
Sejak didalam mobil menuju bandara Olive hanya diam saja mengabaikan Ando yang sejak tadi mencoba untuk mengajaknya bicara.
"Hey kau marah padaku." Tangan Ando menyentuh dagu Olive untuk menatapnya. Sejak masuk dan duduk di dalam pesawat Olive sama sekali tidak mau melihatnya bicara pun juga tidak.
Olive menatap malas, dirinya membuang pandangannya kelain arah meskipun wajah keduanya saling berhadapan.
Ando menatap lekat wajah Olive, dirinya tahu jika Olive sedang marah, "Olive dengarkan aku." Kedua tangan Ando menangkup wajah Olive, memaksanya untuk menatap wajahnya.
"Dengar, masalah tidak akan selesai jika kamu lari." Ucap Ando pelan. "Jika kamu seperti ini maka kmu tidak akan mendapatkan apa yang kamu inginkan, kita harus hadapi apapun masalahnya, percayalah semua akan baik-baik saja." Ando berharap Olive mengerti, jika terus kabur pasti masalah tidak akan selesai.
"Maaf jika aku membuatmu kecewa dan marah, tapi percayalah jika aku melakukannya untuk kebaikan kita." Ando meraih bahu Olive untuk dipeluk, Olive tidak merespon dirinya hanya diam mencerna ucapan Ando.
Ando sendiri tidak akan membiarkan wanitanya jatuh kepada pria seperti Bisma, jika saja pria yang dijodohkan Olive adalah pria baik dan membuat wanitanya bahagia mungkin saja Ando bisa merelakanya. Tapi jika modelan Bisma yang dijodohkan, jangan harap dirinya akan terima dan diam saja.
Setelah satu jam lebih menempuh perjalanan di udara. Kini keduanya sudah berada didalam mobil menuju kediaman nenek Olive.
"Kak aku belum mau pulang." Ucap Olive yang duduk disamping Ando.
Keduanya duduk di kursi penumpang belakang. "Kenapa?" Tangan Ando mengusap rambut Olive lembut.
__ADS_1
Olive hanya menggeleng, dirinya mengeratkan pelukannya pada tubuh Ando.
Ando menggelar napas. "Baiklah kita kehotel saja." Ucap Ando pada supir taksi didepan.
Entah mengapa sejak keluar dari rumah kedua orang tuanya Olive banyak diam, Ando sudah berusaha meminta maaf dan menjelaskan tapi tetap saja wajah Olive terlihat murung di tambah irit bicara membuat Ando juga bingung dibuatnya.
Sampainya dihotel tempat Ando menginap, Ando mengandeng tangan Olive untuk menuju kamar presiden suite yang sudah dirinya pesan.
Kamar yang juga beberapa waktu lalu Ando tempati, dan kini mereka kembali kekamar itu lagi.
"Istirahatlah dulu, aku mau pesan makanan." Ucap Ando sambil meletakkan barang Olive di samping ranjang.
Cup
Ando mencium kening Olive setelah menyelimuti tubuh Olive. "Aku diluar, jika butuh sesuatu panggil saja."
Lagi-lagi hanya anggukan kepala Olive yang merespon, Ando pun hanya tersenyum tipis dan keluar dari kamar.
"Bagaimana?" Tanya Ando yang sudah menggenggam ponselnya di samping telinga.
__ADS_1
"...."
"Bagus, lalukan apa yang seperti aku katakan, jika mereka berulah habisi saja."
Tut...
"Enak saja mau main-main sama gue." Ucap Ando tersenyum sinis.
"Nek bagaimana?" tanya Bisma dengan senyum mengembang.
"Tidak mungkin mereka_"
"Sudah jelas jika cucu nenek itu bukan wanita baik-baik, buktinya saja dia masuk hotel dengan seorang pria." Kompor Bisma dengan semangat.
Rasti menatap video yang Bisma tunjukkan, video dimana Olive turun dari mobil bersama pria yang dia kenal, bahkan keduanya tampak mesra masuk kedalam hotel bintang lima yang mewah itu.
"Lebih baik nenek segera nikahkan dia, sebelum ada gosip di daerah sini, saya siap menerima kekurangan Olive, agar nama nenek disini tidak tercemar."
Bisma melancarkan aksinya untuk merayu Rasti, "Bila perlu jika Olive datang kita langsung menikah, soal persiapan biarkan bapak yang mengurusnya." Lanjut Bisma dengan penuh semangat.
__ADS_1
Rasti nampak berpikir, ucapan Bisma ada benarnya juga, dirinya tidak ingin malu jika terjadi sesuatu pada Olive, karena semua orang tau jika Olive adalah cucu satu-satunya yang dia banggakan di desa ini.