
"Loh Ndo kapan kamu pulang?" Tanya Mamanya yang sedang menyiapkan sarapan pagi di meja makan.
"Tadi malam Mah, aku keaparteman tidak menemukan guling hidup ku, dan ternyata dia meringkuk di dalam kamar ku." Ando melirik Olive dengan ekor matanya. Sedangkan yang dilirik mendelik tajam.
Bisa-bisanya dirinya dikatakan guling hidup.
"Kau ini, tidak bisakan berpisah sebentar saja sudah seperti cacing kepanasan." Ucapan Leard membuat Ando mendengus kesal.
"Tidak usah meledek, apa Mama tidak ingat jika papa lebih parah dari aku." Ucap Ando yang mengingatkan cerita kedua orang tuanya dahulu.
"Itu beda Ando, tidak bisa disamakan." Tiba-tiba Bagas datang dan langsung duduk di kursi kepala keluarga.
Olive yang tidak mengerti mereka membahas pada hanya menjadi pendengar saja.
"Sama saja, bedanya Mama dulu yang mendatangi papa karena sedang tugas pelosok desa. Sedangkan Mama tidak bisa berjauhan dari papa dan aku yang sebagai alasan." Tutur Ando membuat Leard menatap tajam putranya, sedangkan Bagas hanya geleng kepala.
Ando ingat jika dulu dirinya saat masih berusia 10 tahun sering diajak pergi oleh ibunya untuk menyusul sang ayah yang sedang bertugas membantu di pelosok desa. Dan Ando juga ingat jika ibunya sering menggunakannya untuk asalan klise.
"Pah anakmu yang minta datang kemari katanya kangen."
"Ando minta papa menemaninya mainan, katanya dia kesepian."
Dan masih banyak alasan yang mamanya gunakan agar bisa bermalam dengan papanya.
"Kamu masih saja mengingat kejadian puluhan tahun itu." Leard mendengus kesal.
"Ingat lah, aku juga ingat saat Mama dan pernah sodok-sodokan dirumah keci_"
"Ando cukup..!" Ucap Bagas dan Leard bersamaan.
Bagas dan Leard saling menatap dengan wajah kesal bercampur malu.
Ando hanya tertawa melihat kedua orang tuanya yang menahan malu didepan menantu mereka.
"Kak.." Olive memperingati Ando agar berhenti tertawa.
"Aku tidak bisa menahannya sayang, mengingat dulu rasanya aku_"
Plak
"Masih saja tidak mau diam mulut lacnut mu itu." Kesal Bagas yang melihat putranya seperti bahagia diatas penderitaannya.
Leard sendiri sudah pergi untuk mengambil masakan yang belum dia taruh meja, bermaksud untuk menghindar juga.
"Iya pah, ampun." Ando meminta ampun dengan masih dengan sisa tawanya, tangannya mengusap lengan yang dipukul Bagas.
"Ngomong-ngomong Andien belum turun mah?" Tanya Olive yang tidak melihat adik iparnya turun untuk sarapan pagi.
"Andien meminta ijin untuk tidur dirumah temannya." Jawab Leard.
Tadi malam memang putrinya itu mengirim pesan dan meminta ijin untuk tidak pulang. Andien akan menginap di rumah temanya.
"Andien tidak pulang?" Tanya Ando sambil mengernyitkan dahi.
"Ya, dia menghadiri pesta ulang tahun teman dekatnya dan karena lelah jadi ijin tidak pulang." Lanjut Leard.
Ando nampak berpikir, tapi pikiranya menolak jika adiknya terlibat pergaulan bebas diluaran sana. Apalagi Andien adalah gadis rumahan yang tidak pernah keluar malam.
Tapi mengingat suara Andien yang parau saat menerima panggilan darinya, pikiran Ando kembali melayang kemana-mana.
"Kak, aku keburu telat."
__ADS_1
Ucapan Olive membuat Ando kembali sadar dari lamunannya. Pria itu tersentak.
"Ah, iya." Ando segera memakan sarapan paginya dengan hening.
Olive hanya melirik sekilas, dirinya merasa mood suaminya berubah, setelah mendengar Andien tidak pulang. Sebenarnya apa yang suaminya pikirkan.
"Mah, Pah. Olive kuliah dulu." Olive berpamitan setelah selesai sarapan bersama.
"Iya, sayang, sering-sering main kesini ya." Leard memeluk Olive tanda perpisahan.
