
Olive sudah selesai merias diri dengan penampilannya yang sederhana tapi terkesan elegan. Walaupun pakaian yang dia pakai simpel tapi soal harga jangan ditanya. Olive akan memakai pakaian yang nyaman untuk dia pakai, apalagi sekarang dirinya berbadan dua.
"Sayang sudah belum." Ando masuk kedalam kamar setelah pulang dari kantor.
Ternyata pria itu tidak menepati janji pulang cepat, karena ada pekerjaan penting yang membuat dirinya terlambat pulang. Jadi Ando pulang keaparteman lebih dulu untuk bersiap, tapi sebelumnya menelpon sang istri juga agar bersiap.
"Sudah." Olive meraih tas kecil yang sudah dia siapkan di atas ranjang.
Ando terseyum dengan penuh kekaguman melihat istrinya yang berjalan kearahnya.
"Kenapa kamu dandan begitu cantik." Ando langsung menarik pinggang Olive membuat wanita itu merapat ke tubuhnya.
Olive cemberut. "Masa aku harus pakai daster kayak dirumah." Ucap Olive
Ando tersenyum. "Aku malah ingin kamu dirumah saja, tidak usah pergi kesana."
Rasanya Ando memang ingin mengurung istrinya saja didalam kamar, dirinya tidak ingin istrinya menjadi pusat perhatian. Mekipun Olive tengah berbadan dua, tapi Olive malah semakin terpancar kecantikannya, katanya ibu hamil itu memang dikelilingi oleh bidadari.
"Ish, ngak mau. Aku mau lihat kedua temanku menikah." Olive melepaskan rangkulan tangan Ando, ketika Ando hendak mencium.
"Ck, sayang. seharian aku lelah bekerja. Aku hanya ingin minta vitamin." Ucap Ando sambil menunjukan wajah memelas.
Olive menjulurkan lidah. "Kalau aku kasih kamu bisa lupa diri, dan nanti kita akan terlambat." Ucap Olive sambil berjalan menuju pintu untuk keluar.
"Berarti ntar malam boleh ya." Ucap Ando yang berjalan mengikuti Olive dari belakang.
Olive menuruni anak tangga satu-persatu, sejak hamil Olive hanya diijinkan mengunakan alas kaki yang tidak ada hak nya.
"Pelan-pelan." Ando langsung menyamakan langkah kaki istrinya. Pria itu menggandeng tangan Olive.
"Aku juga pelan-pelan kak." Ucap Olive sambil manyun. "Kamu itu cuma mau modus." Lanjut Olive yang sudah sampai di lantai bawah.
Cup
Dan benar saja Ando mencuri ciuman di pipi Olive.
"Ish, kak." Rengek Olive, tapi malah Ando tertawa puas.
"Kalian ini kenapa sih m" Leard datang dari arah dapur setelah makan malam bersama Bagas.
"Kak Ando tuh mah, nyebelin." Adu Olive pada ibu mertuanya.
"Dih, cuma dicium pipi aja laporan. Kalau buat anak diem-diem ya yank " Ucap Ando sambil menaik turunkan alisnya.
Olive mendelik tajam mendengar ucapan Ando, sedangkan Bagas hanya geleng kepala, heran dengan kelakuan anaknya itu.
"Tidak usah didengarkan sayang, kalau dia macam-macam jangan kasih jatah." Ucap Leard sambil mengusap lengan Olive, "Pasti dia tidak akan macam-macam lagi." tatapan Leard berganti menatap Ando dengan senyum bahagia.
__ADS_1
"Yah mah, ya ngak gitu juga. Kalau ngak ada jatah nanti belalaiku karatan lagi." Ucap Ando dengan wajah memelas.
Olive menahan tawa melihat wajah suaminya. Jika urusan jatah, pasti Ando tidak akan menyerah dengan segudang cara.
"Sayang ayo kita berangkat, lama-lama disini nanti otak kamu dicuci sama Mama." Ucap Ando sambil berlalu mengajak Olive pergi.
"Heh dasar anak kurang ajar, kamu pikir mamamu pencuci otak." Kesal Leard berteriak, saat Ando dan Olive sampai didepan pintu.
"Papa awas jangan dekat-dekat dengan singa galak, kalau jatah papa mau aman." Teriak Ando yang tidak menggubris ucapan mamanya.
"Oohh dasar bocah edan..!!" Maki Leard karena dikatai singa galak.
Bagas hanya tertawa, mendengar ledekan Ando untuk istrinya.
Leard yang melihat Bagas tertawa ikut menjadi kesal.
"Papa malam ini tidak jath tidak jadi. Nyebelin." Leard bicara ketus sambil ngeloyor pergi.
