
Ando masih kesal, dirinya berdiri menatap punggung Olive yang semakin menjauh, pria itu berkacak pinggang dengan memainkan lidahnya sendiri, sungguh hari ini mood nya sudah hancur.
"Ck, Kenapa disaat seperti ini kamu masih puasa sih Lai, kata orang kalau ada masalah penyelesaiannya adalah diatas ranjang." Gumamnya sendiri.
"Itu sih otak lu yang berpikir mesum kayak gitu."
Ando menoleh kebelakang saat suara seseorang bicara dibelakangnya.
"Ck, mau ngapain kamu Kiko." Kesal Ando yang malas menatap Niko.
Niko mendengus mendengar panggilan Ando yang seenaknya sendiri.
"Dasar sendal jepit." Balas Niko yang terdengar cukup jelas ditelinga Ando.
"Heh, apa kau bilang?" Ando menatap Niko dengan tatapan tajam.
"Kenapa? bukankah kamu lebih dulu merubah namaku, jadi aku juga bisa merubah panggilan mu." Niko tertawa remeh.
Kedua pria itu saling melempar tatapan dingin.
"Sebenarnya apa mau mu bocah? kenapa kau selalu berkeliaran di dekat istriku, kau tahu kan istriku." Ando menekan kalimat terakhirnya yang mempertegas kata istriku.
Niko menaikkan alisnya sebelah. "Hey bung, dari dulu memang kami dekat, dan kami tidak pernah mengusik mu, tapi kenapa kau begitu_"
"Karena dia sekarang istriku." Potong Ando lebih dulu.
Niko berdecih. "Sekarang saja kau mati-matian menunjukan siapa dirimu, tapi apa kau tidak sadar sadar bagaimana dulu kau menyakitinya." Niko menatap Ando dengan tatapan sulit diartikan. "Hanya Olive yang terlalu bodoh karena mencintai pria seperti dirimu."
"Kau bilang apa?" Ando maju dengan tangan mencekram kerah kaos yang Niko pakai.
"Ck, tidak usah menggunakan kekerasan." Niko menghempaskan tangan Ando. "Aku sarankan, kau lebih hati-hati menjaga istrimu itu jika tidak ingin hal buruk terjadi padanya." Niko berlalu pergi dari depan Ando yang yang masih mencerna ucapan Niko.
"Sial...!!" Kenapa dirinya menjadi memikirkan ucapan Niko, ada apa sebenarnya yang dikatakan pria itu.
Sebenarnya Niko hanya ingin membuat Ando penasaran saja, dirinya malas melihat pria yang sejak dulu suka membuat Olive sedih, anggap saja Niko membuat Ando mati penasaran.
Dirinya masuk kedalam mobil untuk pergi kekantor, Istrinya yang ngambek biarlah nanti menjadi urusanya lagi saat sudah pulang.
"Ck, mungkin saja dia mau Pms." Gumamnya yang ingat cerita Nathan.
Dimana Istrinya uring-uringan dan Nathan selalu salah, dan saat itu Istrinya dalam masa periode.
Ando hanya geleng kepala, "Wanita memang sulit dimengerti, bikin pusing tapi juga bikin enak secara bersamaan."
Maklum saja, Ando memang tidak pernah membujuk wanita yang sedang merajuk, mereka para wanita yang dekat dengannya semua tidak ada yang dikit-dikit merajuk padanya karena kebutuhan mereka tercukupi dengan uangnya.
Tapi untuk yang sekarang, wanitanya memang unik, dan jenis spesies wanita langka. Jadi Ando termasuk beruntung. Beruntung karena Olive bukan tipe wanita yang suka keluyuran dan berfoya-foya seperti wanita lainya.
Bahkan Ando merasakan sendiri, jika dirinya tidak pernah mendapatkan notif pemakaian uangnya.
"Boros salah, terlalu hemat apa lagi. Yaahh mungkin Tuhan ingin membuatku kaya." Gumamnya dengan terkekeh sendiri.
Tidak jadi kekantor, Ando memilih membelokkan mobilnya kesuatu tempat.
Tidak butuh waktu lama dirinya sampai di sebuah pinggir jalan yang sebenarnya tidak jauh dari rumah kedua orang tua Olive.
Ando keluar dari dalam mobil, dan dan di sambut dengan pria paruh baya yang memiliki kumis tebal.
"Siang pak Ando." Sapa pria berkumis tebal itu pada suami Olive.