"Ando pulang mah, antar Olive ke kampus." Pamit Ando juga dengan memeluk dan mencium Mamanya.
"Iya nak, hati-hati."
Bagas dan Leard mengantar Ando dan Olive sampai masuk mobil. Mereka melambaikan tangan saat mobil Ando berjalan keluar pagar.
"Semoga mereka selalu bahagia dan segera mendapat momongan." Doa Leard untuk kedua anaknya.
"Aminnn."
.
.
Ando mengantarkan Olive lebih dulu pulang keaparteman untuk mengambil perlengkapan kuliah, setelahnya supir pribadinya itu mengantar Olive ke kampus. Ando akan kekantor tapi siang nanti, karena dirinya sudah ijin dengan Nathan jika berangkat kekantor siang.
"Selama aku tidak ada, bagaimana kegiatan kamu?" Tanya Ando sambil fokus menyetir.
Olive menoleh pada suaminya sebentar. "Tidak ada, selain kekampus aku tidak kemana-mana." Jawab Olive jujur.
Ando mengaguk dan melirik Istrinya lagi. "Kenapa kamu tidak main bersama temanmu, aku memberimu kartu untuk kamu gunakan bukan untuk disimpan saja." Tutur Ando yang mengingat hampir satu bulan dirinya belum pernah mendapat notif ataupun transaksi pengeluaran dari kartu yang Olive pegang.
"Untuk apa, lagian kebutuhanku saja sudah kamu penuhi, dan aku rasa hanya akan buang-buang saja, seperti memberi Loli uang." Jawaban Olive yang berakhir dengan sindiran.
Olive mendengus kesal mendengarnya. "lagipula yang mendekati itu mereka bukan aku, dan kalau aku tidak membuka peluang mereka tidak akan berarti apa-apa, kamu berlebihan kak mencurigaiku."
"Bukan begitu sayang, tapi aku hanya takut jika_"
"Ketakutanmu tidak beralasan, dan kamu sama saja mengekang pergerakan ku." Olive memalingkan wajah, enggan untuk sekedar melihat suaminya.
Ando sendiri jelas merasa frustrasi, baru saja dirinya merasa baikan, kini kembali seperti berjarak lagi. Sungguh Ando belum bisa memahami sifat Wanitanya moodnya gampang sekali berubah-ubah. Olive yang sekarang gampang sekali ngambek, sedangkan dulu gadis itu pendiam dan penurut.
Mobil Ando masuk area kampus, pria itu tidak berhenti di depan kampus melainkan berhenti diprakirakan kampus yang terlihat begitu ramai apalagi hanya ada mobilnya dan mobil Niko yang mencolok disana.
"Sayang." Ando mencekal tangan Olive sebelum Wanitanya keluar dari mobil.
Olive hanya menatap tanpa suara, hanya saja Ando paham arti tatapan Istrinya itu.
"Maaf jika yang aku lakukan tidak membuatmu nyaman, tapi aku melakukanya hanya tidak ingin jika pria lain perhatian dan menaruh perasaan padamu, meskipun aku tahu kamu tidak akan berpaling. Tapi aku hanya takut jika mereka menyalah artikan kebaikanmu. Aku percaya dengan hatimu, dan aku juga tidak pernah berfikir jika kamu akan berpaling. Sungguh aku tidak memiliki niat lain selain menjagamu dari pria yang mungkin saja mengambil kesempatan dari kebaikanmu." Ando bicara panjang lebar dengan jujur. Dirinya hanya takut jika seseorang akan memanfaatkan kebaikan Istrinya.
Dirinya percaya jika Olive tidak akan membuatnya kecewa, tapi tetap saja dirinya juga harus melindungi wanitanya juga.
"Kamu mengerti kan maksud aku." Ando menatap Olive penuh dengan kasih sayang yang tulus.
Olive menelan ludah melihat tatapan suaminya yang begitu dalam, ternyata selama ini dirinya salah mengartikan apa yang dilakukan suaminya.
"Maafin aku kak, aku salah mengartikan kekhawatiran mu." Akhirnya Olive mengakui kesalahannya. "Maaf juga jika aku begitu egois tidak mengerti dirimu, aku memang payah dalam hal memahami mu."
Mendengar Olive menyalahkan dirinya, Ando juga menjadi merasa bersalah. "Sudah jangan saling menyalahkan, ikuti kata hatimu, aku mencintaimu sangat, dan aku juga tahu kamu mencintaiku, kita sama-sama belajar untuk lebih mengerti lagi. Oke." Ando tersenyum mengusap pipi Olive.
