
Olive mengerjapkan matanya saat kepalanya terasa pening, melihat ke sekeliling dirinya sadar jika sekarang sudah berada di kamar miliknya di apartemen.
Olive mencoba mengingat-ingat apa yang sebelumnya terjadi, sebelum tak sadarkan diri, dirinya masih berada di ruangan dosen Gerry dan sekarang saat dirinya terbangun Kenapa sudah ada di apartemen.
Lalu arah matanya menatap ke samping seorang pria juga terlelap sedang memeluk dirinya, jadi yang membawanya ke apartemen adalah suaminya sendiri. lalu apa yang terjadi setelah dirinya terlelap dan tak sadarkan diri, sungguh dirinya merasa penasaran.
Loli, lalu bagaimana dengan Loli Apakah temannya itu masih berada di sana?
"Kak..." Olive mengusap pelipis Ando untuk membangunkannya.
"Kak Ando." panggilnya lagi karena tidak mendapat respon sama sekali.
Olive menyingkirkan lengan Ando yang menimpa perutnya tapi belum sampai berhasil pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Kak kamu sudah bangun." Olive menatap wajah suaminya yang masih memejamkan mata tapi dari gestur tubuhnya pria itu sudah terbangun.
"Ish, jangan pura-pura." asal Olive karena Ando hanya diam saja tidak merespon.
"Kenapa?" suara Ando terdengar begitu serak karena dirinya memang terlelap.
"kenapa aku bisa di sini dan Kenapa juga kamu bisa tidur di sini? bukankah aku tadi berada di ruangan dosen Gary, lalu bagaimana dengan Loli di mana gadis itu sekarang?"
Olive banyak memberondong pertanyaan untuk suaminya, membuat Ando pusing sendiri mendengarnya.
"Apa kamu tidak ingat Apa yang terjadi sama kamu?"
Olive hanya menggeleng, "Terakhir yang aku ingat hanya setelah menyelesaikan tugas kepalaku tiba-tiba berat dan mataku rasanya tidak bisa terbuka lagi setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi dan Loli pun sudah lebih dulu memejamkan mata seperti tidur." jawab Olive dengan wajah yang juga bingung.
"Jadi apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Olive balik.
aduh menghela nafas dan dirinya mengambil ponsel yang berada di atas nafas samping tempat tidur. "Lihatlah apa yang dosen gila itu lakukan, sampai kamu rela memuaskanku hanya untuk mendapatkan izin dariku. Dan lihatlah Apa hasil dari ucapanku yang tidak kamu dengarkan." Perkataan Ando membuat Olive diam terpaku.
Pria itu masih menyodorkan ponselnya pada Olive agar wanita itu melihat sendiri apa yang terjadi dengannya.
Dengan ragu, Olive melihat apa yang Ando perlihatkan diponselnya, dan dirinya terkejut dengan menutup mulutnya yang menganga, karena syok.
"Sekarang kau masih mau membangkang ucapan suamimu." Ketus Ando menatap Olive intens.
Olive mengalihkan tatapannya dari ponsel menatap wajah suaminya, wajah yang terlihat marah dan juga kecewa Olive tidak tahu jika yang terjadi akan seperti ini dirinya benar-benar merasa bersalah sudah tidak mendengarkan apa yang suaminya katakan.
"Maaf kak aku tidak menyangka jika dosen kiri akan melakukan hal menjijikan seperti ini." suara Olive terdengar begitu menyesal, dirinya benar-benar menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan.
Ando memalingkan wajahnya, dirinya tidak bisa melihat wajah istrinya yang terlihat begitu sedih karena rasa penyesalannya sebenarnya dirinya sudah memaafkan apa yang istrinya lakukan hanya saja rasa kesal terhadap keras kepala Olive membuatnya terkadang tidak bisa menahan emosi.
"Sudahlah semua sudah baik-baik saja, mulai sekarang jangan pernah lakukan apapun untuk mendapatkan izin hanya karena pria lain sungguh aku tidak dalam melihat istriku disentuh ataupun dijamah oleh siapapun." Ando menatap Olive dengan dalam.
Olive hanya bisa menunduk, dirinya mengakui kesalahannya yang mungkin bisa berakibat fatal Jika saja suaminya tidak datang. "Maaf kak, sungguh aku minta maaf." ucapnya lagi dengan rasa penuh penyesalan.
