Love Is Back

Love Is Back
Membuatnya nikmat


__ADS_3

"Jadi suamimu keluar kota?" tanya Bagas pada menantunya.


"Iya lah, sudah empat hari sih." Jawab Olive sambil tersenyum.


Mereka bertiga sedang duduk dimeja makan, kenapa hanya bertiga karena Andien sudah lebih dulu ijin dan dijemput temanya.


"Kenapa kamu kesini sekarang, jadi kamu tinggal sendiri di apartemen." Leard memberikan gelas air minum untuk suaminya.


Mereka makan malam sambil berbincang hangat. Dan Olive juga merasa nyaman berada di antara mereka, tidak ada rasa canggung yang membuat jarak.


"Kemarin kerumah Mama, dan sekarang Olive kesini, tidak apa-apakan mah." Olive menatap Mama mertuanya.


Leard tersenyum, "Tidak apa-apa sayang, justru Mama senang kamu datang, lain kali sering-sering kesini, apalagi suamimu itu orang sibuk padahal bukan bos." Ucapan Leard membuat mereka tertawa ruangan.


"Iya mah, kak Ando kerjanya ngalah-ngalahin bos." Jawab Olive seadanya.


Mereka kembali melanjutkan makan malamnya, Olive menatap kedua mertuanya bergantian, sepertinya yang dirasakan sahabatnya pasti juga seperti ini, memiliki mertua yang baik dan hangat, menerima dirinya yang dari keluarga sederhana.


"Kamu menginap kan." Leard berdiri disamping Olive setelah keduanya membereskan meja makan dan mencuci bekas piring mereka yang kotor.


Meskipun memiliki Art tapi kebiasaan Leard membersihkan sisa makanannya sendiri.


"Iya mah, sesekali Olive ingin menginap. lagi pula besok Olive kuliah siang."


Leard tentu saja senang." Oya.. ngomong-ngomong bagaimana anak Mama, apakah emm." Lead mengangkat tangannya seperti memberi semangat, tapi dengan arti lain.


"Apa Mah?" Olive yang tidak mengerti kembali bertanya.


"Emm, itu diranjang apa Ando tahan lama." Ucap Leard dengan nada berbisik. Takut jika ada orang yang tak terlihat mendengarnya.


Olive membulatkan kedua matanya, dengan mulut terbuka lebar, bisa-bisanya Mama mertuanya menanyakan hal seperti itu.


"Mahh.." wajah Olive merah merona, dirinya merasa malu jika membahas masalah ranjang.


"Eh, tapi tunggu. kalian sudah emm kikuk-kikuk kan." Leard menyatukan kedua tangannya yang menguncup.


"Emm itu." Ekspresi Olive tampak malu-malu, dan Leard yang mengerti langsung terseyum lebar.


"Ahhh Mama sudah tau, tidak sabar Mama ingin punya cucu dari kalian."


Olive melihat wajah bahagia Leard juga ikut tersenyum, dirinya merasa lega karena keputusannya tidak menunda momongan adalah keputusan yang tepat.


Meskipun nanti akan mengorbankan kuliahnya, setidaknya dirinya akan banyak membuat orang disekelilingnya bahagia.


"Iya mah, doakan saja."


"Iya sayang, Mama pasti akan doakan."


Dibandara..


Ando baru saja keluar dari bandara, pria itu menuju taksi yang baru saja berhenti untuk menurunkan penumpang, dan karena malas menunggu, dirinya langsung masuk saja.


"Ke apartemen xxx pak." Ucap Ando pada supir taksi.


"Baik tuan."


Ando menghidupkan ponselnya yang memang tidak dia aktifkan, dirinya menghubungi nomor sang istri.


"Ck, Udah jam 11 pasti udah tidur."


Mengingat Olive suka tidur cepat, dirinya yakin Istrinya itu pasti sudah terlelap dibalik selimut.


"Belikan apa ya." Ando tampak berpikir sepanjang jalan menuju apartemen, dirinya lupa untuk membelikan Olive oleh-oleh, karena sibuk dengan pekerjaan agar cepat selesai. Dan kini dirinya lupa membawakan oleh-oleh. karena menurut pengalaman yang dia jalani dulu saat menjadi casanudin, dirinya selalu di mintai oleh-oleh.


"Udah pada tutup semua." Gumamnya yang melihat beberapa toko sudah tutup disaat jam malam seperti ini.


