Love Is Back

Love Is Back
Tragedi


__ADS_3

"Nek dimana Olive?" Tanya Bisma yang tidak sabar melihat calon istrinya.


"Tenang saja saatnya tiba nanti pasti kau akan terpesona." Ucap Rasti dengan yakin.


Rasti memanggil seseorang untuk mendekat padanya. "Ajak Faisal dan Susi kemari." Ucap Rasti pada orang yang dia suruh.


"Baik nek."


Rasti tersenyum senang, kini hanya tinggal menunggu penghulu datang, dan setelah itu semua akan selesai.


Tamu dan para kerabat nampak menikmati apa yang disediakan, Aminoto begitu pintar membuat para tamu senang dengan pesta yang dia buat.


Bagaimana tidak senang jika di pesta dadakan itu diadakan door prize hanya untuk menyogok mereka agar hadir di acara anaknya yang super kaya raya didesa itu.


"Duh, pak kok lama sekali pak penghulunya." Tanya Bisma pada papanya.


"Sabar, tadi dia bilang masih dijalan." Jawab Aminoto sambil melihat jam ditanganya.


Sudah hampir satu jam mereka menunggu penghulu yang sampai sekarang belum datang, pesta yang awalnya meriah dan ramai kini menjadi sedikit gaduh karena anak-anak yang mereka bawa sudah mulai mengantuk dan menangis.


Susi dan Faisal saling tatap, mereka berdoa semoga acaranya tidak terjadi.


"Noto bagaimana? kenapa kamu cari penghulu yang tidak jelas begitu." Ucap nenek Rasti yang sudah mulai panik dan gerah.


"Saya juga tidak tahu, padahal saya sudah memberi uang banyak." Kesal Aminoto yang sejak tadi selalu ditanya.


Bisma sendiri mulai panik, dirinya takut jika pernikahannya akan batal. Apalagi rencana yang sudah dia buat pasti akan gagal total.


"Bapak lakukan sesuatu." Ucap Bisma berbisik pada papanya.


"Diamlah." Tegas Aminoto kesal.


Tak lama terdengar suara mesin mobil yang berhenti di depan perkarangan rumah Rasti, bukan hanya satu mobil, melainkan ada tiga mobil dan salah satunya mobil box.


"Siapa mereka."


Bisik-bisik semua orang terdengar berisik. Nenek Olive keluar diikuti Aminoto dan Bisma.


"Kau lagi-lagi, kau lagi. Mau apa kau kesini..!" kesal Bisma melihat Ando yang sudah berdiri disamping mobilnya.


Pria itu berdiri sambil memasukkan kedua tangannya disaku celana.


"Mau menghadiri pesta, memangnya mau apa lagi." Ucap Ando dengan santai. "Bukankah disini ada pesta besar tuan Aminoto yang terhormat dan kaya raya." Ucap Ando dengan sinis.


"Ya disini memang ada pesta besar, tapi bukan untuk orang sepertimu anak muda." Ucap Aminoto sarkas, dan jangan lupakan wajah sombongnya yang tidak ketulungan.


Tak lama beberapa orang turun dari mobil yang box yang tak jauh dari mereka, kebanyakan adalah seorang wanita muda dan juga setelah tua dengan penampilan yang begitu seksi. Tak lupa wanita dengan dua orang anak yang juga ikut serta.


Mata Aminoto membulat sempurna, melihat tawanannya berada didepan matanya, apalagi wanita-wanita penghasil kekayaanya berada di sini semua.


"K-kalian."


"Bapak...!!"


Kedua anak yang berusia 7 dan 10 tahun berlari mendekati Aminoto, sedangkan Aminati istri Aminoto begitu bingung melihat dua anak yang memanggil suaminya bapak.

__ADS_1


"Jangan mendekat.." Pekik Aminoto saat anak-anak itu sudah ingin memeluknya.


Ando tersenyum sinis melihat reaksi kedua pria yang sudah membuat kekacauan di kehidupan kekasihnya.


"Noto ada apa ini?" Tanya Rasti yang merasa bingung dan juga kesal, karena acaranya diganggu dengan segerombolan orang yang tidak dia tahu.


"Tenang Nek, ini adalah ulah_"


"Nenek ku sayang, apa nenek tahu calon besan menantu mu ini seorang ketua portitusi di kota." Ucap Ando santai.


"Apa?"


Semua orang terkejut dengan apa yang dikatakan oleh pria bule yang datang dengan rombongan.


"Hey, jangan asal bicara kau..!" Geram Aminoto dengan marah.


"Dan lagi, coba nenek lihat dua wanita hamil disana, itu adalah istri siri di Bisul." Ucap Ando dengan senyum menyeringai.


Bisma melotot tidak percaya, bagaimana bisa pria bule itu mengumpulkan istri-istri sirinya disini.


"Belum lagi disebelah sana itu gundik si bisul yang bergilir."


"Kau jangan asal bicara sialan.!!" Bisma yang sudah marah, mendekati Ando dan menarik kerah kemeja pria itu.


Ando tetap santai melihat kemarahan yang Bisma pancarkan. "Apa anda takut bung," Ucap Ando tertawa pelan.


Bugh


Aahhkk


Semua yang melihat menjerit saat Bisma melayangkan pukulan di wajah Ando.


