
Seperti yang dikatakan Ando sebelumnya, 'Papa hanya minta jatah untuk menjenguk junior'. karena mood ibu hamil sedang baik maka acara jenguk menjenguk itupun berlangsung.
Ando bermain dengan lembut agar tidak menyakiti anaknya yang berada didalam kandungan Olive, tapi jika sudah gairah diujung tanduk pergerakan perlahan itupun sudah tidak enak lagi, Ando mencoba untuk tetap mengontrol ritme gerakannya hingga membuat kepuasan pelepasan itu datang.
"Kak, aku lapar." Ucap Olive yang masih dalam pelukan suaminya.
Acara jenguk menjenguk mereka dilakukan malam hari, dimana saat siang tadi waktu Ando yang tidak tepat karena masih ada pekerjaan dikantor tempat dirinya bekerja.
Ando menggeser kepalanya yang berada diatas kepala Olive, pria itu menatap wajah istrinya yang menampilkan senyum.
"Mau makan apa hm, biar aku buatkan." Ando bangun, tapi sebelum itu dirinya mengecup kening Olive lebih dulu.
"Mau makan jagung bakar manis." Jawab Olive dengan wajah berbinar, saat membayangkan jagung manis versi dia.
"Yakin hanya makan jangung kenyang?" Tanya Ando lagi.
Dirinya ingat jika sejak hamil Istrinya suka makan, kalau belum makan nasi katanya belum kenyang bukan hanya nasi saja, Olive selalu menyanding makanan ringan untuk menemaninya bersantai
"Dedek bayi mau makan jangung." Ando mendudukkan kepalanya, tangannya mengelus perut istrinya yang belum terlapis apapun hingga Ando sudah bisa merasakan sedikit tonjolan diperut sang istri.
"Iya papa." Olive yang menjawab dengan menirukan suara anak kecil.
Ando mendongakkan dan Olive tersenyum. "Papa maukan belikan jagung bakar, nanti dedek ngeces Lo."
Ando tertawa mendengar suara istrinya. "Ya, ya.. papa akan belikan, karena kamu sudah ijinkan belalai papa untuk menjenguk."
Plak
"Ihh kak, tidak boleh bicara seperti itu dengan anak di bawah umur." Ucap Olive setelah memukul lengan suaminya.
"Eh, mana ada anak di bawah umur, kamu aja anak udah bisa bikin anak." Jawab Ando yang tidak sejurus.
Mereka berdebat tidak berfaedah, mungkin kalau di bayi mendengar, dirinya lebih baik pasang earphone dan mendengar lagu 'Kopiii suusususu..
"Sudah jangan diteruskan." Ando beranjak dari ranjang dan menghampiri Istrinya untuk dia gendong, "Bersihkan dulu, setelah itu kita cari penjual jagung."
Olive mengerucutkan bibirnya karena suaminya kalah berdebat, dan Ando berpikir jika terus berdebat dengan wanita bunting pasti dirinya tidak akan menang, dan lebih baik mengalah adalah jurus yang tepat.
Didalam kamar mandi Ando mendudukkan istirnya diatas closed, dan membersihkan bagian inti Olive dari sisa-sisa percintaan mereka.
"Tunggu disini, aku siapkan air hangat dulu." Ucapnya yang langsung berjalan menuju balthup.
Olive hanya melihat pergerakan suaminya dengan senyum, meskipun suka menyebalkan, tapi Olive juga merasa senang Suaminya bertanggung jawab dengan apa yang dia perbuat, tidak seperti suka berbuat dan malas untuk merawat. Tapi suaminya itu semakin kesini semakin manis, Suaminya hampir jarang membuatnya kesal. Padahal yang terjadi Ando menahan mati-matian agar tidak membuat Istrinya tersinggung, karena buburnya yang lemes kadang tidak bisa terkontrol untuk bicara.
Setelah selesai membersihkan diri, Ando yang ingin mengambilkan pakaian ganti terhenti saat istrinya mencegahnya.
"Sudah kak biar aku saja, aku ini hamil bukan wanita sakit."
Ucapan Olive hanya disambut helaian napas dari suaminya.
"Yasudah, aku mandi dulu dan kamu bersiap." Ando mengusap kepala Istrinya, dan kembali masuk kedalam kamar mandi.
Jam memang masih menunjukan pukul sembilan, jadi belum terlalu malam untuk mereka keluar, hanya saja terlalu sore untuk mereka yang baru saja ***-***...
