
Sampainya dirumah sakit Olive langsung dilarikan ke UGD, wajah Olive sudah nampak begitu pucat.
"Bos." Boby menghampiri Ando yang berdiri mondar mandir didepan pintu UGD, Susi dan Faisal juga ikut bersama dengan mobil Boby.
Boby yang tidak tega melihat wajah Ando memilih pergi untuk memanggil dokter, pria itu memaksakan diri padahal dirinya juga butuh perawatan intensif apalagi peluru dilengan Ando belum dikeluarkan Boby takut jika terjadi sesuatu pada bosnya itu.
"Olive Pah." Susi tak bisa menghentikan air matanya sejak pertama melihat putrinya tergeletak tak sadarkan diri. Faisal hanya bisa menenangkan meskipun dirinya juga begitu khawatir.
"Dok tolong tangani tuan saya," Ucap Boby yang sudah berdiri dibekang Ando.
Ando yang sedang berdiri menyandarkan tangannya yang tidak terluka untuk menyadarkan keningnya menoleh. "Boby." Ucap Ando pelan, dan saat itu juga pria itu jatuh tak sadarkan diri.
"Bos."
"Nak Ando!"
Susi dan Faisal juga terkejut, dan langsung membantu Ando untuk dinaikkan ke atas brankar untuk menuju ruang operasi.
Diruangan yang berbeda keduanya sama-sama dalam keadaan kritis, peluru yang bersarang di lengan Ando semakin dalam dan hampir mengenai organ vital, karena Ando memaksakan untuk mengendong Olive saat keluar dari rumah tadi.
Sedangkan Olive, dokter sedang berusaha untuk mengeluarkan racun atau menetralisir racun yang hampir menyebar ditubub Olive, denyut nadi Olive sudah begitu lemah, kemungkinan kecil untuk Olive melewati masa kritisnya, dan sekarang dokter sedang bekerja keras untuk menyelamatkan para pasiennya.
Boby ikut menunggu bersama Susi dan Faisal, Boby juga menghubungi Nathan yang juga termasuk majikanya, karena Boby memang bekerja pada dua pria itu yang selalu mengandalkannya.
Faisal melirik pria tinggi dan bertubuh kekar yang duduk tak jauh darinya, dengan keberanian Faisal bertanya.
"Tuan kau itu siapa?" Tanya Faisal yang penasaran, kenapa tadi banyak sekali pria bertubuh kekar dan menggunakan pakaian serba hitam.
Boby menoleh dan mengenakkan dirinya. "Saya Boby pak, saya ditugaskan bos Ando untuk menjaga putri anda selama di Surabaya."
Deg
Faisal dan Susi saling menatap, mereka tidak tahu jika selama tinggal di Surabaya putri mereka dijaga oleh orang suruhan Ando, dan itu membuat Faisal dan Susi merasa terharu.
"Menjaga Olive." Ucap Susi yang di angguki oleh Boby.
"Bukan hanya menjaga, tapi kami juga bekerja untuk menjaga keluarga nona Olive dari orang-orang yang akan berbuat jahat."
__ADS_1
"Kami, maksud anda_" Tanya Faisal.
"Saya tidak sendiri, saya bersama keempat teman saya." Terang Boby.
Glek
Faisal kembali menelan ludah kasar, dirinya tidak percaya jika Ando mengirim bodyguard untuk menjaga rumah beserta isi yang Olive tinggali.
sungguh Faisal merasa beruntung putrinya bisa mengenal pria seperti Ando. Dirinya tidak bisa melindungi putrinya, tetapi ada pria yang begitu tulus menjaga putrinya.
"Putri bapak beruntung mengenal dan dicintai bos Ando, dia rela melakukan apapun untuk putri bapak, sayangnya putri bapak tidak percaya jika bos Ando tidak akan mungkin merelakan gadis yang dia cintai menikah dengan orang lain, sampai-sampai putri bapak harus menelan obat sampai over dosis." Terang Boby sedikit menceritakan perjuangan bos-nya itu. Boby menyayangkan tindakan Olive yang ceroboh, gadis itu tidak memikirkan bagaimana perasaan bosnya.
Selama menjadi mata-mata Olive, Boby tahu bagaimana bos-nya itu menyuruhnya untuk menjaga gadis itu dari apapun, Terumatama dari pria-pria yang akan mendekatinya.
