
Malam pun tiba, Ami terseyum lebar dengan wajah yang tidak bisa menggambarkan kebahagiaannya, bagaimana tidak jika dirinya mampu meneyelsaikan tantangan masak yang dia buat, meskipun dibantu dengan menyiapkan bahan, tapi semua menu yang tertata di meja adalah hasil tangan dirinya sendiri, dan jurinya adalah sang bunda yang memberikan penilaian rasa.
Berbeda dengan Olive, wajah gadis itu sejak tadi ditekuk dengan bibir manyun, tidak ada senyum ataupun tawa dari Olive karena dirinya kali ini benar-benar meremehkan Ami.
Olive benar-benar merasa takut, dengan apa yang Ami taruhkan, bagaimana bisa sahabatnya itu menyuruhnya menembak salah satu pria yang dipilihnya, dan Olive tidak tahu siapa pria yang Ami pilih untuk menjadi korban.
"Nah, selesai." Ami bertepuk tangan setelah menaruh hidangan terakhir yang dia selesaikan. jam masih menunjukkan pukul tujuh, dan tamu bunda Raya akan datang pukul delapan malam.
"Saatnya bersiap." Ucap Ami dengan senyum mengambang.
"Ayo.." Ami mengandeng tangan Olive untuk kekamarnya, Ami belum menyadari jika sahabatnya itu kian gundah gulana jika dirinya akan di tagih taruhan yang mereka lakukan.
"Mi, aku kan gak punya baju." Olive duduk dipinggiran ranjang Ami, menatap temanya itu yang sedang membuka lemari pakaiannya.
"Tenang berhubung tubuh Lo udah kepes jadi gue bisa pinjemin baju gue." Ami cekikikan dengan masih memebelakangi Olive. Sedangkan Olive hanya mencebik.
"Nah, ini baju belum gue pake karena sedikit kebesaran dan sepertinya muat buat Lo." Ami memberikan dress miliknya yang memang sedikit kebesaran dan dia rasa cocok dengan sahabatnya.
Olive menerima. "Ingat dandan yang cantik, nanti biar cowok yang Lu tembak terpesona." Ucap Ami dengan jailnya menyentuh dagu Olive, sedangkan Olive membulatkan matanya sempurna.
"Aku kira kamu lupa." Cicit Olive dengan wajah masam.
"Oo...hooo tidak semudah itu Medusa."
.
.
Acara bunda Ami berjalan dengan lancar, kini hanya tinggal mereka berempat yang tersisa kerena bunda Raya meninggalkan acara anak muda itu.
"Gimana By sudah?" Tanya Ami pada suaminya saat diteras.
"Demi kamu sayang, Ando akan datang kemari."
Ami tersenyum lebar, kali ini dirinya akan membuat asisten suaminya itu merasakan apa yang sahabatnya rasakan.
__ADS_1
Didalam hanya ada Olive dan Niko, keduanya duduk berdampingan.
"Kak tolong bantu aku." Ucap Olive dengan penuh permohonan.
Dirinya tahu jika dua pria yang Ami calonkan adalah Niko dan Ando, dan Olive meminta Niko untuk pura-pura menerima cintanya, karena dia tidak mungkin menembak Ando yang memang tidak menyukainya.
Niko menghela napas, tangannya yang dipengang Olive kini gantian tangan Niko yang menggenggamnya.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat." Ucap Niko.
"Apa?" Tanya Olive penasaran dengan syarat yang Niko minta.
"Bisa dikatakan ini barter, dan aku juga membutuhkan bantuan kamu, kita saling membantu. bagaimana?" Tanya Niko lagi.
Olive langsung mengaguk, dan Niko terseyum senang begitupun dengan Olive.
Ami berdehem ketika melihat Niko dan Olive saling tatap, apalagi tangan Niko menggenggam tangan Olive.
"Duduk berdua yang ketiga itu memang setan." Ami langsung menagmbil duduk ditengah-tengah keduanya, hingga mereka bergeser.
"Eh, berani lu sama bini gue." Nathan yang melihatnya tidak tinggal diam ketika Istrinya ingin di aniaya.
"Wleee.." Ami menjulurkan lidahnya meledek Niko, dirinya senang mendapat pembelaan.
"Cih, beraninya main pawang." Ketus Niko yang duduk menyingkir.
Sedangkan Olive menghela napas, pasti yang Ami lihat tadi akan menjadi salah paham.
"Bilang aja Lo jones, jomblo ngenes." Ledek Ami dengan wajah tengilnya.
Niko yang kesal ingin maju, tapi tubuh tegap Nathan membuat nyalinya menciut.
Mereka berempat duduk di karpet lantai.
"Ol mau kemana?" Tanya Ami yang melihat sahabatnya berdiri.
__ADS_1
"Mau bikin minuman dingin gerah aku." Ucap Olive dengan cingiran.
"Alah, bilang aja grogi." Ledek Ami yang mendapat plototan mata dari Olive.
"Sekalian Liv, bikinin kita kopi." Ucap Niko dengan senyum tampannya, namun menyebalkan bagi Olive.
"Gue juga mau Ol, minum dingin." Ami yang bergelayut manja di bahu suaminya menampilkan senyum Pepsodent.
"Ck, gerah gue jadi obat nyamuk." Ucap Niko yang ikut berdiri dan menyusul Olive.
"Eleh, bilang aja mau modus." Ledek Ami yang hanya mendapat kekehan dari Niko.
Tak lama suara mesin mobil terdengar diluar, mereka tahu jika yang datang adalah Ando.
Ando mengucap salam dan masuk ke dalam rumah yang pintunya terbuka.
"Nat lu kira-kira dong, ini berkas ngak penting tapi lu nyuruh gue malam-malam datang kesini." Ando duduk dan membanting berkas didepan Nathan.
"Gak penting buat Lo, tapi penting buat gue." Ucap Nathan menatap Istrinya yang tersenyum dengan penuh arti.
"Hahaha."
Terdengar suara tawa dari belakang dan Ando mengenali suara perempuan itu, Ando pun ingin beranjak dari duduknya, tapi belum sempat berdiri seseorang sudah muncul dari belakang.
"Kak sudah diam." Olive mengibaskan tangan Niko yang mencubit pipinya.
"Pipi kamu kayak bakpao, jadi gemas." Niko kambali mencubit.
"Nanti minumannya bisa tumpah." Kesal Olive karena sejak tadi Niko selalu menggodanya.
"Biarin nanti kita bisa bikin lagi."
Ando yang melihat keduanya menatap dengan kedua tangan mengepal, entah kenapa dirinya tidak suka melihat Olive tertawa dan dekat dengan pria yang tidak dia kenal terlihat Olive seperti manja.
.
__ADS_1
Mabok crazy up author 🤣