Love Is Back

Love Is Back
Sakit hati 2


__ADS_3

"Aku masih ada kelas, jika tidak ada waktu untuk mengantar aku bisa naik taksi." Ucap Olive setelah selesai menghabiskan makanya.


Ando yang juga sudah selesai menatap Olive seksama, tapi wanita itu tidak mau menatapnya.


"Nanti sore aku akan ke kota B, mengurus pekerjaan disana, mungkin dua atau tiga hari aku pergi, dan kamu bisa tinggal di rumah mama Susi atau rumah Mama Leard, jika diaparteman sendiri aku tidak mengijinkan." Ucap Ando pada akhirnya.


"Rencananya besok, tapi baru saja Nathan mengabari jika kalau bisa hari ini." Lanjutnya lagi masih menatap lekat wajah Olive.


Sebenarnya jika besok, dirinya masih punya waktu banyak, tapi baru saja Nathan memeberi kabar mendadak. Dirinya belum puas untuk menyelesaikan permasalahan yang membuat istrinya bersedih, tapi dikantor dirinya juga banyak pekerjaan.


"Ya sudah tidak apa, nanti setelah pulang kampus, aku kerumah Mama." Putus Olive akhirnya.


Karena masih merasa kesal dirinya tidak begitu sedih ataupun perduli, entahlah rasa kesalnya masih mendominasi.


Keduanya keluar dari restoran, Ando sudah mencarikan taksi untuk sang Istri, pria itu membukakan pintu untuk Olive.


"Hati-hati aku segera pulang setelah semua pekerjaan ku selesai."


Ando mengecup kening Olive, dan bibirnya sekilas. meksipun di tempat umum Ando tidak perduli, toh yang dia cium itu istrinya.


"Kak malu." Olive mendorong dada Ando agar melepaskan ciumannya.


Olive menatap sekitar, dan benar beberapa orang melihat mereka berciuman.


"Halal, apakah aku perlu kasih lebel." Ucap Ando.


"Terserah." Olive langsung masuk ke dalam gocar yang sudah menunggunya.


Ando membatu menutup pintu mobil. "Pak antarkan istri saya sampai tujuan, jangan sampai lecet." Ucapnya pada supir taksi itu.


"Baik mas."


"Sayang hati-hati." Ucap Ando sebelum mobil itu berlalu.


Ando mengagguk kepalanya yang tidak gatal. "Untung kamu puasa Lai, kalau tidak sudah pasti kamu tidak akan dapat jatah."


.


.


Di halte depan sekolah Pertiwi, Andien sendang berada menunggu taksi yang dia pesan. Gadis itu hanya sendiri sambil memainkan ponselnya.


Jam menunjukan tiga siang, keadaan sekolah memang sudah sepi karena Andien memilih untuk pulang akhir sebelum gerbang ditutup. Dia lebih suka nongkrong di kantin sekolah dan ngerumpi bareng-bareng ibu kantin.


Entah jenis spesies apa si Andien ini, apakah sama seperti Kakaknya.


"Hai nona manis, sendirian aja nungguin Abang yaa." Tiba-tiba dua orang pria yang tidak dikenal duduk di samping kiri dan kanan Andien.


"Ck, ngak liat apa kalau saya sendiri." Ketus Andien galak.


"Cantik-cantik kok galak sih neng, mau bikin Abang gatel tau ngak." Ucap pria satunya lagi.


Bulu kuduk Andien mulai berdiri, sebenarnya sejak tadi dirinya sudah takut, tapi berlagak galak agar dua preman itu tidak mengganggunya.

__ADS_1


"Tenang aja, Abang tidak jahat, asalkan mau ikut Abang Yook." Pria gondrong itu menyentuh lengan Andien.


"Jangan pegang-pegang jijik tau nggak." Sentak Andien kasar.


"Duh, makin kasar makin menantang aja nih cewek.". Pria itu mengusap mulutnya seperti menikmati.


"Ehh mau lari kemana."


Andien yang ingin kabur, dicekal tanyanya kuat.


"Lepas, kalian mau apa?" Andien berontak dengan sekuat tenaga, tapi kedua pria itu tidak melepaskannya.


"Mau bersenang-senang sama kamu sayang, itu disana sepi." Pria gondrong itu tertawa keras menujuk belakang halte yang terdapat di semak-semak.


"Tidak..jangan.." Andien terus berontak.


"Tolong...!!! tolong...!!"


