
"Sialan mereka." Ando mengumpat kesal, sambil memegangi perutnya yang berdarah.
Pria itu masih duduk di sofa dengan wajah yang marah.
Ketiga pria tadi sudah melarikan diri setelah membuat Hengki tak bernyawa, dan kerena dirinya melawan beruntung tangannya hanya terkena sayatan.
"Tuan ini dokternya." Seorang resepsionis wanita membawa dokter untuk mengobati Ando yang perutnya terkena sayatan pisau.
"Pergilah jika Roy kembali suruh menemuiku." Ucap Ando dengan wajah yang menahan sakit.
"Baik tuan." Resepsionis itu pergi.
Didalam ruangan itu hanya ada Ando dah dokter saja.
"Ini lukanya sedikit dalam." Dokter pria itu membersihkan luka Ando dengan cairan antiseptik dan terdengar rintihan dari bibir Ando saat rasa dingin dan perih mengenai luka diperutnya.
"Butuh jaitan, jadi anda harus menahan rasa sakitnya." Ucap dokter itu hanya diangguki oleh Ando.
"Sebentar dok." Ando menjeda tangan dokter tadi untuk melakukan tugasnya, dirinya mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.
Ando menunggu dengan menggigit bibirnya karena merasakan nyeri dibagian lukanya.
"Sayang ayo angkat." Ando menunggu dengan gelisah saat Olive tak kunjung mengangkat telponnya.
Jam menunjukan pukul 11 malam pasti Olive sudah tidur.
"Tuan jika lukanya terlalu lama terbuka nanti akan infeksi." Ucap dokter itu yang menunggu terlalu lama, takut jika terjadi infeksi.
"Satu kali lagi." Ando mencoba menghubungi Olive ke empat kali, hingga deringan terakhir tersambung.
"Sayang.." Ando langsung menyapa istrinya saat sambungan telepon tersambung.
"Heem." Olive hanya bergumam karena ternyata wanita itu sudah terlelap.
"Sayang jangan kamu taruh ponselmu ditelinga, aku melakukan panggilan video call." Ucap Ando menatap layar ponselnya yang terlihat gelap, ternyata Olive menaruhnya ditelinga.
tak lama terlihat wajah Olive yang memejamkan mata wanita itu tidak membuka matanya karena masih merasa ngantuk.
Ando hanya tersenyum melihat wajah istrinya yang memejamkan mata sungguh dirinya merindukan istrinya yang berada di Jakarta.
"Hey, buka matamu." Ando menatap wajah Olive dengan mengulum senyum.
Olive yang mendengar perintah membuka matanya. "Kak Ando." Ucapnya dengan suara serak.
"Hem." Ando hanya bergumam, saat merasakan dokter disampingnya melakukan tugasnya.
Posisi Ando tidur terlentang dan ponselnya Ia pegang depan wajahnya, dan hanya terlihat bagian wajah dan dadanya dilayar ponsel.
"Kamu sudah makan." Tanya Ando dengan suara biasa saja, padahal sambil menahan sakit.
"Hu'um, sudah." Jawab Olive yang memperhatikan wajah suaminya dengan seksama. "Kamu sakit?" Tanya Olive yang melihat wajah suaminya sedikit pucat.
"Tidak, hanya kelelahan saja, ahh." Ando menatap kearah dokter yang sedang berkerja, tapi baru saja dirinya merasakan sakit.
"Kak kenapa?" Olive menatap lekat wajah suaminya, apakah ada yang disembunyikan oleh pria itu.
__ADS_1
"tidak apa-apa sayang, hanya kakiku merasa kram saja." ucap Ando beralasan.
Olive hanya diam, dirinya mencoba untuk percaya apa yang sedang suaminya katakan.
"Hey, Kenapa diam, kamu tidak percaya padaku." tanya Ando yang melihat Olive hanya diam saja menatapnya.
"Entahlah."
Dirinya merasakan sesuatu, Apakah suaminya sedang berbohong padanya.
"Aku tahu kamu sedang memikirkan aku disini." Ando mengalihkan kameranya bagian belakang memperlihatkan keadaan sekitar di dalam ruangan itu. "Lihatlah tidak ada siapa-siapa, aku hanya sediri, dan tiduran di sofa." Ucap Ando untuk meyakinkan sang Istri, dirinya tahu jika Olive belum menghilang rasa kesalnya dan Ando mencoba untuk mengembalikan suasana hati Olive seperti sebelumnya. "Hari ini aku begitu banyak pekerja, Hingga rasanya begitu lelah."
Beruntung dokter tadi sudah pergi setelah pekerjaannya selesai, dan meninggalkan resep obat yang harus Ando konsumsi.
"Kenapa tidur disofa, tidak kembali ke kamar." Ucap Olive yang tidur miring dan menaruh ponselnya di depannya dengan diganjal guling bagian belakang.
"Sebentar lagi." Ando mecoba untuk duduk, dan ternyata lukanya masih meninggalkan sakit.
"Ahhh sst." Ando merintih saat dirinya berhasil duduk, sekuat tenaga menggigit bibirnya agar Olive tidak mendengar rintihannya.
Tapi karena suasana malam yang hening, Olive bisa mendengar jelas jika suaminya seperti merasa kesakitan
"Kamu kenapa kak?" Tanya Olive yang langsung duduk.