Setelah bersiap, dan selesai menunggu suaminya. Ando mengambilkan baju hangat untuk sang istri.
"Angin malam tidak baik untuk kesehatan ibu hamil." Ucapnya sambil memasangkan sweater ketubuh istrinya.
"Ahhh suamiku so sweet sekali." Olive tersenyum senang.
"Ya dong suamimu ini adalah suami romantis dan siap siaga."
Olive memutar kedua bola matanya malas. "Baru si senggol dikit, narsisnya Ngak ketulungan." Gumamnya yang masih didengar suaminya.
Keduanya berjalan keluar menuju lift untuk mengentarkan mereka ke Lobby, sampainya di lobby Ando langsung membawa istrinya masuk kedalam mobil.
Saat mobil hendak keluar dari area apartemen, Olive melihat seseorang yang sepetinya dia kenal.
__ADS_1
"Loh kak, itu bukannya Andien." Olive menunjuk apartemen yang diseberang jalan dari apartemen Ando.
Karena saat Olive bicara Ando mulai menjalankan mobilnya untuk keluar, alhasil saat Ando menoleh tidak ada orang yang Olive sebutkan, orang itu sudah naik taksi.
"Masa sih, aku tidak lihat." Jawab Ando yang sudah fokus kedepan.
"Iya kok, tapi untuk apa Andien di sana." Ucap Olive lagi.
"Mungkin kamu salah lihat sayang, tidak mungkin juga Andien keluar malam-malam sendirian." Jawab Ando yang langsung diangguki Olive.
"Iya mungkin aku salah lihat."
Ando hanya tersenyum, lagian Andien bukan gadis yang suka keluar malam, dan yang Ando tahu Andien juga tidak memiliki kekasih.
"Eh disana kak, itu." Olive menujuk penjual dipinggir jalan yang sedang membakar jagung.
"Kita putar balik." Karena posisi di sebelah kanan, jadi Ando harus mencari putaran balik arah agar bisa sampai di penjual jagung bakar itu.
Setelah mobilnya berhenti, Olive langsung keluar lebih dulu dan Ando mengikutinya.
"Sayang jangan lari-lari." Ando ngeri sendiri saat melihat istirnya berjalan cepat untuk menghampiri penjual itu.
Karena tidak mendengar suaminya, Olive hampir saja tersungkur karena tersandung kakinya sendiri.
"Awas .!!" Ando dengan sigap meraih pinggang istrinya agar tidak tersungkur, beruntung dirinya tepat waktu.
"Hehe.." Jantung Olive berdebar kencang, tapi saat melihat wajah suaminya, bibirnya mecoba tersenyum, agar tidak kena marah.
Sedangkan Ando jantungan sudah ingin lepas dari tempatnya, jika saja dirinya tidak terlambat.
"Maaf kak, terlalu bersemangat." Olive menampilkan wajah merasa bersalah.
Sebisa mungkin Ando mengatur napasnya agar tidak mengeluarkan kata-kata yang akan membuat istrinya sedih, meskipun rasanya mulutnya sudah ingin mengomel tapi Ando tahan.
"Hati-hati kamu sedang mengandung." Ucap Ando singkat tapi penuh dengan penekanan.
"Hem, mau yang rasa apa? katanya mau jangung bakar manis, berarti original kan." Tanya Ando yang sudah berdiri di samping penjual.
Olive masih melirik peralatan dan ada rasa apa saja, tapi sepertinya rasa manis yang dia inginkan tidak ada.
Ando yang melihat istrinya seperti bingung, bertanya. "Kamu cari apa?"
Olive menatap suaminya bergantian dengan bapak-bapak penjual itu.
"Aku mau jangung manis." Ucap Olive.
"Iya, ini sudah di bakar." Tunjuk Ando yang tadi memesan dua.
"Bukan itu_" Olive menjeda Ucapnya, mungkin yang akan dia minta aneh, tapi ini keinginan si jabang bayi.
"Lalu apa?" Ando dan penjual menunggu.
"Jagung manis bakar rasa kecap." Ucap Olive dengan tatapan polos, dan bibir bawah dua gigit.
"Haahh.."
Keduanya tercengang.
.
.
.
Setelah puas dengan ponselnya yang menunjukan pemandangan atau wisata indah, Loli yang merasa lapar memilih keluar dari kamar. Jika Sudah bertraveling dengan gadgetnya, Loli sampai lupa waktu, maklum gadis yang baru berusia 19tahun itu masih senang bermain.
