
"Nat gue cuti satu Minggu." Ando duduk didepan Nathan yang baru saja datang, bahkan Nathan sendiri belum duduk.
"Kau itu apa-apaan." Kesal Nathan karena dirinya baru sampai sudah disembur Ando yang minta cuti.
"Gue serius, gue udah selesain pekerjaan untuk satu minggu kedepan, dan Sinta sudah tahu apa yang harus dia lakukan." Ucap Ando menjelaskan.
Nathan menatap Ando serius. "Sebenarnya ada apa? apa kau punya masalah." Tanya Nathan yang tidak mengerti, Ando tipe pekerja keras, selama menjadi asistennya Ando tidak pernah cuti, dan baru kali ini pria itu minta cuti.
"Ngak sekarang gue cerita, nanti ada saatnya." Ando berdiri, "Satu jam lagi jadwal pesawat gue berangkat, Jadi gue minta lu ijinin gue cuti." Ando terseyum dengan memainkan alisnya naik turun menatap Nathan.
"Dasar, Casanova lapuk." Kesal Nathan yang tidak didengar Ando, karena pria itu sudah menghilang di balik pintu.
Ando sudah membeli tiket untuk ke Surabaya, pria itu sudah mengatur jadwalnya untuk menemui Olive. Ando akan mencari tahu kenapa gadis itu susah untuk dihubungi, padahal nomornya sudah tidak diblokir.
Cinta, ya Ando memang sudah merasakan yang namanya cinta sejak gadis itu menjauhinya. Tapi selama ini Ando belum mengungkapkan perasaanya yang sudah bersemayam di hatinya.
Mengingat itu bibir Ando mengulas senyum, dirinya membayangkan datang menemui Olive ke Surabaya hanya untuk menyatakan perasaannya.
"Halo.." Ando menelfon seseorang yang dia suruh untuk mencari alamat rumah nenek Olive di Surabaya.
__ADS_1
"Baiklah, kau kirimkan saja alamatnya."
Setelah mematikan sambungan telepon, Ando menerima pesan.
"Kali ini maaf aku tidak akan membuatmu mengelak lagi dariku." Ucapnya terseyum senang, ketika membaca alamat rumah yang Olive tinggalin.
Perjalanan Jakarta Surabaya hanya memakan waktu 1jam 33menit, dengan mengunakan pesawat, dan kini Ando baru saja keluar dari bandara internasional Juanda.
Disana Ando sudah dijemput orang suruhannya.
"Selamat datang tuan." Pria yang usianya lebih tua darinya membungkuk saat melihat Ando mendekatinya.
"Ya, apa benar alamat yang kau kirim itu?" Tanya Ando sambil masuk kedalam mobil dibangian kursi penumpang.
"Ya tuan, karena selama seminggu saya memata-matai gadis itu." Jawab Bobi sambil menjalankan mobilnya, meninggalkan area bandara.
"Bagus." Ando tersenyum senang. "Antar saya kehotel lebih dulu." Ucap Ando pada Bobi.
"Baik tuan."
__ADS_1
Bobi pun menuruti permintaan bosnya, untuk mengantar kehotel bintang lima tempat Ando melakukan cek in hotel.
Ando tidak sabar untuk bertemu Olive, meskipun baru satu minggu gadis itu pergi, tapi rasa cinta yang dia miliki membuatnya tidak sabaran untuk meluapkan perasanannya saat ini juga.
Sedangkan ditempat yang berbeda tapi dikota yang sama. Rumah nenek Olive yang bernama Ratih sudah lumayan ramai dengan beberapa kerabat dan tetangga.
"Susi apa semua sudah beres dan terjamin tidak ada yang kurang?" Tanya Rasti ibu dari suaminya Faisal.
"Sudah Bu, semua sudah Susi cek." Jawab Susi lembut.
"Baguslah, kalau ada yang kurang kita bisa malu didepan keluarga Aminoto." Ucap Rasti mertua Susi.
Susi hanya terseyum tipis. "Iya Bu." Jawabnya seadanya.
Acara dirumah nenek Olive sederhana tapi wanita tua berusia 65tahun itu masih cerewet dan begitu jeli, sesuatu yang dia atur harus terlihat sempurna dan tidak ada celah sedikitpun untuk terlihat jelek dimata orang.
"Lebih baik kau temani putrimu, pasti dia senang akan bertemu dengan calonnya." Ucap Ratih pada menantunya.
"Bu, apa ibu melihat Olive seperti itu." Susi berkata sendu.
__ADS_1
"Maksud kamu apa?" Tanya Ratih menatap Susi tidak suka. "Ibu tidak akan salah pilih untuk cucu perempuan ibu satu-satunya, dan asal kamu tahu disini keluarga Aminoto sangat disegani." Ucap Rasti penuh penekanan.
Susi menghela napas. "Ya sudah Susi temani Olive dulu." Susi pun pergi meninggalkan wanita tua yang menurut Susi arogan dan egois itu.