
Waktu begitu cepat malam sudah berganti dengan pagi, dan kini waktunya sudah menunjukan pukul tiga menjelang sore. Ando baru saja sandarkan diri setelah semalam terlelap hingga menjelang sore.
Pria itu masih mengumpulkan kesadarannya, kepalannya masih terasa sedikit pusing hingga membuatnya belum mengingat semuanya apa yang sudah terjadi.
"Nak minum dulu." Leard membantu Ando untuk minum air putih setelah sadar, tentu saja Leard merasa lega melihat putranya yang sudah terbangun dari tidur panjangnya, hingga membuatnya khawatir.
"Mama." Gumam Ando masih terdengar lirih.
"Kamu mengingat Mama? Aku pikir kamu amnesia setelah cukup lama tertidur." Ucap Leard sambil menaruh gelas sisa minum Ando.
Ando mengusap kepalanya yang masih pusing, rasanya begitu berat.
"Istirahat lah jika masih pusing." Ucap Leard yang mengerti, jika reaksi obat masih Ando rasakan.
Ando kembali memejamkan matanya, tapi sedetik kemudian kedua matanya kembali terbuka.
"Mah, kenapa aku bisa dirumah sakit dan_ Olive!!" Pekik Ando yang baru saja mengingat Olive.
"Hey, mau apa!" Leard langsung panik saat Ando langsung duduk dan ingin turun dari ranjang pasien.
"Arrgh." Ando merasakan tangannya begitu sakit saat tidak sengaja untuk menopang tubuhnya.
"Ya ampun Ando, lukamu masih basah kau itu tidak bisa diam." Leard malah mengomel.
"Mah, aku mau mau ketemu_"
"Tidak, Mama tidak mengijinkannya." Tegas Leard yang kesal, karena Ando tidak memperdulikan kesehatannya sendiri.
"Tapi Mah, Olive sedang_"
"Mama bilang tidak ya tidak, Are you deaf huh..!!"Ucap Leard menatap Ando tajam.
__ADS_1
"Mom, please..!!" Ando menampilkan wajah memelas, Leard melengos dan memilih untuk duduk di sofa dirinya kesal.
Ando tak bisa lagi berkutik saat tiba-tiba pintu ruangan dibuka dan papanya masuk kedalam.
"Kau sudah melek rupanya." Ucap Bagas yang mendekati ranjang Ando.
Ando mendengus mendengar ucapan papanya yang seenak jidat.
"Aku ini baru bangun loh Pah, tapi papa sudah membuatku kesal." Ucap Ando melirik Bagas sinis.
"Dih gitu aja lemah." Sindir Bagas dengan wajah menyebalkan.
Ando tak menggubris perkataan papanya lagi, dia memilih mencari ponselnya.
Leard dan Bagas hanya memperhatikan Ando yang sibuk dengan ponselnya.
"Papa tadi dari mana?" Tanya Leard yang sedang makan roti sambil minum kopi yang Bagas bawa.
"Menjenguk Olive, tapi tidak disangka papa malah bertemu dengan senior papa." Ucap Bagas mengingat pertemuan nya tadi.
"Teman Papa dulu, tapi waktu papa magang dia sudah menjadi senior."
Flashback
Bagas dan Nathan keluar dari ruangan Ando setelah Nathan pamit untuk kembali ke Jakarta. Dirinya tidak bisa lama-lama meninggalkan perusahaan, apalagi Ando juga tidak ada di sana, oleh karena itu selama Ando pergi Nathan tidak bisa kemana-mana.
"Pah, Nathan pamit dulu, titip salam untuk Ando jika sudah sadar." Ucap Nathan ketika akan pamit.
"Terima kasih nak, sudah mau menemani kami kesini." Bagas menepuk punggung Nathan.
"Sama-sama pak, kalau ada apa-apa cepat hubungi saya."
__ADS_1
Setelah mengiyakan, Nathan pun pergi untuk kembali ke Jakarta.
Bagas yang ingin masuk lagi mengurungkan niatnya, dirinya ingin melihat keadaan Olive yang katanya kritis.
Sampainya didepan ruangan Olive, Bagas hanya bisa melihat dari pintu yang terdapat kaca, karena rungan yang Olive tempati adalah rungan yang tidak boleh sembarangan orang masuk.
"Anda siapa?"
Bagas membalikkan tubuhnya saat mendengar suara seseorang dari belakang.
"Oh, maaf. perkenalkan saya Bagas papanya Ando." Bagas mengulurkan tangan pada Faisal, dan Faisal juga menyambutnya dengan hangat.
"Bagas?" Ucap seseorang yang sejak tadi menelisik Bagas.
Bagas menatap wanita yang sudah sepuh tapi masih sehat diumur nya yang sudah kepala 6.
"Ibu Rasti." Ucap Bagas yang ingat wanita didepanya itu.
"Jadi pria yang itu anak kamu?" Rasti sedikit terkejut mendengar Bagas tadi menyebutkan nama anaknya.
Jadi selama ini Olive dekat dengan anak asuhnya saat magang di desanya.
Flashback off
"Terus bagaimana? papa marahi dia tidak." Ucap Leard yang kesal. Karena ulah nenek-nenek itu putranya jadi kena masalah.
"Kalau papa marah, bagaimana bisa anak kita dapat restu mah." Ucap Bagas sambil tersenyum.
"Jadi papa sudah?"
"Ya, tapi Mama diam saja. Tidak usah beri tahu sendal jepit itu." Bagas merangkul Istrinya, dengan senang hati Leard menyambut pelukan suaminya.
__ADS_1
Ando mendengus kesal melihat keromantisan kedua orang tuanya, dirinya sudah tidak tahan ingin melihat keadaan Olive.
"Mumpung mereka masih bucin, mendingan gue kabur dah."