Tak lama terdengar suara sirine mobil polisi. Bisma yang kesetanan ditahan oleh Boby, sedangkan Aminoto yang ingin kabur di tahan oleh anak buah Ando yang lain.


"Pak, kenapa ini. Kenapa pria itu_"


"Diamlah, kau cari saja pengacara hebat untuk melepaskan Ku." bentak Aminoto pada Istrinya.


"Selamat malam semua, kami dari kepolisian bertugas untuk menjemput bapak Aminoto dan saudara Bisma, belia diduga melakukan bisnis portitusi online dan penipuan."


Glek


Nenek Olive benar-benar syok, sampai-sampai dirinya tak sadarkan diri.


"Ibu..." Susi dan Faisal menahan tubuh Rasti, Faisal mengangkat tubuh Rasti untuk dibawa masuk.


"Tidak mungkin." Aminati sudah menangis dengan histeris. Sedangkan Bisma mencoba terus melawan agar dirinya bisa kabur.


Melihat semua masih tegang, dan fokus mereka pada polisi yang akan menangkap papanya, Bisma melirik sesuatu disekitarnya.


Senyum menyeringai hadir di bibir pria itu, "Sepertinya maut akan datang menjemputmu." Gumamnya pada diri sendiri.


Dengan gerakan pelan Bisma meraih sesuatu yang terselip dibelakang tubuh Boby.


"Matilah kau..!"

__ADS_1


Dor


Suara tembakan menggema sering teriakan beberapa orang terkejut.


"Bos." Boby langsung menghampiri Ando yang menyentuh lengannya, dan saat itu juga Bisma mencoba kabur.


Dor


"Arrgh." Bisma terduduk dengan meraung kesakitan, tepat di kaki kanannya terdapat tembakan yang di lakukan pihak kepolisian.


"Bos kita harus kerumah_"


"Tolong...!!!" Suara jeritan minta tolong terdengar dari dalam rumah.


"Olive." Ando yang teringat Olive, mencoba untuk menahan rasa sakit di lengannya yang terkena peluru.


"Bos tangan anda." Ucapan Boby tidak Ando hiraukan dirinya sudah berlari masuk kedalam rumah untuk melihat apa yang terjadi.


"Nak Ando Olive." Faisal yang baru menuruni tangga dengan wajah panik dan ketakutan, membuat jantung Ando berdebar kencang.


"Olive." Ando segera berlari menaiki tangga, menuju kamar Olive yang terdengar tangis Susi.


Deg


Tubuh Ando lemas, jiwanya serasa terlepas begitu saja. "Olive."


"Olive, bangun nak." Susi sudah menangis pilu, melihat Olive tak sadarkan diri dengan mulut yang penuh busa.


"Sayang.." Ando meraih tubuh Olive, menggendongnya dengan tangan yang terkena tembakan, rasa sakit ditanganya tak seberapa dengan rasa sakit hatinya melihat keadaan Olive sekarang.


Tak lama suara ambulans terdengar, ternayata Faisal menghubungi ambulans terdekat untuk membawa putrinya kerumah sakit.


Semua orang masih disana, kecuali Bisma dan Aminoto yang sudah diamankan oleh pihak berwajib bersama barang bukti yang diberikan Boby.


"Bos." Boby merasa tidak tega melihat Ando yang lenganya berdarah dipaksakan untuk mengendong gadis yang dia tahu kekasih bosnya, kedua mata Ando memerah melihat Olive yang tak sadarkan diri dengan mulut yang berbusa, Olive meminum obat hingga over dosis.


Didalam mobil ambulans hanya ada Ando dan Olive dan satu perawatan untuk memberikan pertolongan pertama.


"Tuan denyut nadi nona ini_"


"Tidak, kau periksa yang benar!" bentak Ando dengan wajah tak lepas menatap wajah Olive yang sudah pucat.


"Kenapa kamu lakukan ini, kenapa?" Air matanya tak bisa dicegah, hatinya merasa hancur melihat didepan matanya terbaring wanita yang dia cintai.


"Kenapa kamu berpikir dangkal, kamu tidak ingin_" Ucapan Ando terhenti saat dirinya mengingat ucapan Olive dihotel sebelum dia pulang.


"Kak aku mencintaimu, aku takut jika tidak memiliki Kesempatan untuk mengutarakan perasaan ku padamu, maka aku tidak akan bisa mengatakan jika aku benar-benar mencintaimu."


Ando menangis tergugu, apakah ini yang akan Olive rencanakan, tuhan kenapa kau kabulkan rencana wanita bodoh ini.


"Kau bodoh Olive, bodoh." Ucap Ando dengan suara serak. "Mana mungkin aku membiarkanmu bersama pria lain, kenapa kamu tidak percaya padaku, kenapa."


Sungguh bukan ini yang dia inginkan, bukan ini yang dia bayangkan setelah menggagalkan rencana pernikahan mereka, dirinya menyesal meninggalkan rumah Rasti hanya untuk menemui wanita bandot sialan itu.


"Sayang bertahanlah." Gumam Ando dengan mencium kening Olive lama, dirinya tidak menghiraukan rasa sakit yang dia alami, kepala mulai berdenyut, dengan mata yang sudah berkunang-kunang.

__ADS_1


.


SAJEN mana SAJEN 🤣🤣🤣


__ADS_2