Sedangkan Bagas, langsung menutup mulutnya, tidak lagi tertawa atau bersuara.
"Duh, gara-gara anak Sialan itu. Nasib peluk guling." Ucap Bagas sedih.
Setelah hampir tiga puluh menit berkendara, akhirnya mobil Ando sampai dikediaman Loli, beruntung tamu mempelai pria belum datang.
"Kak aku kekamar Loli ya." Ucap Olive pada suaminya meminta ijin.
Setelah bertemu dengan kedua orang tua Loli, Olive ijin untuk menemui Loli dikamar.
Ando berbincang dengan kerabat Loli.
Ceklek
Olive membuka pintu kamar Loli, dan Olive melihat Loli yang duduk di depan meja rias.
"Loli.."
"Olive..."
Keduanya tersenyum haru, Olive mendekati Loli yang tersenyum, dan merentangkan tangannya.
"Hem, kamu cantik banget." Ucap Olive masih dengan senyumnya.
Loli memang cantik dengan riasan natural tapi terlihat begitu cantik dan anggun.
"Makasih yah, Udah mau dateng." Ucap Loli.
"Pastilah, kamu dan kak Niko kan sahabat aku. Aku pasti datang untuk melihat acara sakral kalian." Olive tersenyum, dengan Loli yang menggenggam tangannya.
__ADS_1
Loli tersenyum haru. "Aku ngak nyangka Liv, akan bersaudara dengan Ayana, padahal aku dulu cukup jahat sama dia, dan itu karena Nesya." Ucap Loli yang mengingat saat mereka duduk di bangku sekolah.
"Takdir siapa yang tahu Lol, yang penting kamu bisa berubah menjadi baik. Lagi pula kita udah maafin kamu kok." Olive terseyum saat mengatakan itu.
"Iya makasih ya." Keduanya kembali berpelukan dengan Loli yang memeluk perut Olive dan mengusapnya.
"Tapi ngomong-ngomong apa kak Niko yang memilihkan pakaian kamu?" tanya Olive menatap kebaya yang Loli pakai.
Loli menatap dirinya sendiri. *Memangnya kenapa? jelek ya?" Tanya Loli mendongak menatap wajah Olive.
"Sangat bagus dan cantik, tapi kalau kak Niko tidak akan memilih baju yang belahan dadanya sangat rendah seperti ini." Ucapan Olive seketika membuat Loli tersenyum lebar.
"Dia memang tidak tahu, bairkan saja dia terkejut. Karena aku suka kebaya ini sejak pertama kali melihatnya." Tutur Loli berbinar.
Memang kebaya yang Loli pakai memiliki belahan dada sangat rendah, sehingga memperlihatkan belahan buah dadanya yang sangat kentara. Jika Niko melihatnya pasti Loli akan dimangsa habis.
Tamu mempelai pria sudah tiba, dah rombongan mereka hanya dua kelurga yaitu Mustafa dan kerabat, serta keluarga Adhitama.
Mereka disambut dengan ramah, Ando pun ikut menyambut mereka karena dirinya mengikuti Olive sebagai dari pihak perempuan.
"Ck, Udah mau sah aja lu bro." Ucap Ando pada Niko, yang mengunakan stelan pakaian berwarna putih gading.
"Ngak usah ngeledek. Masih mending gue nikah belum umur 30 tahun." Jawab Niko dengan mimik wajah meledek.
"Sialan kau. Gini gue banyak yang ngantri." Ucap Ando jumawa.
"Ngantri nunggu giliran servis." Ledek Niko lagi.
Ando semakin kesal, dan memilih pergi dari samping Niko. Dan Niko hanya tertawa melihat kelakuan suami wanita yang pernah ada dihatinya, dan itu dulu tidak dengan sekarang.
"Nagapain muka ku asem kek gitu." Nathan menenggak minuman yang baru saja dia ambil.
istrinya ijin untuk menemui mempelai wanita yang tidak lain juga teman Ayana.
"Niko Sialan..! udah mau nikah masih aja nyebelin.x Kesal Ando cerita dengan Nathan.
"Kalian memang tidak akan akur, sebenarnya ada dendam apa di antara kalian. Heran gue." Ucap Nathan.
"Dia aja yang baperaan, bini gue ngak mau ya sama dia kerena cintanya hanya buat gue." Ucap Ando lagi dengan sangat percaya diri.
"Lu kali narsis, dan menyebalkan." Ketus Natha sambil berlalu pergi.
Ando hanya melongo dengan apa yang Nathan ucapkan. "Sejak kapan dia belajar bicara seperti itu." Gumam Ando.
.
.
__ADS_1
Kembang kopi Bertie 😘😘😘