
Setelah menuruti permintaan aneh si jabang bayi, Ando kambali mengikuti kemauan sang Istri yang katanya ingin melihat pasar malam yang didaerah dekat rumahnya.
Ando hanya bisa pasrah mengikuti kemauan sang Istri yang mengatasnamakan ngidam.
Untuk permintaan awal saja Ando di buat syok. Bagaimana bisa jagung bakar diolesi dengan kecap ? membayangkan saja Ando tidak pernah, yang enak itu sosis diolesi kecap.
Tapi melihat istrinya yang lahap sampai menghabiskan dua, Ando malah negeri kalau-kalau nanti anaknya lahir menjadi hitam seperti kecap.
Membayangkan itu Ando sampai bergeridik ngeri.
"Kamu kenapa kak?" Olive memeperhatikan suaminya yang bergeridik bingung sendiri.
"Hah." Ando menoleh oada Olive. "Tidak apa-apa sayang." Jawabnya sambil tersenyum.
"Apa yang kamu pikirin, kata orang tidak baik membatin sesuatu yang buruk disaat istrimu hamil, nanti malam jadi kenyataan." Ucapan Olive membuat Ando menelan ludah.
"Mit amit jabang bayi, jangan sampai sayang."
Ando tidak rela jika anaknya akan hitam seperti yang dia pikirkan, jangan sampai.
"Memangnya apa yang kamu pikirin?" Tanya Olive lagi yang belum mendapat jawaban.
"Em, itu aku hanya berpikir kenapa kamu ngidam jagung bakar rasa kecap? apalagi kamu makan kecap seperti makan saus, dan aku membayangkan bagaimana kalau nanti dedek bayi jadi hitam karena kamu banyak makan kecap." Setelah selesai bicara Ando meirngis melihat reaksi Istrinya.
"Kamu nyumpahin anak aku jadi hitam." Olive mendelik menatap suaminya tajam.
Keduanya sedang berada didalam mobil untuk menuju ke pasar malam yang Olive inginkan, katanya wanita hamil itu ingin melihat komedi putar. Tapi awas saja kalau Istrinya itu meminta kembali masuk ke rumah hantu sudah pasti akan dia tolak.
"Bukan begitu sayang, dia juga anak aku. Mana mungkin aku nyumpahin anak kayak gitu, orang papa dan Mamanya aja cantik dan ganteng gini." Ando bicara dengan nada kesal.
Olive mengendus, "Sudahlah aku lagi malas berdebat." Ucapnya yang memilih posisi yang nyaman untuk bersandar.
Perutnya yang kenyang, ditambah setelah capek bercinta membuat matanya terasa berat karena mengantuk. Olive yang tidak bisa menahan rasa kantuknya memilih memejamkan mata.
__ADS_1
Tak lama mobilnya sampai di parkiran pasar malam yang istrinya inginkan, Ando mengehela napas melihat beberapa pedagang sudah menggulung dagangannya karena tiba-tiba hujan turun, dan mereka berlomba untuk menyelamatkan dagangan mereka.
"Sayang, diluar hujan." Ucapnya yang masih menatap sekitar, yang hujannya semakin deras.
Tidak mendapatkan respon, Ando menatap Istrinya disamping.
"Lah, kok merem." Ucapnya yang melihat sang Istri terlelap.
"Tadi aja kayak orang kebelet nagajakin kesini, sekarang malah merem." Gumamnya sambil mengusap kepala Olive.
Melihat posisi Olive yang setengah duduk, Ando mengubah posisi kursi yang Olive duduki agar lebih nyaman untuk tiduran.
"Sehat-sehat di perut Mama sayang." Ando mengusap perut istrinya.
Karena hujan dan Olive tidur Ando memilih untuk kembali pulang ke apartemen, membawa bumil yang sudah terlelap.
"Good night my wife."
Mengecup kening istirnya, Ando meninggalkan Olive dikamar dan berjalan keruang kerja.
Mengingat Istrinya mengandung entah mengapa ada perasaan berbeda dalam dirinya, Ando ingin menjadi pria yang bertanggung jawab dan menjadi papa yang hebat untuk anak mereka, apalagi memiliki istri yang lebih muda darinya, Ando yakin jika kedepannya kesabarannya pasti akan diuji. Tidak usah jauh-jauh membayangkan, sahabatnya saja sudah merasakan bagaimana memiliki Istri muda cantik dan banyak yang melirik, alhasil Nathan terkadang tidak membiarkan Istrinya pergi sendiri, kemanapun Ami pergi Nathan harus ada.
.
.
Pagi hari Olive bangun lebih dulu, dirinya menyiapkan makanan meksipun suaminya melarang, tapi yang namanya seorang istri, Olive tidak setega itu untuk membiarkan suaminya melayaninya terus.
Saat ingin menaruh makanan yang sudah siap keatas meja, tiba-tiba perutnya mual.
Huwek...huwek...
Olive menutup mulutnya menggunakan tangan, dirinya langsung berbalik menuju wastafel.
__ADS_1
Huwek...huwek..
Olive terus memuntahkan apa yang ada didalam perutnya, hingga yang keluar hanya cairan kuning yang rasanya begitu pahit.
"Sayang.." Ando langsung menghampiri istrinya yang muntah didepan wastafel.
Saat keluar Ando mendengarkan suara orang muntah di dapur, dan kalau sudah begitu pasti istrinya yang sedang mengalami morning sicknes.
"Pahit kak." Napas Olive terengah-engah, dengan wajah penuh keringat.
Tangan Ando mengusap wajah Olive yang basah menggunakan tisu.
"Sudah lebih baik." Ando menatap istrinya kahawatir, dengan wajah Olive yang pucat. Tapi mau bagaimana lagi jika inilah yang dirasakan semua wanita Hamil.
Olive hanya mengangguk saja dirinya tidak kuat meskipun hanya sekedar bicara.
Membawa Olive ke sofa ruang tv, Ando mengusap perut Olive dengan minyak telon yang selalu ada di meja tv.
"Kenapa tidak istirahat saja, aku tidak menyuruhmu untuk melakukan apapun." Ando menatap Olive yang masih lemas, sesekali melihat tanganya yang mengusap perut Olive.
"Jangan buat Mama susah sayang, baik-baik didalam dan jaga Mama." Ando bicara didepan perut Olive, dan mengecupnya dengan lembut. Wangi minyak telon membuatnya betah berada di sana.
"Kak, udah geli." Ucap Olive yang merasa bibir Ando terus menerus mengecup perutnya.
"Baunya seger bikin betah disini." Jawabnya dengan masih melakukan hal yang sama.
Olive tertawa, meskipun suaranya masih terdengar lemah.
"Nanti siang aku tidak pulang, tidak usah melakukan hal apapun, untuk makan, aku akan mengirimkan dari kantor." Ando menatap wajah Olive dan mengisapnya lembut.
"Aku juga ingin melayanimu kak, bukan kamu yang harus melayani aku terus." Olive berasa tidak enak, tapi mau bagaimana lagi, dirinya bergantung pada Suaminya.
"Tidak usah pikirkan itu. Lebih baik kamu memikirkan bagaimana kamu melayani ku diranjang selebihnya, biar aku yang melayanimu." Ando memainkan alisnya naik turun.
__ADS_1
"Ihh Mesum."