
Setelah meninjau lokasi yang akan di mulai pembangunan resort, Ando melakukan pengarahan sebentar untuk memaksimalkan pekerja. Disana ada puluhan orang pekerja kontraktor yang akan membuat keinginan ayahnya terwujud. Kini pria yang akan menyandang status papa itu akan mewujudkan keinginannya.
Terutama untuk istri dan anaknya kelak, Ando membuat resort ini dipersembahkan untuk sang keluarga.
"Yasudah saya pulang dulu." Ando pamit pada pria yang memegang penuh proyeknya.
"Baik pak, hati-hati."
Ando hanya menggaguk saja. Dan berlalu pergi menuju mobilnya.
Waktu hampir petang ketika dirinya beranjak pergi, dan Ando tidak tahu jika wanitanya sudah menunggu dan mengkhawatirkan dirinya.
Perjalanan ke kota memakan waktu satu jam lebih, Ando mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata karena sudah masuk dijalur bebas hambatan.
"Bisa Pah?" Tanya Susi menatap suaminya yang hanya geleng kepala.
"Masih tidak aktif." jawab Faisal.
Bukan hanya ada kedua orang tua Olive, tapi disana juga ada Leard dan Bagas yang ikut khawatir karena nomor putranya tidak bisa dihubungi, apalagi Olive bercerita ketika Ando pergi dengan wajah yang tidak biasa, dan itu menurut Olive suaminya marah karena dirinya tidak sengaja menyembur nasi kewajahnya siang tadi.
"Mah, kak Ando." Rengek Olive pada Susi.
"Sabar nak, suamimu mungkin saja masih sibuk." Leard yang duduk disamping kiri Olive juga memenangkan, sedangkan Susi berada di samping kanan.
"Iya Liv, Mama yakin suamimu itu tidak akan aneh-aneh." Timpal Susi, agar putrinya itu tenang.
Olive masih belum bisa tenang sebelum mendengar suara suaminya.
"Lebih baik kita tunggu saja, mungkin suamimu sibuk." Ucap Bagas mecoba membuat Olive tenang.
Mereka semua datang karena Olive yang menghubungi. Saat Olive menguhungi tentu saja mereka semua panik dan bertanya-tanya kenapa?
Dan ternyata hanya mood ibu hamil yang memang sedang tidak sedang baik-baik saja.
__ADS_1
"Kamu makan dulu ya, kasihan bayi kamu." Susi mencoba untuk membuat Olive agar tidak berpikir buruk, apalagi Olive yang sedang hamil.
"Iya nak, Mama buatkan makanan ya? kamu mau makan apa?" tanya Leard juga bermaksud merayu.
"Aku mau telur dadar dua." Jawab Olive sambil mengusap air matanya yang jatuh lagi.
Dirinya sudah berusaha agar tidak menangis, tapi air mata sialan itu terus saja turun.
"Kalau begitu mama buatkan ya." Leard sudah ingin berdiri, tapi mendengar suara Olive mereka semua hanya bisa menggeleng.
"Tapi telur dadar buatan Kak Ando."
Jika sudah begini tidak ada yang bisa menggantikan kemauan ibu hamil.
Lelah membujuk Olive, mereka semua hanya diam, nanti jika sudah lelah bersedih, pasti ibu hamil itu akan diam.
Dan benar saja, setelah tiga puluh menit bersedih, Olive tertidur di pelukan Susi.
"Sebenarnya Ando keman Pah?" Tanya Leard pada suaminya.
"Lagian pergi juga kenapa tidak ijin sih, pake ngak bisa dihubungi lagi." ucap Leard kesal.
Tidak tahukah jika istrinya yang hamil sejak tadi menangis dan tidak mau makan, mereka hanya takut jika bayi didalam kandungan Olive juga ikut merasakan dan akan berdampak buruk.
"Kita tunggu saja, mungkin masih dijalan." Ucap Bagas yang diangguki Faisal.
Olive direbahkan di atas sofa, dengan beralaskan bantal agar tidurnya nyaman, sangking lelahnya wanita hamil itu tidak terganggu dengan obrolan mereka.
Mobil Ando berbelok memasuki apartemen yang dirinya tinggali, pria itu keluar setelah mematikan mesin mobil.
Berputar pintu belakang, Ando mengambil sesuatu yang dia beli untuk sang istri. Melihat benda yang terpanjang di etalase kaca membuat Ando ingin membelinya. Dan kini pria itu berjalan untuk menuju flat tempat tinggalnya.
Meskipun dirinya merasa lelah, tapi ketika mengingat ada wanita yang menunggunya dirumah rasa lelahnya tiba-tiba menguap begitu saja, apalagi mengingat Istrinya yang sedang hamil membuat lelahnya seperti terbayar, padahal itu pun si dedek bayi belum keluar, jika sudah mungkin Ando tidak ingin jauh-jauh dari bayinya itu.
__ADS_1
Menekan kode password, Ando berhasil membukanya. Saat masuk kedalam, dirinya terkejut melihat kedua orangtuanya duduk sofa tamu.
"Loh, papa, Mama disini?" Ucap Ando dengan wajah bingung.
Mereka semua mengehela napas. "Kamu itu kalau pergi mbok ya bilang-bilang heemm." Leard menarik telinga Ando gemas.
"Aduh Mah sakit." Tangannya menyentuh telinganya yang di jewer Leard.
"Lain kali beri kabar istrimu, apa kamu lupa jika memiliki Istri?" Tanya Bagas dengan tatapan mengintimidasi.
"Enak aja, tidak ingat. Lihat ini?" Ando menunjukan barang uang dia bawa. "Justru aku akan memberikan hadiah jika dia mau tapi." Ucap Ando santai.
"Kau itu benar-benar yaaa."
"Aduh Pah sakit."
Kini giliran Bagas yang menjewer telinga Ando.
"Yasudah kami pulang."
Faisal dan Susi mengangguk." Kami juga nak, sepertinya kau lelah dah ingin istirahat." Ucap Faisal.
"Iya pah, terima kasih sudah mau datang."
"Tidak apa-apa, lagian untuk putri semata wayang papa akan senang melakukannya." Jawab Faisal sambil tersenyum.
Mereka semua sudah pamit dan pergi dari apartemen miliknya, kini Ando kembali masuk, setelah mengantar mereka sampai didepan pintu.
Masuk kedalam ruangan tv mata Ando membelalak dengan jantung yang berdebar kencang.
Glek
"Ya Tuhan."
__ADS_1
.
Semangat kembang kopi sayang 💋💋