
Dipesisir pantai yang menyuguhkan kesunyian dan hanya ada suara ombak yang terdengar.
Niko membawa Loli ke pemandangan laut lepas yang hanya terlihat air beriak karena cahaya rembulan dimalam hari.
Niko memeluk tubuh Loli yang duduk depannya dengan tatapan lurus kedepan.
Sudah lima belas menit keduanya duduk dalam diam, Loli menyandarkan kepalanya di dada Niko.
"Kamu lapar?" Tanya Niko untuk memecah keheningan.
Loli hanya menggeleng. Mendapat gelengan kepala, Niko menghela napas panjang dan semakin mengeratkan pelukannya. Angin malam yang terasa menusuk tulangnya tidak dia hiraukan, yang terpenting wanitanya tidak kedinginan.
"Maaf jika aku terlalu posesif, aku melakukan itu karena aku tidak ingin kehilangan orang yang aku cintai untuk kedua kali." Tutur Niko diiringi dengan kecupan di pucuk kepala Loli.
__ADS_1
Loli masih diam menunggu apa yang akan Niko ceritakan.
"Mungkin pertemuan kita singkat dan belum mengenal baik satu sama lain. Tapi saat pertama kali aku menyentuhmu malam itu rasanya aku menemukan rasa berbeda dalam diriku yang belum pernah aku rasakan." Niko mengutarakan perasaan yang dia rasakan. "Kamu pasti tidak nyaman dengan sifatku ini, jujur aku hanya ingin mempertahankan apa yang menjadi milikku." Niko menenggelamkan wajahnya di bagian leher belakang Loli, menghirup aroma yang menenangkan untuknya.
"Memangnya kenapa?" Tanya Loli yang penasaran dengan kisah yang dilalui Niko.
Terdengar belaian napas lagi dari bibir pria itu, "Tidak mau cerita juga tidak_"
"Aku ingin memulai semua dari awal, aku tidak ingin menyembunyikan hal sekecil apapun dari kamu, jujur tidak ingin kamu meninggalkan aku." Niko mengusap kepala Loli. "Mungkin aku bukan pria yang baik, karena itu dia meninggalkan aku_"
Loli mengusap lengan Niko yang masih memeluknya. Tidak menyangka jika sifat posesif dan protektif yang Niko lakukan karena masa lalunya yang menjadikannya seperti ini.
"Aku tidak tahu jika sifat cuek dan posesif bisa membuat kalian pergi, aku tidak tahu bagaimana memperlakukan wanita, jadi aku mohon katakan apapun yang membuatmu merasa tidak nyaman."
__ADS_1
"Kita sama-sama belajar memahami satu sama lain kak, aku juga memiliki kekurangan yang mungkin saja tanpa sengaja bisa menyakitimu." Ucap Loli menolehkan kepalanya kesamping agar bisa melihat wajah Niko yang juga menatapnya.
Tangan Loli menyentuh pipi Niko, mengusapnya lembut. "Aku juga bukan wanita yang baik, Tapi aku ingin berusaha menjadi yang terbaik." Loli Tersenyum.
Niko ikut tersenyum. "Asalkan kamu tahu, saat kamu pergi rasa takutku semakin menjadi. Aku takut kamu pergi dengan membawa separuh diriku bersamamu."
Loli mengernyitkan keningnya, tidak mengerti apa yang dikatakan Niko. "Maksudnya?" Loli mengubah posisi duduknya menjadi miring menghadap Niko.
Niko Tersenyum dan tatapannya tertuju pada perut Loli. "Disini." Niko menyentuh perut Loli. "Aku hanya takut kamu membawa pergi darah daging ku."
Loli membuatkan kedua matanya, "Dih, mana ada." elak Loli menyingkirkan tangan Niko dari perutnya.
"Loh, bisa jadi sayang. Karena aku membuang bibit kecebong unggul didalam rahimmu, dan Minggu depan kita akan menikah." Ucap Niko tersenyum senang.
__ADS_1
"What..???"