
"Mbak ditunggu masnya di luar." Ucap penjual yang mendatangi meja Olive.
"Saya pak?" Tanya Olive yang bingung.
"Iya, katanya pesanan Mbak sudah dibawa mas ojol, dan juga sudah dibayar." Ucap penjual itu lagi.
Olive terpaksa mengaguk, dan meninggalkan kakak tingkatnya bernama Joe itu.
Dari belakang Olive melihat kang ojol yang sedang duduk membelakanginya, tapi anehnya Olive seperti mengenali postur tubuh kang ojol yang tidak asing baginya.
"Bang..?" Panggil Olive dari belakang.
Ando pun menoleh dan mendapati Olive yang terkejut melihatnya.
"Sudah ngobrolnya?" Ucap Ando yang menyindir Olive, "Sampai lupa kalau ada kang ojol yang menunggu." Kesal Ando lagi yang nampak terlihat diwajahnya.
Olive mendelik, sejak kapan pria mesum dan menyebalkan itu duduk diatas motor kang ojol.
"Kak Ando ngapain? mana kang ojolnya." Tanya Olive, yang tidak menjawab pertanyaan Ando.
"Ck, kau itu terlalu percaya sama orang, makanya bisa dikibuli sama si bisul yang banyak gundik." Gerutu Ando sambil memakai jaket kang ojol.
"Dih, kayak yang ngomong paling bener aja." Kesal Olive yang mengatai Ando.
"Setidaknya aku bukan pria yang rakus belaian wanita, yang memelihara banyak gundik seperti bisul." Jawab Ando tak mau kalah.
Olive mencebikkan bibirnya, dan menerima helm yang Ando berikan.
"Cepatlah, waktuku tidak banyak. Aku tidak mau tertinggal pesawat lagi." Ucap Ando yang membatu mengaitkan kunci helm yang Olive pakai.
Olive tertegun menatap wajah Ando yang tidak begitu dekat, hatinya kembali berdesir.
"Ayo naik." Ucap Ando membuat Olive tersadar.
__ADS_1
"Beneran kak Ando jadi kang ojek?" Tanya Olive yang tidak percaya jika ternyata kang ojek yang memboncengnya adalah seorang Casanova menuju insyaf.
"Ck, demi kamu aku jadi tukang ojol Ndut." Ucap Ando melirik Olive yang sudah duduk di jok belakang.
"Siapa juga yang nyuruh, kok sewot."
Ando pasrah dan hanya diam, dirinya kembali mengendarai roda dua untuk mengantar Olive pulang.
Tangan Olive yang berada disisi samping tubuh Ando membuat tangan Ando menarik tangan Olive untuk melingkar di perutnya.
Olive yang terkejut reflek ingin menarik tangannya, tapi Ando mencegahnya.
Keduanya tidak ada yang bicara, hingga tanpa terasa lima belas menit mereka sampai didepan rumah nenek Olive.
"Katakan kenapa malam-malam ke hotel?" Tanya Ando yang menyadarkan bok*ongnya dijok motor, dan Olive berdiri didepannya.
Olive menatap Ando sekilas. "Kenapa memberiku hadiah, padahal_"
Deg
Olive menatap wajah Ando seksama, dari mana pria itu tahu hari ulang tahunnya.
Ohh ayolah Olive, jangan lupakan jika ando itu akan asisten seorang Nathan Adhitama, baginya mencari tahu identitas orang sangatlah mudah.
"Dari_"
"Sudahlah tidak perlu bertanya." Ando bergerak merubah posisi ingin memakai helm.
"Mau kemana?" Reflek tangan Olive menyentuh lengan Ando yang akan memakai helm.
"Pulang, dan bekerja memangnya apa lagi? sudah cukup lama aku meninggalkan pekerjaan hanya untuk berlibur ke sini." Jawab Ando santai.
Olive menundukkan wajahnya, hatinya terasa nyeri mendengar ucapan Ando yang seperti menyindirnya, padahal ucapan Ando adalah kenyataan jika dirinya sudah terlalu lama berlibur di Surabaya.
__ADS_1
"Masuklah, aku memberimu hadiah bukan berarti kamu harus membalas budi, anggap saja itu sebagai ucapan maafku yang telah membuatmu susah." Ando tersenyum tipis, tangannya mengelus kepala Olive.
Olive tidak berkata-kata, lidahnya terasa kelu entah mengapa dirinya merasa bersalah dengan apa yang dia katakan tadi sore pada Ando.
"Kak Aku_"
"Hem, aku pamit jika pulang ke Jakarta jangan lupa mencari ku." Ando terseyum jahil, membuat Olive memalingkan wajahnya.
"Kak."
"Apalagi Ndut." Ando yang ingin menghidupkan mesin motornya kembali diurungkan.
Sebenarnya Ando tidak rela untuk kembali, tapi tanggung jawab besar juga sudah menantinya. Dan dengan berat hati Ando berusaha untuk tidak menampakan wajah melankolisnya.
"Tidak, hanya saja_"
Cup
"Sudah, tidak ada yang tertinggi kan." Ucap Ando yang baru saja mencium pipi Olive.
Olive terseyum, "Maaf kalau selama disini aku menyebalkan." Ucap Olive pada akhirnya.
Ando tersenyum. "Ya, kamu memang menyebalkan, tapi selalu membuat aku merindu." Ea...ea..eaa.. Sendal jepit mulai berulah.
"Ish, Malah ngegombal." Olive mengerucutkan bibirnya.
"Bukan gombal, tapi modus."
"Sama saja kak, hanya beda ucapanya." Protes Olive.
"Tidak, karena gombal itu dalam bahasa Jawa pakaian, dan modus itu adalah singkatan dari modal usaha." Tutur Ando membuat Olive mati kutu.
"Alamak, bahasamu jeru mas."
__ADS_1