Mobil taksi yang ditumpanginya berhenti didepan Lobby apartemen, Ando keluar setelah membayar ongkos.

__ADS_1


"Hah akhirnya pulang ke rumah." Perasanannya begitu senang.


Ando tidak sabar ingin bertemu Istrinya, siapa bilang dirinya tidak rindu guling hidupnya yang hampir satu bulan menemaninya, dah sekarang rasa rindunya semakin besar karena mereka jarang berkomunikasi, terakhir saat dirinya terluka dan itupun berakhir dengan Olive yang marah.


Menekan kode password, tanpa menunggu lama pintu apartemen miliknya terbuka. Sepi dah gelap memang itulah suasana saat malam, tapi dirinya yakin jika istrinya sedang berada di kamar.


"Sayang..." Ando masuk kekamar tapi tidak ada siapa pun. "Kenapa kosong." Ucapnya yang sudah merasa gusar.


Langkah kakinya menuju kamar mandi, tapi juga tidak ada siapa-siapa.


"Apa dia kerumah Mama." Pikirnya lagi yang mengingat mungkin saja Olive berada dirumah kedua orang tuanya sendiri.


Ando mencoba untuk menghubungi nomor ibu mertuanya, di sana terdengar nada tersambung hingga bunyi kelima Ando baru mendengar jawaban.


"Mah, maaf mengganggu. Apa Olive menginap disitu?" Tanya Ando tho the poin.


"..."


"Tidak ada, hanya saja aku baru pulang dari luar kota, yasudah mah kalau tidak ada, maaf menganggu." Ando menghela napas dalam, memikirkan kemana istrinya pergi.


"Andien." Ando mengingat adilnya, pria itu menghubungi nomor Andien satu kali tidak mendapat jawaban, hingga panggilan kedua kaki terdengar suara Andien.


"Ndien apa kakak iparmu di sana?" Tanya Ando langsung.


Mendengar ucapan Andien, dirinya bernapas lega.


"Yasudah kakak kesana."


Ando kembali merasa lega, beruntung Andien mau menjawab telepon darinya meskipun suara adiknya terdengar parau, mungkin saja Andien sudah tidur dan terbangun karena dirinya menelpon.


Tanpa menunggu nanti, Ando segera menuju basement untuk menggunakan mobilnya sendiri.


Mengendarai disaat malam hari tidaklah lama, jalanan yang sepi membuatnya tidak membutuhkan waktu lama.


Sampainya dirumah yang dia berikan untuk kedua orang tuannya, Ando langsung memakirkan mobilnya, setelah pintu gerbang dibuka.


"Mama dan papa sudah tidur bik?" Tanya Ando pada art yang membukakan pintu.


"Sudah den."


Ando hanya mengangguk saja, dirinya kembali berjalan menuju kamarnya, dia yakin Istri yang dia cari sedang berada di kamarnya.


Ceklek


Pintu dibuka, dan benar dirinya melihat Olive yang meringkuk di bawah selimut tebal miliknya.


Bibirnya melengkungkan senyum, hingga membuatnya tidak sabar untuk mendekat.


"Ck, tidur aja cantik, tapi memang kamu cantik. apalagi setelah beberapa hari aku tidak melihatmu." Ucapnya didepan wajah Olive.


Ando berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakinya. Dia juga mengganti pakaiannya dengan kaus tanpa lengan dan celana boxer saja.


"Sabar ya Lai masih ada dua hari lagi kamu harus puasa, setelah itu kamu akan mendapatkan apapun yang kamu mau." Ucapanya sambil menatap Olive dan belalainya yang menonjol meskipun sedang tidur. Perpaduan darah Asia dan blasteran bule membuat belalai Ando berukuran tidak seperti pria Asia pada umumnya.


Perlahan dirinya naik ke atas ranjang, pria itu mendekap tubuh Istrinya yang tidur membelakanginya, Ando memeluk dan menghirup aroma rambut Olive yang dia rindukan.


"Engh."


Olive mengeliat, karena merasakan pelukan seseorang dan ceruk lehernya terasa dikecup kecil dan terasa basah.


"Tidur lagi sayang masih malam." Ando mengusap lengan Olive. Wajahnya masih pada posisi yang sama, hingga napas hangat Ando terasa dikulit leher Olive.


"Kak.."


"Hmm.."


Hening, keduanya meresapi keheningan yang tercipta. Ando memilih diam dan menyalurkan rasa rindunya dengan menghirup aroma tubuh istrinya, sedangkan Olive beberapa kali mengerjap mencoba untuk mengumpulkan nyawanya.

