
Setelah pergulatan panas yang menguras tenaga dan keringat, kini keduanya sudah membersihkan diri dari sisa-sisa percintaan mereka.
Saat ini Olive berada di depan tungku kompor sedang membuat sesuatu yang bisa membuat perutnya kenyang.
Ando yang sejak tadi tidak boleh bergerak dan mengganggunya hanya duduk diam sambil menunggu sang Istri selesai dengan kegiatannya.
"Sayang kenapa lama sekali." Ucap Ando dengan tidak sabaran karena menunggu lama.
"Ngak sabaran banget sih, salah siapa main sampai lupa waktu. Kelaparan kan sekarang." Kesal Olive sambil menaruh makanan yang dia buat keatas piring.
Ando hanya memeperhatikan Istrinya dari belakang, mendengar nada kesal Olive membuat Ando tak lagi bicara, dia takut jika diberi bekal salimut dan bantal saat malam nanti.
"Habis mau bagaimana lagi, itumu bikin nagih sih." Ceplos Ando pada akhirnya karena terasa gatal bibirnya ingin bicara.
Olive menoleh kebelakang dan mendelik tajam. "Enak mana sama goa yang sudah kamu jelejahi." Tanya Olive dengan tatapan mengintimidasi.
Ando menelan ludah kasar, melihat tatapan Olive yang seperti ingin memakannya hidup-hidup.
"Jelas enakan kamu sayang, rasamu lebih legit dah mengigit." Jawab Ando dengan wajah berbinar, saat Olive menaruh piring didepanya yang berisi nasi goreng.
"Oh.. jadi siapa yang lebih mengigit?" Tanya Olive lagi sambil menyendok kan nasi kedalam mulutnya.
"Goa mu yang mengigit, dan belalaiku yang digigit."
__ADS_1
.
.
Setelah acara makan malam yang kemalaman selesai, kini keduanya duduk di sofa depan tv yang menyala, menampilkan acara bola.
"Kak.." Panggil Olive sambil mengunyah Snack yang ada ditangannya.
"Hm.." Ando hanya berdehem untuk menanggapi panggilan Olive, karena dirinya fokus pada layar televisi yang menampilkan perebutan bola.
Olive yang dipeluk Ando dari samping sedikit menggeser duduknya agar menatap wajah suaminya itu.
"Bagaimana kalau aku hamil?" Tanya Olive dengan tatapan serius.
"Ya tidak apa-apa, kan kamu punya suami jadi wajar kan." Jawab Ando klise.
Dia tidak ingin membuat Olive tidak nyaman jika dirinya memang benar-benar menginginkan anak, dan Olive belum siap.
"Apa kamu mau aku hamil?" tanya Olive lagi yang belum puas mendengar jawaban Ando.
"Tentu saja sayang, aku ingin kau mengandung darah daging ku, benih cinta kita. Bila perlu aku ingin menghamilimu setiap tahun."
Bugh
__ADS_1
"Kak, Memangnya aku kucing." kesal Olive memukul dada Ando pelan.
Ando tertawa dan mengecup pipi Olive sekilas. "Memangnya kenapa? apa kamu siap memiliki anak?" Tanya Ando mode serius menatap wajah Olive.
Olive mengigit bibirnya dengan jantung yang berdebar, sepertinya ini adalah keputusan terbesarnya dalam mengambil keputusan.
"Setelah aku pikir-pikir, tidak ada salahnya punya anak sekarang, jika aku tunda takutnya kak Ando semakin tua."
"Heh bicara apa kau." Pekik Ando yang tidak terima jika Olive mengatainya tua.
Tidakkah dia merasakan keperkasaannya sampai membuatnya lemas tak berdaya, enak saja dengan mudah mengatainya tua.
"Loh emang benar kan, aku masih muda umurku saja baru 19 tahun, tapi coba lihat kak Ando yang sudah kepala tiga bahkan lebih." Skak kali ini Ando tidak bisa menjawab.
"Aku hanya tidak mau kalau nanti anakku salah mengenali papanya." Lanjut Olive menatap Ando serius.
"Maksud kamu apa?" wajah Ando penasaran.
"Ya, aku takut kalau ditunda nanti, bisa-bisa anak kita bukan panggil kamu papa, melainkan EMBAH."
Ucapan Olive membuat Ando semakin tercengang terkena mental.
.
__ADS_1
Kembang kopi sayang semangat sore 💋