Love Is Back

Love Is Back
Sabar menunggu


__ADS_3

Olive yang melihat Ando mendekatinya menjadi tersenyum. "Udah nangisnya." Ucap Olive meledek Ando yang tadi seperti anak kecil, sebelum akad nikahnya dimulai.


"Kamu bikin aku spot jantung tau ngak." Ando menangkup kedua pipi Olive sambil menekannya gemas, membuat bibir Olive monyong seperti ikan ******.


"Ahh, kak.." Olive tertawa, dan saat Ando menekan-nekan tangannya dipipi.


Melihat Olive tertawa Ando langsung mendaratkan kecupan dikening cukup lama. Olive yang merasakan hanya diam dengan perasaan hangat yang menjalar ditubuhnya.


"Terima kasih sudah mau menerimaku." Ando menatap wajah cantik Olivia lekat, mengelus pipinya mengunakan jemarinya yang besar. "Meskipun aku ingin marah ketika melihatmu melakukan hal bodoh, tapi sekarang aku bersyukur karena kamu akhirnya menjadi milikku." Tatapan Ando begitu dalam, rasa sesak di dadanya beberapa hari ini terbayar saat melihat senyum dan kenyataan Olive sudah sah menjadi Istrinya.


Olive menyentuh tangan Ando yang mengusap pipinya, gadis itu tersenyum. "Maaf kak, Maafkan aku yang tidak percaya padamu. Aku pikir lebih baik aku tiada dari pada menikah dengan Bisma." Lirih Olive merasa bersalah.


"Jangan lakukan itu lagi, selain aku mencintaimu kamu juga sangat berharga untuk kelangsungan belalaiku."


Bugh


Olive memukul lengan Ando tepat di bagian lukanya.


"Auuwss, sayang sakit." Ando meringis mengaduh sakit.


"Eh, kenapa kak?." Wajah Olive langsung panik, buru-buru tangannya mengusap bekas yang dia pukul tadi.


Ando menggulung kemejanya sampai atas, dan memperlihatkan bekas lukanya yang masih dibalut perban.


"Kak ini kenapa?" Olive menatap nanar luka perban di lengan Ando yang masih basah.


Ando tersenyum melihat wajah khawatir Olive. "Ini bukti cintaku padamu adek." Jawab Ando dengan senyum mengembang.


Olive terkekeh. "Adek, adek kamu pikir aku adikmu." Ketusnya namun sambil tersenyum.


"Lukanya tidak seberapa sakit, tapi melihatmu terbaring pucat tak sadarkan diri membuat sekujur tubuh ku serasa mati rasa." Ando mengutarakan perasaannya saat melihat Olive tak sadarkan diri dengan busa dimulutnya.

__ADS_1


Olive mengembuskan napas kasar, dirinya merasa bersalah dan juga merutuki tindakan bodohnya, beruntung nyawanya bisa diselamatkan, jika tidak pasti dirinya akan menyesal.


"Jangan ulangi lagi, aku benar-benar serasa ingin mati melihatmu seperti itu." Ando menatap sendu wajah Olive.


Tidak bisa dia bayangkan gadis yang dia kejar-kejar untuk mendapatkan cintanya kembali, setelah dirinya merasakan cinta yang hadir terlambat meninggalkannya begitu saja untuk selamanya.


"Emm.. so sweet.." Olive tersenyum lucu mendengar ucapan Ando, dia sengaja melakukan itu untuk merubah ekpresi Ando yang sedih, mendengarnya saja Olive sudah terenyuh, apalagi melihat pria itu sampai terpuruk kemarin.


Cup


Ando langsung mematuk bibir Olive. "Udah sah ngak ada yang larang." Ucap Ando dengan senyum menyeringai.


Olive tersipu malu, ucapan Ando seperti ada udang di balik tepung, ada maksud tertentu yang Ando katakan.


"Ish, jangan modus. Aku lagi sakit." Ucap Olive mengerucutkan bibirnya.


Ando semakin menyeringai, gadisnya sekarang sudah mengerti isyarat yang dia katakan. "Aku sabar sayang, nunggu kamu berbulan-bulan saja belalaiku juga sabar."


Baru saja keluar dari rumah sakit tiba-tiba taksi yang dia pesan mogok, dan Niko harus mengejar waktu untuk sampai bandara.


"Mas tunggu sebentar biar saya pesankan ojek teman saya." Driver gocar yang baik itu menghubungi temanya, dia juga merasa kasihan melihat pelanggannya yang sedang buru-buru untuk sampai di bandara.


"Iya pak, kalau bisa suruh cepat." Ucap Niko dengan wajah yang gusar.


Jika sampai tertinggal dirinya harus menunggu, dan Niko sudah bilang pada adiknya akan pulang sekarang. Bukan tanpa alasan, Niko tidak sanggup menghadapi mood ibu hamil yang seperti reog jika keinginannya tidak dituruti, apalagi saat ini Ayana sedang memesan sesuatu padanya, dan ini adalah tanggung jawab terberat bagi seorang Niko, melebihi tangung jawab mengurus Empang papanya yang puluhan hektar luasnya.


"Mas ini ojeknya." Driver itu menunjukan tukang ojek disampingnya.


"Iya pak terima kasih." Tanpa lama Niko langsung naik dijok belakang, dan menepuk pundak tukang ojeknya.


"Mas buruan antar saya kebandara." Ucap Niko dengan gusar.

__ADS_1


"Ehh, iya mas."


Kendaraan roda dua itu melaju di jalan kota yang ramai, Niko yang merasa kendaraannya melaju pelan membuatnya gemas sendiri.


"Mas, lebih cepat dong, saya bisa ketinggalan pesawat." Niko berteriak agar kang ojek mendengarnya. "Lagian motor butut kok buat ngojek sih." Gerutu Niko yang keras membuat kang ojek mendengarnya.


Tanpa ba-bi-bu kang ojek menarik tuas gasnya dalam, membuat Niko yang belum siap langsung kaget dan memeluk kang ojek erat.


"Rasain salah siapa bilangin motor aku butut." jalanan yang ramai tidak menyurutkan pengemudi motor itu mengurangi kecepatannya, dia menyalip dan mencari celah saat jalanan sedikit padat. Niko yang hanya duduk merasa lemas sendiri saat tubuhnya seperti melayang dan meliuk-liuk bersama kendaraan roda dua di jalanan kota yang ramai.


Karena takut terjadi sesuatu Niko memilih memeluk erat pengemudi ojek dan memejamkan matanya, menjadi penumpang lebih takut dari pada menjadi supir.


Ciiitttttt


Pengemudi ojek menekan rem tangan secara bersamaan hingga membuat tubuh Niko sampai terhuyung kedepan.


"Hah...hah..gila lu bang hampir mati gue." Napas Niko ngos-ngosan, kakinya terasa lemas.


"Makanya jangan menghina motor butut saya mas, kalau sudah begini Anda juga kan yang mabok


" Kesal pengemudi ojek menatap Niko sinis.


"Eh, kamu cewe." Niko terkejut, mendapati pengemudinya ojek itu wanita, sejak tadi dia sudah memanggil mas dan bang, karena dia pikir laki-laki.


"Kenapa kalau cewek? mau anggap lemah?" Sinis wanita itu dengan tajam.


Niko menelan ludah sepertinya dia salah bicara.


.


Kembang kopi boleh ditebar 🤣🤣 ingat malper masih lama si Endut lagi atit, belalainya harus bersabar 😳

__ADS_1


__ADS_2