Ceklek
__ADS_1
Pintu kamar terbuka, dan Loli melihat ada seseorang yang tidur bersandar di sofa.
"Jadi dia tidak pulang." Gumam Loli, yang melihat Niko terlelap dalam posisi duduk.
Loli mengehela napas, sejujurnya dia merasa bersalah sudah mengabaikan pria yang juga dia cintai ini. Tapi sifat Niko yang terlalu membatasi pergerakannya membuat Loli merasa terkekang.
"Kak." Loli membungkukkan badannya, agar wajahnya sejajar dengan wajah Niko yang terlelap.
Pria didepanya memang tampan, di kampus Niko lumayan banyak wanita yang mendekati, selain katua senat, Niko juga memang pria yang humoris.
"Kak, bangun." Loli mengusap wajah Niko agar pria itu bangun.
Wajah Loli begitu dekat dengan wajah Niko, sehingga Loli bisa mendengar dengkuran halus yang keluar dari bibir Niko.
Loli memperhatikan lamat-lamat wajah Niko dari dekat, hingga sampai dirinya tidak sadar jika Niko sudah membuka mata.
Grep
"Ehhh.." Loli terkejut saat pinggangnya ditarik Niko hingga tubuhnya ambruk di atas tubuh pria itu.
"Nagapain hm." Niko menatap wajah Loli yang panik saat tertangkap basah sudah menatapnya.
"Emm, tidak." Loli menggeleng dengan suara terbata.
Niko tersenyum. "Lepas kak." Loli menggoyangkan tubuhnya, saat merasakan posisinya serba salah.
"Tidak, aku tidak akan melepaskan." Niko malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Kak, ihh aku lapar." Rengek Loli yang terus berontak minta dilepaskan.
"Ck, jangan bergerak terus kalau tidak mau membangunkan burung-ku."
"Hah." Seketika otak Loli berpikir keras.
Niko yang melihat ekpresi wajah Loli gemas sendiri. "Maafkan aku." Tiba-tiba Niko berucap, membuat Loli langsung menatap wajah pria itu.
"Maaf, maaf untuk apa?" tanya Loli bingung.
Niko tersenyum dan hanya menggeleng, "Tidak untuk apa-apa, hanya saja aku_"
Tatapan Niko turun ke bibir Loli yang terlihat basah.
"Ish, jangan mesum." Tangan Loli langsung mengusap wajah Niko kasar.
Dan Niko langsung tertawa, jika seperti ini mereka tidak seperti pasangan yang sering bertengkar, Niko sadar jika mungkin perlakuannya selama ini kepala Loli salah. Dan sekarang dirinya mencoba untuk merubah sifat buruknya terhadap sang kekasih.
"Boleh?" tanya Niko yang ambigu.
Loli mengernyitkan kening berpikir, mereka tidak sadar jika posisi mereka terlalu intim, hingga Niko sedari tadi sudah sekuat tenaga agar tidak terpancing. Tapi naluri seorang pria normal, Niko tidak bisa menolak untuk melawan gejolak dalam dirinya. Hingga karena lama tidak mendapat jawaban dari Loli, pria itu memilih untuk langsung menyambar bibir Loli yang sudah membuatnya candu.
"Emmph..."
Loli yang mendapat serangan mendadak, membelokkannya kedua matanya, apalagi merasakannya sesapan dan lumattan lembut dari bibir Niko.
"Emm." Tangan Loli yang semula didada Niko, kini sudah mengalung dileher pria itu, tangan Niko yang bebas, aktif mengusap punggung Loli dari luar naik turun.
Cumbuan bibir mereka semakin dalam, hingga rasanya terlalu sayang untuk dilepaskan. Bermain-main dengan lidah keduanya, hingga bertukar saliva, baik Niko dah Loli, tidak sadar jika keduanya sudah sangat lama menghabiskan waktu untuk ciuman.
"Ah." Napas Loli tersengal dengan dada naik turun saat Niko melepaskan ciumannya.
"Semakin pintar." Ucap Niko dengan keadaan yang sama.
Loli mengerucutkan bibirnya. "Jika tidak pintar, aku bisa pingsan."
Niko tertawa mendengar ucapan Loli, dan Loli juga ikut tersenyum.
.
__ADS_1
Kembang kopi jangan lupa Bestie....🤣