"Tidak ada apa-apa, sayang kakiku masih saja kram belum bisa digerakkan." Jawab Ando dengan wajah santai, tapi mengumpat dalam hati karena merasakan nyeri dan perih.
"Kamu bohong?" Tanya Olive lagi dengan tatapan mata tajam.
"Bohong apa sayang, aku tidak berbohong."
Ceklek
Ando menyuruh Rio untuk berhenti bicara, apalagi suara pria itu terdengar keras.
"Kak, siapa itu? dan_dan siapa yang telukan."
Ando memejamkan matanya, dan saat membuka mendelik tajam menatap Rio yang berdiri didepannya.
"Tidak ada yang terluka sayang, aku baik-baik saja." Jawabnya yang mencoba untuk tenang, meskipun kesal dengan orang kepercayaannya yang sudah ember punya mulut tidak mau direm.
"Ck, kau terus saja berbohong padaku."Ketus Olive dengan raut wajah yang sudah berubah. "Baiklah jika kamu suka berbohong, maka jangan salahkan aku jika aku juga mengikuti bagaimana suamiku memperlakukanku."
Tut...Tut...Tut..
"Eh, sayang... Olive, kok dimatiin." Panggil Ando yang sudah melihat panggilan telepon yang sudah terputus.
Mencoba lagi untuk menghubungi, tapi nomor Olive sudah tidak bisa dihubungi, itu berarti ponselnya dimatikan.
"Sial..!! semua gara-gara kamu Rio."
Rio yang berdiri disana menjadi sasaran. Ando masih mencoba tapi hasilnya tetap sama, nihil.
"Maaf tuan, saya tidak tahu sungguh." Rio minta maaf dengan sungguh-sungguh.
"Dasar minuman seribuan, tidak ada harganya." Dengusnya mencemooh Rio.
__ADS_1
"Kenapa jadi bawa-bawa minuman?" Tanya Rio yang tidak paham.
"Terserah, mau minuman, makanan yang jelas seribu rupiah itulah hargamu diwarung." Kesal Ando menatap Rio sinis.
Pria yang bernama Rio itu hanya diam pasrah, saat atasanya memakinya, dan meledaknya.
"Setidaknya harga seribu bisa meredakan haus, kalau anda mahal tapi semua orang menginjak-injak anda." Ucap Rio dalam hati mengatai Ando.
.
.
Sedangkan di kamar apartemen, Olive menatap ponselnya kesal, setelah mengatakannya dirinya langsung mengnonaktifkan ponselnya agar Ando tidak bisa menghubunginya lagi.
"Kamu keterlaluan kak, mulai berbohong." Ucapnya dengan nada sedih. "Apakah semua pria sama saja, saat belum mendapatkan mereka melakukan apapun dan terlihat berjuang sungguh-sungguh, tapi setelah mendapatkannya mereka bisa berubah, terutama sudah bisa berbohong. Sungguh jika seperti itu aku mengasihani mereka dan diriku ini, kak Ando kamu memang buaya kadal." Geram Olive sambil memukul dan meremat guling di tangannya emosi.
Dirinya membayangkan jika guling itu adalah suaminya, sungguh Olive ingin sekali membuat pelajaran pada suaminya.
"Lihat saja, apa yang besok akan kamu dapatkan, dari kata-kata mu itu." Ucapnya dengan dongkol.
Malam yang membuatnya gundah akhirnya terlewati hingga pagi. Kini Ando sudah rapi dengan pakaiannya, pria itu menuruti saran dokter agar tidak membasahi lukanya, dah Ando meminta Rio untuk membelikannya perban Anti air tadi malam.
Sudah seperti jas hujan saja ya pemirsa.
Drt ..Drt...
Ponselnya berdering, Ando segera meraihnya karena dia pikir Olive.
"Halo Nat." Ucapnya yang ternyata adalah Nathan.
"..."
"Tidak apa-apa hanya luka kecil." Jawab Ando untuk Nathan diseberang sana.
"Gue dan Rio akan mengurus mereka hari ini, dan bukti cctv diruangan kemarin sudah membuat mereka mendapatkan hukuman lebih berat." Tutur Ando.
"..."
"Oke, gue akan datang juga ke rumah Hengki dan memberikan hak santunan sebagai ucapan bela sungkawa."
Ando kembali menaruh ponselnya, setelah sambungan komunikasi terputus, tapi mengingat Olive, dirinya kembali mengambil benda pipih itu.
"Ck, kenapa belum aktif juga." Kesalnya yang tidak bisa menghubungi Olive.
Pesan yang dia kirim semalam saja belum terkirim dan hanya centang satu itu berarti Olive belum mengaktifkan ponselnya.
"Olive selain kamu yang bisa buat belalai merajuk, kamu juga bisa membuat kepalaku pusing."
Bagaimana bisa punya istri yang hanya bisa menyembuhkan dan juga menyakitkan menjadi satu paket.
Olive bisa membuat belalainya senang, bisa juga membuat belalainya terancam punah.
"Untung tidak jadi karatan kamu Lai, setidaknya saat buka puasa nanti kanjeng ratu sudah tidak ngamuk lagi." Ucapnya sambil mengelus si Lai, dari balik celana.
.
__ADS_1
.
Sat-set gaesss 🤣🤣