecewa.
Sakit? karena sudah tak dianggap dengan gadis itu.
Kecewa dengan dirinya sendiri yang sudah menyia-nyiakan Olive.
Mungkin ini karma untuknya, setelah gadis itu seperti memberi kutukan kepadanya.
"Aku tidak akan melepaskan mu Ndut, tidak akan." Gamamnya yang sudah setengah sadar.
Ando berjalan di lobby kantor, wajah pria itu terlihat muram dan dingin, tidak ada suara jail ataupun sapaan untuk karyawan seperti biasanya.
Mood-nya hari ini sedang buruk dan dirinya tidak berniat tebar senyum dengan para karyawan kantor.
"Apakah ada angin puti*ng beliung di luar sana." Ucap Sinta yang melihat Ando baru datang.
Bukan tanpa alasan Sinta bicara seperti itu, karena penampilan Ando pagi ini benar-benar berantakan apalagi bibir pria itu bisa sampai di ikat menggunakan karet jika Sinta mau.
Tapi Sinta masih ingin hidup, jadi dirinya hanya membatin saja.
Ando tidak menggubris ucapan Sinta, dia memilih untuk masuk keruangannya.
Ando menghempaskan tubuhnya di kursi, pria itu memijit pelipisnya yang terasa sakit.
Banyak minum tadi malam tidak membuatnya merasa baik, tapi setidaknya dia bisa terlelap tanpa ada bayangan Olive yang tidak bisa membuatnya tidur.
"Pak, anda disuruh keruangan pak bos." Ucap Sinta dari balik pintu yang dia buka sedikit.
"Ya." Jawab Ando singkat.
Sebenarnya dia ingin cuti untuk hari ini, tapi jika tidak bekerja Otaknya akan memikirkan Olive terus, sungguh baru kali ini dirinya merasa tersiksa hanya karena seorang wanita.
"Ada apa Nat?" Tanya Ando yang sudah masuk kedalam ruangan Nathan.
__ADS_1
Nathan yang fokus pada berkasnya mendongak. "Ayana minta ditemui di Mall, apa kau mau ikut?"
Ando menatap Nathan penuh selidik, ada angin apa Nathan mengajaknya pergi hanya untuk menemui Istrinya.
"Ck, untuk apa. Malas kalau cuma melihat kau bucin dengan istrimu."
Ando duduk didepan meja Nathan, menaruh berkas yang akan Nathan periksa.
"Yasudah, kalau tidak mau." Nathan berdiri dan mengambil kunci mobilnya. "Siapa tahu ingin bertemu Si Endut, karena Ayana sedang bertemu sahabatnya itu." Lanjut Nathan yang sudah berjalan menuju pintu.
Ando memejamkan matanya, mencoba untuk tidak tergoda dengan ajakan Nathan.
"Sial..! Nat tunggu gue." Ando segera berlari mengejar Nathan.
Logika dan hatinya berperang dan kini hatinya yang menang karena nyatanya dirinya ingin bertemu Olive, meskipun gadis itu cuek dan seperti orang asing.
"Gue lihat, lu semangat banget." Kekeh Nathan melihat Ando yang mengejarnya sampai di pintu lift.
"Mungkin gue kemakan omongan gue sendiri." Jawab Ando yang berdiri disamping Nathan, keduanya berada didalam lift untuk membawanya ke Lobby kantor.
Nathan menautkan kedua alisnya. "Omongan apa?" Tanya Nathan yang lupa.
"Gue jatuh cinta sama bocil." Ucap Ando sambil tersenyum.
"Oh, udah nyadar sekarang." Ucap Nathan datar.
Ando melirik atasan sekaligus bosnya itu. "Kemana aja lu, apa karena belum mencicipi lembah basahnya, sehingga lu nggak menyadari cinta yang udah lu punya."
"Sialan lu." kesal Ando meninju bahu atas Nathan.
Kesal karena ucapan Nathan seakan membuatnya merasa bodoh.
Sampainya di lobby keduanya berpisah menggunakan mobil sendiri-sendiri.
Nathan yang ingin menjemput Istrinya, sedangkan Ando ingin mengambil perhatian Olive agar kembali dekat dengannya.
