Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 100


__ADS_3

Leo pulang dengan wajah lelahnya. tetapi kali ini pria itu tidak berharap sang istri untuk menyambutnya.


Dia sedikit merasa lega kala mendapati keadaan rumah sudah sepi, sepertinya semua sudah beristirahat. lantas Leopun melangkah dengan mengendap-endap.


ceklek..


seulas senyuman terbit dari bibirnya kala melihat istri bersama anaknya tengah terpejam dengan tenang.


buru-buru Leo memasuki kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. sebelum ke luar dari sana, Leo mencuci bajunya terlebih dahulu guna menghilangkan jejak aroma tubuh seseorang yang pastinya akan di ketahui oleh Grace sebab istrinya itu sangat sensitif akhir-akhir ini.


"sial.. udah kayak selingkuh aja.. "


tadi sebelum Leo pergi dari kediaman Exel, Silvie merengek meminta pelukan darinya. mau tak mau Leopun menurutinya. Dia sudah berjanji pada diri sendiri akan melakukan apapun untuk keluarga para sohibnya.


jujur. jika boleh memilih, Leo lebih menginginkan Exel saja yang mengalami ngidam seperti dirinya dulu saat Grace hamil. daripada Silvie yang harus mengalaminya, pasalnya wanita itu selalu minta yang aneh-aneh dari dirinya. tentu itu sangat merepotkan, terlebih istrinya sendiri saat ini mudah sekali terbawa perasaan.


.


.


.


ceklek..


" Lo bawa martabak sama sopnya kan..?"


Leo terkejut mengelus dada saat membuka pintu kamar mandi Grace sudah menodong pertanyaan.


Leo mengangguk seraya tersenyum, beruntung dirinya tidak melupakan pesanan Grace. dia tahu istrinya itu tidak akan mentolerir apapun alasan jika dirinya lupa.


" ahhh.. terimakasih suamiku.. " ucap Grace sumringah seraya memeluk suaminya.


Leo mengurai pelukannya lalu menatap Grace, " itu aja..? gue mau yang lain.." ucapnya dengan nada menggoda.


Grace menggeleng, kemudian sedikit berjinjit dan mengecup bibir Leo sekilas.


grep.. Leo menarik pinggang Grace dan mengeratkan pelukannya.


" gue mau yang lebih.. " bisiknya.


Grace menggeleng cepat, " lo harus ronda kan..? "


" sebentar aja Grace.. "


" gak.. sebentarnya lo itu beda.. "


Leo menghela napas panjang menatap punggung Grace yang keluar dari kamarnya.


" fine.. kali ini lo bisa lolos.. "


.


.


.


Selepas bersiap, Leopun menghampiri istrinya di dapur. nampak Grace tengah asyik menyantap pesanan yang di bawakan Leo tadi.


Leo tersenyum melihat Grace makan dengan lahapnya, padahal sebelum dirinya menyambangi kediaman Exel, istrinya itu sudah terlalu banyak makan.


Leo tidak akan menegur kebiasaan baru Grace jika sudah mengatasnamakan calon anaknya. terlebih dia tidak ingin membuat Grace tersinggung mengingat istrinya itu selalu membahas berat badannya. padahal Leo suka sekali dengan tubuh Grace yang semakin berisi, itu malah terkesan seksi baginya.


Tangan Leo terangkat untuk mengelus pucuk kepala Grace, lalu mengecupnya dengan lembut.


" berangkat dulu ya.. "


Grace mengangguk lalu menunjuk kantong belanjaan di atas meja dapur, " itu jangan lupa di bawa.. " ucapnya sambil mengunyah.


Leo mengangguk dan tersenyum bangga. Grace selalu peduli terhadap orang lain. seperti sekarang istrinya sudah menyiapkan konsumsi untuk warga lain yang turut melaksanakan kegiatan ronda dengannya. hal sederhana namun berkesan bagi Leo.


Grace menatap pintu yang sudah ditutup rapat oleh Leo.


" baru dateng udah di tinggal lagi.."


...----------------...


Seorang gadis menatap dirinya di pantulan cermin. Dia terkekeh pelan melihat penampilannya. bagaimana bisa pria yang selalu di idolakan banyak wanita itu akan menjadi suaminya.


Sebentar lagi dirinya akan melepas status lajangnya dan mengarungi bahtera rumah tangga dengan pria yang merupakan dosennya.