"Siang, bagaimana apa sudah menuju finishing." Tanya Ando memperhatikan bangunan didepanya.
"Sudah 95% pak, dua Minggu lagi bisa langsung ditempati." jawab pria berkumis itu.
__ADS_1
Ando hanya mangut-mangu, "Baiklah kabari saja jika sudah selain biar cepat diisi." Ucap Ando yang mendapat anggukan pria tadi.
"Iya pak, Anda cukup cekatan dan beruntung memiliki ruko di daerah strategis seperti ini. Dan saya yakin pasti nanti dagangannya maju pesat."
"Semoga saja."
Sejak tadi pria itu bicara tanpa melepaskan kaca mata hitamnya, Ando menatap bangunan ruko lantai dua yang dirinya beli dan renovasi.
Ando sudah tidak sabar ingin memberi kejutan pada sang istri dirinya yakin jika Olive pasti senang melihat apa yang dia berikan.
Membahagiakan istri adalah sebagian dari iman, begitu juga sebaliknya.
"Nak Ando?"
Tiba-tiba suara dari belakang membuat Ando menoleh, dirinya cukup terkejut melihat papa mertuanya ada di sini.
"Pak Faisal."
"Nak Ando sedang bekerja disini?" Faisal menatap bangunan didepanya yang sedang direnovasi. Terlihat bagus dan tempat yang menjanjikan. Tapi sayang saat dirinya kemari tempat ini sudah dibeli orang, dan harganya pun Faisal tidak sanggup.
"Ah, iya. Saya ada pekerjaan disini." Ando melirik pria berkumis tadi untuk pergi. "Bapak sedang apa disini?" Tanya Ando untuk sekedar basa basi.
"Oh, tidak apa-apa hanya sedang ingin survey tempat saja, untuk mencari tempat baru." Jawab Faisal dengan tatapan melirik bangunan didepanya.
Ando melirik tatapan Faisal yang terus menatap bangunan itu.
"Bapak menyukainya?" Tanya Ando spontan.
Faisal mengalihkan tatapannya pada menantunya.
"Suka, tapi sayang bapak Ndak kuat nyewa apalagi beli." Jawaban Faisal hanya membuat Ando mengaguk. "Dan bapak tidak akan mendapatkan tempat sebagus dan sangat strategis untuk usaha."
"Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak pak, seperti saya." Ucap Ando dengan senyum tipis. "Saya tidak menyangka bisa cepat menikah dengan putri bapak, saat itu saya tidak tidak berharap akan bisa mendapatkan Olive. Tapi lihatlah, jika Tuhan berkehendak kita tidak dapat mengelak lagi."
Faisal tersenyum. "Itu karena memang cinta kalian yang membawa hubungan kalian dengan tali pernikahan, dan bapak hanya minta. Bahagiakan anak bapak selalu."
Faisal hanya memiliki putri satu-satunya, dulu Olive memiliki seorang adik, tapi saat usia adiknya dua tahun, tiba-tiba putra kecilnya mengalami demam tinggi dan tidak mau turun demamnya meskipun sudah dirawat di rumah sakit. Dan saat itu Tuhan mengambil anak keduanya.
"Pasti pak, saya akan berusaha membahagiakan istri saya selalu." Ando tersenyum.
Keduanya terlibat berbincang ringan tentang pak Faisal yang rencananya ingin membeli tempat baru untuk usaha. Karena tempat yang lama lokasinya terlalu jauh dari rumah. Jadi terkadang dia dan istrinya capek dijalan.
"Ya sudah bapak pergi dulu, salam untuk Olive dan bapak tunggu kalian datang kerumah."
Faisal menepuk pundak menantunya. "Baik oak, nanti saya sampaikan pada Olive."
Faisal pergi dengan menggunakan mobil sejuta umatnya, Ando merasa lega, karena Faisal tidak tahu siapa pemilik ruko didepanya ini.
"Pak Kumis, saya minta semau selesai dalam waktu kurang dari satu minggu."
Setelah itu Ando kembali pergi, dia memang menyediakan ruko itu untuk usaha kedua orang tua Olive, Ando ingin melihat istrinya bahagia melalui orang-orang yang dia sayangi bahagia.
"Permintaan kamu sederhana sayang, semoga kamu dan mereka menyukainya."
Ando menjalankan mobilnya kembali kejalan yang tadi dia lewati, jalan yang searah menuju kampus dah kantor Nathan.
