
Keadaan Arman semakin parah pukul 03 dini hari Arman mengalami kejang-kejang hingga dewi di buat kebingungan dia pun segera memanggil dokter yang bertugas. Dewi sudah tidak kuat lagi menahan tangisnya dia menunggu di luar ruangan karna dokter sedang memeriksa keadaan Arman.
Sudah tidak kepikiran apa-apa lagi yang ada di pikiran nya saat ini adalah kesehatan Arman. Do'a terus dia panjatkan Dewi terus berharap jika sang kuasa memberi umur panjang untuk suaminya, tak berselang lama dokter itu pun keluar.
''Gimana dok? '' Tanya Dewi begitu tergesa-gesa karna saking khawatir nya.
Dokter itu menghela nafasnya '' Maaf ibu Dewi, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan berkata lain. Pak Arman sudah meninggal, '' Jawab dokter itu.
Dewi pun begitu terpukul, dia pun histeris dan masuk kedalam ruangan Arman di sana suster sudah melepaskan semua alat yang terpasang di badan Arman badan Arman sudah terlihat pucat dan dingin. '' Ayah, bangun dong yah. Bangun tolong bangun! Bunda di sini nemenin ayah! Jangan pergi yah, jangan. Bunda gak bisa tanpa ayah, '' Dewi menangis histeris dengan posisi memeluk Arman hingga lama kelamaan suara itu semakin lirih dan Dewi pun jatuh pingsan.
Suster yang ada di sana pun langsung memanggil dokter untuk membantunya.
'' Kita bawa ke UGD, suster tolong hubungi anak dari ibu Dewi secepatnya ya. Biar ini saya yang tangani. '' Ucap dokter itu lalu membawa Dewi ke ruang UGD
***
Malam itu Ayana tidak bisa tidur, tidak tahu kenapa pikiran nya begitu gelisah. Di tambah lagi rasa mual dalam perutnya tak kunjung reda, pusing di kepala nya pun kadang datang kadang pergi.
Melihat Kevin yang tertidur nyenyak pun membuat Ayana tidak tega membangunkannya. Apalagi seharian itu Kevin begitu sibuk bekerja. Ayana pun merapikan selimut nya mencoba untuk tidur. Baru saja dia hendak terlelap dering ponsel berbunyi.
Ayana pun beranjak dan mengangkat telpon. Dari balik telepon terdengar suara seorang suster yang menyatakan jika ayahnya sudah meninggal.
Ayana tertegun mendengarnya air matanya tiba-tiba luruh begitu saja mulutnya sudah tidak bisa bersuara lagi ponsel yang ada di tangannya pun tiba-tiba terjatuh.
Mendengar suara ponsel terjatuh di lantai pun membuat Kevin terbangun. Seketika Kevin melihat Ayana yang terkulai lemas di lantai dengan isak tangisnya.
'' Sayang, kamu kenapa? Siapa yang telpon? Siapa? '' Tanya Kevin yang masih setengah sadar.
'' Ayah, kak. Ayah sudah meninggal. '' Jawab Ayana lemas dan menangis
'' Nggak, nggak mungkin. Nggak mungkin ayah meninggal. '' Ucap Kevin tidak percaya
__ADS_1
Ayana masih menangis karna begitu sedih kehilangan sosok seorang ayah mertua yang mana begitu menyayangi nya. '' Ayo kita kerumah sakit kak. Bunda jatuh pingsan kita harus segera kesana. '' Ajak Ayana yang mencoba kuat.
'' Bunda. '' Ucap Kevin, dia bahkan lupa jika masih ada sang bunda yang kini menjaga ayahnya. Kesedihan yang mendalam terkadang menghilangkan pemikiran jernih.
Kevin dan Ayana pun langsung menuju rumah sakit. Di tengah perjalanan Ayana menghubungi semua orang tua dan orang terdekat mereka untuk memberi tahu jika ayah mertuanya itu telah meninggal.
Sampai di rumah sakit Dewi sedang berada di UGD kedua anak dan menantunya itu sudah berada di samping Dewi yang baru saja sadar dari pingsan ya.
'' Bunda, '' Panggil Ayana sambil menggenggam tangan Dewi
'' Ayah sudah tidak ada lagi. Beliau sudah pergi meninggalkan kita, '' Ucap Dewi dengan pelan dan tatapan kosong.
'' Kevin, temani ayahmu hingga peristirahatan terakhirnya. Bunda tidak sanggup untuk mengantarkannya, biarkan bunda di sini bersama Ayana. '' Ucap Dewi lemas.