Faisal menunduk dirinya memang tidak terlalu dekat dengan Ando, tapi Faisal juga bisa melihat jika pria yang sudah berkorban untuk putrinya itu memiliki perasaan yang tulus.
Setelah hampir dua jam pintu UGD dan ruang operasi sama-sama terbuka, mereka langsung berdiri menghampiri dokter yang baru saja keluar.
"Dokter bagaimana keadaan anak saya?" Tanya Faisal sambil memeluk bahu Susi.
Susi tiba-tiba tak sadarkan diri mendengar ucapan dokter barusan, Faisal membawa istrinya dibantu oleh perawat untuk mendapatkan penanganan.
"Bagaimana Dok?" Tanya Boby yang juga menanyakan keadaan Ando.
"Peluru di lengan pasien sudah kami keluarkan, meskipun tadi sempat mengalami kendala, karena denyut jantung pasien melemah." Boby mengusap wajahnya kasar, mendengar penuturan dokter barusan. "Tapi semua sudah terlewat, meksipun kondisi pasien masih dalam perawatan intensif, pasien sudah melewati masa kritisnya."
Meskipun begitu Boby belum merasa lega, karena ternyata Ando belum sadarkan diri. Tapi mengingat bosnya sudah melewati masa kritis membuat Boby sudah merasa lega.
Ando dipindahkan keruang rawat dengan perawatan insentif. Pria itu terbaring tak berdaya diranjang rumah sakit, melihat itu Boby merasa iba, jika biasanya sifat menyebalkan kan tengil seorang Ando mampu membuatnya sebal, tapi untuk saat ini Boby lebih prihatin.
"Boby..!"
Boby yang ingin masuk keruangan inap Ando menoleh kebelakang, ternyata Nathan dan kedua orang tua Ando datang bersama.
"Tuan." Boby sedikit menunduk untuk memberi hormat.
"Bagaimana? apa dia baik-baik saja." Tanya Nathan dengan kedua orang tua Ando.
__ADS_1
Leard Mama Ando sudah menangis diperlukan suaminya.
Mendapat kabar jika putranya mengalami kecelakaan, Bagas dan Leard langsung ikut bersama Nathan untuk terbang ke Surabaya.
Nathan juga harus membujuk Istrinya yang ingin ikut untuk menjenguk sahabatnya, tapi Nathan tidak mengijinkan hal itu karena Istrinya sedang hamil dan Nathan tidak ingin terjadi sesuatu untuk kedua kali pada kehamilan istrinya.
"Dokter bilang bos Ando sudah melewati masa kritisnya, tapi beliau belum sadarkan diri." Tutur Boby membuat Nathan lega.
"Lalu bagaimana dengan Olive?" Tanya Nathan.
Boby saat menelpon sempat menjelaskan kronologinya, tentang Ando dan juga Olive.
"Nona Olive masih kritis."
Nathan mengusap wajahnya kasar, bagaimana dirinya akan bicara pada Istrinya, karena janjinya sebelum berangkat, dia akan melakukan panggilan Vidio call untuk melihat keadaan sahabatnya.
Kedua orang tua Ando masuk kedalam ruang inap, Leard tidak bisa menahan tangisnya. "Katanya kamu pergi untuk menjadi pangeran, tapi kenapa kamu malah menjadi pemain pengganti yang kalah." Kesal Leard mengingat ucapan Ando sebelum mengantar Olive ke Surabaya.
"Dan lihatlah, kau saja tidak bisa melindungi dirimu bagaimana bisa kau melindungi wanitamu." Ucap Leard sambil mengusap ingusnya.
Nathan dan Boby saling lirik, merasa heran dengan ucapan wanita bule yang notabenenya ibu dari Casanova mendadak insyaf itu.
"Boby apa nyonya Abisatya mulai geger otak." Bisik Nathan disamping Boby.
"Mungkin otak nyonya masih tertinggal di dalam pesawat tuan."
Plak
Boby mendapat hadiah pukulan dari Nathan.
"Kualat kamu Boby, durhaka jadi anak buah." Kesal Nathan.
.
.
Butuh SAJEN kembang kopi, Otor ini masih lembur untuk part selanjutnya ðŸ˜
__ADS_1