
Disebuah kamar, terdapat gadis yang masih belum sadarkan diri. Waktu sudah petang tapi gadis itu tidak bangun-bangun juga.
Sedangkan diluar kamar apartemen yang lumayan besar, seorang pria sedang berkutat dengan beberapa lembaran kertas dan buku.
Cakra sedang mengecek tugas anak didiknya. Tidak hanya satu kelas saja, terkadang juga Cakra sampai tidak ada waktu untuk bersantai karena memang tugas yang dikumpulkan cukup banyak dan menyita waktunya untuk mengecek.
Dikamar Andien baru saja membuka matanya dengan sayu, gadis itu mengerjap beberapa kali untuk mengurangi rasa pening yang masih terasa.
"Dimana aku." Sadar akan dimana dirinya berada, Andien langsung duduk dan menatap kesekeliling.
Sebuah kamar, tapi bukan kamarnya dirumah. Nuansa hitam dah abu-abu terkesan dengan warna seorang pria.
Andien mengingat kejadian yang menimpanya sebelumya, dan saat itu juga dirinya kembali mengingat dua orang preman mengganggunya.
Reflek, Andien melihat pakaiannya. "Masih utuh." Gumamnya merasa lega.
"Kamar siapa ini." Andien menatap kesekeliling, dah tidak ada apapun petunjuk dirinya berada.
"Astaga sudah jam 8 malam, pasti Mama mencariku."
Panik tentu saja, apalagi sejak sekolah dirinya belum pulang, dan sekarang sudah malam dirinya tidak tahu sedang berada dimana.
"Sepertinya ini apartemen, dan milik siapa?" Andien meraih tasnya yang tergelatak disofa kamar itu, dirinya berjalan keluar kamar berniat untuk pulang.
Ceklek
Andien keluar dari kamar, dan saat berbalik tatapan nya bertemu dengan tatapan seseorang yang dia tidak sukai.
Andien sedikit terkejut, melihat guru killer yang dia hindari di sekolahnya, tapi sepertinya dirinya berada di apartemen pria itu.
"Mau kemana?" Suara berat Cakra membuat Andien sadar dengan pikiran yang entah kemana.
"Pulang." Jawab Andien cuek.
"Baguslah, kalau sudah bisa pulang. Pintu keluar sebelah sana." Ucap Cakra menujuk pintu.
Andien mengepalkan kedua tangannya, kenapa pria itu begitu menyebalkan. Andien yang kesal langsung berjalan menuju pintu, tapi belum sampai menarik tuas pintu suara Cakra kembali terdengar.
"Terima kasih sudah mau tidur lama di apartemen ku."
Andien mendelik tidak percaya mendengar ucapan pria itu yang terkesan menyindirnya. Meskipun dirinya sadar yang menolongnya adalah Cakra tapi Andien merasa tidak perlu mengucapkan terima kasih.
Brak
Tanpa kata apapun dan ucapan apapun, Andien memilih pergi dengan menutup pintu keras.
__ADS_1
Cakra hanya geleng kepala, melihat kelakuan salah satu muridnya. "Tidak punya etika." Ucapnya, dan kembali fokus pada pekerjaannya.
Andien menggerutu sepanjang Lobby apartemen, gadis itu mengumpati guru yang paling tidak dia suka dengan sifatnya yang sombong, arogan dan sok paling oke.
Meskipun dirinya mengakui jika Cakra guru paling tampan, tapi Andien tidak suka gayanya yang sok berkuasa disekolah.
"Awas aja kalau menyebalkan lagi, pasti aku tidak akan segan-segan membuatnya malu." Kesal Andien dengan menggebu-gebu.
"Duh, kena semprot apa lagi nanti sama mama." Andien lebih takut kena hukuman dari ibunya, dari pada guru killer itu. Dirinya tidak bisa melawan jika kanjeng ratu sudah turun tangan.
"Lah itu seberang sana apartemen kak Ando." Gumam Andien yang tahu tempat tinggal kakaknya. "Berarti deket dong dari rumah." Ucapanya lagi sambil memesan taksi mengunakan aplikasi.
.
.
Ditempat yang berbeda, Ando baru saja sampai di kota B, pria itu hanya istirahat sebentar.
Pukul 8 lewat kembali keluar hotel untuk bertemu staf dan manager dihotel cabang yang baru buka ini.
Tenyata orang-orang yang dipercaya mengelola hotel cabang baru banyak melakukan kecurangan dana dan menyalah gunakan hotel untuk melakukan transaksi yang melanggar hukum. Beruntung Nathan mengetahui ini dengan cepat, karena salah satu bawahan mereka ada yang melaporkan. Dan sekarang Ando turun tangan mewakili Nathan untuk menyelesaikan para tikus got yang berkeliaran.
"Mereka sudah didalam tuan, tapi sepertinya mereka sudah tahu maksud kedatangan Anda, jadi Anda harus hati-hati." Ucap seseorang yang menunggu Ando didepan pintu ruangan yang akan dia masuki.