Bukan untuk kekantor melainkan untuk menuju satu tempat lagi.
Mobilnya berhenti di area perumahan elit di kota, Ando memakirkan mobilnya disalah satu rumah besar di sana.
Menatap bangunan didepanya Ando terseyum. "Entah apa ekpresi kamu nanti jika tahu istana rumah tangga kita."
Ya, Ando juga membelikan rumah untuk Istrinya, setelah tadi bangunan untuk kedua mertuanya, kini Ando sedang mendatangi rumah yang dia beli untuk sang Istri.
__ADS_1
Di lain tempat Olive baru saja menaruh tugas teman sekelasnya di meja Gery, dosen yang yang menyuruhnya untuk menjadi asisten.
"Sebelum pergi, tolong buatkan saya kopi." Ucap Gery dengan menatap wajah Olive.
"Kopi?" tanya Olive memastikan.
"Ya," Gery mengagguk. "Disana tempatnya." Gery menujuk pojok ruangan yang terdapat dispenser air panas.
Olive hanya menghela napas, tapi kakinya juga melangkah ke sana.
Gery yang melihatnya tersenyum, melihat Olive yang berdiri dan fokus dengan kegiatannya, Gery hendak berdiri.
Olive mengaduk kopi yang baru dia seduh, meskipun hanya ada kopi saset pasti dosen itu juga menyediakan.
"Astaga, bapak ngagetin saja."
Olive cukup terkejut saat berbalik Gery sudah berdiri dibelakangnya dengan begitu dekat. Hingga kopi yang Olive buat sedikit berantakan karena goncangan terkejut dari tangannya.
"Bapak ngapain berdiri disitu." Tanya Olive dengan jantung yang berdebar kencang.
Gery merebut gelas kopi yang masih Olive pegang.
"Kamu terlalu lama membuatkan saya kopi." Jawab Gery dengan santai, dan menyeruput kopinya lalu kembali kemeja.
Olive mengelus dadanya, entah kenapa jantungnya terus saja berdebar, mungkin karena rasa terkejutnya tadi.
"Kalau begitu saya keluar pak." Ucap Olive.
"Hemm." Gery hanya berdehem saja.
Melihat punggung Olive yang sudah tak terlihat Gery tersenyum. "Bau harum yang begitu menenangkan." Gumamnya sambil mencoba mengingat bau harum dari rambut Olive tadi.
Olive berjalan tergesa dilorong kampus, entah kenapa perasaanya menjadi tidak enak karena kejadian tak sengaja tadi.
"Tidak mungkin kan, pak Gery orang jahat." Gumam Olive sambil terus berjalan.
Dirinya merasa aneh, tapi pikiranya malah berkelana, mungkin saja tadi hanya kebetulan dan dirinya tidak perlu takut.
"Eh, Olive." Loli yang baru saja keluar dari kelas memanggil Olive yang melewati ruangan kelas mereka. "Mau kemana?" Tanya Loli saat Olive menoleh ke arahnya.
"Kelas Lol." Jawab Olive yang ingin berjalan lagi.
"Kelas yang mana? apa kamu sudah pikun melewati kelas kita." Tanya Loli heran.
Olive membelalakan kedua matanya, jadi dirinya melewati kelasnya.
"Hehehe Sorry Lol, aku lupa kalau kelas kita disini." Olive hanya menyengir saja.
"Lah, sejak kapan kelas kita pindah, kamu ada-ada saja." Balas Loli kesal.
"Ya, siapa tahu kan, namanya juga keajaiban."
"Heh, kamu ini aneh tau gak sih." Loli menelisik wajah sahabatnya.
Olive yang ditatap Loli seperti itu gugup, bukan tanpa alasan, Olive takut jika Loli laporan pada suaminya, dan pasti mereka akan berdebat lagi.
"Eh,, ngomong-ngomong itu leher lu digigit apa? kenapa merah-merah gitu." Tangan Loli ingin menyentuh tapi ditepis oleh Olive.
"Bukan apa-apa, aku hanya alergi." Jawab Olive singkat.
"Kak Ando buaya, kenapa ninggalin jejak sih." Gerutu Olive memaki suaminya.
.
__ADS_1
Semangat kasih dukungan author, ayoo mampir ke sebelah, si sana author punya Gwen untuk Ameer, kisah anak" Sena dan Aaron. Jangan lupa mampir di kang paizo yang sayang 😘😘