Love Is Back

Love Is Back
Cara bercocok tanam


__ADS_3

"Hu'um asalkan kamu tidak membuatku terkurung aku tidak akan pergi. Aku suka kebebasan tapi aku juga tahu batasan." Tutur Loli.


Keduanya saling tatap dan tersenyum. Loli memang menyukai kebebasan tapi dirinya juga tahu batasan apa yang harus dia jaga, karena Olive sadar cincin yang melingkar di jari manisnya bertanda dirinya sudah milik orang lain.


"Katakan saja apa yang tidak kamu sukai dari sifatku, maka aku juga akan melakukan hal yang sama kepadamu." Ucap Niko.


Loli mengangguk setuju, mungkin hubungan mereka baru diawal tapi keseriusan mereka sudah menuju jenjang pernikahan.


"Jadi bagaimana konsep pernikahan kita?" Tanya Loli.


"Em, aku tidak tahu. Karena aku hanya meminta papa untuk menyiapkan pernikahan kita Minggu depan." Tutur Niko.


"Ya, ampun kak. Aku belum menyiapkan apa-apa dan kedua orang tua ku bagaimana?" Tanya Loli yang kesal, karena Niko mempercepat pernikahan mereka secara sepihak.


"Ck, kenapa kau memikirkan kesana, semua sudah beres, kamu hanya tinggal mencoba baju pengantin saja, karena besok kita akan menikah saja Dimata agama dan hukum, setelahnya baru kita pikirkan tentang resepsi, bagaimana?" tanya Niko sambil menatap wajah Loli yang tampak berpikir.


Wanita itu masih setia dalam dekapan Niko. "Bagaimana kamu setuju tidak?" tanya Niko lagi.


"Ya sudah aku setuju, tapi nanti saat resepsi aku yang akan menentukan konsepnya." Ucap Loli sambil menatap Niko.


"Terserah apa maumu." Mendengar jawaban Niko tentu saja membuat Loli senang, apalagi seorang wanita pasti memiliki pernikahan impian yang mereka inginkan. Dan Loli pun tidak menyangka jika dirinya akan menikah anak dari juragan tambak ikan terbesar di kota.


"Sekarang mau menginap atau pulang keaparteman." Niko menegakkan tubuhnya, dan Loli melakukan hal yang sama.


"Em, mau keaparteman saja." Loli sudah berdiri di ikuti Niko.


"Tidak pamit sama Mama?" Tanya Loli yang di dorong tubuhnya dari belakang oleh Niko.


"Tidak usah, karena kamu hanya mengganggu mereka saja."


"Memangnya mereka nagapain?" Tanya Loli yang masuk kedalam mobil setelah Niko membuka pintu.


"Mereka sedang bercocok tanam, menyiram padi agar cepat panen."


Ucapan Niko membuat Loli berpikir keras, untuk apa mertuanya malam-malam bercocok tanam.


"Sudah tidak usah dipikirkan, nanti kita praktekkan saja." Ucap Niko yang sudah duduk di balik kursi kemudi, tapi saat masuk mobil dirinya masih melihat Loli yang sepertinya berpikir keras.


Niko hanya tersenyum melihat wajah Loli yang masih bingung, dan tiba-tiba pikiran jail datang diotaknya yang licik.


"Apa kamu mau bercocok tanam denganku?" Tanya Niko sambil fokus menyetir, apalagi malam sudah larut membuat dirinya mengendarai dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


"Memang bisa?" Tanya Loli polos.


Niko semakin mengambangkan senyum, "Bisa, nanti biar aku ajarkan." Niko tersenyum geli dalam hati melihat Loli yang menganggukkan kepala.


Sampainya di basement apartemen, Niko dan Loli keluar dar dalam mobil dan masuk menuju unit tempat tinggal Loli.


Karena sudah malam, keadaan lorong apartemen sangat sepi, dan Niko selalu merangkul Loli sampai di unit apartemen.


"Kak Niko tidak pulang?" Tanya Loli yang melihat Niko ikut masuk keapartemannya.


"Katanya mau belajar bercocok tanam." Ucap Niko sambil mengikuti langkah Loli masuk kedalam kamar.


"Memangnya bisa malam-malam begini, terus bahannya apa saja?"


Loli menaruh tas yang dia bawa, dan melepaskan blazer pakaian yang dia pakai tadi, kini hanya menyisakan tangtop berwarna putih yang melekat di tubuhnya, celana hotpants Levis yang dia pakai membuat terkesan seksi dimata Niko.


