
Olive yang mengetahui jika Bisma satu kampus dengannya membuatnya malas, apalagi banyak drama yang dirinya lihat dari adegan tontonan yang dilihatnya tadi.
Sakit hati? tentu tidak. Meksipun tahu jika Bisma memiliki kekasih dan mengaku-ngaku hamil Olive tidak perduli, yang dia pikirkan bagaimana bicara dengan neneknya tentang Bisma, karena dirinya tidak memiliki bukti apa-apa.
"Hey.."
Olive menoleh saat bahunya ditepuk dari belakang, dan Olive melihat gadis yang tadi berdiri disebelahnya saat acara ospek.
"Hay.." Olive tersenyum, membalas gadis itu.
"Kenalin aku Fani." Gadis itu mengulirkan tangan kepada Olive dengan senyum.
Olive membalasnya. "Aku Olive, senang bisa berkenalan denganmu." Olive pun menerima Fani menjadi temanya, mereka duduk dibawah pohon sambil menikmati bekal yang mereka bawa.
Keduanya saling bercerita dengan lancar hingga saat mereka asik tertawa seseorang datang menghampiri mereka.
"Olive..!!"
Olive menoleh kebelakang dan melihat Bisma yang terkejut melihatnya.
Olive memasang wajah santai, gadis itu kembali bicara pada Fani, mengabaikan Bisma yang masih terkejut.
"Liv, kamu kenal pria itu?" Tanya Fani dengan melirik Bisma yang masih berdiri ditempatnya.
"Siapa, si bisul?" Ucap Olive dengan malas.
Kening Fani mengerut. "Bisul? bukankah tadi dia dipanggil Bisma sama wanita gila tadi."
__ADS_1
Ucapan Fani membuat Olive tertawa keras.
"Olive kamu benar disini?" Tanya Bisma yang tiba-tiba berlari berlari mendekati Olive.
Olive masih tertawa, mengabaikan Bisma. "Kamu benar Fan, dia tadi wanita gila." Olive masih tertawa, sedangkan Fani menggaruk kepala sambil meringis.
"Sayang, kamu kuliah disini juga." Ucap Bisma lagi yang tidak perduli sejak tadi dicueki Olive.
Olive berdehem untuk menetralkan napasnya yang terlalu senang tertawa.
"Ya, aku kuliah disini." Jawab Olive santai.
Wajah Bisma terlihat pucat. "Jadi kamu tadi lihat."
Olive hanya mengaguk santai, sambil menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
"Ekting yang bagus." Jawab Olive membuat Bisma tersenyum masam.
Fani yang menjadi pendengar bingung sendiri, "Olive aku ketoilet dulu ya." Fani hendak berdiri, untuk meninggalkan dua orang yang menurutnya aneh.
"Eh, tunggu aku ikut." Olive menarik tangan Fani, segera membereskan alat makanya Olive berdiri untuk segera pergi.
"Kak Bisma maaf ya, aku kebelet." Ucap Olive yang langsung menarik tangan Fani untuk pergi.
"Olive tunggu! akh sial..!" Bisma mengumpat saat Olive tidak mendengar panggilanya.
"Ck, kenapa dia juga kuliah disini sih, bikin runyam saja." Bisma mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
Ditempat lain Ando sendal jepit sedang duduk didepan seorang petugas polisi, pria itu duduk dengan melipat kakinya dan kedua tangannya dilipat didepan dada.
"Silahkan pak tanda tangani." Ucap petugas polisi itu memberikan kertas pada Ando.
"Untuk apa?" Tanya Ando.
"Ini tandanya Anda bisa membawa kembali motor yang kami tilang." Jawab petugas itu dengan tetap menyodorkan kertas untuk Ando tanda tangani.
"Cih, cuma suruh tanda tangan saya harus mengabiskan waktu berjam-jam di sini." Ucap Ando kesal. "Lebih baik Ando ambil saja motornya, saya tidak butuh." Ando berdiri dan pergi dengan wajah kesal.
Kesal karena harus membuang waktu berjam-jam hanya untuk tanda tangan saja.
"Toh motor Olive juga sudah lama, dirinya bisa membelikan sepuluh motor baru sekaligus jika Olive mau.
Huh sombong.
"Halo.." Ando menguhungi seseorang dari ponselnya.
"Jemput saya sekarang."
Tut..
Ando mematikan sambungan ponselnya sepihak, wajahnya ditekuk dengan hati yang kesal.
"Gue harus beli kendaraan untuk Olive." Gumamnya sambil menyecrol layar ponselnya, mencari kendaraan yang cocok untuk sang belahan hati.
Hanya untuk sebuah motor tidak masalah untuk Ando, bahkan dirinya sudah menyiapkan lebih jika esok Olive sudah menikah dengannya.
__ADS_1
Ya, Ando sudah menyiapkan semua yang dia inginkan, meskipun perlahan dan butuh waktu tapi melihat usianya yang tidak lagi muda membuat Ando melakukanya.