Love Is Back

Love Is Back
Mencicipi hidangan favorit


__ADS_3

"Baiklah kau siapkan saja semua, jika Olive datang kalian akan menikah." Ucap Rasti dengan yakin.


Mendengar itu, senyum Bisma mengembang sempurna dirinya tidak menyangka jika Vidio yang temanya kirim mampu membuat Rasti begitu cepat berubah pikiran.


"Kalau begitu saya akan siapkan semua dengan baik." Bisma pamit pergi untuk memberi tahu kedua orang tuanya, dirinya begitu senang jika sebentar lagi Olive akan menjadi miliknya.


"Olive kau akan menjadi milikku." Bisma tersenyum meryeringai. Siapa yang tidak ingin memiliki wanita cantik seperti Olive, dan jika Bisma bisa memiliki Olive pasti dirinya menjadi pria paling beruntung dan pasti satu kampus begitu memujinya.


Meskipun Olive baru dikampus, tapi gadis itu ternyata sudah menarik beberapa perhatian seorang pria, Bisma yang mengetahuinya menjadi kesal apalagi senior Olive saat melakukan ospek pria itu terang-terangan memuji kecantikan Olive.


Belum berhenti dikampus, tiba-tiba seorang pria bule datang dengan sengaja kesombongannya yang dimiliki, Bisma merasa tersaingi dengan hadirnya pria dari Jakarta itu, tak lain adalah Orlando Jaka Abisatya.


"Pak, buk!!" Teriak Bisma sampainya di rumah kedua orang tuanya.


"Kenapa kamu teriak-teriak Bis, kayak dihutan saja." Kesal Aminoto yang sedang menonton televisi.


"Pak, Bisma mau menikah sekarang dengan Olive, jadi bapak harus siapkan semua sekarang." Ucap Bisma dengan penuh semangat.


Aminoto menatap putranya horor. "Katakan sekali lagi?" Aminoto meminta Bisma untuk mengulangi ucapanya.


"Ck, bapak budek." Kesal Bisma.


"Apa kamu bilang!" Aminoto berdiri sambil berkacak pinggang.


"Bisma mau menikah dengan Olive sekarang, tidak perlu menunggu Lima hari lagi, jadi bapak siapkan saja penghulu dan mahar maskawinnya." Ulang Bisma dengan penuh semangat.


Mulut Aminoto mengangga seketika, "Serius Bis, kamu tidak bercanda?" Bukan Aminoto melainkan Aminati yang baru datang dari belakang.


"Iya buk, nenek Rasti sudah setuju, karena Olive sudah pulang ke Surabaya, jadi Bisma tidak mau kehilangan Olive lagi."

__ADS_1


Aminati tersenyum lebar. "Kalau begitu bapak harus segera mengundang pak penghulu, ibu akan siapkan bawaan untuk kesana." Aminati begitu senang mendengar putranya akan segera menikah itu berarti sebentar lagi tidak ada yang berani pada keluarganya lagi.


"Bagus, ternyata kamu bertindak cepat." Aminoto tersenyum mengangguk-angguk.


"Bapak tenang saja semua pasti berjalan dengan lancar." Kedua anak dan bapak itu saling lirik dengan senyum penuh arti.


Entah apa yang ada di otak mereka berdua, yang jelas jika menikah dengan Olive mereka akan bebas dari sesuatu.


.


.


"Ndut sayang." Ando mengendus-endus pipi Olive menggunakan hidung mancungnya, pria itu mencoba membangunkan Olive yang masih terlelap.


"Bangun, sudah sore." Ucap Ando berbisik disamping telinga Olive.


"Engh.." Olive menggeliat saat merasakan kecupan dan geli di area lehernya.


"Kak.." Suara Olive terdengar serak, matanya masih terpejam merasakan sensasi yang menggelitik di sekujur tubuhnya.


"Hem.." Ando hanya berdehem, bibirnya masih saja menyusuri leher dan rahang Olive yang mulus.


"Emmm, kak." Tangan Olive menyentuh kepala Ando yang terus menyusuri lehernya, bahkan kini turun ke pundak.


Posisi Ando mengungkung tubuh Olive yang terlentang, keduanya berada diranjang yang sama.


Tangan besar Ando tidak tinggal diam, merambat mencari gundukan kenyal yang begitu dia rindukan.


"Ah, kak jangan kuat-kuat." Ucap Olive yang merasa ngilu ketika bibir Ando menghisap kulit dadanya dengan kuat.

__ADS_1


Kancing kemeja Olive sudah terlepas entah sejak kapan, kini hanya terlihat pembungkus kelembutan Olive yang berwarna hitam, kontras dengan kulitnya yang berwarna putih.


Kepala Ando mendongak, menatap wajah Olive yang sudah terlihat sayu, sentuhan bibir Ando mempu membuat Olive meremang dan terbuai.


"Aku merindukan ini." Ucap Ando dengan tatapan penuh gairah, kedua tangannya meremat pelan dua gundukan kenyal yang pucuknya masih tertutup, tapi pengaitnya sendiri sudah terlepas. Sendal jepit sudah melancarkan aksinya untuk memangsa sebelum targetnya membuka mata.


"Ummm." Olive meleguh saat pijatan lembut kedua tangan Ando begitu membuat dirinya merasakan sensasi yang sudah lama tidak dia rasakan, sungguh Olive juga merindukan sentuhan yang pernah Ando lakukan.


"Boleh?" Tanya Ando dengan penuh harap, tidak mendapatkan kepuasan tidak masalah, hanya saja dirinya benar-benar merindukan keintiman dengan Olive.


Olive menatap sayu kedua mata Ando yang menyiratkan akan sesuatu, dan Olive yang pernah melihatnya tahu apa yang sedang pria itu rasakan.


Kepala Olive mengaguk pelan, dan disambut senyum lebar oleh pria mesum seperti Casanova karatan itu.


"I love you Ndut." Ucap Ando sebelum akhirnya menyentuh benda kenyal yang begitu manis dan memabukkan, keduanya saling bertukar saliva dengan perasaan menggebu-gebu.


"Ahhh kak pelan." Bibir Olive tak berhenti mengeluarkan suara merdu untuk Ando dengar, baginya bermain di bagian gunung kembar adalah favoritnya, entah mengapa Ando begitu menyukai gunung kembar Olive, baginya tidak ada yang seenak ini saat dirinya masih menjadi penjajah gunung ke gunung.


"Gemas sayang, rasanya ingin gigit emm.."


"Akkhh."


Sebelum mengantar Olive pulang, boleh dong, Ando mencicipi hidangan favoritnya lebih dulu, setelah ini dirinya yakin akan mecicipi semua tanpa terlewatkan.


.


.


Woooelah masih ada lagi, kirim otor sajen semangat, para Reader kesayangan sedal jepit 😆

__ADS_1


__ADS_2