
Ando mengendarai mobilnya sendiri, pria itu menatap lurus jalanan kedepan hingga 20 menit kemudian sampai ditempat yang sudah dijanjikan.
Ando keluar dari dalam dan menuju ruangan private room yang sudah dipesan rekanan bisnisnya yang akan melakukan kerja sama itu.
Sampainya di sana, ternyata pria itu belum ada hanya terlihat asistennya saja.
"Selamat siang Tuan." Pria yang usianya setara dengan Ando itu berdiri dan menyapa lebih dulu.
"Hm, siang. Apa kita akan bahas kerjasama berdua saja." Ucap Ando yang sudah duduk.
"Tidak tuan, bos saya akan sedikit terlambat jadi_"
"Kita bahas sekarang saja, nanti kamu bisa sampaikan keatasan kamu." Potong Ando lebih dulu, karena dirinya tidak suka menunggu untuk saat ini.
Asisten yang duduk didepannya itu sedikit canggung, dirinya juga tidak tahu kalau atasanya akan terlambat datang, apalagi yang akan melakukan kerja sama dari perusahaan bonafit seperti ini, asisten itu merutuki kelalaiannya atasanya yang tidak tepat waktu.
"Nama saya Erik tuan, saya akan memberikan penawaran yang sudah atasan saya sepakati." Ucap Erik sambil memberikan berkas yang dia pegang kepada Ando.
Nando menerimanya dan membuka berkas yang sudah ada di tangannya meneliti apa saja poin-poin penting dari penawaran yang akan didapatkan perusahaan Aditama jika bekerjasama dengan perusahaan mereka. setelah beberapa menit meneliti dan mencermati isi dari berkas yang diajukan itu kini Ando kembali menutupnya.
"Saya setuju, dan ini yang harus kalian pelajari lebih dulu." Ando balik memberikan berkas yang sudah dia siapkan untuk menandatangani kesepakatan yang telah mereka setujui.
Erik pun menerimanya, dan membuka lembar demi lembar kertas yang ada di tangannya itu pria itu cukup teliti dan menjadi tangan kanan atasannya yang memang sudah cukup lama bekerja dengan perusahaan yang dia naungi.
"Baik tuan saya juga menyetujui isi kesepakatan kerjasama ini." Erik membubuhkan tanda tanganya dibagian tertentu begitu juga dengan Ando, setelah mereka melakukan diskusi poin penting dalam kerja sama itu.
"Kalau begitu saya permisi." Ucap Ando yang sudah berdiri dari duduknya.
Erik sedikit tersentak, karena makanan yang sudah dipesan baru saja datang, tapi Kliennya sudah pamit.
"Tapi tuan, anda belum mencicipi hidangannya." Ucap Erik yang merasa tidak enak. Takut jika orang didepanya ini tersinggung dan nanti akan berdampak padanya jika atasannya tahu kalau kliennya yang penting tidak dijamu dengan baik.
"Lain kali saja, dan terima kasih." Ando pun segera pergi dari ruangan private room itu.
bayangannya jika pertemuan ini akan lama dan membosankan bahkan memakan waktu, tapi ternyata dugaannya salah karena orang yang malas dia temui tidak datang dan hanya digantikan dengan asistennya saja.
"Hah, kalau harus bertemu dia males gue rasanya." Gumamnya sambil berjalan keluar restoran. "Untung cuma asistennya." Lanjutnya yang sudah sampai di mobilnya.
Saat ingin membuka pintu tiba-tiba ada sebuah mobil sedan mewah yang berhenti di samping mobilnya parkir, Tapi saat Anda masuk dirinya melihat pria yang baru keluar dari dalam mobil mewah itu.
"Cih, lambat." ucapnya yang hanya didengar dirinya sendiri, saat pria itu masuk ke dalam restoran dengan tergesa-gesa bahkan sedikit berlari.
Ando pun tidak ambil pusing dirinya segera pergi dari tempat itu dan kembali ke kantor, masih ada dua jam lagi untuk pulang ke rumah dan bertemu istrinya.
"Sir." Erik yang sedang makan pun kembali tersentak saat tiba-tiba seseorang berdiri di depannya dengan nafas yang sedikit memburu.
__ADS_1
"Di mana dia?" tanya pria yang menatap Erik.
"Tuan Ando sudah pergi baru saja sir." jawab Erik.
Pria itu mengusap wajahnya kasar, dirinya tidak tahu jika yang akan datang untuk melakukan kerjasama adalah asisten dari CEO Adhitama grup.
"Kenapa kau tidak menghubungi ku." kesal pria itu dengan menatap Erik tajam.
"M-maaf sir, Tuan Ando juga buru-buru ingin menyesuaikan kontrak kerjasama kita maka dari itu dia tidak mau menunggu Anda datang tapi kami sudah menyepakati kerjasama itu." jawab Erik sedikit merasa takut melihat wajah atasannya yang terlihat marah.
"Sial..!" Pria itu mengumpat. "Pasti dia tidak ingin bertemu denganku."
Di apartemen Olive mendapat pesan dari suaminya jika dirinya akan pulang sedikit terlambat, Olive sedang di dapur membuat makanan untuk makan malam mereka.