Dia tidak pernah menyangka akan seperti ini. nasib baik terlalu berpihak kepadanya. menurutnya, Ia hanya seorang gadis kalangan bawah yang memiliki tampang pas-pasan untuk sekelas Wilson.


walaupun tidak ada unsur keterpaksaan dari pihak Wilson, tetapi dirinya sudah terlanjur menerima lamaran dosen tersebut dalam keadaan sadar.


maka dari itu Lolita tidak ada niatan sama sekali untuk mempermainkan pernikahannya nanti.


.


.


.


glek.. Lolita menelan ludahnya susah kala pintu terbuka dan memperlihatkan pria tampan berjalan ke arahnya.


" ayo.. kebetulan saya juga ada kelas.. "


Lolita menunduk gugup. dia tidak bisa menolak ajakan pria di hadapannya. hanya saja Ia masih merasa tidak pantas.


selama perjalanan gadis itu tidak mengeluarkan sepatah katapun, dia terus setia menunduk. sementara pria di sampingnya fokus mengemudi, sesekali melirik ke arahnya dengan tersenyum tipis.


" kelamaan menunduk leher kamu bisa pegal.. " ucap Wilson memecah keheningan.


Lolita sedikit mendongak seraya menoleh sekilas kearah Wilson.

__ADS_1


" maaf.. "


Wilson terkekeh pelan " kenapa minta maaf..? "


Lolita terdiam. dia kehabisan kata jika berhadapan dengan Wilson.


" oh ya.. saya akan mengganti kacamata.."


" bapak gak suka penampilan saya..? " sela Lolita seraya membetulkan kacamatanya.


sontak Wilsonpun terkekeh. sudah memotong ucapannya, gadis itu berfikir yang bukan-bukan. malah Wilson suka jika gadisnya mengenakan kacamata. tak mengapa Lolita terlihat lugu dimata orang lain.


ah lebih tepatnya Wilson tak rela jika keindahan manik mata yang Lolita miliki harus di nikmati orang selain dirinya.


" siapa yang bilang begitu..? "


lagi. Wilson dibuat terkekeh melihat ekspresi Lolita yang salah tingkah.


mobilpun berhenti di parkiran kampus. Lolita nampak kesusahan membuka sabuk pengamannya.


deg.. kedua pasang mata tak sengaja bertemu saat Wilson membantu membukakan sabuk pengaman Lolita.


dan kali ini Wilson yang tampak gugup. Pria itu selalu kalah jika sudah melihat mata Lolita. manik mata yang selalu indah walaupun tertutup kacamata.


" Lita.. " panggil Wilson kala Lolita hendak turun.


sontak Lolita pun terkesiap, ini kali pertama Wilson memanggil namanya.


" iya.. kenapa pak.. " tanya Lolita gelagapan.


" gaya bicara kita terlalu formal.. saya tidak suka.. "


" baik, kita ubah gaya bicara kita pak.." jawab Lolita dengan cepat.


Wilson mengangguk setuju " satu lagi Lita.. jangan panggil saya pak.. "


Lolita mengangguk patuh. dia tidak ingin berlama-lama di sana.


" baik mas.. " jawabnya dengan singkat.


" coba sekali lagi.. " Wilson nampak sumringah dengan ucapan Lolita barusan.


sementara Lolita mengatupkan bibirnya. Dia malas memilih panggilan yang tepat untuk Wilson. hanya kata itu yang terngiang di benaknya.


niat hati tak ingin berlama-lama dj dalam sana bersama Wilson. ucapannya itu malah memperlambat semuanya.


" baik mas.. aku ke kelas dulu.. "


kali ini Lolita begitu tenang, ucapannya terdengar lembut dan tulus, bahkan dia menyempatkan untuk tersenyum ceria pada Wilson sebelum turun dari mobilnya.


lagi-lagi Wilson di buat salah tingkah mendengar kalimat dari gadisnya. jantungnya terpompa dengan cepat.


" penyakit apaan ini, sial.. dokter gak tahu kondisi tubuhnya sendiri.. "


...********...


Isu kejahatan yang dilakukan bersama Aldo semakin senter.


