Love Is Back

Love Is Back
Kejadian


__ADS_3

Malakukan hal yang membuat keduanya senang adalah hal yang paling membahagiakan. kini wanitanya sudah kembali terlelap, setelah meledakkan suatu yang membuatnya menjerit dengan keras. Meksipun tidak ada timbal balik, tapi Ando cukup senang dengan apa yang dia lakukan.


"Good night my wife." Kecupan dikening dan usapan lembut dipipi membuatnya juga ikut memejamkan mata, malam ini dirinya akan tidur dengan nyenyak, dengan memeluk guling hidupnya.


Pagi menjelang, Olive sudah lebih dulu membuka matanya, gadis yang sudah menjadi wanita seutuhnya itu sudah bangun sejak lima belas menit yang lalu, Olive sudah membersihkan diri setelah membuka matanya, dan melihat suaminya masih tidur dengan posisi tengkurap.


"Kak, sudah siang." Olive duduk di sisi ranjang dan menggoyangkan lengan suaminya pelan.


"Engh." Ando hanya bergumam dengan posisi yang masih sama, tapi lama-lama perutnya terasa sedikit nyeri, membuatnya bergerak untuk mengganti posisi.


"Bangun sudah siang." Olive menatap Ando yang mengusap matanya, pria itu masih menyesuaikan sinar cahaya yang masuk.


"Jam berapa?" Tanyanya dengan suara serak.


"Enam lewat, aku ada kuliah jam 9, dan aku tidak membawa perlengkapan kesini." Tutur Olive.


Ando terseyum, dan malah merentangkan kedua tangannya. Olive yang melihatnya bingung.


"Apa?"


"Peluk, aku ingin pelukan selamat pagi." Ucap Ando yang mengutarakan keinginannya.


Olive menghela napas sambil memutar kedua bola matanya malas.


Meskipun begitu tubuhnya akhirnya maju dan memeluk suaminya yang masih terlentang.


"Rasanya tidak mau lepas." Gumam Ando yang menghirup aroma segar dari tubuh istrinya yang sudah wangi.


Olive melonggarkan pelukannya, "Jika kamu Seperti ibu terus, bisa-bisa si Lai buka puasa lebih cepat." Ucapan Olive membuat Ando tertawa.


"Hem, kalau saja dokter tidak melarang mungkin aku sudah menerkammu sayang."


Olive mecebiikan bibirnya dan tanpa sengaja tangannya meninju perut suaminya.


"Auwss.." Ando tentu saja meringis, saat luka diperutnya mendapat pukulan yang terasa masih sakit.


"Kamu kenapa?" Olive yang melihat suaminya kesakitan panik, dirinya mencoba membuka kaus yang Ando pakai, dan betapa terkejutnya Olive saat melihat luka yang sepenuhnya belum kering di perut suaminya.


"Tidak apa hanya luka kecil." Ando mencoba meredam rasa sakitnya agar istrinya tidak panik, dirinya merubah posisinya menjadi duduk.


"Luka kecil bagaimana, ini luka jahit kak.!" Suara Olive terdengar meninggi dengan luapan emosi didalamnya.


Ando yang mendengarnya, merangkul bahu Olive untuk dipeluk. "Tidak apa-apa ini sudah diobati. dan aku sudah tidak apa-apa." berharap ucapanya bisa memenangkan sang istri.


"Jadi yang aku dengar itu benar, jika kamu terluka?" Olive mengusap matanya yang terasa basah.


Ando yang melihatnya hanya bisa mengehela napas, mau tidak mau dirinya menceritakan kronologinya saat itu.


Flashback

__ADS_1


Saat Ando mendesak Burhan dan Karno untuk mengakui kejahatan mereka yang sudah terdapat bukti yang kuat, keduanya masih bersi keras untuk bungkam.


Hingga puncaknya dimana Ando akan melakukan suatu yang akan membuat ketiganya mengaku, Ando melemparkan banyak foto-foto disana, foto keluarga mereka yang membuat ketiganya tercengang.


"Lebih baik kalian akui saja, setelah utu kami tidak akan mengganggu keluarga kalian." Tegas Ando dengan tatapan tajam.


Ketiganya hanya diam dan saling melirik. "Kami tidak takut, karena yang kami lakukan adalah kesenangan untuk diri kami sendiri."


Burhan balik menatap tajam Ando, hanya pria paruh baya itu yang memiliki power kuat untuk melawan ucapan Ando.


"Kita lihat apa yang akan kalian dapatkan setelah ini." Ando tersenyum menyeringai dan mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Karena sibuk dengan ponselnya, Ando tidak menyadari jika Burhan sudah memegang pisau, Hengki yang melihatnya menjadi takut.