Di salah satu Mall terbesar di kota, Olive dan Ami sedang menikmati kebersamaan mereka yang sudah lama tidak bertemu, keduanya mengabiskan waktu di area TimeZone dan setelah lelah bermain mereka memutuskan untuk mengisi perutnya yang lapar.
"Jadi, kamu sudah bertemu kadal buaya itu." Ucap Ami setelah mendengar curhatan Olive.
"Hm, pertama dia melihatku ditaman dengan kak Niko, dan mungkin karena dia penasaran jadi penguntit dirumah ku." Tutur Olive dengan wajah kesal.
Dirinya yang belum ingin bertemu, tapi tiba-tiba pria itu malah muncul, beruntung dirinya sudah menyiapkan hati dan mentalnya agar terlihat biasa saja.
"Lalu bagaimana dengan keluargamu? Maksud ku saat di Surabaya." Tanya Ami yang ingin tahu jelas masalah Olive di Surabaya, karena Olive belum bercerita dengan jelas dirinya menjadi penasaran.
Olive menghela napas. "Entahlah, aku juga tidak ingin mengecewakan nenek yang sudah tua, tapi aku juga tidak mau hidup dengan_"
__ADS_1
"Kalian disini?"
Tiba-tiba suara seseorang membuat keduanya menoleh kearah sumber suara.
"Kak Niko." Ucap Olive dan Ami secara bersamaan.
"Ck,suara kalian bikin orang-orang penasaran." Ucap Niko yang langsung duduk disamping Olive. Tanpa permisi pria itu langsung mengambil kentang goreng milik Olive dan mengoleskannya ke sambal.
"Ish Kak, jangan di habiskan." Ucap Olive sambil menarik piring berisi kentang goreng itu.
"Kamu jangan makan banyak-banyak nanti gemuk lagi." Ledek Niko dengan menarik piring makanan itu lagi kearahnya.
"Kalian ini, bikin iri." Ucap Ami sambil tersenyum mesam mesem.
Olive hanya mendelik, sedangkan Niko menyodorkan potongan kentang goreng yang sudah ada saus sambalnya.
"Aa..." Ucap Niko pada Olive. "Nanti ngak kebagian aku habiskan sendiri."
Olive mencebik dan terpaksa membuka mulutnya.
"Ck, kak ihh." Olive kesal karena Niko sengaja menjahilinya.
Niko tertawa, "Lucu bikin gemes." Ucap Niko yang mengusap sudut bibir Olive dengan ibu jarinya, karena terkena saus yang sengaja ia berikan.
Ehem
Ami menoleh saat mendengar deheman, dan ternyata Nathan yang sudah berdiri, dengan asistennya yang menahan marah.
"By,, kamu sudah datang." Ami bersorak senang. "Dari tadi aku hanya jadi obat nyamuk melihat mereka berdua yang lebay." Ucap Ami melirik Olive dan Niko yang sudah duduk seperti semula.
"Mau lagi." Tanya Niko yang sengaja ingin membuat Ando panas.
"Tidak kak sudah." Olive mengambil minumannya, tenggorokan terasa kering melihat Ando yang menatapnya tajam.
"Sayang, apa kamu mau nonton." Ucap Nathan pada istrinya.
Nathan sepertinya sengaja membuat Ando kesal, buktinya tanpa sepengetahuan Ami Nathan membawanya, tapi Nathan juga tidak tahu jika ada Niko di sini, alhasil rencananya untuk mendekatkan Ando dan Olive gagal.
"Boleh By, Olive ayo kita nonton."
"Tidak Mii, aku_"
"Oke, kita mau." Niko lebih dulu menyela.
"Kak." Olive menatap tajam Niko, jantungan sudah tidak aman dan ingin segera pulang, tapi Niko malah membuatnya kesal.
"Ck, mumpung aku disini sayang, besok-besok aku tidak bisa menemanimu." Alasan Niko sambil menepuk kepala Olive pelan.
__ADS_1
Ando mengepakkan kedua tangannya kuat, dadanya bergemuruh karena rasa cemburu.
Jika saja tidak ditempat umum, pasti tangannya sudah menghantam pria sialan itu.