Love Is Back

Love Is Back
rujak bebek


__ADS_3

Olive tidak menggubris wanita yang sok dekat dengan suaminya itu, padahal Olive juga tahu siapa wanita yang tadi disebut Sofi. Karena Ando pernah bercerita.


Olive berdiri dan melenggang, saat nama Ando dipanggil untuk mengambil obat.


"Ngapain kamu disini?" Tanya Ando dengan suara yang tidak bersahabat. Apalagi melihat Olive yang baru saja melenggang tanpa melihatnya, rasanya sungguh sakit. Ahh lebai..


"Ini rumah sakit, jadi tempat umum." Jawab Sofi santai.


Ando mendengus, andai jika lehernya tidak sakit sudah pasti Ando akan melakukan sesuatu. Tapi ini dirinya harus pelan-pelan bergerak agar tidak semakin ngilu.


Olive berjalan kembali mendekati suaminya yang masih ada Sofi disana.


"Kak kamu mau pulang apa masih mau disini?" Tanya Loli melirik Sofi sinis.


"Pulang sayang, untuk apa aku disini ngak ada kerjaan." Jawab Ando yang bergerak untuk berdiri.


"Kamu sakit apa kak." Sofi dengan sigap membantu Ando berdiri, dan Olive hanya bersedakep dada melihat interaksi keduanya.


"Hati-hati." Sofi begitu perhatian dengan pria beristri yang sedang hamil itu.


"Sudah tidak apa-apa, lagian aku sakit bukan menjadi urusanmu. Jadi urusi saja dirimu." Ucap Ando dengan ketus.


Olive menahan tawa melihat ekpresi wajah Sofi yang syok dengan ucapan Ando.


"Satu lagi, jangan ajari aku menjadi pria kurang ajar. Jika aku saja bisa menjadi pria yang kejam." Sebuah sindiran untuk Sofi. Ando tidak suka sifat Sofi yang menjadi agresif padanya, padahal dulu Sofi begitu segan dan sopan padanya, apalagi wanita itu sangat berterima kasih padanya bisa membawanya lepas dari rumah bordir.


Tapi Sofi yang juga tertarik dengan Ando karena selain tampan pria itu juga begitu baik dan pengertian, dan karena itulah Sofi menyukai Ando meskipun dirinya adalah wanita bayaran saat itu.


"Bye.. mbak sosofi." Olive melambaikan tangan didepan Sofi yang berdiri mematung, "Eh lupa, aku kasih tau ya, jangan gatel sama lakik orang, kalau gatel itu digaruk bukan di gesek-gesek." Ledek Olive dengan nada menyindir.


Sofi semakin tidak percaya, kenapa dua orang itu semakin menyebalkan.


"Sialan kalian." Sofi menatap punggung Ando dan Olive yang semakin menjauh.


Kenapa dari dulu susah sekali mendapatkan Ando.


"Sayang kamu disini." Sofi menatap pria yang baru saja datang mencarinya.


"Hm, iya sayang maaf. menunggu lama aku tidak bertemu dengan temanku, dan aku berbincang sebentar." Jawab Sofi sambil menpilkan senyum terbaiknya.


"Oh, aku kira kamu kesasar." Pria itu langsung merangkul pinggang Sofi. "Dokter sudah menunggu kita diruangannya, setelah ini pasti aku tidak akan takut lagi untuk meghamilimu." Ucap pria itu yang begitu senang.


Sofi meringis, mekipun dirinya bekerja di perusahaan, tapi kehidupan di kota yang keras membuat Sofi tidak puas dengan hasil kerja kerasnya, dan Sofi memilih menjadi simpanan pria kaya raya meskipun usia pria itu sudah kepala empat untuk Sofi yang masih muda.


Tidak berfikir akan berakhir seperti ini, dia pikir setelah ditolong pria yang dia anggap sebagai dewa penolongnya hidupnya akan cerah karena pria itu akan berada di sampingnya. Tapi ternyata Tuhan menakdirkan pria itu untuk wanita lain, sungguh Sofi benar-benar memiliki perasaan untuk Ando. Dan dirinya kembali menjadi wanita penjual kenikmatan kembali setelah dulu pernah menjual kesuciannya hanya untuk mendapatkan uang untuk biaya berobat sang ibu.


.


.


Didalam taksi yang Ando dan Olive tumpangi. Keduanya diam tanpa ada yang bersuara, Ando merasa jika ketenteramannya sedang terancam, tapi masih beruntung karena dirinya sedang sakit. pasti istrinya tidak akan tega membuatnya teraniaya.


"Kak aku mau itu." Tiba-tiba Olive bersuara, yang mengagetkan Ando yang sedang melamun.

__ADS_1


"Pengen apa sayang." Ando melihat apa yang ditunjuk Olive.


"Itu rujak bebek." Ucap Olive dengan antusias.


"Pak putar balik pak." Ucap Ando pada supir taksi itu.


"Baik tuan."


Olive berharap masih bisa memakan rujak khas yang ditumbuk itu. Dirinya benar-benar menginginkannya.


Ketika mobil taksi sudah terhenti, Olive lebih dulu keluar dari dalam mobil, dirinya sudah tidak sabaran, sedangkan Ando seperti patung antik yang takut jika salah gerak sedikit akan retak dan pecah.


"Pak rujaknya satu ya." Olive langsung memesan.


"Wah kebetulan memang tinggal satu neng." Penjual itu memberikan pesanan untuk pembeli sebelum Olive.


Ando bernapas lega, jika makanan yang Olive inginkan masih tersedia.