"Mampus kau..!"


"Tuan awas..!" Hengki yang maju untuk mendorong tubuh Ando menghindar kini malah dirinya sendiri yang terkena pisau diperutnya.


"Ahhh." Hengki merintih saat Burhan mencabut pisau dari perut Hengki dan kembali mengarahkan pada Ando.


"Sialan..! kau gila Burhan, saiko!!" Umpat Ando dengan emosi saat melihat Hengki tergeletak dilantai saat melindunginya. Ando menjadi panik ingin menolong tapi dirinya sendiri dalam bahaya.


"Hahahaha."


Ketiganya tertawa lepas, seperti psik*opat, Ando merasa was-was jika tiga-tiganya akan menyerangnya bersama. Otomatis dirinya akan kalah.


"Ck, kalian beraninya keroyokan." Ando berdecih sinis.


"Sudahlah kau tidak ada pilihan lain selain mati.!" Burhan menatap Ando dengan penuh kebencian, jika asisten sialan itu tidak datang dan mengacaukan semua rencana mereka, pasti tidak ada kejadian pembunuhan seperti ini.


Dan kini semua sudah terlanjur ketahuan, Burhan tidak ingin masuk bui karena sia-sia.


"Cih, coba saja jika kalian bisa." Ando menatap mereka satu persatu.


"Sialan..!!" kau memang harus dimusnahkan.


Burhan dan keduanya maju untuk menyerang Ando.


Ando yang berdiri dan hendak diserang, menghindar saat Burhan lebih dulu menyerangnya menggunakannya pisau.


Buhg


Karno jatuh tersungkur saat bogeman tangan Ando mengenai rahang pria bertubuh gempal itu hingga terjatuh.


"Cih, badan saja besar, tenaga tempe." Ledek Ando meludah didepan pria itu.


Burhan yang melihat temanya keok tidak menyerah, masih ada satu lagi yang hanya sebagai kambing jongos.


"Habisi dia."

__ADS_1


Ando kembali menghindar saat lagi-lagi Burhan menyerangnya menggunakan pisau, hingga saat tangannya berhasil membuat tangan Burhan terpelintir pisau itu jatuh ke lantai.


Tapi siapa sangka jika rekan satunya berani menggunakan pisau itu saat Ando masih melumpuhkan Burhan, dan karena telat menghindar pisau itu mengenai perutnya.


"Auwwss.."


Ando menyentuh perutnya yang sudah mengeluarkan darah.


Brak!!


"Jangan ada yang kabur!!"


Teriakan dari pintu membuat mereka menoleh, Ando sudah memegangi perutnya yang terkena benda tajam tadi.


"Jangan kabur kalian..!!!" Rio langsung mengejar keduanya tanpa memperdulikan Ando. Karena Ando yang memberi isyarat untuk mengejar kedua pria tadi, sedangkan dua orang diruangan itu, satu tak bernyawa dan satu lagi pingsan.


Security membatu kedua korban untuk membawanya kerumah, sakit meskipun sudah tak bernyawa, tapi Hengki juga butuh kelayakan.


"Sialan.!!"


Ando mengumpat dengan menghubungi resepsionis agar membawakannya dokter, hingga menunggu beberapa waktu dokter itupun tiba.


Flashback off.


Olive menatap sendu suaminya, tangannya mengusap lembut perut Ando yang dibalut perban hingga terbuka sedikit sehingga dirinya melihat ada bekas jahitan.


"Tidak usah sedih, ini hanya kecelakaan saja." Ando mengusap sisa jejak air mata di pipi Istrinya.


Dirinya tidak menyangka reaksi Olive seperti ini.


"Tapi ini pasti sakit kan." Tanya Olive dengan suara parau.


Ando tersenyum, "Sakitlah, di gigit kamu aja sakit kok." Jawab Ando berniat untuk sedikit candaan. "Tapi ada nikmatnya sih." Lanjutnya sembilan menunjukan wajah mesumnya.


"Kak ihh, ngak usah bercanda ngak lucu." Olive memberengut, dirinya kesal bercampur rasa bersalah.


"Aduh tayang, sini peluk sugar Daddy dulu."


"Ihh nyebelin."


"Tapi cinta kan.."


"Ngak, aku cinta." Balas Olive.


"Heleh, cinta kok gengsi, yang ada ngak nikmat."


"Kak Ando..."


Buhg

__ADS_1


"Aduh sayang kenapa kamu pukul, ini dia masih puasa."


"Bodo amat..."


__ADS_2