
"Niko.."
Niko yang merasa namanya dipanggil menoleh, dan melihat Ando yang berdiri tidak jauh darinya.
Niko mengernyitkan keningnya. "Ada apa?" Tanya pria itu dengan wajah datar.
Olive hanya diam tanpa berbalik tangannya mencengkram erat lengan Niko. Suara Ando tidak berubah dan Olive masih sangat bisa mengenali suara pria itu.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Ando dengan menatap gadis yang masih membelakanginya.
Niko yang mengerti tatapan Ando, melirik Olive yang masih diam tanpa mau menoleh kebelakang.
"Ck, apa kau buta tidak bisa melihat ini tempat apa." Ketus Niko dengan wajah datar.
Ando mengehela napas, mencoba untuk menahan kekesalannya.
"Ya, maksudku kau bersama siapa?" Tanya Ando lagi yang belum mengalihkan tatapannya pada gadis berambut panjang itu.
"Apa peduli mu, itu tidak penting." Niko meraih tangan Olive untuk dia genggam.
"Lebih baik urusi saja masalahmu, dia kekasihku tidak sopan kau menatapnya seperti itu." Tegas Niko dengan tatapan tajam.
Niko membalikkan tubuhnya dan mengandeng tangan Olive untuk pergi dari hadapan Ando.
Olive tersenyum, saat Niko menatapnya juga dengan senyum. Beruntung Niko masih menolongnya seperti dulu, dimana mereka harus berpura-pura menjalin hubungan agar Ando menjauhi Olive.
"Tunggu dulu.!" Ando mencekal tangan Olive membuat Niko dan Olive berhenti.
"Kau..!" Niko menatap tajam Ando yang berani menyentuh tangan kekasihnya. Kekasih pura-pura.
Ando yang sadar langsung melepaskan cekalannya.
"Aku hanya ingin lihat siapa gadis yang kau bawa." Ucap Ando tanpa menghiraukan tatapan tajam Niko. Dia lebih penasaran dengan gadis yang sejak tadi hanya diam tanpa menoleh ke arahnya.
Dan itu semakin membuat Ando curiga, jika dugaannya benar.
"Apa hak mu, dia kekasihku tidak sepantasnya kau tahu." Tegas Niko dengan tatapan tajam.
"Tapi_"
"Tuan pesanan anda sudah selesai..!"
__ADS_1
Ando yang mendengar menoleh kebelakang, dan benar pesanan makanan yang dia pesan sudah jadi.
"Iya pak sebentar!" Teriak Ando pada penjual itu.
Ketika Ando menoleh, Niko dan Olive sudah tidak ada membuatnya kesal.
"Sial! mereka sudah pergi." Makinya yang semakin membuat Ando penasaran dan yakin jika gadis yang bersama Niko adalah Olive.
"Hufh, untung ngak Ketahuan." Ucap Olive yang sudah duduk di kursi penumpang mobil Niko.
"Kenapa? kamu takut bertemu dia?" Tanya Niko yang mulai menjalankan mobilnya.
"Ck, kamu tahu sendiri dia seperti apa. jadi tidak usah meledek." Kesal Olive karena melihat senyum Niko yang meledeknya.
"Sepertinya selama ini dia masih menunggumu." Ucap Niko yang melihat tatapan Ando tadi.
"Mana mungkin pria Casanova seperti buaya itu masih mengingatku." Jawab Olive tenang.
Hatinya juga merasa demikian, untuk apa Ando mencurigai dirinya dan tidak membiarkan dia dan Niko pergi, apalagi Ando seakan yakin jika tadi benar dirinya.
"Buktinya dia penasaran dengan gadis yang aku bawa."
Sebagai seorang pria Niko bisa melihat jika Ando menyakini gadis yang dia bawa adalah Olive.
Niko mengehela napas. "Rasa kecewa mengajarkan kita bahwa kehidupan itu dinamis, mudah berubah dan berpindah. Jadi, berharaplah sewajarnya, mencintai sewajarnya, dan bahagialah sewajarnya. Sebab esok masih dalam tanya, entah dikeadaan yang sama atau sebaliknya." Ucap Niko bijak.
Pelajaran hidup yang dirinya lalui membuatnya semakin dewasa dan mengerti.
Olive mencerna ucapan Niko, gadis itu membenarkan ucapan Niko, tapi dirinya juga belum sanggup untuk bertemu dengan Ando, pria yang sekarang masih menempati hatinya.
"Tidak baik lari dari keadaan, lebih baik selesaikan dan setelahnya kau tidak akan bersembunyi terus."
.
.
"Liv mau kemana?" Tanya Susi yang melihat Olive berjalan menuju pintu.
"Mau ke minimarket depan mah." Jawabnya dengan berbalik.
"Sekalian belikan Mama koyo, pungung Mama terasa pegal-pegal." Susi menyentuh punggungnya yang memang terasa pegal.
__ADS_1
"Em, baiklah."
Olive keluar dari rumah, gadis itu mengenakan jaket dengan celana pendek dibawah lutut.
Jam masih menunjukkan pukul delapan malam, dirinya ingin membeli sesuatu untuk menemaninya menonton tv.
Karena baru sampai di Jakarta stok makanan yang biasa dia beli kebetulan habis.
"Ternyata benar kamu."
Deg
Kaki Olive berhenti melangkah, tumbuhnya menegang dengan jantung yang berdebar kencang.
Ando menatap punggung Olive yang berhenti didepanya.
Setelah pulang kerumah dan membersihkan diri, Ando yang masih dihantui rasa penasaran pergi kerumah Olive, sejak satu jam dirinya menunggu didepan rumah Olive, memakirkan mobilnya sedikit jauh dari rumah Olive.
Gila memang, tapi memang itulah Ando yang dihantui rasa penasaran.
"Kamu kemana saja." Ando melangkah kakinya dua langkah mendekati Olive.
Kini jarak keduanya begitu dekat, hanya berjarak satu langkah.
Olive memejamkan matanya, mencoba mengatur debaran jantungnya agar wajahnya terlihat biasa saja, tidak ingin Ando melihatnya tegang.
Ketika merasa sudah lebih tenang, Olive membalikkan tubuhnya, dan tatapan keduanya bertemu.
Ando menatap wajah Olive, dari atas sampai bawah dirinya melihat jika Olive banyak mengalami perubahan.
"Apa kabar kak." Tanya Olive dengan mimik wajah santai.
Ando masih diam tatapnya menelisik penampilan Olive yang banyak perubahan, tubuh kelebihan daging sudah tak ada, kini gadis gendut dulu berubah menjadi gadis cantik dengan tubuh yang ideal.
Olive masih diam, meskipun jantungnya tak biasa, sebisa mungkin dirinya menunjukan wajah biasa saja.
"Duh kenapa malah semakin tampan sih." Ucap Olive dalam hati, dan merutuki kebodohannya yang masih menganggumi pria dewasa itu.
.
Olive setelah kurus ðŸ¤
__ADS_1