"Berapa orang didalam?" Tanya Ando pada pria itu.
Ando hanya mengangguk saja, dirinya cukup mengerti dan harus waspada dengan mereka, dah sekarang dirinya akan bermain peran.
Ceklek
Pintu dibuka dari luar, membuat keempat pria didalam sana langsung diam menatap seseorang yang baru saja masuk.
"Selamat malam pak Ando." Salah satu dari mereka berdiri, dan menyapa Ando, begitu juga dengan yang lain ikut berdiri.
"Selamat malam juga kalian semua." Ando ikut duduk di kursi paling depan dan hanya sendiri.
Dan mereka juga mengikutinya. "Saya hanya mewakili pemilik hotel ini, dan kami kami dipusat mendapat laporan jika kalian menggunakan hotel ini hanya untuk kepentingan kalian sendiri." Ando tidak akan berbelit-belit untuk menyelesaikan persoalan ini.
Salah satu dari mereka tertawa. "Dari mana anda mendengar laporan tidak jelas seperti itu, jika kami melakukan hal yang melanggar aturan hotel." Ucap pria paruh baya yang diketahui bernama Burhan.
Burhan adalah direktur di hotel, beliau diangkat sebagai kepala direktur karena memang memiliki kemampuan diperhotelan, tapi siapa sangka, jika kepintarannya juga dimanfaatkan.
"Tidak penting kami mendengar berita tidak jelas itu dari mana, yang hanya ingin saya tahu Ini laporan apa!" Ando melempar berkas yang dia bawa diatas meja.
Ketiganya saling tatap, sedangkan Hengki sudah keluar keringat dingin dengan wajah pucat.
__ADS_1
"Jelaskan saja apa yang kalian tahu, saya hanya ingin dengar."
Ando menatap pria yang sejak tadi diam dengan wajah pucat. "Pak Hengki anda kepala administrasi keuangan disini, bagaimana penjelasan Anda tentang laporan keuangan yang saya terima?"
Pria yang bernama Hengki mendongak, sejak tadi kepalanya terus menunduk tidak berani menatap kaki tangan pemilik hotel bintang lima ini.
"S-saya_"
"Pengeluaran ratusan juta dan masuk atas nama Hengki Haryadi, apa yang akan Anda katakan." Ucap Ando lagi yang tak lepas menatap pria yang sudah gemetar itu.
"S-saya tidak tahu tuan, saya hanya_"
"Apa anda kurang jelas dan yakin, jika pengeluaran dana ratusan juta masuk ke rekening atas nama Hengki tuan Ando." Ucap pria bertubuh gempal dengan perut buncit bernama Kirno.
"Saya bertanya dengan orang nya langsung, bukan hanya melihat kertas deretan nama dan angka saja." Suara Ando terdengar santai namun penuh penekanan. "Tenang saja kalian nanti juga akan dapat giliran, sabar saja." Tambahnya terdengar santai.
Semua yang disana semakin gusar, terutama tiga orang yang terlihat santai tapi begitu gusar hatinya.
Ando hanya melirik sinis, melihat wajah-wajah tikus berdasi yang sedang kelimpungan.
.
.
Dikota tepatnya diaparteman, Olive baru saja selesai makan malam sendiri, Wanita itu tidak pulang kerumah Mama ataupun mertuanya, dirinya memilih tinggal diaparteman saja meskipun sendiri.
Menagmbil ponselnya diatas nakas, Olive tidak melihat chat ataupun panggilan dari suaminya.
Bahkan saat dirinya membuka room chat mereka, suaminya aktif dijam 6 sore. Itu berarti Ando sama sekali tidak mengunakan ponsel.
Olive mendesah lelah, tubuhnya Ia hempasan keatas ranjang yang sangat empuk.
Hari pertama dikampus, cukup membuat dirinya lelah, apalagi memiliki jabatan baru menjadi asisten dosen, sejak masuk ada saja perintah yang Olive terima dari Gery, dosen kelasnya.
"Deket aja bikin aku naik tensi terus, giliran jauh gini, bikin kangen." Ucapnya sambil menatap langit-langit kamar.
Olive memeluk ponselnya didada. "Kamu lagi apa kak." Gumamnya yang kembali membuka room chat suaminya.
"Sudah makan belum kak." Jemarinya mengetikkan pesan untuk Ando, "Ck, Tar dia gede kepala lagi, kiranya aku kangen." Tidak jadi dikirim, Olive menghapusnya kembali.
"Ish, kayaknya dulu ngak gini amat ditinggal ngak ada kabar, tapi sekarang kok malah galau karena ngak ada kabar." Dumelnya yang merasa gundah galau merana hatinya.
Tidak dipungkiri, semua orang akan merasa rindu jika orang itu jauh, tapi jika dekat rasanya hanya ada kekesalan yang Ada.
"Arrgh, kak Ando aku galau..!!" Pekik Olive dengan menenggelamkan wajahnya di bantal.
__ADS_1
.
Kembang kopi sayang 💋