"Hu'um." Olive mengagguk dengan membalas senyum suaminya.
__ADS_1
"Ayo aku antar." Ando mengecup kening dan bibir Olive lebih dulu sebelum keluar dari dalam mobil.
Ando keluar dan diikuti Olive, baru saja turun dirinya sudah di hampiri Loli yang berlari kearahnya.
"Eh, ada baby and Daddy." Loli tersenyum cengengesan.
Olive yang melihat gelagat Loli memincingkan mata.
"Heh, udah kayak uler kadut aja tingkah kamu." Ucap Olive meledek Loli.
"Ck, kamu minggir dulu, aku mau lapor berita uptudate sama Daddy kamu ini." Loli memang wajah garang pada Olive, dan saat berhadapan dengan Ando Loli memasang wajah lebay.
"Heh, kamu mau apa?" tanya Olive penasaran.
"Sattt Diem, tersangka dilarang bicara, biarkan saksi yang bertindak." Kesal Loli.
Olive mendelik tidak suka mendengar ucapan Loli, dirinya penasaran dan juga was-was dengan apa yang Loli lalukan, meskipun dirinya tidak melakukan kesalahan apapun menurutnya tapi tetap saja, karena Loli mata-mata suaminya.
"Apa yang akan kamu tunjukkan." Ando bersuara setelah sejak tadi diam saja.
Jantung Olive berdebar, kenapa dirinya yang menjadi penasaran dengan apa yang akan ditunjukan Loli.
"Siapkan hati dan mental Daddy, aku rasa sesuatu yang akan aku tunjukan akan membuatmu sedikit syok terapi."
"Loli jangan aneh-aneh deh." Olive sudah gelisah.
"Kak, ihh jangan dengerin dia. Dia itu hanya kompor." Ucap Olive pada suaminya.
"Tenang aja sayang, jika kamu tidak melakukan sesuatu maka tidak usah takut."
Jawaban Ando semakin membuat Olive ketar-ketir.
"Nah coba lihat apa yang aku dapatkan." Loli tersenyum cerah saat memberikan ponselnya pada sugar Daddy temennya itu. Dirinya menatap Olive ponggah.
"Ish, kamu nyebelin Lol, nyesel aku temenan sama kamu." Gerutu Olive menatap Loli dongkol.
Ando mengernyitkan keningnya, melihat beberapa foto yang Loli tunjukkan.
"Sayang.." Ando memperlihatkannya layar ponsel Loli pada Olive.
Olive bisa melihat jika disana ada foto Niko yang sedang membukakan pintu mobil untuknya, dan saat Ando menggeser lagi, Olive melihat Niko dan dirinya sedang tertawa bersama.
"Jelaskan, kenapa kamu bisa satu mobil dengan Kiko." Ketus Ando yang sedikit kesal, tapi dia berusaha menahannya karena ingin mendengar penjelasan dari istrinya.
Olive menatap Loli tajam, menyiratkan rasa kesal dan tidak sukanya.
"Hanya kebetulan saja, karena saat itu aku bangun kesiangan dan menunggu taksi lama jadi kak Niko yang kebetulan lewat menawari tumpangan." Tutur Olive dengan jelas dan padat.
Dirinya seperti tersangka yang sedang diintrogasi.
"Tapi kan kamu bisa menolak, dan tidak harus tertawa begitu_"
"Kak," Olive memotong ucapan Ando. "Sebelum kita seperti ini, aku sudah berteman lama dengan kak Niko, jadi tidak perlu berlebihan melihat kedekatan ku dengan kak Niko, karena aku sendiri tidak memiliki perasaan apapun padanya. Jadi untuk kak Niko tidak pantas untuk kak Ando curigai."
Setelah mengatakan itu Olive langsung pergi tanpa mendengar Ando memanggilnya, hatinya sudah dongkol dan kesal.
"Olive, dengar kan aku dulu.. argh sial..!" Ando menendang ban mobilnya sendiri melupakan kekesalannya.
"Ehh kok jadi berantem." Loli menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ngeri ah punya Daddy yang suka ngereog gini." Loli bergeridik negeri, dan ikut kabur.
.
__ADS_1
Hola sayang author ada cerita Gwen untuk Ameer di kang Paijo.. minta dukungan untuk mampir yaa.. Ameer dan Gwen kisah anak Sena dan Aaron di Pembantuku Canduku 2.
Jangan lupa mampir, nama pena Sama🤗🤗