Lolita tidak perduli jika orang-orang tidak menyukai dirinya karena isu tersebut. sejak awal dia sudah memperkirakan soal tersebut yang memang itu konsekuensi untuknya.


bisikan-bisikan keburukannya terus saja terdengar menemaninya sampai di kantin.


dan Gadis itu memilih fokus menyantap makanan di hadapannya.


" si cupu pake pelet apaan sih sampe pak Wilson mau nikahin dia.. "


deg.. Lolita menjatuhkan sendoknya. dia melirik sekilas ke sumber suara tersebut. Siska si biang gosip rupanya.


memang tanpa sepengetahuan Lolita. undangan pernikahannya dengan Wilson sudah di sebar untuk semua dosen di kampusnya.


tentu Siska akan tahu hal itu, mengingat perempuan itu mempunyai hubungan khusus dengan beberapa dosen.


seseorang menyentuh bahunya.


" Lita.. ini beneran..? lo ama pak Wilson.." Delia, salah satu teman yang masih bersikap baik terhadapnya.


Lolita mengangguk pasrah. sementara Delia nampak terkejut, begitupun dengan orang-orang di sekeliling tengah menatap kearahnya.


" betul.. selera pak Wilson bukan modelan kayak dia, pasti pelet itu.. " celetuk teman Siska.


" Lucu sekali yah guys.. penjahat bisa di nikahin sodaranya korban.. "


Lolita mengepalkan tangannya. dadanya terasa sesak mendengar hinaan tersebut. tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. bahkan untuk sekedar membela diri pun Lolita tak berdaya.


byurrrr.. sontak semua terkejut dengan aksi seseorang yang menyiram wajah Siska dengan kuah yang pedas.


" panas? pedes..? mulut lo lebih pedess.. "


Grace, dirinya yang baru masuk ke kantin bersama Megan tak tahan mendengar bullyan dari Siksa untuk Lolita.


Dia mengabaikan motto hidupnya yang tidak akan melakukan kekerasan fisik sesama perempuan.


" perempuan..? manusia aja bukan, dia itu setan.. "


Grace menatap nyalang ke arah Siska cs, kemudian beralih menatap sekeliling yang nampak gemetaran.


" denger lo semua.. gue gak peduli mau lo senior sekalipun, gue gak bakalan biarin ada bullying apa lagi sama kakak ipar gue.. "


Semua mengangguk patuh ketakutan. selain mereka tahu akan Grace yang merupakan istri dari pemilik kampus ini, mereka lebih takut terhadap Grace yang merupakan ketua geng motor yang memiliki banyak sekali anggota.


bahkan sebagian dari penghuni kantin itu sempat berpapasan dengan Grace yang di antar sekaligus di kawal oleh para anggotanya.


Sementara Siska memilih meninggalkan kantin tersebut diikuti teman-temannya.

__ADS_1


" anjay.. kakak ipar.. " celetuk Megan terkekeh pelan langsung mendapat toyoran dari Grace.


suasana kembali kondusif setelah Grace mendudukkan diri bersama Megan.


Megan menggeleng terkekeh, " barbar lo kumat bestie.. lo gak malu.. "


" apa?? malu karna gue istri Tuan muda Leonard..? bodo amat.. " sela Grace dengan sewot.


" bukan itu anjirr, lo gak malu ama dress yang lo pake..? " sahut Megan cekikikan. Dia merasa lucu dengan penampilan sahabatnya.


" btw Grace.. dress lo banyak banget, cakep cakep lagi.."


" biasa.. mertua indah kalo shoping buat menantu cantiknya suka kalap.. " timpal Grace songong membuat Megan memutar bola matanya jengah.


" Lo mau Me..? banyak yang belom gue pake.. "


sontak Meganpun mengangguk antusias dengan wajahnya yang sumringah.


" tapi entar bungkusin soto yah.. udah lama gue gak makan soto bikinan abang Ari.. "


" siap Boss.. " sahut Megan semangat.


sementara Lolita yang sudah menetralkan perasaannya kini menghampiri meja Grace.


" eh kakak ipar.. " sapa Megan dengan tatapan tertuju pada Grace. Dia suka sekali menggoda sahabatnya.


" sini kak.. " ucap Grace sama gilanya. Dia menepuk bangku di sebelahnya.


Lolita pun mendudukkan dirinya di sebelah Grace.


" makasih yah Grace buat barusan.. maaf ngerepotin.."