Ando menghela, "Kemarilah."
Olive menurut wanita itu mendekat dan langsung mendapat pelukan dari suaminya, Ando mengusap kepala Olive lembut, "Jangan lakukan apapun lagi yang bisa membuatku khawatir, sungguh aku tidak akan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu sama kamu." Ando mengecup pucuk kepala Olive beberapa kali.
Olive hanya mengangkut saja di dalam pelukan suaminya, wanita itu membalas pelukan suaminya dengan erat aroma tubuh anda membuatnya merasa nyaman.
"Dan mulai hari ini kamu harus menjalani hukuman yang akan aku tambahkan." Ucap Ando membuat olive melonggarkan pelukannya.
"Hukuman apalagi kak?" Olive menatap suaminya dengan kening mengerut.
"Hukuman yang akan membuatmu keenakan dan bisa membuat perutmu menjadi buncit."
Bugh
Ando membalikkan tubuh Olive untuk berada di bawah kungkungannya.
"Kak.."
"Ssstt, aku tidak terima penolakan, mulai hari ini hukumanmu bertambah 2 minggu menjadi 3 minggu."
"Tap_"
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapian, karena hari ini kamu sudah membuat kesalahan dan hampir mencelakakan dirimu sendiri. Jadi terima saja hukuman yang aku berikan, toh juga akan membuat dirimu keenakan."
Olive mendelikan kedua matanya mendengar ucapan terakhir suaminya. "Bilang aku keenakan, lalu apa sebutan untukmu yang terpuaskan." Ucapan Olive begitu tajam membuat Ando sampai tidak bisa berkata.
"Ck, tidak usah dibahas, yang penting kita sama-sama mendapatkan rasa nikmat yang tiada tara." Ando tersenyum menyeringai.
"Tap_ Emphh."
karena tak tidak tahan mendengar ocehan istrinya, Ando membungkam bibir Olive dengan bibirnya, pria itu menyesap dan ******* benda kenyal yang selalu membuatnya candu rasa manis di dalamnya, membuat Ando semakin bersemangat untuk menjelajahi rongga-rongga dalam mulut Olive.
Lidah keduanya saling membelit dan bertukar saliva, ciuman di bibir semakin dalam saat tangan Ando bergerak aktif untuk menyentuh bagian-bagian sensitif di tubuh Olive.
"Ahh kak." Olive meleguh saat dua buah dadanya diremat dengan lembut hingga membuat tubuhnya meremang, apalagi bibir Ando menyusuri leher dan menyesapnya hingga meninggalkan jejak kepemilikan di sana, sungguh Olive tidak kuasa menahan sentuhan-sentuhan setiap jengkal yang Ando lakukan.
hingga tak menunggu lama kini tubuh keduanya sudah sama-sama polos.
Olive mengerang dengan tubuh mengejang saat sesuatu meledak di bawah sana dengan lidah Ando yang bermain di area sensitif membuatnya tak berdaya. Tak kuasa menahan gejolak dalam dirinya hingga pelepasan pertama pun dia dapatkan.
"It's time for the game to begin honey."
Ando tersenyum menyeringai menatap wajah sayu istrinya membuatnya semakin bersemangat untuk melakukan olahraga sore hari.
Berharap setelah ini akan hadir Ando junior tentu saja yang akan membuatnya semakin bahagia.
"Enghh kak." Olive memejamkan matanya saat merasakan bibir bawahnya yang basah disentuh oleh sesuatu yang terasa begitu keras.
"Hem, kamu menginginkannya honey?" Ando masih mempermainkan miliknya di bibir bawah wanitanya dengan menggoda.
Wajah Olive yang sayu tampak begitu seksi, hingga dirinya tak kuasa ingin membuat wanitanya terus berteriak dan menggerang menyebut namanya sampai pagi.
Tubuh Olive adalah candunya, rasanya tidak akan puas jika hanya menyentuhnya hanya satu kali. Ando menggilai tubuh istrinya yang begitu nikmat dan legit, sungguh rasanya berbeda dari sebelumnya ketika dirinya banyak melakukan dengan wanita-wanita di luar sana. rasa yang diberikan tubuh Olive membuatnya tidak bisa berpaling ataupun memikirkan hal lain. Yang ada hanya ingin lagi dan lagi.
