
Sah...
Sah...
Niko bernapas lega saat suara Sah terdengar, jantungnya sejak tadi sudah berdebar kencang karena gugup menjelang akad. Tapi dengan satu kali tarikan napas dirinya bisa mengucapkan ijab Kabul dengan lancar.
Sungguh suatu kelegaan yang Niko rasakan luar biasa, menurutnya hal ini melebihi dirinya melewati sidang skripsi yang akan datang.
"Pengantin wanita boleh diajak keluar." Ucap pak penghulu.
Mendengar pengantin wanita, membuat jantung Niko kembali berdebar, dirinya tidak menyangka jika sudah menyandang status baru, benar-benar tidak menyangka hingga dirinya merasa terharu.
"Loli ayo keluar, pengantin pria sudah tidak sabar menunggumu."
Pintu kamar terbuka dan muncul ibunya Loli.
Olive dan Ayana tersenyum, dan mengucapkan kata selamat untuk Loli.
"Selamat Loli, akhirnya kalian sah juga." Olive dan Ayana tentu saja senang melihat teman mereka kembali soul out, dan setelah ini mereka pasti akan reuni dengan sudah membawa buah hati mereka.
"Terima kasih untuk kalian." Loli tersenyum haru, tidak menyangka dirinya akan menikah secepat ini.
Loli keluar dari kamar digandeng oleh kedua sahabatnya, sedangkan ibu Loli terseyum penuh haru melihat anak gadisnya yang sudah menjadi seorang istri.
Sampainya dibawah, ketiga wanita berbeda bentuk itu menjadi pusat perhatian, lebih tepatnya pengantin wanita yang memang begitu cantik dan anggun.
Niko menelan ludah kasar, saat melihat penampilan Loli, selain cantik kebaya yang dipakai Loli lembutnya mendelik tidak suka. Ingin marah, tapi ditempat ramai, tidak marah Istrinya itu keterlaluan memamerkan area favoritnya di depan orang lain.
Niko sudah menatap tajam Loli, saat wanita itu perlahan mendekat, tapi Loli tetap cuek dan menampilkan senyumnya di depan keluarga.
Tidak peduli dengan tatapan tajam Niko, masalah hukuman nanti saja, Loli sudah menyiapkan sesuatu untuk membuat suaminya tidak marah.
"Kamu benar-benar sayang." Ucap Niko dengan suara berbisik tapi penuh dengan penekanan.
"Apa?" tanya Loli pura-pura tidak tahu."
Niko semakin mendelikkan kedua matanya, membuat Loli mengulum senyum.
"Sekarang kalian sudah menjadi pasangan yang sah, secara agama dan hukum." Ucap pak penghulu yang mendapat ucapan Alhamdulillah dari orang- orang yang ada disana.
Niko dan Loli memiliki perasaan lega bersama, setelah ini mereka akan menjalani kehidupan yang sebenarnya.
"Terima kasih."
Mereka mendapat ucapan selamat dari keluarga dan kerabat, pesta kecil-kecilan setelah akad pun mereka lakukan, dengan menikmati hidangan yang disediakan.
__ADS_1
Olive dan Ayana begitu senang, di tambah sekarang ada Loli dah Nesya yang kebetulan datang dengan putranya. Nesya tadi sedang ada kepentingan di yayasan sehingga dirinya terlambat datang. Padahal Ayana sudah mewanti-wanti untuk tidak usah datang dan bisa diwakilkan acara yang Nesya sanggupi. Tapi wanita itu tidak ingin mengecewakan Ayana sebagai pemilik yayasan dan akhirnya sekarang mereka berkumpul, padahal dulu saling bermusuhan. Tapi masa lalu adalah sebuah pelajaran untuk mereka, karena masa lalu mereka kini Loli dan Nesya bisa berteman baik dengan dua gadis yang dulu mereka buli, sungguh takdir Tuhan bukan.
"Sekarang kita saudara, musuh jadi teman merambat ke saudara." Ucap Loli yang disambut tawa oleh Olive dan Nesya.
"Iya Mi, kita dulu jahat banget ya sama kamu." Timpal Nesya.
"Itu masa lalu, dan sekarang Tuhan merubah hidup kita menjadi lebih baik." Ami tersenyum tulus.
Mereka semua senang dengan keadaan sekarang, bahagia tentu saja, yang awalnya musuh bisa menjadi saudara.
Setelah secara kecil-kecilan selesai, mereka semua pamit, untuk kembali kerumah masing-masing.