Grace menggeleng. " lo gak usah sungkan.. emang tuh tege sekali-kali harus di kasih pelajaran.. "


Lolita hanya mengangguk, dia beruntung bisa dekat dengan Grace setelah apa yang terjadi, wanita di sampingnya seolah tidak pernah terjadi apapun.


.


.


.


Tiba waktu pulang.


Grace sedang duduk di taman menunggu Leo. suaminya sudah janji akan menjemputnya pulang. tadi Leo tidak bisa mengantarnya mengingat semalam bergadang.


" Grace.. " panggil seorang pria seraya melangkah ke arahnya.


Grace menoleh dengan tatapan malasnya. " apa?? lo mau bilang makasih sama gue karna aksi heroik gue.. "


Grace tersenyum miring " payah lo, gak bisa jagain calon bini lo bang.."


Wilson terkejut, dia ingin menawarkan untuk mengantar Grace pulang. tetapi wanita itu malah berucap demikian.


" maksud lo apa Grace...? " terlihat gurat kecemasan pada wajah Wilson.


sementara Grace langsung menutup mulutnya, dia pikir Wilson sudah mengetahui kejadian tadi di kantin.


" bego.. kenapa nih mulut jadi lemes gini sih.. "


Grace menghela napas pasrah, akhirnya Ia pun menjelaskan kejadian tadi di kantin pada Wilson.


Sebelumnya Grace merasa risih jika harus berbincang dengan Wilson di tempat seperti itu, mengingat keduanya tak luput dari sorotan orang-orang sekelilingnya.


Tetapi melihat raut wajah Wilson seperti menahan amarah juga tangannya yang mengepal kuat justru terkesan lucu bagi Grace.


" Kalo bapak peduli sama calon istrinya, lindungin dong.. " ucap Grace sengaja mengompori Wilson.


Keduanya masih anteng berbincang sampai sebuah mobil menghampiri mereka.


Grace menelan ludahnya, dia terlalu asyik mengobrol dengan Wilson sampai melupakan Leo yang akan menjemputnya pulang.


Leo keluar dari mobilnya dengan tatapan tak ramah,


" kenapa lama banget sih..? " tanya Grace mengalihkan. Wanita itu berlagak kesal, padahal dia cari aman sebelum Leo menodong pertanyaan lebih dulu.


Leo tidak menjawab, pandangannya tak lepas dari Wilson. ada perasaan cemburu terhadap dosen tersebut.


" jangan bilang lo mampir dulu ke si kermi..? "


deg.. Leo terkesiap, sementara Wilson terkekeh.


Wilson bisa dengan jelas melihat perubahan ekspresi dari sepupunya. Dia merasa lega sebab Grace sudah menyelamatkannya dari amukan Leo.


" gue cabut dulu.. " pamitnya seraya menepuk bahu Leo yang mematung disana.


" kenapa gak lo ajak si kermi tinggal bareng kita aja sih. . "


Leo masih terdiam, ini ucapan Grace untuk kesekian kalinya. sama seperti Ari sohibnya. bedanya Ari terdengar bercanda dengan nama istri kedua membumbui candaannya.


" udah ayo pulang.. " sahut Leo mencari aman membuat istrinya berdecak kesal.


sepanjang perjalanan, Leo fokus mengemudi tetapi pikirannya terganggu. sekarang posisi dirinya sangat sulit, Dia di hadapkan dengan dua ibu hamil sekaligus yang selalu membutuhkan kehadirannya. beruntung istri dari Ari sohibnya tidak turut bertingkah seperti Grace dan Silvie.


Leo menggeleng menepis pikirannya yang terkesan tidak ikhlas menjalani hal tersebut yang hanya sementara.


" Le ketempat si Megan dulu.." celetuk Grace di angguki Leo singkat.


mobilpun melesat menuju tempat yang dituju yakni kediaman Ari juga Megan.


Grace tersenyum ketir saat mobilnya memasuki jalan sempit yang hanya muat satu mobil saja. Dia jarang sekali menyambangi kediaman sahabatnya. Grace lebih sering main ke kedainya.


blug.. keduanya turun dari mobil dengan pelan.

__ADS_1


Grace menghela napas panjang, dia begitu kagum terhadap Ari beserta Megan yang memilih hidup sederhana dengan tinggal di rumah kecil yang disewanya.


" ayo.. "


__ADS_2