Ando sudah bersiap untuk memasukkan belalainya ke dalam goa yang terasa hangat, meskipun semalaman dirinya melakukannya berkali-kali namun rasa puas itu belum ia dapatkan jika belum membuat istrinya terkulai lemas dan memohon ampun.
"Sshh kak, Ough."
Rasa penuh langsung menyeruak di dalam miliknya saat belalai suaminya perlahan masuk hingga begitu dalam, keduanya sama-sama mendesahh, merasakan kenikmatan penyatuan yang baru saja mereka lakukan.
"Kak aku sudah tidak tahan, ahh." Olive terus merengek ketika miliknya terasa gatal dan mulai berkedut seakan sesuatu akan kembali meledak di bawah sana.
"Tahan Sayang sebentar lagi enghh."
Ando terus bergerak memacu tubuhnya maju mundur, hingga hentakan ketiga kali dengan kuat sesuatu dalam dirinya meledak di dalam goa Olive yang juga sama meledakkan sesuatu yang terasa hangat.
"Arrghh.."
Penyatuan percintaan mereka melebur menjadi satu membawa rasa nikmat hingga melayang ke langit ketujuh, keduanya berharap setelah ini akan tumbuh sesuatu di dalam rahim Olive.
Nafas keduanya saling memburu masih menikmati sisa-sisa pelepasan yang begitu hebat, Ando melihat tubuh Olive yang bercucuran keringat hanya terkekeh pelan tak lama tangannya membalik tubuh istrinya dan menyuruh Olive untuk menungging.
"Kak akau lelah." Rengek Olive saat tahu apa yang suaminya akan lakukan.
"Tidak akan berhenti kecuali Kamu minta ampun, ingat hukumanmu dimulai hari ini sampai tiga minggu kedepan tidak ada pakaian melekat di tubuhmu kecuali lingerie-lingerie yang pernah aku belikan, jadi saat kita hanya berdoa ingat saat itu juga hukumanmu mulai berlaku."
"Argh kak, ini terlalu dalam." Olive menggerang saat milik Ando menerobos miliknya dari belakang hingga dirinya merasakan tusukan yang begitu dalam menyentuh *-****, sungguh rasanya begitu ngilu tapi juga membuatnya terbang melayang.
"Emm, Yeah ini nikmat sayang, milikmu benar-benar membuat Lai menggila."
Ando mengigit bibirnya dengan urat otot yang menonjol di sekujur tubuhnya. rasa nikmat yang Olive berikan membuatnya hampir gila sungguh rasanya begitu nikmat tiada tara.
Penyatuan mereka tidak akan selesai jika Olive tidak menyerah, dan Ando memeberikan Olive istirahat hanya untuk makan dan membersihkan diri. Dan setelah semua selesai Ando akan membuat Istrinya bermandikan keringat lagi.
Beruntung saat dirinya pergi ke kota B, Olive sedang mendapatkan masa preodenya, dan saat dirinya kembali Olive sudah bersih, hingga sekarang Ando bisa menikmati istrinya kapan saja.
.
.
Paginya kampus dikejutkan dengan, seorang dosen fakultas ternama digiring ke kantor polisi lantaran tindakan kriminal atau penca*bulan pada salah satu mahasiswi di kampus.
__ADS_1
Tapi karena identitas mahasiswi itu disembunyikan membuat mereka semua penasaran, siapakah korban dari dosen yang sudah tega berbuat keji di dalam kampus ternama di kota.
Berita itu sampai ke media elektronik, Olive yang sedang duduk di depan televisi melihat bagaimana dosennya yang sudah tega ingin melecehkannya digiring polisi dengan wajah babak belur yang mengenaskan.
"Dia sudah mendapatkan balasannya heh."
Ando datang dan langsung duduk di samping istrinya.
Olive mendengus kesal melihat suaminya sejak semalam hanya menggunakan celana pendek saja pria itu tidak mau memakai baju dan terus bertelanjang dada. Sedangkan dirinya juga sama, hanya menggunakan pakaian jaring ikan yang begitu transparan, inilah hukuman yang Olive jalani dari suami mesum yang sudah membuatnya terkapar tak berdaya semalaman.