'' Baik bun. Bunda harus kuat, masih ada kami di sini. Sekarang ayah sudah tenang dan tidak lagi merasa sakit, bunda segera pulih ya. Kevin akan urus jenazah ayah dulu. '' Pamit Kevin
Dewi pun mengangguk '' Iya kak. Pergilah. '' Jawab Dewi yang kini mulai tegar.
Ayana pun memeluk bundanya, tak tertahan lagi air mata itu pun menetes sambil memeluk sang bunda.
Ayana mengangguk namun tak menjawab, rasanya masih begitu perih di hatinya. Meskipun hanya sebatas mertua namun rasanya begitu perih. Sebab kasih sayang Arman sudah sperti kasih sayang Arya papa kandungnya.
***
Para pelayat pun sudah memenuhi kediaman Arman, termasuk keluarga besar dari Ayana, hanya Velly saja yang tidak hadir karna dia sedang menjalani nifasnya. Ucapan bela sungkawa pun silih berganti keluar dari mulut para pelayat. Kevin duduk sendiri karna sang bunda yang harus dirawat dan Ayana harus menemani di sana.
Arya pun mendekati Kevin dan merangkul nya dari samping untuk menguatkan sang menantu. Kini Arya yang menemani Kevin untuk menyambut pelayat yang datang, menggantikan Dewi bundanya.
'' Yang sabar ya Kevin. Memang sudah waktunya, papa tahu kamu pasti kuat. Yang sabar ya. '' Ucap Arya pelan
'' Iya pa. '' Jawab Kevin
__ADS_1
Kini pemakaman pun di laksanakan, banyak pelayat yang mengantarkan Arman keperistirahatan terakhirnya termasuk seluruh keluarga besar Ayana. Mereka ikut mendampingi Kevin hingga prosesi selesai. Kevin masih duduk di samping makam ayahnya dia melihat nisan yang bertuliskan nama ayah nya.
'' Allahumma firlahu warhamhu waafini wa'fuanhu. Tenang di Surga nya Allah ya yah. Sekarang ayah gak ngerasain sakit lagi. Maafkan kami jika kami banyak salah dengan ayah. Kami akan sering kemari untuk mendoakan ayah. Kevin pamit dulu ya yah. '' Ucap Kevin dan dia pun pergi dari sana.
Kevin tidak langsung pulang kerumah, karna di rumah sudah di urus oleh Lisa dan Randy untuk mengurus acara pengajian nanti malam. Kevin pun memutuskan untuk kerumah sakit menjenguk bundanya, Arya dan Mira pun menemani nya.
Kevin masih terlihat murung, sperti belum siap berada dalam keadaan ini. Rasanya sperti mimpi Tiba-tiba saja dia bangun tidur langsung mendengar kabar jika ayah nya sudah tiada.
'' Kevin, kamu sudah makan belum nak? '' Tanya Mira
'' Iya ma, gimanaa? '' Tanya Kevin yang tidak begitu mendengar ucapan Mira
Mira pun tersenyum memaklumi.
'' Kamu sudah makan belum? '' Tanyanya lagi
'' Kevin belum lapar ma, nanti saja makanya. '' Jawab Kevin
Mira pun memberinya satu buah roti dan juga sebotol air mineral.
'' Makan ini dulu. Sekuat apapun kamu perut harus tetap di isi. Ingat nak kamu adalah anak laki-laki kebanggaan bunda, kamu harus lebih kuat dari apapun. Terkadang kenyataan memang sakit, tapi kita harus menerimanya dan melewati nya dengan sabar. Mama paham dengan apa yang kamu rasakan. Maka dari itu kamu harus makan, kuat itu juga butuh tenaga. Makan ya? '' Ucap Mira
Kevin pun menerima roti dan air itu lalu memakanya. Meski rasanya tidak nafsu tapi Kevin mencoba melawannya hingga roti itu tersisa separuh.
Kini mereka sudah sampai di rumah sakit. Terlihat Dewi sudah bisa berjalan sendiri di iringi Ayana di samping nya. Dewi sudah agak baikan dan di ijinkan pulang.
Mira pun menghampiri Dewi lalu memeluknya. '' Yang sabar ya bunda. '' Bisiknya
'' Iya jeng, trimakasih sudah menemani Kevin. Maaf ya saya tidak ada di sana, badanya terlalu lemas. '' Jawab Dewi
'' Tidak apa-apa. Itu karna kecapekan, ya sudah mari kami antar pulang. '' Ucap Arya
__ADS_1
'' Iya Pak Arya. Mari, '' Jawab Dewi yang kini gantian di papah oleh Kevin