
Ando mengikuti langkah Olive dari belakang, kedua tangannya Ia masukkan ke dalam saku celana, dengan santai Ando memperhatikan gadis rambut panjang itu dari belakang.
Ingin sekali Ando mendekap gadis yang ternyata sudah mengisi hatinya, ada kerinduan yang Ando pendam untuk Olive.
"Sudah mbak." Tanya kasir wanita yang memakai seragam biru."
"Sudah." Jawab Olive yang sudah yakin jika apa yang dia beli dan pesanan Mamanya sudah Ia belikan.
Ando meninggalkan mobilnya, dan mengantar Olive ke minimarket dengan berjalan kaki, pria itu diam dan tidak bicara karena merasa canggung. Kedekatan mereka sudah tidak seperti dulu lagi, seperti ada tembok yang membuat keduanya berjarak.
"Semua totalnya xxx mbk." Ucap kasir itu sambil memberikan kantung belanjaan Olive.
"Pakai ini saja mbak." Ando menyodorkan kartu milikinya kepada kasir wanita itu, saat Olive membuka dompetnya.
"Baik Mas."
"Ini saja mbk, saya buru-buru." Ucap Olive menyertakan dua lembar uang merah, sisanya untuk untuk mbak nya." Lanjutnya sambil tersenyum.
Ando yang melihat Olive menolak untuk dia bayarkan tidak bersuara, dia tahu mungkin gadis itu masih merah padanya.
Sampainya di pintu Olive yang membawa belanjaan tersa susah untuk menarik gagang pintu, dan Ando yang dibelakangnya, langsung membuka pintu kaca itu dari belakang tubuh Olive.
Posisi Ando yang lebih tinggi membuat punggung dan kepala Olive menempel di dada Ando, sedetik Olive menghirup aroma parfum maskulin Ando yang belum berubah.
"Terima kasih." Ucap Olive tanpa menoleh kebelakang, dan berjalan keluar lebih dulu.
Ando menghela napas, Olive yang sekarang menjadi irit bicara, dan gadis itu menjaga jarak, sungguh Ando ingin sekali egois, tapi dirinya sadar sikap Olive berubah karena dirinya. Dan kini Ia akan berusaha mengembalikan Olive nya yang dulu, Ndut nya yang manis dan murah senyum.
"Ndut awas!"
__ADS_1
"Aaaaa."
Brak
Olive terhuyung kebelakang hingga dirinya oleng dan jatuh, beruntung Ando sigap dibekang Olive hingga membuat Olive tidak sampai jatuh kepinggiran jalan, saat pengendara motor melaju dengan kencang dan sedikit oleng, Olive yang baru saja keluar dari area minimarket terkejut, hingga kantung belanjaan yang dia pegang jatuh berhamburan.
"Kamu tidak apa-apa." Tanya Ando yang membantu Olive berdiri.
"Tidak kak." Jantungan berdetak cepat, berdekatan dengan Ando membuat kesehatan jantung Olive benar-benar diuji.
"Motor Sialan! Main kebut-kebutan di jalan Raya." Kesal Ando yang emosi, jika terjadi sesuatu dengan Olive pasti dirinya akan mengejar pengendara itu sampai ketemu.
Dua motor yang ternyata saling berkejaran dijalan raya, mereka tidak tahu jika perbuatannya bisa mencelakakan orang lain.
Olive mengambil belanjaan yang jatuh. "Biar aku bawa." Ando merebut kantung yang Olive pegang.
"Tidak usah kak, biar aku_"
Kakinya maju tangannya menyentuh kedua pundak Olive, setelah menaruh kantung keresek itu dibawah.
"Tatap aku Liv." Ucap Ando tanpa mengalihkan tatapannya pada Olive. "Maafkan aku yang sudah_"
"Sudahlah kak, aku sudah melupakan kejadian itu." Potong Olive, sambil melepaskan kedua tangan Ando dikedua bahunya.
Hati Ando teriris mendengarnya, sedangkan Olive mencoba menekan perasaanya kuat, agar tidak goyah, dirinya sudah bertekad untuk tidak dekat dengan pria itu lagi. Cukup sudah merasa sakit hati karena mencintai seorang diri.
"Tapi aku_"
"Aku sudah memaafkannya, jadi kak Ando tidak usah mengungkitnya lagi, karena aku sudah melupakan semua yang terjadi diantara kita dimasa lalu."
__ADS_1
Deg
Ando berdiri mematung, kenapa hatinya merasa sakit mendengar Olive sudah melupakan apa yang pernah mereka lakukan, dan kini dirinya sudah tak berarti bagi gadis itu.
"Terima kasih sudah mengantarkan aku kak." Ucap Olive didepan pintu gerbang rumahnya.
Ando hanya mengaguk. "Apa kamu tidak ingin menyuruhku masuk." Tanya Ando penuh harap.
"Sudah malam kak, tidak baik menerima tamu dijam seperti ini." Tutur Olive mengusir Ando halus.
Ando menghela napas, untuk kali ini dirinya mencoba sabar dengan apa yang Olive mau. Karena ingin mengambil hati Olive Ando harus ekstra sabar mengobati luka hati yang dia buat.
"Baiklah, aku tidak memaksa." Ando tersenyum paksa, "Aku pamit." Ucapnya dengan tangan terulur untuk mengusap kepala Olive, tapi berhenti ketika Olive mendur.
Tangannya mengepal diudara, penolakan Olive begitu mempengaruhi dirinya.
"Hati-hati kak."
Olive mengucapkan kata terkahir dan berlalu untuk masuk tanpa menoleh kebelakang lagi hingga Olive masuk kedalam rumah.
"Arrghh."
Brak
Kaki Ando menendang kotak sampah di depannya, pria itu meluapkan emosinya.
"Suara apa Liv?" Tanya Papa Olive.
"Kucing kawin Pah." Jawab Olive santai.
__ADS_1
"Kucing kawin?" Faisal menggaruk kepalanya, mendengar ucapan Olive. "Anak gadisku tahu kucing kawin." Ucapnya lagi.