"Hm, tidak biasanya. Tapi mungkin banyak pekerjaan." Ucapnya pada diri sendiri.
Ando memang banyak pekerjaan, apalagi setelah sampainya di kantor pria itu tidak mendapati Nathan di dalam ruangannya hanya ada sebuah note jika semua pekerjaan dirinya yang menghandle dan membuat Ando tentu kesal dibuatnya.
"Jika seperti ini, mending aku yang jadi bos Nat." Omelnya sambil mengerjakan berkas yang menumpuk.
Mekipun pekerjaan ini makanan sehari-harinya. Tapi tetap saja terasa lelah melanda apalagi pekerjaan banyak seperti ini awalnya yang ingin pulang lebih cepat tapi terhalang oleh pekerjaan yang menunggunya untuk diselesaikan. Jika bisa Ando ingin menjadi pimpinan saja di perusahaan sahabatnya itu. Ngarep..
Ting.. tong... Ting.. tong..
Bel apartemen berbunyi, Olive yang baru saja menyelesaikan masakannya, mencuci tangan lalu melepaskan apron yang dia pakai.
"Iya sebentar." Jawab Olive dari balik pintu. Sebelum membuka Olive lebih dulu melihat siapa yang datang, dan hanya terlihat punggung seseorang dari balik pintu itu.
"Siapa ya?" Pikir Olive yang belum membuka pintu.
Saat melihat dari lubang kecil Olive kembali hanya melihat punggung warna pakaian orang itu, dan tidak terlihat wajahnya.
"Bukain Ngak ya." Ucapnya lagi.
Ada rasa ragu yang menggelayuti dirinya, Olive takut jika orang yang tidak dia kenal. Apalagi dirinya hanya sendiri di apartemen.
Bel kembali berbunyi dan terdengar suara seseorang dari luar.
"Paket..!!"
Teriak orang itu. Olive menghela napas, mungkin saja suaminya yang memesan barang.
Ceklek
Olive membuka pintu, dan orang itu masih memunggunginya.
__ADS_1
"Paket untuk siapa mas?" Tanya Olive.
Pria itupun berbalik dan membuat Olive begitu terkejut setengah mati.
"B-bisma." Ucap Olive dengan wajah yang sudah pucat ketakutan, melihat wajah Bisma yang ada didepannya.
"Hay, cantik. Apa kabar?" Tanya Bisma dengan senyum.
Senyum yang mengerikan untuk Olive lihat. Karena dirinya tidak menyangka Bisma yang di penjara kini bisa ada didepannya.
"Bu-bukannya kamu masih di penjara." Ucap Olive gagap.
Tangannya mencekram handel pintu kuat, wajahnya sudah ketakutan melihat Bisma yang berada didepannya.
"Heh, kamu seharusnya mengucapkan selamat dong, aku sudah bebas." Ucap Bisma dengan suara yang menurut Olive sebuah Alarm. "Tapi kamu malah terkejut melihat aku bisa ada di sini." Ucap Bisma lagi.
Olive yang sudah takut, segara mundur dan ingin menutup pintu cepat. Tapi gerakannya kalah cepat dengan Bisma yang sudah antisipasi dengan yang Olive lakukan.
"Lepas Bis, pergi dari sini..!!" Olive mencoba menahan pintu sekuat tenaga wanita hamil itu tidak mau Bisma berbuat macam-macam dan nekat.
"Ayolah sayang, aku merindukanmu mana mungkin aku pergi dengan mudah jika aku saja mendapatkan alamat apartemenmu dengan susah." Jawab Bisma masih sambil mencoba mendorong pintu dari luar agar terbuka dan dengan sekali hentakan Bisma bisa membuat pintu itu terbuka.
Brak
"Aaah.." teriak Olive.
Olive hampir saja terjungkal kalau tidak tangannya berpegangan pada kursi sofa mungkin perutnya sudah terhantam dengan sofa yang ada di depannya itu saat Bisma mendorong pintu dari luar dengan kuat.
"Kau..!!" Olive menatap Bisma dengan dada naik turun, wanita itu begitu takut jika terjadi suatu pada kandungannya.
"Upss, Sorry sayang. Aku tidak tahu jika kau sedang hamil." Ucap Bisma dengan suara dibuat meledek, tapi terdengar seperti sebuah kemarahan.
"Pergi kamu..! untuk apa datang kesini." Olive menatap Bisma tajam dengan tubuh yang sudah gemetar.
"Sudah aku katakan, jika aku merindukan Calon istri_"
"Jangan mendekat!!" Teriak Olive saat Bisma akan mendekat kearahnya.
"Ouwh, tenang sayang. aku tidak akan menyakitimu." Ucap Bisma dengan tawa menggelegar.
Keringat di wajah Olive sudah bercucuran, dirinya tidak tahu harus melakukan apa, ponselnya tertinggal di dapur, dan apartemen ini hanya ada 3 ruang yang ditempati, dan Olive tidak bisa meminta batuan pada siapapun.
"Kak Ando tolong aku."
.
__ADS_1
.
Next...