"Duduk sini dulu sayang." Ando menyuruh Olive duduk di bangku taman yang tidak jauh dari penjual, karena memang penjual itu sering mangkal di taman di jam 10 pagi sampai habis. Karena enak dan jarang ditemui, penjual itu hanya mangkal dua jam saja.


Olive menurut, wanita hamil empat bulan itu duduk di bangku yang suaminya suruh.


"Anak papa lagi pengen apa lagi, hm." Ando mengusap perut Olive, mekipun kepalanya tidak bisa menunduk jadi dirinya tidak bisa mencium perut istrinya.


"Padahal papa Udah antisipasi loh dek, kalau kamu mintanya yang wah-wah." Ucap Ando masih dengan mengelus perut Olive.


Olive yang mendengarnya mengernyitkan keningnya.


"Wah-wah apa?" tanya Olive yang tidak mengerti.


"Memangnya kamu mau aku ngidam yang begituan?" tanya Olive menatap Ando serius.


Melihat tatapan Istrinya, Ando mulai berpikir dua kali untuk menjawab.


"Ya, ya tidak. Namanya ngidam kan nggak bias di paksakan. Hanya keinginan sesaat kan." Jawab Ando, setelah memikirkan kata-kata yang tepat.


"Aku pikir kalau aku minta mobil kamu mau menuruti." Ucap Olive santai.


Ando memicingkan mata. "Memangnya si dedek pengen mobil?" Tanya Ando yang menatap perut Olive dan kembali kewajah Olive.


Olive tersenyum dan ingin menjawab, tapi panggilan dari penjual rujak bebeek membuatnya tidak jadi menjawab.


"Sebentar kak, aku kesana dulu." Olive berdiri untuk mengambil pesanannya.


"Ini mang uangnya." Olive memeberikan uang kepada penjual.


"Terima kasih neng."


"Rujaknya masih mang?" tanya seorang ibu-ibu yang perutnya juga besar karena sedang hamil.


"Waduh Bu, sudah habis." Jawab penjual.


"Yaah, habis nak. Padahal dari kemarin pengen tapi belum kebeli." Ibu mengusap perutnya. Apalagi ibu itu juga sambil menggandeng anaknya yang masih sekitar umur 4tahun.

__ADS_1


"Iya Bu, besok lagi ya." Jawab penjual itu juga kasihan. Tapi mau bagaimana lagi memang dagangannya sudah habis.


"Iya mang, besok kalau uang nya masih saya kesini lagi."


Deg


Olive yang mendengarnya menjadi tersentuh. Melihat rujak miliknya Olive berniat untuk memberikan.


"Sayang Mau kemana?" tanya Ando yang melihat istrinya, kembali ke penjual yang akan pergi.


"Kasihan kak, aku mau kasih punyaku ini." Jawab Olive sambil berlalu.


"Eh, tapi sayang_" Ando tidak lagi bicara saat Olive sudah berada didepan ibu hamil tua itu.


"Ibu ini punya saya, ibu ambil saja." Ucap Olive yang menyodorkan bungkusan rujak milikinya.


"Tapi mbak Nya juga sedang hamil, pasti juga sedang ngidam." Ucap ibu itu.


"Tidak apa Bu, saya bisa beli lagi." Olive tersenyum dan masih memberikan rujak miliknya.


"Duh, kalau Olive beneran ngidam rujak. Bisa-bisa anak gue ileran kalau ngak jadi makan." Ucap Ando yang sudah berpikiran macam-macam.


"Maaf mbak saya ambil, saya sudah dari kemarin ingin rujak ini, tapi baru ada uang untuk membeli ini." Ucap Ibu itu, memberikan uang yang dia punya pada Olive.


"Eh, tidak usah diganti Bu, saya ikhlas kok


" Olive jelas saja menolak.


"Mang.." Ibu itu memanggil penjual yang sudah akan pergi.


"Iya Bu?" Penjual itu berhenti.


"Minta satu lagi gelas untuk dibagi dua." Ucap ibu itu yang langsung di kasih oleh penjual.


Ando yang melihatnya mendekati sang Istri, dan ibu-ibu yang berusaha untuk tidak serakah itu.


Setelah membagi dua, ibu itu memberikan kepada Olive.


"Setidaknya kita masih bisa berbagi, meskipun tidak banyak." Ibu itu memberikan gelas satunya pada Olive.


Olive terseyum. "Iya Bu." Olive menerimanya.


Ibu itupun berterima kasih dan pamit pergi, Ando merangkul bahu istrinya dengan senyum mengembang.


"Kamu baik banget sih sayang, padahal kamu lagi pengen makan itu." Ucap Ando sambil membawa Olive untuk kembali duduk.


"Tinggal satu kak, dan aku tau rasanya kepengen dan tidak dibisa dituruti, apalagi saat ngidam." Ucap Olive.


"Memangnya kamu pernah? kapan?" tanya Ando yang tidak tahu, jika Istrinya ingin sesuatu tapi dirinya tidak tahu.


"Waktu kamu keluar kota, aku pengen makan sesuatu, tapi kamu tidak ada dan itu aku rasakan di tengah malam. Sampai aku tidak bisa tidur." Tutur Olive yang mengingat saat dulu dirinya mengidam dan Ando tidak ada.


"Ya ampun sayang, kenapa kamu tidak memberitahu aku, terus kalau nanti anak kita ileran bagaimana. Oh tidak."

__ADS_1


Ando bergeridik ngeri membayangkan anaknya saat lahir ileran, sungguh Ando tidak mau anaknya ileran.


__ADS_2