Bahkan rasanya miliknya di bawah sana terasa perih dan tak nyaman.
"Kak ihh, jangan nempel-nempel." Olive mendorong bahu suaminya yang begitu dekat dengannya, padahal di samping Anda masih terdapat tempat yang lebar untuk bisa duduk berjarak.
"kau itu jauh aja kangen tapi giliran dideketin ngambek aneh." Ando tidak mengerti dengan sifat istrinya yang kadang-kadang berubah.
Olive mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan suaminya yang terang-terangan menyindirnya, padahal dirinya juga sama.
"Heleh, sama-sama merasakan kok saling mencela." Jawab Olive kesal.
Ando malah tertawa mendengar ucapan istrinya, "kamu tahu, inilah bumbu-bumbu rumah tangga yang sedang kita jalani, terkadang kita saling bertengkar lalu berbaikan lagi di saat kita jauh rasa rindu saling mencari giliran kita dekat yang ada hanya seperti kucing dan tikus." Ando tertawa setelah mengucapkannya.
Olive mencebik, meskipun benar yang dikatakan suaminya, tapi kategori mesum suaminya kenapa semakin bertambah.
"Apakah pak Gery akan dihukum lama kak?" Tanya Olive yang kembali kelayar televisi.
Ando mengehela napas. "Memangnya kenapa ? kamu keberatan jika dia dihukum lama?" Tanya Ando dengan raut wajah yang tidak suka.
"Aku itu cuma tanya, terus apa hubungan dengan aku tidak suka." Ketus Olive menjawab perkataan suaminya yang mengandung kesal.
"Kamu nanyee...kamu nanyee.." Ando bicara menye-menye menirukan salah satu hiburan yang viral.
Olive melirik sinis suaminya. "Orang tu tanya di jawab bukan dibecandaain." Lagi-lagi kata-kata menyebalkan keluar dari bibir Olive.
"Sayang apa kita ini ditakdirkan hanya untuk sebentar-bentar ribut, sebentar-sebentar akur. Bahkan diranjang saja kita saling adu kekuatan."
Ando menatap istrinya dengan kening mengerut, sedangkan Olive sudah menahan kesal sekaligus gemas dengan ucapan suaminya.
"Lalu apa yang kita lakukan saat adu kekuatan diatas ranjang? dan siapa yang kalah lebih dulu." Tanya Olive dengan wajah tanpa sungkan.
"Ck, jelas kamu yang kalah, kamu bisa mendapatkan pelepasan beberapa kali, tapi aku hanya cukup sekali dan langsung membuatmu lemas."
"Ish, jawaban macam apa itu." Olive melipat kedua tangannya didada. Tidak bisakah suaminya itu membuatnya senang sebentar saja.
"Kenapa wajah kamu asem kek gitu? kurang jatah?" Tanya Ando sambil tangannya memainkan pucuk dada Olive yang terlihat menonjol.
"Ihh, apaan sih ngak usah pegang-pegang." Olive menyentak tangan Ando yang memainkan dadanya.
"Kenapa? mereka itu milikku jadi aku boleh melakukan apapun pada mereka." Tangan Ando semakin menjadi, kini sudah menyusup ke dalam lingerie yang Olive pakai.
"Kak, ahh udah aku capek." Ucap Olive tapi matanya sambil merem melek.
"Ck, bibirmu bisa bilang capek sayang, tapi tidak dengan tubuhmu yang menginginkannya." Ando terseyum meneyringai.
Olive mendengus, tiba-tiba ide jahil melintas di otaknya.
Grep
Olive berpindah duduk menjadi diatas pangkuan suaminya.
Kini keduanya saling berhadapan dengan Olive yang duduk diatas belalai yang sudah memberontak.
"Kau mau memimpin hemm." Ando mengerang pelan saat Olive menggerakkan pinggulnya pelan maju mundur.
"Menurut mu enak posisi dimana?" tanya Olive dengan bibir digigit, wajah Olive terlihat sensual membuat kepala Ando kliyengan frustasi.
"Enak dimana-mana, asalkan masuk kedalam milikmu.. Ough.."
.
__ADS_1
lanjut takš„“