Ayana pulang bersama Nathan, dan Olive ikut pulang bersama suaminya. Mereka berpisah untuk menuju rumah masing-masing.
Jalan malam cukup lengang, hingga membuat Ando mengendarai mobil di atas rata-rata.
Pria itu menoleh pada istrinya yang duduk disamping, rupanya Olive sudah terlelap.
Ando tersenyum, dan mengusap pipi Olive lembut, tapi tiba-tiba Ando menginjak rem mobilnya saat tiba-tiba sebuah mobil memotong jalanya.
"Arg, sial!!" Ando mengumpat saat mobil didepanya malah mengurangi kecepatan dan tidak kembali ngebut.
Tin...Tin..Tin..
Ando menekan klakson mobilnya, agar kendaraan didepan menambah kecepatan, tapi di tunggu juga malah semakin pelan.
Tiba ditempat yang sepi, mobilnya itu menghentikan mobil yang Ando kendarai dipinggir jalan.
"Sial..!!" Ando menekan nomor di dalam ponselnya sebelum turun.
"Datang sekarang." Ucap Ando dengan seseorang diseberang sana, setelah mendapat jawaban Ando kembali menaruh ponselnya, dirinya melihat Olive yang masih terlelap.
"Kamu tunggu disini, jangan bangun dulu." Ucap Ando pada istrinya yang terlelap.
Ando takut jika Olive terbangun dan akan syok, apalagi melihat beberapa orang turun dari dalam mobil didepanya. Ando yakin jika mereka adalah suruhan Bisma.
Empat pria berdiri didepan mobil Ando, diantaranya memegang tongkat baseball, Ando masih diam didalam mobil. karena jika dilihat jumlahnya dia akan kalah, apalagi mereka semua menggunakan benda untuk berkelahi.
"Lama amat mereka.." Gumamnya yang menunggu dua J datang. Ando menghubungi dua orang yang memang dia tugaskan untuk menjadi pengawal.
"Keluar...!!"
Teriakan dari luar dan diikuti pukulan dikaca membuat kebisingan, Ando yang kesal karena takut jika Olive bangun memilih keluar.
"Sialan kalian..!!" Ando mengumpat saat mereka semakin menjadi.
__ADS_1
"Mau apa kalian? beraninya main keroyokan." Ketus Ando dengan wajah sebal. Bagaimana tidak sebal jika perjalanan pulangnya di ganggu, apalagi dia membawa sang istri.
"Kalau berani bos kalian sini satu lawan satu, beraninya keroyokan. Cih banci..!!" Teriak Ando agar seseorang didalam mobil yang duduk melihat mendengar.
"Banyak bacot, lawan kami kalau berani." Ucap salah satu dari mereka.
"Heh, lu laki apa banci beraninya main keroyokan." Ando berdecih dengan gaya slengean, pria itu sengaja untuk mengulur waktu menunggu bala bantuan.
"Banyak bicara, serang..!!"
Mereka berempat pun maju menyerang Ando mengunakan benda tumpul untuk menyerang.
Masih permulaan membuat Ando masih bisa melawan hingga dua diantara mereka jatuh tersungkur.
Bugh
Bugh
Bugh
Kraak
"Argh.. Bugh
Satu lagi jatuh tersungkur, napas Ando sudah naik turun, melawan mereka yang memiliki cukup tenaga dan bela diri.
Bugh
"Argh.."
Dari belakang salah satu dari mereka tertawa, karena berhasil memukul pugung Ando dari belakang, membuat Ando kesakitan hingga tubuhnya luruh merosot bertumpu pada kaki.
Brak
Bisma yang sejak tadi didalam mobil tertawa jahat melihat Ando sudah kesakitan.
"Hahahaha, rasakan!!" Bisma tertawa, tawa yang menggelegar dikeheningan malam yang terdengar mengerikan.
"Kau memang pantas mendapatkan apa yang kami rasakan, dan ini semua belum cukup dengan apa yang terjadi di hidupku." Bisma menatap Ando dengan penuh dendam, kedua matanya memancarkan kebencian hingga membuat Bisma tidak lagi bisa melihat lawannya yang lemah.
Ando tersenyum sinis dengan kekehan yang membuat tawa Bisma hilang sekejab.
"Bedebah seperti kamu, tidak akan bisa menghirup udara bebas."
Napas Bisma tercekat saat melihat kesekelilingnya, dan Ando yang tadinya duduk bersimpuh, kini berdiri dengan tegak.
__ADS_1
"Kamu bukan lawan sepadan untukku bisul..!"