"Ssttt tidak usah teriak, disini sepi gadis cantik."


Air mata Andien sudah pecah, dirinya benar-benar takut jika berhadapan dengan orang jahat. Berharap ada orang yang mau menolongnya, tapi mustahil karena memang sekitar sekolah sudah sepi.


"Kak Ando tolongin Andien." Andien sudah menangis, dirinya benar-benar takut.


"Bawa kesana saja Jo." Pria itu langsung menyeret Andien kebelakang halte.


"Tidak, jangan.. tolong jangan sakiti saya." Andien memohon dengan air mata yang berlinang deras.


Wanita itu terus meronta dan berteriak meminta tolong membuat salah satu diantara mereka merasa geram.


Bugh


"Aakh." Andien lemas tak sadarakan diri.


"Heh, kalau mati bagaimana." Tanya pria satunya yang melihat Andien langsung tak sadarkan diri.


"Gob*lok! dia hanya pingsan."


Keduanya sempat berdebat, dan pria yang satunya sempat takut.


"Sudah ayo bawa kesana."


Belum sampai mereka bergerak tiba-tiba suara seseorang dibelakang membuat keduanya menoleh.


"Mau kalian bawa kemana." Suara bariton terdengar dingin membuat keduanya berhenti bergerak.


"Bukan urusanmu, lebih baik kau pergi." Pria yang berambut gondrong memang lebih garang dan berani.


Cakra tersenyum smirik. "Berikan dia padaku maka aku akan pergi."


Cakra hanya berdiri diam dengan satu tangan ia masukkan kedalam saku, dan satu tangan mengusap bibirnya dengan senyum.


"Ck, jangan ganggu kesenangan kami, pergi kalau tidak_"

__ADS_1


Bugh


.


.


Olive menatap Loli kesal, sejak tadi gadis itu terus saja tersenyum bahagia. Memangnya seberapa banyak suaminya memberikan uang padanya.


"Kalau begini terus, aku bisa jalan-jalan lagi."


Loli terus saja membuat Olive kesal, gadis itu tidak tahu jika Istri sugar Daddy yang dia tahu sedang merajuk kesal.


"Liv, kamu di kasih uang jajan berapa sebulan, eh tidak pasti kamu dikasih kartu sakti combo iyakan." Tanya Loli dengan wajah penasaran.


Gadis itu mengingat novel yang pernah dia baca, jika menjadi sugar baby itu pasti banyak uang yang dikasih.


Olive melirik Loli sinis. "Mau tau?" Tanyanya dengan menantang.


"Hooh, penasaran." Loli mengaguk semangat.


"Kalau begitu, beri tahu dulu berapa Sua_ em maksud ku kak Ando memberimu." Ralat Olive yang hampir saja keceplosan.


Sebenarnya tidak apa-apa jika Loli tahu, tapi biarkan saja Loli tahu sendiri nanti.


"Ck, kau membuat pilihan yang sulit." Loli berdecak kesal. "Tapi dengan satu syarat?" Ucapnya lagi yang sudah mengambil ponselnya di tas.


"Apa?" Tanya Olive penasaran.


Kenapa hanya ingin tahu nominal saja pakai syarat segala.


"Kau harus jawab jujur yang aku tanya nanti." Loli menatap Olive serius.


"Ck, yaudah iya."


Loli terseyum lebar mendengar Olive setuju, setelah ini Loli akan mengupas tuntas apa yang membuatnya penasaran.


"Nih.." Loli menunjukan ponselnya pada Olive sebentar.


Olive membulatkan kedua matanya melotot, melihat nominal dua digit yang suaminya berikan pada Loli.


"Jadi setelah ini kamu akan aku pantau terus."


Olive mendengus kesal, dirinya sudah seperti seorang istri yang pernah ketahuan selingkuh dan sekarang memiliki mata-mata yang jelas didepan mata. Sungguh dirinya merasa kesal.


"Awas aja kalau sampai aku yang menangkap basah, tidak ada ampun untuk belalai gajahmu itu." Gerutu Olive yang sejak tadi mengumpati Ando dalam hati.


Hacimm... hacimm..


"Ck, lu bawa virus kesini Ndo." Nathan menatap Ando tajam.


"Bukan virus, tapi hidung gue terasa gatel Nat, mungkin bini gue yang lagi ghibah."


.

__ADS_1


.


Kembang kopi jangan lupa 💋


__ADS_2