Loli tidak sadar jika pria yang sejak tadi berdiri menatapnya sudah menelan ludah kasar.


"Kak, bahanya apa saja biar aku cari?" Tanya Loli lagi yang melihat Niko hanya diam saja, dan kini Loli sudah berdiri didepan Niko.


"Engh, bahannya sederhana sayang." Niko terseyum, dan langsung menarik pinggang ramping Loli untuk dipeluk.


"Kak.." Jantung Loli berdebar saat merasakan napas Niko yang memburu menerpa wajahnya, Loli tahu jika sekarang pria itu sedang bergairah.


"T-tapi kak, sepertinya aku tidak penasaran dengan cara bercocok tanam, em." Diatas kepala Loli tanda sudah berbunyi keras, sepetinya dia salah mengartikan apa arti bercocok tanam.


Niko tersenyum, Loli pasti sudah tahu apa arti bercocok tanam sesungguhnya. "Tidak bisa, kamu sudah membuatnya ingin segera bercocok tanam di sini."


"Ah kak." Loli mendesaahh saat tangan Niko sudah menyentuh miliknya dari balik celana yang dia pakai. Entah kapan pria itu melakukanya tapi Loli benar-benar tidak sadar.


Loli mengigit bibir bawahnya, dengan Niko yang masih memberi sentuhan untuk wanitanya, memancingnya agar tidak menolak bercocok tanam denganya.


"Sebentar lagi kita akan menikah, dan aku ingin memilki buah hati cinta kita." Bisik Niko dengan napas yang sudah memburu panas.


Loli hanya bisa merapatkan tubuhnya diperlukan Niko, kakinya lemas dengan kegiatan jari Niko di bawah sana.


"Kak akuhh." Loli memeluk leher Niko erat ketika gejolak dalam dirinya mulai mendesak untuk keluar, dirinya benar-benar tidak berdaya hanya dengan permainan jari Niko.


"Engh kaaakkkahh." Loli mendesahh panjang dengan tubuh yang lemas, napasnya memburu saling berkejaran.


"Emm enak." Bisik Niko parau. "Sekarang giliran ku."

__ADS_1


.


.


.


"Kak aku boleh bertemu Loli?" Tanya Olive pada suaminya.


Loli membantu memasangkan dasi di leher suaminya, pagi ini Ando sudah bersiap untuk berangkat ke kantor pagi-pagi sekali, padahal masih jam 6 pagi.


"Boleh asalkan dia yang datang, aku tidak menginjinkan mu keluar sendiri, dan aku harap kamu tahu itu."


Olive hanya mengaguk, dirinya paham dan mengerti dengan ucapan suaminya.


"Ya sudah nanti biar Loli yang kemari." Olive menepuk dada suaminya pelan, setelah memasangkan dasi.


"Good girl." Ando terseyum dan memberi kecupan dipipi Olive.


"Kau berangkat, dan hati-hati dirumah. Jika ada apa-apa segera hubungi aku." Ando mengusap perut Olive dan menciumnya langsung bersentuhan dengan kulit perut Olive, karena Ando menyibak kaos yang Olive pakai.


"Hm, hati-hati papa." Ucap Olive saat mengatakan suaminya didepan pintu apartemen.


"Siap jagoan.." Ando tertawa.


"Ihh belum tentu dia jagoan kak, bisa jadi princess." Jawab Olive.


"Apapun itu, yang penting dia sehat."


Keduanya terseyum dan sama-sama mengusap perut buncit Olive.


Tak lupa sebelum pergi Ando mengecup kening dan memberi lumattan dibibir Istrinya untuk memberinya semangat pagi.


"Dah papa.." Olive melambaikan tangannya, saat Ando ingin masuk kedalam lift, hingga pintu lift terbuka Olive baru masuk kedalam.


Tidak tahu suaminya ada pekerjaan penting apa, hingga membuat suaminya berangkat sepagi ini. Padahal tadi malam mereka cukup tidur larut tapi suaminya sudah siap dipagi buta


Dari pada memikirkan suaminya yang tidak tahu sibuk apa, Olive memilih mengirim pesan pada Loli untuk datang keapartemannya, dan sambil menunggu waktu Olive memilih untuk membuat makanan ringan.


.


.

__ADS_1


Next... jangan lupa kembang kopi 💋


__ADS_2