__ADS_1


"Kak Ando sudah pulang." Suara Olive terdengar lagi.


Ando mendongak, dan kini tatapan keduanya bertemu, "Sudah, baru saja." Ando terseyum dana mengecup pipi, kening dan terakhir bibir Olive sekilas.


Olive menatap wajah suaminya, wajah yang memang beberapa hari dia rindukan, bukan hanya wajahnya saja tapi keberadaan pria yang sudah menemaninya hampir satu bulan ini.


Olive sudah terbiasa dengan statusnya, dan sebenarnya dirinya tidak bisa tidur sebelum Ando memeluknya, dan saat suaminya pergi Olive memaki kemeja Ando agar dirinya bisa terlelap.


Olive membalas senyum dari suaminya, meksipun jika berkomunikasi lewat ponsel suaminya sering membuatnya kesal tapi jika seperti ini dirinya tidak bisa berkata kecuali satu.


"Aku rindu kak." Ucapnya dengan mengembangkan senyum.


Ando yang mendengar tak kalah senyum lebar, dirinya juga senang.


"Hem aku juga." Tangan besar Ando mengelus wajah Olive. "Kamu bikin perasaan dan pikiranku tidak karuan karena melihatmu kesal." Ando mengingat percakapan mereka ditelpon beberapa waktu lalu.


"Tapi aku tidak salah, kamu yang selalu berbohong." Olive mengerucutkan bibirnya, jika mengingat itu rasa kesalnya akan muncul lagi.


"Sudahlah tidak usah dibahas, dari pada mulut kita untuk bicara, lebih baik untuk bekerja saja."


Ucapan Ando membuat Olive mengernyit bingung.


"Mulut bisa bekerja untuk apa? makan, minum dan_" Olive bicara sambil berpikir, dan saat itu juga matanya membulat mengerti akan ucapan suaminya.


Ando yang melihat ekpresi Olive tersenyum menyeringai. "Belalai ku masih dalam masa puasa dua hari lagi, tapi mulut ku ini yang selalu bisa membuatnya berkedut dan meledak."


Bugh


"Ihh.. pikiran kamu mesum kak." Meskipun bibirnya ngomel, tapi ekspresi wajah Olive menunjukan jika dirinya merasa malu.


"Aku suka sayang, jadi jangan menolak apapun yang aku berikan malam ini."


Ando langsung mengajukan wajahnya hingga bibir keduanya saling menempel dan menyesap satu sama lain, Posisi Olive yang dibawah kungkungan suaminya, membuat tanganya melingkar di leher Ando.


Lidah keduanya saling membelit dengan bibir yang mencecap rasa manis didalamnya, hingga semakin lama ciuman mereka semakin dalam dengan gairah yang semakin naik.


Tangan Ando berada didada Olive, Ando menatap wajah Olive yang sudah sayu dan terdengar desahann kecil dari bibirnya saat tangannya meremat dan memijat kelembutannya lembut.


"Kamu sengaja memakai kemejaku hm." Ucap Ando dengan suara rendah dan napas memburu.


Kemeja putih yang kebesaran dah tiga kancing teratas terbuka, membuat belahan gunung kembarnya terlihat. Apalagi pucuk dadanya yang sudah mencuat membuat tatapan Ando semakin menggelap.


"Tidak," Olive menggeleng dengan wajah pasrah, bibirnya terbuka sedikit dengan desisan halus yang terdengar di telinga Ando. "Aku memakainya agar aku bisa tidur."


Ando tersenyum, dia senang mendengar pengakuan sang istri.


"Maaf kak aku meminjamnya_ Ahhh."


Ando tersenyum dibalik kegiatan yang dia lakukan, pria itu menyesap dan mengulum pucuk bulatan melon dan balik kemeja putih yang terlihat transparan.


"Ahhh kak, geli."


Sensasi yang Ando berikan membuat Olive tak kuasa bergerak gelisah dengan kedua tangan mencekram rambut suaminya.


Sensasi geli dan nikmat membuat miliknya terasa gatal.


Bagaimana rasanya bisa begitu nikmat, Lidah basah Ando bermain diatas permukaan kemeja yang sudah basah dibagian dadanya, basah karena ulah bibir suaminya.


"You will I can not stop screaming honey."


"Ahhh yaahh."


.


.


Awowok-awowok🤣

__ADS_1


__ADS_2